Suara Mahasiswa,
14/10/2011

Bebas itu Gerak

Oleh Mugianto*

Alkisah, suatu hari seorang Darwis (pejalan sufi) bersama dengan anak laki-lakinya, baru saja membeli seekor keledai dari pasar. Dalam perjalanan pulang, keledai itu dinaiki oleh sang Ayah. Di jalan orang mencemooh bahwa Darwis tidak punya belas kasihan pada anaknya yang menuntunya. Turunlah Darwis dan mengganti Anaknya duduk di punggung keledai. Lagi-lagi orang mencemooh Anak itu dengan mengatakan durhaka, tidak tahu diri, karena Ayahnya disuruh menuntun. Lalu dipilihlah, agar keledai tidak usah dinaiki. Orang pun menghardiknya lagi.”Dasar bodoh, beli keledai tidak dinaiki?”  Sepenggal cerita diatas menggambarkan bahwa orang sulit memperoleh kebebasan di kehidupan sosial.

Barangkali burung dalam sangkar jika bisa berbicara akan berkata,”Aku ingin bebas.” Namun Ia makhluk binatang yang hanya bisa berbunyi, tidak bertutur. Teringat pula pada bangsa Ent, pepohonan yang hidup, dalam film ‘The Lord Of The Ring’ yang memberontak pada para Orch ciptaan Saruman akibat pembalakkan yang dilakukan terhadap bangsanya. Lagi, mereka ingin kebebasan dan ketentraman.

Bagaimana dengan manusia? Makhluk yang ribuan tahun menjadi perdebatan di kalangan para filsuf. Tentang esensi dan eksistensinya. Sudahkan memperoleh kebebasannya? Jika benar kebebasan telah diraih, kenapa pembunuhan, penyiksaan, penindasan dan perbudakan masih terus terjadi. Lihat saja buruh yang bekerja dipabrik, buruh migrant diluar negeri dan pembungkaman terhadap kritik di kampus.

Teriakan dan perlawanan untuk kebebasan terus menerus terjadi. Sejalan itu pula penindasan antar manusia menampakkan wujudnya di layar kaca TV setiap hari. Muhammad SAW, nabi terakhir umat islam, sebelum dia mendakwahkan ajaran islam menyerukan kebebasan pada umatnya atas situasi perbudakan. Karl Marx juga membuktikan kecintaannya pada manusia dengan menyusun filsafat dan sosialisme ilmiah sebagai alat perjuangan kaum buruh untuk mendapatkan kemerdekaan dan kebebasannya atas kerja.

Setiap perkembangan masyarakat selalu berkontradiksi. Marx mengatakan sejarah perkembangan masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas. Dan setelah dikaji, semua kontradiksi dan perjuangan kelas itu mengarah pada satu titik, yakni kebebasan.

Bebas adalah keadaan tanpa penguasaan. Artinya manusia secara eksistensinya adalah bebas. Jean Paul Sartre mengatakan Man is free, other, Man is freedom. Manusia itulah kebebasan. Sebelum berbicara esensi, eksistensi dahulu yang perlu dilihat.

Jika merunut pada gagasan para eksistensialis, kedudukan tertinggi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Keunikan manusia mendapat porsi utama diranah sosial. Tapi bukankah sebelum manusia lahir, nilai dan struktur lebih dulu ada? Dimana manusia akan menempatkan makna ‘bebas’ itu?

Mungkin kebebasan itu sama halnya kita mencari Tuhan. Yang hampir penduduk di bumi ini bermunajad, tapi kosong. Kita hanya tahu menjelang pribadi dewasa dengan menyadari bahwa dirinya telah memiliki bahasa, agama, identitas, tata aturan, budaya dan stereotip yang harus diikuti. Bila memberontak, inilah konflik. Konflik adalah perubahan. Secara otomatis kebebasan itu gerak.

Saya berpikiran bahwa bebas itu gerak. Bukan statis ada dalam diri indvidu. Jangan merasa bebas bila kita tidak bergerak menginterograsi diri kita dan lingkungan sosial. Kritis. Bukan malah individu menjadi muara akhir.

Bebas tidak dapat hadir saat orang lain tidak bebas. Bebas mestinya terkonsolidasikan bersama bebas yang lainnya. Sehingga ada mata rantai yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Aneh, bilamana kita bebas tapi orang lain tertekan oleh bebas diri kita. Akhirnya bahasa yang muncul adalah dominasi dan penindasan.

Sedikit saya meminjam pemikiran Jurgen Habermas tentang dunia kehidupan dan dunia sistem. Memungkinkan bila bebas itu akan mendapatkan ruang dalam dunia kehidupan. Karena hal yang mustahil kebebasan akan hidup dalam dunia sistem. Artinya bebas akan didapatkan diluar struktur. Maka bebas itu gerak.

Jika benar bebas ada dalam dunia kehidupan, maka struktur dan sistem yang harus dihabisi. Sebab merampas kebebasan sendiri. Dunia kehidupanlah yang harus direngkuh.

Kapitalisme adalah satu-satunya struktur yang mengekang kebebasan. Ia mengendalikan kehidupan manusia dan alam. Mulai dari eksploitasi bahan baku, produksi, hingga bercongkol di pasar. Dalam memperoleh bahan baku, kapitalisme menghancurkan kebebasan alam. Masuk sistem produksi, menghilangkan kebebasan pekerja, bahkan menimbulkan alienasi. Sebab berkarya bukan untuk jiwa, tapi memenuhi tuntutan tuannya. Dipasar, kapitalisme meniadakan kebebasan konsumen untuk memilih. Semua sudah terkondisikan lewat media, simbol dan konstruksi. Sebagaimana yang dikatakan Herbert Marcus, one dimensional man.

Bertolak dari itu, sejatinya semangat liberty adalah gerak menghancurkan sistem dan struktur yang menindas. Tidak menempatkan manusia secara utuh. Kemanusiaan hakikilah yang dicari. Oleh karena itu, perdebatan pemikir sosial dari dulu tentang manusia sesungguhnya ada pada pengakuan manusia.

Tidak secara ideologis, cita-cita besar pengakuan manusia ada pada Marxisme. Karena Marx membangun pemikirannya diatas kecintaannya pada manusia. Manusia sendiri secara eksistensi adalah bebas. Bebas itu gerak.  Dengan kata lain, ketika manusia bergerak atas situasinya, disitulah roh bebas hadir.

Terakhir saya akan bercerita sebuah kisah yang dikutip dari Editor dibuku Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia karya Drs.H.Muzairi, MA. Alkisah, suatu hari seorang Darwis (pejalan sufi) bersama dengan anak laki-lakinya, baru saja membeli seekor keledai dari pasar. Dalam perjalanan pulang, keledai itu dinaiki oleh sang Ayah. Di jalan orang mencemooh bahwa Darwis tidak punya belas kasihan pada anaknya yang menuntunya. Turunlah Darwis dan mengganti Anaknya duduk di punggung keledai. Lagi-lagi orang mencemooh Anak itu dengan mengatakan durhaka, tidak tahu diri, karena Ayahnya disuruh menuntun. Lalu dipilihlah, agar keledai tidak usah dinaiki. Orang pun menghardiknya lagi.”Dasar bodoh, beli keledai tidak dinaiki?”

Sepenggal cerita diatas menggambarkan bahwa orang sulit memperoleh kebebasan di kehidupan sosial. Sayang, disaat mereka mendapati ketiadaan kebebasan pada dirinya, tidak melakukan suatu gerak. Teruslah dia tersiksa oleh cemoohan. Bebas tidak bisa didapatkan dengan berdiam diri. Bukankah kehidupan itu dinamis dan dialektis? Disisi lain ada pihak yang sedang mencoba mempertahankan struktur dan status quonya. Maka bebas ada dalam gerak. Terus dan terus sampai raga dan jiwa mati. 


*Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Solidaritas dan Teater Si Anak, FISIP

 

14/10/2011 | Suara Mahasiswa, | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)