JIL Edisi Indonesia
Akar-akar Sekularisme Dalam Islam
Dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie, diskusi berikut mengangkat isu sekularisme dalam Islam yang merupakan salah satu tema terhangat dalam Milis tersebut.
Jamhari Makruf Salat Ya, Korupsi Ya!
Pertama, ternyata orang memahami Islam itu masih bersifat personal. Islamnya masih bersifat individual. Jadi mereka memahami Islam sebagai tahapan bagaimana hubungan dia dengan Tuhan. Itu mungkin yang bisa kita analisa. Bahkan ada teman yang berseloroh bahwa penelitian itu membuktikan sesugguhnya orang Islam di Indonesia sudah sekuler. Dalam arti, tenyata agama itu lebih cenderung kepada aspek personal. Jadi salat ya salat, korupsi ya jalan terus.
Muhammadiyah dan Islam Liberal
Jika dilihat lebih jauh, berangkat dari doktrin a faith in action, membuat gagasan-gagasan mengenai Islam liberal, demokrasi, pluralisme, dan civil society, dalam Muhammadiyah dianggap penting, namun tidak terlalu banyak diperbincangkan. Bagi Muhammadiyah, lebih baik langsung berperilaku liberal, demokratis, dan pluralis, daripada banyak bicara liberalisme, demokrasi dan pluralisme, tetapi sebaliknya berperilaku antiliberal, antidemokrasi dan antipluralisme.
Islam Liberal; Menciptakan Kembali Indonesia
Oleh Daniel S. Lev
Setahun lalu, ketika wacana Islam liberal pertama kali muncul dalam bentuk mailing list (), banyak orang yang menyangsikan masa depannya. Kini, terbukti mailing list itu telah menjadi sebuah wadah intelektual yang menarik, berbobot, dan berpengaruh, baik atas pengertian agama Islam maupun (mudah-mudahan) atas penciptaan kembali negara Indonesia.
Akar-akar Kekerasan Dalam Islam
Oleh Neng Dara Affiah
Padahal Islam, menurut hemat saya, bukanlah ajaran agama yang rumit, yang jauh di langit sana, tetapi ia agama nurani yang merupakan bagian dari ruh detak nafas kita. Diantara ajaran tersebut, yang nampaknya sepele, tetapi sangat mendasar adalah bagaimana kita dapat berdamai dengan diri sendiri untuk dapat menebar kedamaian kepada sesama dan lingkungan hidup kita. Ala’ bidzikrillahi tathmainnal qulub. Wallahu A’lam!
Tidak Ada Sastra Religius
Oleh Ribut Wijoto
Bagaimana mungkin teks yang memungkinkan adanya perseberangan berlawanan dapat diakui sebagai teks religi? Bagaimana mungkin teks religi membuka diri bagi beberapa kebenaran yang saling bertentangan. Saling mempersalahkan. Religi dalam teks Amir Hamzah hanya benar dalam penafsiran yang semena-mena, menaifkan penafsiran lain yang sama-sama mendapat paradigma semiotik dalam konstruksi teks.
Dr. Bahtiar Effendy: Tak Ada Wakil Tuhan di Bumi
Saya kira konsep demokasi, kalau itu dikaitkan dengan persoalan sosial kenegaraan, di dalam negara Islam manapun, itu juga di tangan rakyat. Itulah yang terjadi saat kita hendak memutuskan sesuatu. Apakah pemilu itu dilakukan 5 tahun sekali atau tidak, bagaimana kita menulis sebuah undang-undang, bagaimana merumuskan peraturan-peraturan, itu semua ada pada tangan rakyat. Kalau kedaulatan itu ada pada Tuhan, kita harus konsultasi terus dengan Tuhan dong!
Syafi’i Anwar: Kekerasan Itu Mode Temporer
Masyarakat luas masih banyak yang senang kepada tindakan yang sifatnya moderat dan inklusif. Ada resistensi besar dari masyarakat terhadap kelompok agama yang memakai jalur kekerasan.
Penayangan Maya Islam Liberal
Dari kongko-kongko macam inilah muncul kelompok baru yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal. Mereka memproduksi siaran radio seminggu sekali bekerja sama dengan kantor berita radio 68H yang disiarkan 15 radio di seluruh Indonesia.
Dr. Haidar Bagir Akal adalah Rasul dalam Diri Manusia
Dalam situasi di mana kalangan Islam banyak didominasi kecenderungan tekstual dalam beragama, adalah penting untuk menengok kembali tradisi filsafat Islam yang menekankan penalaran independen dalam mendekati teks agama. Menurut Haidar Baqir, filosof Islam dari Bandung mengatakan bahwa filsafat Islam nicaya memberikan kontribusi penting bagi tumbuhnya sikap terbuka.