• Salahkah Geert Wilders?

    Tanggapan untuk Tulisan Ulil Abshar-Abdalla “Tentang Film ‘Fitna’”

    Oleh Taufik Damas

    Ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis cukup banyak yang membenarkan pandangan Wilders. Sebagian muslim menepisnya dengan berbagai cara. Antara lain dengan mengatakan bahwa ayat-ayat dan hadis-hadis “negatif” tidak dapat dipahami begitu saja: jika ayat, maka tidak boleh dipahami secara religious illiteracy; jika hadis, maka dapat dipastikan (atau dianggap) tidak sahih.

    Kolom | 14/05/2008
  • Reportase Diskusi dengan Irshad Manji:

    Kaum Moderat adalah Bagian dari Persoalan

    Oleh Lanny Octavia

    Manji menilai bahwa pembedaan antara Muslim ektrimis dan moderat tidaklah begitu berguna. Baginya, alih-alih memecahkan masalah, kaum Muslim moderat sendiri adalah bagian dari permasalahan. Hal itu karena meskipun mengecam terorisme, mereka sama sekali tidak mengakui adanya peran agama dalam kasus tersebut.

    Diskusi | 12/05/2008
  • Luthfi Assyaukanie Ph.D:

    Kebebasan adalah Bagian dari Demokrasi

    Kebebasan itu mengandung dua ancaman, ancaman dari negara dan ancaman dari masyarakat. Seperti anda bilang, bisa saja konstitusi sangat toleran atau pro kebebasan, sementara masyarakatnya belum menghayati sehingga melakukan pelanggaran terhadap kebebasan. Sebetulnya konstitusi Indonesia memberikan kebebasan buat keyakinan dan agama apa saja untuk hidup.

    Wawancara | 28/04/2008
  • Kuasa Normalisme dalam Agama dan Negara

    Oleh Slamet Thohari

    Banyak penelitian sudah dilakukan, bahwa tidak selamanya agama menjadi senjata pembunuh demokrasi. Namun, kerapkali agama ditemukan menjadi modal sosial pendukung demokrasi itu sendiri. Namun agama yang bagaimana? Agama yang transformatif tentunya; agama yang punya daya dorong untuk perubahan sistem masyarakat agar mampu mengakomodir segala hak manusia: hak eknomi, sosial dan budaya.

    Kolom | 28/04/2008
  • AGENDA
  • Diskusi Bulan Mei

    Penyelenggara: Jaringan Islam Liberal

    Tempat: Teater Utan Kayu, Jln Utan Kayu No 68H Jakarta Timur

    Waktu: Selasa, 27 Mei 2008, Jam 19.00-21.30 WIB



    Diskusi Buku "Polarising Javanese Society" karya Ricklefs

    Narasumber: Bambang Pranowo (Guru Besar UIN) dan Trisno S Sutanto (Direktur MADIA).

    Moderator: Luthfi Assyaukanie



    Masyarakat Muslim Jawa menganut agama "Sintesa Mistik." Istilah "Sintesa Mistik" diperkenalkan Merle Ricklefs, untuk merujuk karakter agama di Jawa yang merupakan percampuran berbagai unsur mistik. "Sintesa Mistik" mendapatkan tantangan ketika para haji dan pelajar Muslim berdatangan dari Timur-Tengah. Para haji dan pelajar itu menyebut diri mereka sebagai "putihan" dan menganggap mayoritas Muslim Jawa sebagai "abangan". Ricklefs mencatat, abad ke-19 adalah abad polarisasi di Jawa; masyarakat Muslim Jawa terbelah antara "putihan" dan "abangan." Kaum putihan merasa merekalah yang paling benar menjalankan Islam, sementara yang abangan menganggap bahwa Islamnya kaum putihan terlalu Arab dan tidak cocok dengan budaya lokal. Semakin hari, polarisasi ini kian tajam. Kaum putihan menjadi penebar benih puritanisme agama, sementara kaum abangan berusaha menepisnya dengan menekankan identitas kejawaan (kejawen).






  • Tentang Film “Fitna”

    Oleh Ulil Abshar-Abdalla

    Islamisme mungkin bertentangan secara diametral dengan budaya pencerahan. Tetapi, Islam, saya rasa tidak, meskipun tidak seluruhnya ada kesejajaran antara keduanya. Saya percaya bahwa Islam bisa menampung nilai-nilai pencerahan Eropa. Jangan dilupakan pula, bahwa sejarah pencerahan Eropa tak terpisahkan dari Islam pula. Beberapa gagasan para pemikir Muslim menjadi ilham bagi para humanis Eropa pada abad 16 dan 17.

    Editorial | 26/04/2008
  • Tanggapan Terhadap Doktrin Ulil Abshar Abdalla

    Tentang Doktrin-doktrin yang Kurang Perlu dalam Islam

    Oleh KH. Afifuddin Muhajir

    Yang tidak sah adalah melakukan tindak kekerasan dan arogansi atas nama agama baik secara fisik maupun psikis. Tukar menukar pengalaman dan saling belajar di antara para pemeluk agama tidak dilarang, bahkan perlu. Yang dilarang adalah tukar menukar prinsip dan mengorbankan substansi keberagamaan yakni ketundukan dan kepasrahan pada ketentuan Tuhan.

    Kolom | 26/04/2008
  • Diskusi Hari Pertama Ulang Tahun JIL ke-7

    Agama dan Kebebasan:

    Dapatkah Bersanding-berdamping?

    Oleh Malja Abror

    Kang Husein menyimpulkan bahwa (keyakinan) agama adalah keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ketaatan dan ketundukan total kepada-Nya; keyakinan akan adanya balasan dan pertanggungjawaban di hari akhir. Karena itu, agama (al-din) bersifat sangat personal dan tersembunyi. Maka terhadap agama dengan pengertian seperti ini, tidak ada kekuasaan apa pun, baik itu institusi atau orang, yang bisa melakukan intervensi atasnya.

    Diskusi | 11/04/2008
  • Diskusi Hari Kedua Ulang Tahun JIL Ke-7

    Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan:

    Perspektif Legal-Formal

    Oleh Saidiman

    Secara doktrinal, agama mengkampanyekan keselamatan, kebahagiaan, dan perdamaian. Tetapi pada saat yang sama ia bisa muncul dengan wajah yang garang dan penuh kekerasan. Dalam konferensi tentang perdamaian dan HAM untuk memperingati 950 tahun kota Nuremberg, disimpulkan bahwa pesan perdamaian dan kasih sayang agama dapat didistorsi menjadi instrumen kebencian dan konflik.

    Diskusi | 11/04/2008
  • Rendah Diri Kaum Wahhabi

    Oleh Saidiman

    Belakangan, ciri-ciri rasa rendah diri seperti dikemukakan Gus Dur itu mudah ditemui dalam praktik fatwa sesat, pengusiran, teror, dan pembakaran rumah-rumah kelompok keagamaan di Indonesia yang mereka anggap sesat. Tentu saja mereka tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan. Meski terus sesumbar mewakili aspirasi kelompok mayoritas umat, kenyataannya mereka segelintir saja.

    Kolom | 08/04/2008
  • Mengapa Justifikasi Agama

    Oleh Ulil Abshar-Abdalla

    Yang menarik adalah bahwa justifikasi dibutuhkan oleh manusia, karena dia mengandaikan adanya suatu standar tertentu. Kita bertanya tentang boleh-tidaknya melakukan tindakan tertentu karena sebetulnya di luar sana kita mengandaikan adanya semacam plafon moral tertentu yang menjadi semacam standar. Biasanya seseorang melakukan penalaran berdasarkan standar-standar itu.

    Kolom | 25/03/2008