08/05/2009

Asal Muasal Jagat Raya: Cinta ala Rumi atau Evolusi ala Hawking-Darwin?

Oleh Malja Abror

Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu

Meneruskan tradisi rutin bulanan selama ini, Jaringan Islam Liberal (JIL) pada tanggal 27 April 2009 menyelenggarakan sebuah diskusi dengan mengangkat tema “Agama, Sains, dan Teori Evolusi”. Diskusi yang berlangsung di Teater Utan Kayu, 68 H Jakarta, malam itu menghadirkan dua narasumber: Karlina L. Supelli dan Mulyadhi Kartanegara.

Secara tidak langsung tema ini diangkat dalam rangka memperingati 200 tahun kelahiran Charles Darwin, sang penggagas teori evolusi. Agak terlambat memang, sebab tarikh kelahiran Darwin tercatat pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 12 Desember 1809. Sedang bulan April sendiri tercatat sebagai bulan wafat Darwin. Darwin wafat pada 19 April 1882 di usia 72 tahun. Tetapi pokok soal yang didiskusikan pada malam itu sungguh bersifat lifetime, dengan demikian menjadi bersifat relatif terhadap waktu.

Kalau kita baca buku Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala: Dari Dentuman Besar hingga Lubang Hitam ([A Brief History of Time] Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995), juga buku Charles Darwin, Asal Usul Spesies ([The Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life] jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), kesadaran kita akan segera tergiring pada sebuah fakta mendasar bahwa sistem besar yang bekerja di jagat raya ini, baik jagat makro maupun mikro, tak lain adalah evolusi. Dari sejak berdirinya jagat raya hingga pembentukan “interior-interiornya”, sistem besar yang bekerja adalah evolusi.

Dalam buku A Brief History of Time, Hawking menjelaskan bahwa jagat raya ini bermula dari sebuah singularitas pada sekitar 10 milyar tahun lampau. Dari singularitas inilah terjadi Big Bang, sebuah dentuman besar. Setelah terjadi ledakan besar, jagat raya kemudian terus-menerus mengalami proses pemuaian. Dalam perjalanan pemuaian ini, temperatur jagat raya lambat laun mengalami penurunan. Pemuaian terus-menerus yang sekaligus dibarengi oleh penurunan temperatur, kodrat jagat raya kemudian berakhir pada sebuah singularitas, sebagaimana ia muncul awal mula. Pada singularitas kali ini, jagat raya akan mengalami Kerkahan Besar atau Big Crunch.  Perkiraan astronomis, dari waktu sekarang sampai terjadinya peristiwa Kerkahan Besar nanti, juga dibutuhkan waktu 10 milyar tahun. Kerkahan besar inilah yang dalam ramalan para ahli astronomi disebut sebagai akhir dari riwayat sang kala atau berakhirnya sang waktu. Dalam bahasa agama peristiwa Kerkahan Besar ini disebut sebagai Hari Akhir atau Kiamat Semesta.

Pada level jagat mikro, kita juga melihat hal yang sama. Sebagaimana halnya jagat makro bermula dari singularitas, jagat mikro juga bermula dari sebuah “singularitas”, yakni amoeba, makhluk bersel satu serba bisa di mana semua tugas dapat dilakukan olehnya tanpa mengalami tumpang tindih. Yang agak berbeda mungkin adalah apakah makhluk-makhluk yang beragam ini akan berakhir pada sebuah “singularitas” juga ataukah tidak, sebagaimana berakhirnya jagat makro.

Bermula pada sebuah kubangan kaldu purba yang pas komposisi adonannya, makhluk bersel satu tersebut kemudian mengalami proses spesiasi atau percabangan spesies baru, dari yang simpel sampai ke bentuk yang kompleks. Richard Dawkins, dalam bukunya, Sungai dari Firdaus: Suatu Pandangan Darwinian tentang Kehidupan (Jakarta: KPG, 2005, hal. 8), menyebut proses spesiasi itu sebagai “a long goodbye”, sebuah ucapan selamat tinggal yang sangat jauh oleh spesies baru terhadap spesies lama.

Mulyadhi malam itu menjelaskan peristiwa-peristiwa jagat raya ini dalam prespektif Rumian (Jalaluddin Rumi). Dalam perspektif Rumian, sistem besar yang bekerja di dalam alam raya bukanlah pertama-tama adalah evolusi, tetapi Energi Cinta. Cinta inilah yang menjelaskan munculnya jagat raya, modus berputar jagat raya, sampai terbentuknya makhluk-makhluk di dalamnya. Persis sebagaimana bunyi sebuah hadis qudsi yang sangat disukai oleh para ahli sufi dalam menjelaskan Tuhan dan asal mula alam raya:  kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’raf, fa khalaqtu khalqan (Pada mulanya, Aku adalah Khazanah Kesunyian. Tapi tak elok rasanya Aku terjebak lama dalam kesunyian, maka Ku ciptakanlah makhluk-makhluk itu).

Energi cinta itulah, dalam perspektif Rumian, yang menjelaskan kenapa Bumi setia berputar mengelilingi Matahari. Kalau saja bukan karena Cinta itu, niscaya Bumi sudah menelusuri jalannya sendiri, bergerak menjauh dari Matahari. Walhasil, benda-benda langit akan jatuh pada situasi chaos. Dengan perspektif Rumian ini, Mulyadhi seolah-olah ingin mengatakan bahwa sistem besar yang pertama-tama bekerja di dalam jagat raya ini adalah Cinta. Cinta sebagai first-line, evolusi sebagai second-line.

Menanggapi presentasi Mulyadhi yang didominasi penjelasan dengan argumentasi Cinta, Karlina melontarkan sebuah metafor yang cerdas dan sungguh sangat menohok tipikal para ahli sains: Cinta telah terkubur oleh gravitasi. Dalam bahasa yang agak vulgar mungkin metafor itu hendak mengatakan:  go to the hell with your Love!  Dengan metafor seperti ini, Karlina seolah-olah ingin mengkritik cara bereaksi kalangan agamawan yang seringkali menyeret hal-hal empirik ke wilayah non-empirik untuk mencarikan penjelasannya.

Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu (Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala. Jakarta: Pustaka utama Grafiti, 1995, hal. 9).

Dengan metafor Cinta telah terkubur oleh gravitasi, Karlina ingin mengatakan bahwa cara yang paling masuk akal untuk mengurai ruwetnya sejarah alam semesta ini, tak lain adalah teori evolusi. Kekurang-puasan pihak agamawan terhadap penjelasan dengan memakai argumentasi evolusi lebih disebabkan pemahaman mereka tentang teori evolusi seolah-olah teori ini menampik adanya Supreme Being atau Tuhan di balik peristiwa alam raya ini. Menanggapi tuduhan seperti itu, Karlina menjawab: Tuhan adalah ontologi yang dikleim oleh sekian banyak episteme.

Menurut Karlina, teori evolusi sama sekali tidak berkaitan dengan wilayah pertanyaan ambang batas seperti itu. Dalam wawancaranya di Harian Kompas (Rubrik Persona, 5 April 2009), Jorga Ibrahim --guru besar Astronomi ITB, Bandung-- menyebut pertanyaan demikian sebagai pertanyaan khas ilmuwan wilayah perbatasan. Dan sains sama sekali tidak berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan demikian, pertanyaan tentang dari dan kemana alam semesta beserta seluruh isinya bergerak (sangkan paraning dumadi). Karlina sendiri saat ditodong dengan pertanyaan seperti ini, ia mengatakan demikian: sejauh menyangkut wilayah empirik, kita bisa bersandar pada penjelasan sains. Di luar itu, kita tak bisa lain kecuali terantuk pada sebuah metafor.

Lebih jauh, menurut Karlina, teori evolusi harus dipahami bahwa dengan teori itu, para ahli sains meyakini adanya sejarah panjang yang melatar belakangi terbentuknya alam semesta dengan segala makhluk yang ada di dalamnya. Dengan teori evolusi ini, mereka ingin mengatakan bahwa alam semesta ini bukanlah peristiwa ahistoris, alam semesta punya sejarah panjang yang dilaluinya setapak demi setapak. Inilah yang sama sekali bertolak belakang dengan keyakinan dalam agama bahwa jagat raya beserta seluruh isinya muncul dengan sekonyong-konyong begitu saja persis ketika Tuhan bersabda:  Kun Fa Yakun (Ada lah, maka segala sesuatu sekonyong-konyong ada). Munculnya alam semesta secara sekonyong-konyong inilah yang ditolak oleh para ahli sains.

08/05/2009 | | #

Komentar

Komentar Masuk (86)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Meskipun Teori Darwin lemah, tapi dia dibangun dari usaha keras untuk memahami fenomena alam, bukan dari hasil orang malas berpikir yang cuma membebek apa kata kitab suci. Tapi sebagian orang Islam memang gitu. Lebih suka membebek apa kata kitab suci, lalu merasa puas dan merasa paling beriman sambil mencemooh mereka yang berusaha mendayagunakan fikirannya dengan maksimal.

Posted by Miftahalzaman  on  07/09  at  02:20 PM

Kok masih pada ribut soal Darwin, udah deh...teory evolusi udah basi, lihat kedepan dong, jangan kebelakang lagi, darwinisme udah tergilas oleh kemajuan teknologi, dan sains dalam agama islam tidak mendukung teory evolusi. ini udah zaman milenium, bukan masih zaman kuda gigit besi bung, wake up Indonesiaku.

Posted by Toni  on  07/08  at  10:00 AM

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, mengenai teori Darwin dapat dikatakan hipotesanya sangat lemah, disebabkan proses terjadi evolusi adalah kebetulan atau terjadi sendiri. Dalam proses penciptaan Tahap kedua, Dia berkehendak menciptakan yang pertama melalui unsur secara langsung, misalnya manusia dari tanah, dan terbukti komposisi kimia sangat dekat. Begitu juga dengan makhluk hidup lain. semua tak lepas dari kekuasaanNya. Makhluk hidup berkembangbiak dan mengalami perbedaan genetik menjadi beberapa jenis, semua tak lepas dari kontrol sang Maha Kuasa. Aliran energi kehidupan membuat pertumbuhan makhluk ciptaanya berkembang dan di jaga oleh malaikat sehingga sempurna. Begitu kompleknya proses penciptaan, tak bisa diterangkan secara gamblang, intinya SEMUA TERKONTROL bukan KEBETULAN atau TERJADI BEGITU SAJA. Manusia tidak sepenuhnya dapat memahami atau mengamati proses penciptaan karena keterbatasannya. Melalui rangkaian hipotesa ini semoga dapat diambil kebenaran, ibarat matematika kebenaran faktor x,y,z dan hipotesa variable a,b,c dst sehingga didapat pendekatan kebenaran. Dapat dikatakan kebenaran pengetahuan tak lebih dari pendekatan kebenaran, sedangkan agama adalah yang kebenaran sesungguhnya. 
Kesimpulannya dapat menjadi gambaran teori bahwa EVOLUSI DARWIN SANGAT LEMAH, di dasarkan argumentasi evolusi kera menjadi manusia. Jadi kesimpulannya KEMIRIPAN terjadi karena PENCIPTANYA adalah penciptanya hanya satu yaitu ALLAH yang Esa dan salah satu aspek keteraturan ciptaan yang menghasilkan keindahan serta kebenarannya dan TIDAK TERJADI KEBETULAN, melainkan TERKONTROL atas kehendakNYA agar tidak berubah menjadi MONSTER. Semoga paham dan bermanfaat bagi kita semua, terimakasih, kebenaran hanya dari ALLAH dan kesalahan tentu dalam hal cara menyampaikan atau keterbatasan pengetahuan, untuk itu mohon maaf sebesarnya semoga semuanya tercerahkan

Posted by ferry  on  06/22  at  09:58 PM

Sudah lama, saya tidak ikutan komentar, jika dilihat komentar saya dahulu terakhir no 55, tidak semuda orang dapat menangkap kebenaran yang ada di dalamnya. Semua pengetahuan yang ada sekarang berasal dari hipotesa atau dugaan, belum menjadi benar kalau belum ada pembuktian. Sebelumnya diterangkan fenomena “Kun fa yakun”, adalah pemicu reaksi berantai yang menciptakan semesta ini, seperti kartu deret akan bergerak jika yang pertama disentuh. Proses penciptaan terjadi tiga proses, awal , sedang berlangsung dan akhir. Allah Maha Pencipta dan tak akan berhenti mencipta. Saking cepat proses penciptaan, seperti ledakan big bang seketika dimulailah proses pembentukan.Proses penciptaan dikendalikan oleh Nya dalam bentuk yang tidak dipahami manusia, karena sensor manusia sangat terbatas mendeteksi. Ringkasnya proses akumulasi dari nebula bintang planet dst. Tahap kedua sedang berlangsung, mulai terbentuk makhluk yaitu Malaikat, jin , tumbuhan, binatang dan manusia. Tidak ada yang tak dikontrol oleh Nya, setangkai buahpun di jaga Malaikat, supaya proses molekulernya terkontrol sesuai kehendakNya, begitu juga hal yang lain, kalian semua tidak bisa membayangkan aliran energi kehidupan atau chi dalam film fiksi ilmiah membuat reaksi berjalan sesuai rencana Nya. Kalau tidak tercipta makhluk monster, atau cacat seperti produk mutasi radiasi nuklir, Semua tercipta memiliki kemiripan dan keteratuan serta beralur karena karya Nya Maha Indah. Tahap akhir adalah penghancuran semuanya, atau kiamat. seperti dilihat di semesta ledakan bintang dst. Semua itu jadi pelajaran bagi manusia, jangan terlalu bangga atas kesombongan paling benar, paling pintar, paling ..? . yang berujung pada kehancuran manusia itu sendiri. semoga bermanfaat, hanya yang berhati putih, berniat mencari kebenaran yang dapat dicerahnya . Semoga bermanfaat dan semoga berdebat yang sehat saling menghargai,

Posted by ferry  on  06/22  at  08:52 PM

Walah ... Walah ... Walah ... Debat tentang DARWIN ... Tapi sepertinya jarang yang baca bukunya langsung --The Origin of the species--. Berdebat hanya berdasarkan persepsi ... Yaitu berdebat berdasarkan katanya ... Tidak ada yang mengutip pandangan-pandangan Darwin berdasarkan bukunya itu --padahal The Origin of the species tersebut sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia-- agar lebih mudah memahaminya. Kenapa langsung ngomong teori evolusi ? Kalau basisnya adalah masalah SELEKSI ALAM yaitu survival for fittest ? Sebelum ke teori evolusi ini ? Siapakah yang MENYANGKAL teori SELEKSI ALAM ini ? Dengan HUKUM BESINYA ... SURVIVAL for FITTEST ... ? Padahal ini TEORI DARWIN ... ? Langsung saja GEDEBAG GEDEBUG ... Bahwa TEORI EVOLUSI itu SALAH ? Kalau SALAH ... ? Dijelaskan saja SALAHNYA dimana ? Kutip BUKUNYA DARWIN atau PENGIKUT SETIANYA ? Kupas habis pointers kesalahan yang ada ?

Posted by HP  on  05/06  at  05:02 PM