Al-Banna
Oleh Novriantoni
Banyak orang keberatan jika Islam diasumsikan tidak mengatur dunia politik. Alasan mereka, Islam bukan sekedar “ajaran langit” yang tidak menyentuh kehidupan riil umat manusia. Islam sebagai agama, tidak lengkap kalau tidak mengatur semua perkara umat manusia, sejak bangun tidur sampai kembali tidur.
Banyak orang keberatan jika Islam diasumsikan tidak mengatur dunia politik. Alasan mereka, Islam bukan sekedar “ajaran langit” yang tidak menyentuh kehidupan riil umat manusia. Islam sebagai agama, tidak lengkap kalau tidak mengatur semua perkara umat manusia, sejak bangun tidur sampai kembali tidur. Karena Islam mengatur semua—menurut pendekatan yang totalistik atas Islam ini—maka tak boleh lain, politik juga tidak lepas dari pantauan Islam. Makanya, slogan yang dikembangkan—khususnya di kalangan revivalis Islam—adalah ungkapan “Islam adalah agama dan negara” (al-islâm din wa daulah).
Dalam sejarah politik Islam modern, slogan itu merupakan sanggahan kaum revivalis Islam atas kuatnya arus sekularisasi politik di dunia Islam, lebih-lebih pasca ambruknya sistem khilafah (sebetulnya kesultanan Turki Usmani) pada tahun 1924. Slogan “Islam adalah agama dan negara” lalu dengan lantang didengungkan pelbagai gerakan revivalis Islam, khususnya Al-Ikhwanul Muslimun dan Hizbut Tahrir. Lambat laun, slogan itu menjadi paradigma berpikir dan bertindak yang dominan di kalangan umat Islam, khususnya yang condong ke sayap politik.
Pelbagai argumen mereka kemukakan untuk mendukung keabsahan paradigma tersebut. Umpamanya, sepanjang sejarah Islam, sejak zaman Nabi sampai zaman globalisasi, Islam tak pernah berhenti berpolitik. Bahkan, kelompok-kelompok Islam merupakan entitas politik tersendiri yang terus menerus diperhitungkan ketika berkuasa, dan ditakuti oleh rezim yang sedang berkuasa. Argumen mereka seakan menguatkan tesis Arkoun yang menyebut bahwa pada hakikatnya, dalam sejarah politik Islam juga berlangsung sebentuk “teokrasi yang lebih lunak” dari praktek Eropa Zaman Pertengahan. Anehnya, sembari tak henti-henti menista praktek interaksi agama dan politik Eropa Zaman Pertengahan, beberapa kelompok Islam juga berharap agama memegang kekuasaan politik negara. Paradigma inilah yang masih menguasai nalar politik Islam sampai kini, baik mereka yang moderat maupun yang radikal.
Untunglah belakangan muncul Gamal al-Banna—adik bungsu Hasan al-Banna, tokoh pendiri Al-Ikhwanul Muslimun—yang berusaha mengkritisi dan menentang paradigma itu, sembari memperkenalkan paradigma baru soal hubungan agama dan politik. Melalui bukunya, Al-Islâm: Dîn wa Ummah wa Laitsa Dîn wa Daulah (2003), al-Banna secara tegas menentang paradigma Islam sebagai agama dan negara. Baginya, Islam bukan agama dan negara, tetapi agama dan ummah. Keduanya sangat berbeda, karena yang pertama lebih berorientasi politik dan kekuasaan, sementara yang kedua berorientasi kultural dan keumatan.
Kajian al-Banna atas watak dasar kekuasaan politik—tidak terkecuali kekuasaan politik Islam—menyimpulkan bahwa politik dan kekuasaan negara pada dasarnya hanya mendistorsi agama. Bagi al-Banna, kekuasaan politik seperti negara, sedikit sekali membawa kemaslahatan agama dibanding kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya. Ketika masuk ke areal politik, agama hanya akan berfungsi sebagai legitimator kekuasaan dan akan bersifat sangat destruktif. Karena itu, al-Banna mengusulkan pentingnya penekanan orientasi kultural agama ketimbang orientasi politik dan kekuasaan. Slogan yang benar menurut al-Banna, bukan “Islam sebagai agama dan negara” (dîn wa daulah), tapi “Islam sebagai agama dan umat” (dîn wa ummah). [Novriantoni]
Komentar
Saya setuju dengan Al Banna yang memisahkan agama dan politik. Itu baru betul. Saya pikir R.Rudiana K. Ratjani agak kurang memahami mengenai agama dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bisakah anda memberi contoh apa itu ekonomi kristen, ekonomi hindu, ekonomi ateis, ekonomi buddha, ekonomi shinto, ekonomi katolik, ekonomi advent, ekonomi syiah, ekonomi sunni, ekonomi wahabbi, ekonomi yahudi, ekonomi badui, dan ekonomi-ekonomi lain yang berasaskan agama ataupun ateis? Saya yakin anda pasti tak akan bisa. Sudahlah, lebih baik kita merujuk pada S.Takdir Alisyahbana. Dalam salah satu tulisannya di majalah Humor ia mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa paling bodoh di dunia. Karena tak punya pendirian. Dikenalkan agama Hindu oleh orang India masuk Hindu. Lalu masuk Buddha. Datang orang Arab masuk Islam. Dijajah Belanda masuk Kristen. Terlepas anda setuju atau tak setuju, tulisan sastrawan terkemuka Indonesia itu perlu diperhatikan. Untuk apa? Untuk meredam kefanatikan yang tak perlu dari masing-masing pemeluk agama di Indonesia. Meminjam istilah Gus Dur, Gitu aja kok repot!
——-
kelihatannya sejarah ‘politik’ Islam yang anda nukil bukan bersumber pada fakta sejarah ketika Nabi SAW masih hidup, di mana pelaksanaan syariat Islam bisa bersinergi dengan kehidupan masyarakat luas, baik Islam maupun non, di dalam berbagai aspeknya, sprti pengadilan, dagang, angkatan bersenjata, zakat, bantuan sosial untuk rakyat tidak mampu, dll. yang anda lihat hanyalah kegagalan pemerintahan Muslim saat baru2 ini yang sebenarnya sistem kenegaraan mereka pun sudah tidak sesuai dengan saat Nabi SAW masih hidup, seperti sistem kerajaan yang turun temurun, padahal Nabi SAW dan Khalifah penerusnya selalu memakai sistem musywarah untuk mufakat untuk memilih gubernur untuk daerah di luar arab (lebih baik drpd sistem demokrasi di mana yang mayoritas pasti menang; nah klo yang mayoritas penjahat gimana dong???)
yang pasti keterlibatan kristen dalam kerajaan sangatlah berbeda dengan keterlibatan Islam pada jaman Nabi SAW dalam ‘politik’ mengurus ummat.
mari untuk melihat implementasi Islam yang sebenarnya cari contoh2 dari jaman kehidupan Nabi SAW via Hadist dan Al-Qur’an tentunya (akan lebih baik jika kita baca, kaji dan pelajari Al-Qur’an dan Hadist secara keseluruhan/kaffah sebelum kita ‘menilai’ apa itu Islam, karena pelaksanaan dengan teori bisa berbeda. jika yang anda liat jelek, belum tentu Islam mengajarkan demikian). jangan alergi dengan penerapan syariat Islam karena toh itu agama kita sendiri yang merupakan rahmat bagi seluruh alam yang berserah diri ke dalamnya (manusia Muslim dan non, laki dan perempuan, jin, binatang, tumbuhan, benda mati, dll).
wassalam
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Sebagai orang awam saya ingin menanggapi artikel Al Banna (Novrianto).
Bagi saya, seorang muslim yang mukmin, sehat akal & konsekwen, adalah seseorang yang tidak hanya beribadah mengikuti ajaran Islam, tapi dia juga akan berpolitk secara Islam, berekonomi secara Islam, bermasyarakat secara Islam, berbudaya secara Islam dst. Apalagi ajaran Islam bukan hanya ajaran agama saja, tapi juga ajaran politik, ajaran ekonomi, ajaran kemasyarakatan, ajaran budaya, ajaran moral dst.
Seorang kristen saja yang sehat akal & konsekwen, pasti akan berpolitik secara Kristen, berekonomi secara Kristen, bermasyarakat dan berbudaya secara Kristen dst. Padahal tidak ada yang namanya ajaran politik Kristen, ekonomi Kristen dst. Yang ada adalah ajaran moral Kristen yang diharapkan mengejawantah kedalam semua aspek kehidupan ummatnya. Kalau tidak demikian ia adalah seorang Kristen yang hipokrit.
Bahkan seorang liberal ataupun seorang komunis pun yang berakal sehat dan konsekwen pasti berpolitik liberal atau komunis, berekonomi liberal atau komunis dst. Bila tidak demikian ia seorang liberal atau komunis gadungan.
Juga seorang yang tidak beragama, seorang atheis atau vrijdenker akan berpolitik atheistic dst. Itu bagi yang konsekwen.
Bagi yang tidak konsekwen, seperti banyak kita lihat di masyarakat kita, mereka mengalami split personality, misalnya seorang yang beragama Islam, berpolitik secara liberal, berekonomi secara kapitalistik, bermasyarakat secara primitive, berbudaya secara pop dst (masih banyak kombinasi lain). Ini disebabkan oleh mental yang inferior, minderwaardigheidscomplex yang berlebihan. Orang-orang yang mengalami split personality justeru terdapat paling banyak pada saat ini di kalangan para pejabat, ulama dan cendikiawan. Berbeda dengan para pejabat, ulama dan cendikiawan pra dan pasca kemerdekaan hingga jaman orla. Mereka memiliki kepribadian yang utuh dan konsekwen.
Jadi bagi saya seorang muslim yang berkepribadian utuh, tidak mengalami split personality atau bermental inferior pasti berpolitik secara islami, berekonomi secara islami, bermasyarakat dan berbudaya secara islami dst. Apalagi Islam bukan hanya ajaran agama, tapi juga ajaran politik, ajaran ekonomi dst.
Demikian pandangan saya yang awam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
R. Ludiana K. Ratjani
“Bagi al-Banna, kekuasaan politik seperti negara, sedikit sekali membawa kemaslahatan agama dibanding kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya. Ketika masuk ke areal politik, agama hanya akan berfungsi sebagai legitimator kekuasaan dan akan bersifat sangat destruktif.” saya tertarik dengan kalimat ini karena dalam pandangan saya, agama sebagai pengikat moral dalam kehidupan sehari2, sangat bermaslahat apabila dapat digunakan sebagai pengatur. Dan “sesuatu” yang bisa mengatur adalah sesuatu yang mempunyai legitimasi yang kuat. Bukankah agama mempunyai kadar legitimasi yang kuat? orientasi kultural yang diajukan, menurut saya terlalu idealis. Pada realitasnya penggunaan agama sebagai orientasi kultural tidak akan bisa lebih efektif untuk membawa masyarakat yang lebih baik
Komentar Masuk (4)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)