Reportase,
09/02/2012

Reportase Diskusi Bulanan "Mendaras Syair Arab Jahiliah" Benarkah Bahasa Alquran Tak Tertandingi?

Oleh Prio Pratama*

Menurut Ulil, terdapat keluncaspahaman di kalangan umat muslim dalam memahami kata jahiliyah sebagai lawan dari pengetahuan atau kecerdasan. Bagi Ulil, terma jahiliyah yang mengacu pada konteks masa Arab sebelum Islam lebih tepat dimaknai sebagai antonim atau lawan kata al-hilm atau magnanimity. Dari sudut pandang ini, al-hilm yang secara letterlijk bermakna murah hati, adalah suatu sikap tidak mempersoalkan kesalahan/kecerobohan dan “ketengilan-ketengilan” yang dibuat orang lain dengan maksud untuk menjaga level ketinggian moral si target “ketengilan”. Secara khusus, Ulil menunjuk contoh “ketengilan-ketengilan” perilaku para tweeps di media sosial Twitter. Dalam Alquran, sikap demikian ini misalnya diperlihatkan dalam QS. al-Furqan 25:63, tentang karakteristik hamba pemurah hati (generous).

Selain karena muatannya yang berisi kebenaran, mukjizat kitab suci Alquran juga dipercayai terdapat dalam diksi dan pola puitiknya dalam menyampaikan pesan. Ada kalangan yang meyakini bahwa gaya puitik Alquran ini berakar dari syair-syair yang muncul pada masa pra Islam (masa jahiliyah). Sementara itu, sebagian yang lain lebih meyakininya muncul belakangan untuk menjustifikasi keindahan Alquran.

Untuk mendalami persoalan ini, pada tanggal 31 Januari 2012 kemarin, Jaringan Islam Liberal kembali menyelenggarakan diskusi dengan tema “Mendaras Syair-syair Arab Jahiliyah”. Diskusi berlangsung dengan dimoderati oleh Malja Abrar. Ulil Abshar Abdalla dan Novriantoni Kahar menjadi narasumbernya.

Pada awal pewahyuan Alquran, syair-syair jahiliyah menurut Novri banyak tampil sebagai pembanding atau pesaing ayat-ayat Alquran. Dalam konteks ini, ada kebiasaan masyarakat Arab di masa Islam perdana yang menganggap tokoh-tokoh yang mahir berkata-kata sebagai penyair, dukun (al-kâhin), tukang sihir (al-sâhir) atau orang yang terkontaminasi roh gaib (al-majnûn). Nabi Muhammad dengan wahyu yang diterimanya, juga dijuluki oleh mereka dengan nama-nama ini. Mereka meyakini bahwa orang yang kemasukan roh gaib, bisa menyebabkan dirinya mampu mengeluarkan kata-kata yang indah. Berangkat dari keyakinan ini, orang-orang Arab menilai bahwa syair yang diungkapkan orang ketika sedang kesurupan justru lebih tinggi nilainya ketimbang saat dia waras. Mengatakan Muhammad sebagai kesurupan jin, bagi orang Arab saat itu, bertujuan untuk mengatakan bahwa apa yang keluar dari mulut beliau adalah syair yang indah. Namun persangkaan ini justru ditolak Alquran yang tidak menghendaki wahyu disetarakan dengan syair, betapapun indah dan tinggi nilainya.

Kendatipun berparas syair dan puitis, kitab suci Alquran lebih menghendaki dirinya sebagai sebuah pesan-pesan moral. Namun demikian, pada kenyataannya syair-syair jahiliyah yang bermuatan religi dan sarat pesan moral yang tidak kalah dengan apa yang dibincangkan Alquran, juga banyak ditemukan menjadi tandingannya. Novri menyebut syair dari Hatim Ibn Tha’iy yang menandingi pesan dalam QS. Yâsîn/36:78-79 sebagai contohnya. Berikut adalah rupa syairnya:
اما والذى لا يعلم الغيب غيره # ويحيى العظام البيض وهي رميم
“Ketahuilah, demi zat yang selain dari dia tidak ada yang mengetahui hal gaib, dialah yang menghidupkan tulang-belulang yang putih ketika ia telah berkalang tanah”.

Atau syair dari Syu’aib Ibn ‘Amir yang menandingi pesan moral dalam ayat ke 78 QS. al-Nisa/4, berikut ini:
لا تأمن وان امسيت فى حرم # ان المنايا بجنبي كل انسان
فكل ذى صاحب يوما يفارقه # وكل زاد وان ابقيته فان
“Kalian tak akan pernah aman walaupun menginap di Haram. Sesungguhnya kematian hinggap di sisi setiap orang. Setiap pemilik akan berpisah dengan yang dimilikinya suatu saat nanti. Bahkan bahan bakar meskipun ditambah terus pasti akan habis juga”.

Selama ini umat muslim meyakini bahwa wahyu Alquran turun tanpa tandingan. Mereka menilai keindahan sastra Alquran dan muatan moralnya tak tersaingi oleh orang-orang Arab jahiliyah. Padahal faktanya, ada banyak tokoh-tokoh pujangga (al-syu’ara) yang turut berkontestasi merebutkan simpati masa kala itu. Menurut Novri, setidaknya ada tujuh tokoh penyair terkenal kala itu tidak kalah hebatnya dengan Muhammad. Salah satunya adalah Zuhair Ibn Abi Sulma yang lebih dulu mengenalkan konsep hari akhir ketimbang Nabi Muhammad melalui syairnya berikut ini:
فلا تكتمن الله ما فى نفوسكم * ليخفى ومهما يكتم الله يعلم
يؤخر  فيوضع فى كتاب فيدخر * ليوم الحساب او يعجل فينقم
“Kalian tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di jiwa kalian dari Allah karena Dia maha mengetahui. Nanti perbuatan kalian akan ditulis di dalam kitab dan dihitung di hari perhitungan dan kalian akan dibalas”.

Kedudukan syair adalah sentral pada masa jahiliyah. Dalam hal ini ada ungkapan terkenal bahwa syair adalah dokumen penting orang Arab (al-syi’ru dîwân al-‘arab). Tidak diketahui dokumen lain dari orang Arab masa itu, untuk mengungkapkan ekspresi dan emosi, baik untuk mengungkapkan suka maupun duka, selain melalui syair. Kitab suci Alquran dalam kondisi ini juga tunduk pada pola budaya Arab jahiliyah tersebut. Satu-satunya jalan yang ditempuh untuk melepaskan stigma syair bagi Alquran, dan penyair bagi Muhammad, adalah dengan pesan-pesan sanggahan dan tantangan kepada orang-orang Arab itu. Dalam QS. al-Anbiya/2:5 atau QS. Yâsîn/36:69 misalnya, digambarkan bagaimana Alquran menepis pandangan masyarakat Arab bahwa Alquran identik dengan syair.

Dalam pada itu, Alquran mencoba membedakan dirinya dari syair-syair. Wahyu Alquran, demikian Novri menjelaskan, bersikeras menegaskan bahwa hanya mengungkap fakta, sementara syair-syair itu menggelapkan antara fiksi dan fakta, betapapun terdengar indahnya.

Mengutip al-Ashma’i, Novri menjelaskan bahwa orang-orang Arab jahiliyah terbiasa menempatkan tokoh-tokoh pujangga (al-syu’ara) setara dengan Nabi. Karenanya, dalam pandangan orang Arab saat itu, pengakuan Muhammad sebagai Nabi bukanlah suatu hal yang baru. Posisi beliau saat itu mesti bersaing dengan tokoh-tokoh “pers” yang memiliki karya syair yang kemungkinan lebih berkualitas dan lebih banyak peminatnya ketimbang Alquran. Ada pandangan umum saat itu, bahwa syair yang bagus adalah syair yang kontennya adalah sarkastik. Sementara model syair Alquran yang dipublikasikan Nabi Muhammad justru digunakan di luar konteks popular ini, yaitu untuk kebajikan. Karena ketidakpopuleran inilah, dapat dipahami mengapa wahyu Alquran lebih banyak diejek oleh masyarakat Arab saat itu ketimbang diapresiasi.

Untuk menandingi para penyair Arab itu, Nabi merekrut Hassan bin Tsabit, tokoh penyair terkemuka masa Jahiliyah, sebagai tangan kanannya. Tugas Hassan Ibn Tsabit ini adalah memproduksi syair-syair naqâid (puisi balasan) kepada penyair-penyair Arab yang menjadi pesaing Nabi. Ini bisa dipahami, mengingat pertarungan wacana antar penyair begitu keras saat itu. Dalam hal ini, sampai-sampai Jin pun ikut dilibatkan dalam wacana pertarungan itu. Syair yang ditujukan kepada Sa’ad Ibn Ubadah, saingan Abu Bakar sebagai Khalifah, berikut adalah contohnya:
قد قتلنا سيد الخزرج سعد ابن عبادة # ورميناه بسهمين فلم نخطئ فؤاده
“Kami (Jin) telah membunuh pemimpin Khazraj Sa’ad Ibn Ubadah. Kami melemparnya dengan dua panah yang tidak meleset tepat di jantungnya”.

Ketika Nabi berkuasa, beliau mengambil kebijakan untuk meminimalisir, kalau perlu menghilangkan, beredarnya syair-syair Arab Jahiliyah yang berpretensi menyaingi, memplagiat atau memplesetkan Alquran untuk tetap menjaga superioritas Alquran. Kebijakan Nabi ini kemudian diteruskan oleh para khalifah sesudahnya. Namun begitu, nanti di masa Ustman, syair-syair ledekan antar suku kembali muncul lagi menghiasi pertikaian sosial-politik yang muncul kala itu. 

Beranjak ke masa kontemporer, syair-syair jahiliyah berhasil diartikulasikan kembali oleh Thaha Husein, seorang mahaguru sastra arab terkemuka. Dalam penelitiannya, Thaha Husein menurut Novri sampai pada kesimpulan bahwa syair-syair jahiliyah sebetulnya dibuat oleh umat muslim belakangan sebagai senjata ideologis memperkuat pandangan bahwa Islam punya presedennya dalam sejarah. Studi tentang “masa-hanif” sebelum kedatangan Islam ikut mendukung pandangan ini. Ini berkebalikan dengan keyakinan Islam pada awal masa kedatangannya. Kala itu, Islam sendiri menyangkal bahwa dirinya memiliki preseden dari masa sebelumnya. Islam pada masa itu menghendaki dirinya agar dikenal sebagai agama baru yang reformatif, tidak melibatkan proses akulturasi, murni, dan karenanya tidak berkepentingan dengan masa lalu.

Di lain pihak, Islam juga memproklamirkan dirinya sebagai ajaran pembaruan dekadensi moral. Padahal, jikalau eksistensi syair-syair Arab jahiliyah diterima, banyak sekali ajakan-ajakan moral melalui syair pra Islam beredar mendahului ajaran Muhammad dan Alquran. Kontradiksi inilah menurut Novri, yang mengantarkan Thaha Husein untuk berkesimpulan demikian.

Menurut Thaha Husein, ketika Islam berpapasan dengan peradaban-peradaban besar, ia terpaksa mereka-reka preseden dari masa lampaunya untuk sekedar membuktikan bahwa ia bukan peradaban badui, tapi peradaban yang terhormat dan tinggi. Buktinya ditunjukkan dengan syair-syair jahiliyah yang dikarang-karang umat muslim belakangan itu. Kalau Islam belakangan adalah Islam yang terobsesi pada image atau citra sebagai agama yang memilki akar dan teladan budaya masa lampau (lahu qudmah wa sâbiqah), maka Islam perdana adalah Islam yang mencoba mencerabut diri dari masa lampaunya.

Dalam analisanya, Novri menjelaskan bahwa syair-syair setelah Islam datang menjadi sekunder dan inferior, berada di bawah Alquran. Sementara itu, dalam masa pra Islam, syair-syair Arab berada di puncak ketenaran dan bahkan beroposisi dan menjadi saingan Alquran. Dalam hal ini, faktor politik turut berpengaruh dalam menentukan mana yang menang dan menjadi superior, dan mana yang kalah dan menjadi inferior. 

Sementara itu, Ulil Abshar Abdalla lebih tertarik membicarakan syair jahiliyah sebagai tema kecil saja dengan maksud mencari relevansi bahasan yang tepat. Untuk itu, ia memilih terma jahiliyah sebagai entri point diskusi. Menurut Ulil, terdapat keluncaspahaman di kalangan umat muslim dalam memahami kata jahiliyah sebagai lawan dari pengetahuan atau kecerdasan. Bagi Ulil, terma jahiliyah yang mengacu pada konteks masa Arab sebelum Islam lebih tepat dimaknai sebagai antonim atau lawan kata al-hilm atau magnanimity. Dari sudut pandang ini, al-hilm yang secara letterlijk bermakna murah hati, adalah suatu sikap tidak mempersoalkan kesalahan/kecerobohan dan “ketengilan-ketengilan” yang dibuat orang lain dengan maksud untuk menjaga level ketinggian moral si target “ketengilan”. Secara khusus, Ulil menunjuk contoh “ketengilan-ketengilan” perilaku para tweeps di media sosial Twitter. Dalam Alquran, sikap demikian ini misalnya diperlihatkan dalam QS. al-Furqan 25:63, tentang karakteristik hamba pemurah hati (generous). 

Jahiliyah yang dimaksud sebagai masa pra Islam adalah lawan dari pengertian al-hilm di atas. Masyarakat pra Islam, memang dikenal sebagai kelompok sosial yang kerap kali bertengkar “hanya” karena hal-hal remeh-temeh atau sepele. Dari soal-soal kecil itu, tidak jarang terjadi perang berkepanjangan antar suku (“civil war”) hingga 40 tahun. Menurut Ulil, sikap yang tidak proporsional dan tidak prinsipil demikian inilah yang menyebabkan mereka dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah.

Di sisi lain, masyarakat Arab pra Islam bukan pula kelompok sosial yang tidak tersentuh oleh pengetahuan. Mereka banyak melakukan interaksi dengan peradaban besar di luar lingkungan mereka. Dengan kata lain, dari segi pengetahuan dan ekonomi, masyarakat Arab pra Islam terbilang cukup terdedah dengan baik terhadap informasi dunia luar (well-exposed) dan makmur (prosperous). Mengutip sejarawan Jawad Ali dan Umar Faruq, Ulil sekali lagi menegaskan bahwa tidak benar bahwa terma jahiliyah untuk masyarakat Arab pra Islam berarti bodoh atau terbelakang.

Peperangan antar suku yang kerap terjadi bertahun-tahun, dalam pandangan Ulil, bukan karena mereka bodoh atau tidak berpengetahuan. Perperangan-peperangan tersebut, begitu Ulil, lebih dikarenakan oleh struktur sosialnya yang tidak memiliki pemerintahan negara ketimbang oleh masalah-masalah pengetahuan. Dalam kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat Arab pra Islam, jaminan perlindungan hanya diperoleh dari afiliasi mereka kepada suku-suku tertentu. Ketika sukunya dilecehkan, itu sama saja membahayakan keamanannya. Karena itu, gangguan-gangguan terhadap suku mesti dilawan meskipun kecil bentuknya. Ini saja sudah mampu menyulut peperangan sengit antar suku.

Dalam kondisi demikian ini, menurut Ulil, syair-syair menjadi elemen penting yang digunakan sebagai media dalam persaingan dan perseteruan antar suku tersebut. Karena fungsinya yang demikian ini, maka tema-tema yang terkandung dalam syair-syair Arab jahiliyah tidak lepas dari dua garis besar: al-madîh (memuji suku sendiri) dan al-hajâ’ (mencela suku orang). Di samping kedua tema besar ini adalah al-hamasah, yaitu berisi patriotisme, kecintaan seorang anggota suku kepada sukunya.

Persoalannya bagi kita adalah studi-studi tentang syair-syair masa Arab pra Islam masih gelap. Kalaupun ada, informasi yang diterima orang sekarang lebih banyak berbentuk data oral dari ingatan-ingatan yang terbilang kurang meyakinkan. Inilah mengapa orang seperti Thaha Husein meragukan bahwa syair-syair jahiliah benar-benar orisinal dari masa pra Islam tersebut. Di samping itu, masalah kebijakan birokratis pemerintah Arab yang mempersulit terselenggaranya penggalian artefak kuno juga menjadi sebab mengapa studi tentang syair-syair Arab jahiliah ini kurang berkembang. Kegelapan penelitian inilah yang pada akhirnya membawa kerancuan dan problem dilematis dalam mengetahui asal-usul bahasa Arab seperti digunakan dalam kitab suci Alquran.

Padahal, mengetahui asal-usul syair jahiliyah adalah sama pentingnya dengan mengetahui asal usul bahasa Alquran. Menerima hipotesa eksistensi syair-syair Arab jahiliyah, berarti mengharuskan umat muslim untuk percaya bahwa Alquran memiliki banyak tandingan. Faktor politiklah yang membuatnya belakangan menjadi superior. Sementara menolak hipotesa ini, dan menilai syair-syair Arab dibuat belakangan, sama artinya mengatakan bahwa keindahan sastra Alquran itu tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh dan dikembangkan belakangan seiring dengan kodifikasi syair-syair Arab jahiliyah dua abad setelahnya.


*Mahasiswa S2 Universitas Al-Syafi’iyah, Jatiwaringin Jakarta

 

09/02/2012 | Reportase, | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Pergulatan batin saya tidak tuntas setiap menghadapi issue tentang KONTES “SURAT SEMISAL QURAN”, dimana otentisitas Quran kok didasarkan pada superioritas puisi-nya, bukan pada hal2 yang lebih supra natural. Saya baca banyak sanggahan telak ttg ini. Dan salah satunya adalah http://bacabacaquran.com/2011/05/pilar-terbesar-al-quran-patah-macet-tak-terpulihkan/

Bagaimana harusnya Muslim mencernakannya?

Posted by Salam  on  04/20  at  03:55 PM

Jika yang penulis katakan memang benar maka sungguh pelupa, ceroboh dan bodoh orang orang arab non muslim saat itu, jika mereka bisa membuat sesuatu kata yang serupa dengan Al-Quran maka mereka seharusnya membuatnya, tentu itu akan menjadi pukulan telak bagi islam dan Al-Quran. Dalam Al Quran ada ayat yang menantang orang untuk membuat tandingan yang serupa al-Quran bukan ? Serupa, tidak lebih. Buat lah hal serupa dengan Al-Quran, dan itu akan meng-counter ayat tantangan dari Al-Quran itu.
Tapi pada kenyataannya, orang non muslim arab maupun non arab tak pernah ada yang membuat tandingan Al-Quran,bahkan sampai saat ini loh, sampai 14 abad lebih dari tantangan itu pertama kali disampaikan. 
Orang arab non muslim saat itu, mereka malah memilih jalan yang kasar, dengan perang dengan pengusiran nabi, mungkinkah karena hal itu lebih mudah daripada membuat tandingan Al-Quran tadi? smile.


Lagi pula kata kata si penulis artikel tidak valid, dia seperti mengatakan, “Tidak, si A bukan hanya yang terpintar di Indonesia, si B juga setingkat dengan si A loh, sama sama pintar matematikanya olahraganya dan segala macamnya sama seperti si A”.

Tapi pada kenyataanya si A memang lebih pintar dari si B, si A lebih sopan, lebih berbaik hati dan lebih berperasangka baik pada orang, pintar hati, pintar perbuatan.

Tapi yang mengatakan bahwa si B setingkat dengan si A tidak mengetahui itu, karena dia belum mengenal sifat, perbuatan dan seluk beluk si A, dan karena dia menyangka perbandingan ini hanya pada aspek akademis saja, padahal tidak ada yang pernah berkata kalau perbandingannya hanya pada akademis saja

Posted by Dante  on  03/15  at  10:12 PM

Bahasa Arab atau bahasa Al quran bukanlah bahasa yang lebih mulia dari bahasa2 lain2nya

Begitu pula bangsa Arab bukanlah lebih mulia dari bangsa2 lain2nya.

Yang mulia disisi ALLAH adalah orang2 yang BERTQWA dianatara bangsa2 di dunia ini,sebagaimana ALLAH berfirman.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (13)

CIVILIZATION / PRADAPAN MANUSIA.


salam

Posted by alatif  on  02/19  at  09:11 AM

assalamualaikum saudaraku, saya amat menghargai tulisan di atas. tetapi pada masa yang sama saya sangat ragu dan bimbang dengan pelbagai pandangan yang mengatakan bahwa bahasa sastera al quran dapat ditandingi oleh masyarakat Arab. Bukankah itu namanya suatu kesalahan fatal? sebab Allah sendiri sudah berfirman di dalam al Quran : “23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah 31 satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (QS. 2:23)
24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir. (QS. 2:24)’

mohon penjelasan beserta dalil yang kokoh! sekian… wassalam

Posted by ahmad choirur roziqin  on  02/17  at  05:53 PM

Jika konsisten menggunakan hermeneutikapun untuk membedah ayat2 berikut, niscaya tak akan terlaksana diskusi ini. Tanya, kapan hermeneutika bisa digunakan dan kapan harus disingkirkan? Ataukah memang sulit untuk menerima bahwa Al Qur’an adalah perkataan ALLOH, sehingga sibuk mencari pembanding2nya.

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada umatmu, jika mereka berkoalisi dengan jin untuk membuat Alquran lain yang sama dengan Alquranmu, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, meskipun satu sama lain saling membantu.” (Al-Isra: 88)

“Apakah mereka mengatakan bahwa Muhammad yang membuatnya? Katakanlah (ya Muhammad), buatlah sepuluh surat saja yang seperti Alquran. Kalau perlu, undanglah orang-orang yang kalian yakini mampu, tanpa keterlibatan Allah jika kalian yakin bisa membuatnya.” (Hud: 13)

“Apakah mereka mengatakan bahwa Muhammad-lah yang membuat Alquran? Katakan kepada mereka untuk membuat satu surat saja yang semisal Alquran.” (Yunus: 38).

“Jika kalian tetap meragukan apa yang Kami telah turunkan kepada Muhammad, coba, buatlah satu surat yang semisalnya. Kalau perlu, undanglah orang-orang yang kalian yakini bisa membantu untuk membuatnya, jika kalian yakin bisa membuatnya.” (Al-Baqarah: 23)

Posted by Lutfi  on  02/15  at  11:26 PM