Reportase,
05/01/2010

Akar Terorisme

Oleh Syukron Hadi dan M. Irsyad

Suatu pernyataan tekstual di dalam tradisi tidak bisa dilaksanakan apa adanya, melainkan harus dikaitkan dengan konteksnya. Ulil memaparkan, pada zaman nabi perang ekspansif merupakan suatu hal yang lumrah dilakukan dan belum ada aturan internasional seperti sekarang. Nabi hanya melanjutkan tradisi itu. Sangat tidak logis jika menerapkan ajaran jihad tersebut sekarang yang kondisi sosio-politiknya sangat jauh berbeda dengan masyarakat Islam pada masa itu.

“Terbunuhnya Saifudin Zuhri di Ciputat, Tangerang, membuat terorisme babak belur. Lalu banyak orang mulai bertanya soal akhir sejarah dari terorisme. Benarkah terorisme sudah selesai?” Demikian Saidiman (aktivis Jaringan Islam Liberal) saat membuka acara Diskusi Publik “Perang Global Melawan Terorisme” di Aula Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Acara tersebut diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal, Yayasan Wakaf Paramadina, Friedrich Naumann Stiftung dan BEM-J Sosiologi Agama UIN Jakarta.

Diskusi publik ini merupakan respon atas mulai tertangkapnya para teroris Indonesia. Sukses Densus 88 menangkap dan menembak mati para teroris membuat banyak kalangan ikut berkomentar. Mulai dari komentar remeh-temeh hingga diskusi serius, termasuk yang dilakukan Forum Mahasiswa Ciputat. Lembaga kajian mahasiswa Ciputat ini merespon dengan serial kajian fundamentalisme, radikalisme dan kekerasan bernuansa agama. 

Dalam penggerebekan yang berhasil menembak mati Saifudin Zuhri dan Syahrir terungkap dua mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta turut terlibat dalam jaringan terorisme. Fakta tersebut cukup memukul para mahasiswa dan dosen-staf UIN Jakarta yang di alam sadar dan alam bawah sadar mereka terpatri bahwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, seperti penilaian masyarakat umum, merupakan gerbang pusat peradaban Islam di Indonesia yang telah menelorkan banyak intelektual Muslim.

Memang benar bahwa dua mahasiswa UIN Jakarta yang terlibat dalam jaringan terorisme sama sekali di luar tanggung jawab UIN Jakarta sebagai institusi belajar-mengajar, karena dalam bangku perkuliahan UIN Jakarta tidak pernah membenarkan gerakan radikalisme agama. Tujuan diskusi publik ini selain untuk menegaskan hal tersebut juga bertujuan untuk membincang secara mendalam terorisme dari segala aspek dengan menghadirkan tiga nara sumber yang ahli dalam segala macam persoalan terorisme, yakni Sidney Jones (Senior Advisor International Crisis Ground), Noorhaidi Hasan (Peneliti gerakan Islam Fundamentalis dan Radiakal di Indonesia dan aktif mengajar di UIN Jakarta dan Jogjakarta) dan Ulil Abshar-Abdalla (Ulama muda NU).

Sidney, sebagai nara sumber pertama, merekonstruksi pemahaman mapan mengenai akar-akar terorisme global yang sudah kadung ditelorkan oleh para pengamat gerakan terorisme. Baginya, persoalan terorisme sangat kompleks.

Dalam diskusi ini Sidney selain menyampaikan gagasan-gagasannya, ia juga memaparkan beragam data penting mengenai gerakan terorisme di Indonesia. Untuk melengkapi gagasannya Sidney mengutip Louise Richardson yang mengkaji terorisme berdasarkan sumber dan tujuan gerakan terorisme (what terrorists want) secara kompleks. Kemudian Sidney juga meminjam gagasan Marc Segemen untuk memahami metode perekrutan, model jaringan dan cara mereka mengorganisir organisasi dan aksi-aksinya.

Pembicara kedua, Noorhaidi Hasan, memaparkan terorisme dari sudut yang berbeda. Ideologi radikalisme agama atau terorisme, papar dia, mempunyai akar yang panjang. Bermula dari ideologi-gerakan salafisme (wahabi) yang selalu mengalami perkembangan berdasarkan perubahan kondisi sosio-politik dan perselingkuhannya dengan derasnya arus globalisasi. Puncaknya, ideologi tersebut mengubah wajahnya menjadi Salafis Jihadis.

Di Indonesia, ideologi tersebut diserap oleh organisasi militan DI/TII yang kemudian semakin radikal dengan bergabungnya beberapa mantan pejuang muslim di Afganistan. Sepulangnya ke Indonesia, mereka meneruskan jihadnya di negerinya sendiri dengan berbekal pengalaman jihad dan ideologi yang mereka pegang dengan mantap. Kemudian mereka mendapat sokongan dari organisasi jihadis radikal Internasional seperti Jamaah Islamiyah dan al-Qaeda. Aksi pertama mereka adalah bom natal tahun 2000 yang kemudian disusul dengan Bom Bali 1, dan kemudian aksi paling baru adalah bom JW Marriot-Ritz Carlton, 2009.

Sementara pembicara ketiga, Ulil Abshar-Abdalla, menyatakan bahwa sulit membantah argumentasi para penganut ideologi Islam radikal. Menurutnya, mereka mempunyai dasar argumen yang merujuk pada teks syari’ah yang tercatat dalam praktek keagamaan Nabi. Menurut Ulil, adalah salah jika kita menganggap jihad ofensif semata-mata sebagai produk modernitas dan merupakan pelencengan terhadap makna jihad yang diajarkan Nabi. Nabi betul-betul mengajarkan jihad. Ada dua macam jihad yang diajarkan Nabi, pertama jihad defensif atau jihad untuk mempertahankan diri dari serangan non-muslim atau pembelaan diri, kedua adalah jihad ofensif atau jihad memerangi atau menyerang non muslim, perang Khandak adalah contoh kongkritnya. Ulil menegaskan bahwa ini menjadi argumen dan legitimasi bagi kelompok radikal untuk melancarkan aksi-aksi teror. Meskipun nampaknya sulit dibantah, argumen ini masih punya kelemahan dan Ulil memilih mengajak peserta untuk mengelaborasi hal ini lebih jauh dalam sesi tanya jawab.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta langsung meminta kejelasan mengenai masalah fatwa ini dan apa kira-kira counter-argument untuk membantah argumen kelompok-kelompok teror. Salah seorang peserta mengemukakan pandangannya mengenai bahaya menerapkan teks klasik tanpa melihat konteksnya dan berpendapat bahwa jihad saat ini adalah jihad melawan kemiskinan.

Ulil memperkuat hal itu dengan mengatakan bahwa memang harus ada kearifan ketika kita membaca suatu pernyataan tekstual. Menurutnya, suatu pernyataan tekstual di dalam tradisi tidak bisa dilaksanakan apa adanya, melainkan harus dikaitkan dengan konteksnya. Ulil memaparkan, pada zaman nabi perang ekspansif merupakan suatu hal yang lumrah dilakukan dan belum ada aturan internasional seperti sekarang. Nabi hanya melanjutkan tradisi itu. Sangat tidak logis jika menerapkan ajaran jihad tersebut sekarang yang kondisi sosio-politiknya sangat jauh berbeda dengan masyarakat Islam pada masa itu. Ini berkaitan dengan peserta yang mempertanyakan fungsi agama pada saat sekarang di mana aksi-aksi teror yang mengatasnamakan agama semakin marak. Salah seorang peserta menyatakan bahwa peran agama semakin membingungkan belakangan ini. Menurut Ulil, harus dipikirkan bagaimana agar agama lebih berfungsi sebagai pendorong ke arah perdamaian.

Noorhaidi menegaskan pentingnya kita beranjak ke wacana post-Islamisme yang meredefinisikan pesan-pesan keIslaman dengan cara yang demokratis dan modern. Menurut Ulil, banyak orang yang mengkaji kitab-kitab fiqih klasik yang mengandung muatan jihad tapi hanya beberapa gelintir saja yang melakukan tindakan teror. Itu karena mereka mengerti, doktrin-doktrin itu secara harfiah memang begitu tapi tidak mungkin diterapkan sekarang. Sementara Sidney menekankan agar ulama-ulama yang menentang kekerasan, khususnya di Indonesia, muncul dan berbicara di tingkat internasional

Tentang jaringan internasional dalam gerakan terorisme Indonesia, seorang peserta membandingkan pemaparan Sidney Jones dan Noorhaidi Hasan yang menurutnya bertentangan. Sidney menilai peran hubungan internasional dalam gerakan terorisme di Indonesia tidak terlalu signifikan sementara Noorhaidi beranggapan sebaliknya, pengaruh Timur Tengah sangat kuat dalam gerakan terorisme di Indonesia. Hal itu diklarifikasi oleh kedua pembicara. Mereka mengatakan bahwa apa yang mereka kemukakan sama, hanya saja sudut pandangnya berbeda. Sidney melihat kontak internasional dari perspektif operasional dan pendanaan sementara Noorhaidi melihat dari aspek ideologis dan awal kemunculan gerakan teroris di Indonesia.

Salah seorang peserta menggugat diskusi ini sebagai ajang pendoktrinan dan menganggap apa yang dipaparkan oleh pembicara hanya opini saja. Opini ini menurutnya dibesar-besarkan oleh media milik kelompok pengusaha kapitalis dan penguasa untuk memojokkan Islam. Penafsiran yang dibuat Ulil menurutnya terlalu bebas dan tidak bertanggung jawab. Sidney Jones segera menunjukkan bukti-bukti bahwa apa yang ia sampaikan itu adalah fakta dan bukan opini belaka. Yang meninggal dalam bom Marriott adalah pengusaha-pengusaha kapitalis, jadi mereka itu sebenarnya adalah korban, bukan pelaku seperti yang dituduhkan penanya. Dari pernyataan peserta ini, Noorhaidi semakin meyakini bahwa wacana-wacana konspirasi dan viktimisasi Islam oleh Barat memang berkembang di kalangan anak muda dan mahasiswa. Itu menurutnya adalah wacana-wacana bodoh yang justru membuka pintu bagi aksi-aksi kekerasan.

Akhirnya diskusi ini ditutup dengan kesimpulan bahwa terorisme adalah fenomena kompleks yang tidak cukup dijelaskan oleh satu atau dua faktor saja. Tapi meski demikian kita bisa melihat beberapa pola yang konsisten dalam beberapa aksi teror. Terorisme dengan seluruh keabsurdannya memang sulit diberantas tuntas, tapi bukan berarti ia tak bisa dicegah.

05/01/2010 | Reportase, | #

Komentar

Komentar Masuk (18)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Kalian bicara teroris, padahal Formaci, JIL, Paramadina, Wahid Institute, dan iblis sejenisnya, semua adalah antek-antek teroris sebenarnya. Anda semua antek zionis. Anda rela menanggalkan aqidah Islam untuk ditukar dengan dolar. Guoblok banget lu semua. Bagiku, kalian lebih najis daripada bangkai babi dan anjing.

Posted by Azis  on  10/09  at  11:33 AM

Pertanyaan terbesar adalah mengapa teroris sulit sekali di brantas di Indonesia? “Apakah karena penduduk Indonesia mayoritas adalah Islam, dimana notabenenya teroris untuk sekarang ini sering dikaitkan dengan Islam”. Tentu saya tidak setuju dengan hal ini! Saya sendiri seorang muslim dan kurang berkenan dengan aksi2 teroris dewasa ini. Masih banyak cara yang lebih arif dan bijak untuk memperjuangkan keadilan selain dengan pedang atau perang. Semoga bangsa Indonesia semakin dewasa dalam menyingkapi hal ini untuk menuju ke arah kemajuan yang lebih positif lagi.

Terimakasih.

Posted by student desk  on  10/22  at  06:22 AM

akar terorisme yang diselubungi dengan baju pengantin diIndonesia itu adalah FPI, PKS, HTI. bahkan sekarang mereka sudah merayap kepemerintahan (DPR,DPRD)dan ke ormas Islam yang lain. kalau kita tidak berhati-hati dan segera menghapusnya, maka tunggulah kemusnahan bangsa Indonesia ini

Posted by saim  on  08/26  at  07:02 PM

Perluasan hegemoni merupakan naluri setiap bangsa yang berhasil, tak usah malu-malu generasi salafiyah pun pernah melakukannya, mulai dari ekspedisi Umar ke Palestina hingga ke Afrika Utara sejauh Maroko, bahkan menyeberang ke Cordova. Ke timur sampai ke Turkmenistan, dan Austria di Eropa Tengah, dll. Begitu pula Barat, Cina dan Jepang melakukan hal yang sama kemudian.  Laksana hukum alam, siapa kuat dia memetik manfaat. Masalahnya kini berbeda, karena ada PBB dan Mahkamah Internasional. Jadi setiap persoalan kini harus diselesaikan secara beradab. Nah, bila demikian dengan demikian kedudukan jihad harus direvitalisasi.

Posted by Amigo  on  08/25  at  08:08 AM