Kolom
22/11/2009

Catatan tentang film ‘2012’

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (Surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi “wa idza ‘l-jibalu suyyirat”, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.

Film 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang menjadi kegemparan di sejumlah kota di Indonesia. Ribuan orang berduyun-duyun ke gedung bioskop untuk menyaksikannya. Pertama kali pergi bersama isteri ke gedung bioskop Cineplex 21 di Setiabudi Building, saya tidak mendapatkan tiket. Semua tiket ludes, bahkan hingga pertunjukan paling akhir selepas tengah malam. Kebetulan saat itu adalah malam Minggu.

Seminggu kemudian, saya datang kembali, tetap bersama isteri, untuk menonton film itu. Kali ini lumayan beruntung, karena akhirnya kami mendapatkan tiket. Tetapi, saya harus sedikit memendam rasa kecewa, karena hanya mendapatkan tempat duduk satu baris sebelum kursi yang paling depan. Selama film itu diputar, saya harus menonton film itu dengan sedikit mendongak. Usai menonton, leher saya terasa pegal-pegal.

Kenapa film ini mendadak menjadi kegemparan? Pertama, karena judulnya sendiri, 2012. Konon, itulah tahun yang diramalkan sebagai akhir dunia atau kiamat. Publik tentu penasaran, seperti apakah dunia kalau kiamat nanti. Kedua, ada komentar dari salah satu petinggi MUI, yaitu H. Amidhan, bahwa film ini mengandung propaganda ‘agama’ tertentu. Maksudnya mungkin agama Kristen (saya tidak tahu, di mana unsur propaganda Kristennya dalam film ini; Roland Emmerich jelas seorang agnostik, dan tidak peduli dengan soal kekristenan).

Bahkan ada rumor bahwa film ini akan dilarang beredar, karena dianggap tidak ‘Islami’. Khawatir film ini tidak lagi beredar di pasaran, publik tak sabar untuk segera menontonnya. Sebuah media bahkan memberitakan bahwa di Bali, sejumlah penonton rela membeli tiket dengan harga dua kali lipat dari seorang calo.

Suatu kejadian yang menarik saya alami ketika saya menonton film ini Sabtu kemaren, 21/11/09, di Teater Hollywood Kartika Chandra. Saya saksikan banyak sekali ibu-ibu berjilbab yang ikut antri menonton film ini. Saya mempunyai kesan, mereka ini tampaknya bukan ibu-ibu yang masuk dalam kategori “movie goers” atau penggemar film, tetapi ibu-ibu masjid ta’lim yang mungkin baru seumur-umur menonton film. Mungkin karena mendapat kabar ‘burung’ bahwa film ini berkenaan tentang hari kiamat, mereka tergerak untuk menonton. Mungkin juga karena film ini dipersoalkan oleh seorang petinggi MUI, mereka jadi pensaran untuk melihatnya langsung.

Ala kulli hal, komentar “miring” H. Amidhan dari MUI itu justru menjadi “iklan gratis” bagi film itu. Mestinya, produser film 2012 harus memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bapak Amidhan karena telah menjadi “juru iklan gratis” bagi film tersebut.

Apakah benar ini adalah film tentang hari kiamat? Jawaban saya dengan tegas: Tidak. Ini bukanlah film tentang “doomsday,” atau yaum al-qiyamah, dalam istilah Islamnya. Ini adalah film tentang bencana alam, natural disaster. Selama ini, sutradara Roland Emmerich memang dikenal sebagai spesialis di bidang film-film bencana alam. Salah satu filmnya yang sering saya tonton dan tak bosan-bosan adalah “Independence Day”. Fantasi Emmerich dalam film ini sungguh memukai: tentang serangan makhluk “asing” dari luar angkasa yang hendak menjajah bumi dan menghancurkan peradaban manusia.

Film Emmerich yang lain dan sangat laris adalah “The Day After Tomorrow”, tentang “pendinginan global” (bukan pemanasan global) di masa yang akan datang dan kembalinya Zaman Es (Ice Age).

Sebagaimana film-film Emmerich yang lain, film 2012 mempunyai ciri khas yang sama: yaitu fantasi yang liar tentang adanya bencana alam yang maha hebat, dan usaha manusia untuk “survive” atau selamat dari bencana itu. Film 2012 berbicara tentang dislokasi atau pergeseran lempeng bumi secara global yang menimbulkan tanah longsor dan gempa bumi di sekujur bumi. Bayangkan, gempa bumi di seluruh bumi! Gempa berkekuatan rata-rata di atas 9 dalam skala richter. Akibatnya, terjadilah tsunami global berupa ombak laut yang tingginya kira-kira 1500 meter. Tak ada satupun permukaan bumi yang selamat dari hempasan tsunami ini, keculai pucuk tertinggi Gunung Himalaya.

Apakah manusia musnah karena terjangan tsunami raksasa ini? Di sinilah seluruh kisah film 2012 berpusat. Film ini, sebagaimana film-film Emmerich yang lain, berkisah tentang “ikhtiar” manusia untuk selamat dari hempasan tsunami gigantik ini. Manusia tidaklah obyek pasif berhadapan dengan alam yang sedang “mengamuk”. Manusia memiliki kemampuan untuk “mengatasi” musibah alam dengan skala global.

Dalam film itu digambarkan bahwa datangnya bencana geologi global itu ternyata sudah diprediksi oleh sejumlah ilmuwan, dan suatu proyek rahasia dengan skala global yang melibatkan sebagian besar pemerintahan negara-negara besar dunia diam-diam dimulai. Yaitu membangun enam atau tujuh kapal besar yang mampu bertahan menghadapi hempasan tsunami raksasa itu. Kapal itu dibangun di sebuah tempat di daratan Cina. Ini adalah proyek yang sangat rahasia sekali. Prediksi tentang bencana global yang mengerikan itu juga sama sekali tak diberitahukan ke publik hingga detik-detik terakhir, khawatir menimbulkan kekacauan global.

Di lain pihak, film ini juga menggambarkan tentang perjuangan hidup-mati seorang penulis dari Los Angeles, Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack), pengarang novel yang sama sekali tak laku (hanya terbit 500 eksemplar) berjudul “Farewel Atlantis” yang juga berbicara tentang semacam bencana hebat. Perjuangan Curtis untuk selamat dari gempa dahsyat dan longsor bumi yang menghempas Los Angeles digambarkan dengan dramatis dalam film ini.

Salah satu daya tarik film ini adalah penggambaran tentang usaha untuk selamat dari situasi maut dalam hitungan detik. Siapapun tahu inilah “bumbu” dalam film-film laga Hollywood yang menjadikannya laris-manis seperti kacang goreng. Salah satu adegan dalam film ini yang membuat penonton menghela nafas adalah saat kapal induk raksasa John F. Kennedy menghantam Gedung Putih. Walaupun kita semua tahu ini adalah efek yang diciptakan melalui manipulasi komputer, tetapi adegan itu sendiri tetap memukau.

Ujung film itu jelas: Curtis, mantan isterinya dan kedua anaknya yang berjuang hidup mati untuk mencapai daratan Cina untuk naik kapal induk akhirnya berhasil. Peradaban manusia tidak musnah di tengah banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi. Kapal induk itu membawa manusia dan sejumlah binantang untuk melanjutkan kehidupan baru paska-banjir. Misi kapal itu memang jelas: menyelamatkan spesies manusia dan peradabannya.

Barangsiapa pernah membaca kisah tentang Nabi Nuh, sebetulnya akan segara tahu bahwa kerangka film ini memang diambil dari kisah itu. Mungkin kebetulan, atau mungkin juga disengaja oleh Emmerich atau penulis senario, anak laki-laki Jackson Curtis, salah satu tokoh utama dalam film itu, bernama Noah (versi Inggris dari nama Nuh dalam bahasa Arab).

Dalam sebuah wawancara di TV, H. Amidhan dari MUI berkata bahwa film itu tidak sesuai dengan semangat Islam. Alasannya, antara lain, bahwa hari kiamat termasuk barang gaib yang tidak diketahui oleh Tuhan. Oleh karena itu visualisasi hari kiamat tidak diperbolehkan.

Saya sebetulnya tidak ingin menganggap serius pernyataan “ngawur” tokoh MUI ini. Tetapi kalau sekedar mau “uji argumen”, maka saya bisa menjawabnya sebagai berikut. Pertama, ini bukanlah film tentang hari kiamat. Ini adalah film tentang bencana alam global yang dahsyat. Bencana ini tidak membuat dunia musnah dan manusia hilang dari pemukaan bumi. Kalau kita merujuk pengertian “hari kiamat” dalam nomenklatur Islam, jelas pengertian kiamat di sana adalah akhir dunia.

Dalam film ini, dunia digambarkan tidak berakhir. Dunia masih terus ada, dan manusia selamat dari hempasan tsunami global dan akhirnya menemukan kembali “dunia dan kehidupan baru” di Afrika, tepatnya di Semenanjung Ujung Harapan (di Afrika Selatan). Jadi keliru sama sekali manakala H. Amidhan dari MUI menganggap bahwa film ini adalah tentang hari kiamat.

Kedua, apakah betul visualisasi tentang hal yang gaib tidak diperbolehkan dalam Islam? Dari mana hukum itu dipeorleh oleh H. Amidhan. Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (Surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi “wa idza ‘l-jibalu suyyirat”, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.

Sekali lagi, tak ada larangan apapun dalam Islam untuk memvisualisasi semua hal yang gaib, terutama hari kiamat.

Ketiga, film ini, dalam pandangan saya, justru sesuai dengan semangat Islam. Film ini “mengajarkan” (tentu ini istilah yang terlalu “dramatis” untuk sebuah film yang tidak diniatkan sebagai sebuah “ajaran agama") tentang pentingnya ikhtiar dan optimisme walaupun manusia sedang dilanda bencana dahsyat yang seolah-olah di luar kekuasaan mereka. Manusia bukanlah makhluk yang tunduk saja pada “nasib”, tetapi mampu berikhitiar. Dalam keadaan yang sesulit apapun, manusia tetap harus berusaha dan memiliki harapan. Bukankah ini adalah “nilai” yang justru sesuai dengan semangat “Islam”, Bapak Amidhan?

Sebagai penutup, film ini sebetulnya tidak menarik dari segi cerita. Kalau mengharap kisah yang kompleks dan menarik dari film ini, siap-siaplah untuk kecewa. Film ini menarik karena efek-efek visual yang sangat mengagumkan. Fantasi tentang bencana alam yang tak pernah terpikirkan oleh kita dan efek-efek visual yang dengan cerdik dimanipulasi oleh Emmerich untuk menggambarkannya adalah salah satu daya tarik film ini.

Ala kulli hal, saya terhibur sekali dengan film ini.

22/11/2009 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (44)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Subhanallah Segala Puji Bagi Allah Rab Yang Meha Mengetahui Yang gaib dan yang nyata..

umat islam sekarang sudah jauh dari nilai-nilai tuntunan Al Qur’an dan As sunah dan konsekuensinya adalah ia akan terbawa arus apa pun arus itu..

Rasul pernah bersabda:"Aku tinggalkan untuk kalian 2 warisan yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan sunahku (Al Hadits)”

ketika orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT ia tahu akan konsekuensi iman kepada Allah itu sendiri yaitu mengikuti utusan-Nya dalam segala aspek kehidupan baik yang berkaitan dengan keyakinan (akidah), ibadah, mu’amalah, dll.

kaitan meyakini atau mempercayai suatu peristiwa tentang terjadinya kiamat umat islam yang betul-betul berpegang pada warisan Rasul SAW ia tidak akan pernah geger atau gempar dengan setiap hal-hal yang menggemparkan seperti film 2012 apalagi diisukan tentang hari kiamat itu sangat naif sekali, kenapa? karena bukankah Allah tidak memberitahukan akan terjadinya kiamat kecuali dengan tiba-tiba dan bukankah gambaran kejadian kiamat (visualisasinya) sudah dijelaskan oleh Al Qur’an dengan jelas dan membuat setiap orang yang berakal tidak bisa menolak akan keniscayaan terjadinya.

cukup bagi orang-orang yang beriman pada hari akhir firman-firman Allah dan sabda-sabda rasul saja yang seharusnya membuat mereka miris hati dan berfikir agar mereka selalu mendekatkan diri pada-Nya dengan mengikuti tuntunan Al Qur’an dan Sunah Rasul-Nya bukan sibuk membicarakan berita2 yang tak sama sekali memiliki nilai edukasi dan mensucikan jiwa.

saya teringat ayat-ayat Allah bahwa hanyalah ulil abshar (orang2 yang memiliki akal) yang akan mengambil pelajaran dari setiap ayat-ayat Allah baik tersurat atau pun tersirat dan hasil dari tadzakur dan tafakur akan ayat2 Allah SWT mampu memahami dirinya sebagai hamba Allah yang total tunduk kepada-Nya dan takut.

wallahu a’alam bishshawab.

Posted by abdul wahhab  on  04/19  at  12:12 PM

Kalau yg ini saya sependapat dengan mas ulil...ini bukan film ttg kiamat tapi bencana alam skala raksasa. Melukiskan hebatnya ikhiar manusia melawan situasi krisis. Dijaman Nuh manusia beriman selamat karena pertolongan Tuhan sedang 2010 manusia selamat atas usaha sendiri...TUHAN DAN ORG BERIMAN TIDAK LAGI PENTING..!! Bagi org agnostik ini bukan masalah tapi bagi saya dan banyak teman muslim ini menyesakkan dada..Dimana Tuhan dan org beriman ??

Posted by ahmadbugis L  on  03/25  at  03:26 PM

Setiap menonton film bioskop(bukan film dokumenter), saya mencoba menerjemahkan : bagaimana imaginasi dituang dalam scenario, bagaimana visualisasi dengan dukungan teknologi disiapkan dgn infrastruktur yang ‘mahal’, berapa kira-kira budget dan anggaran dalam membangun hasil sebuah ‘film’ hingga laku di pasar. Yang mendasari semuanya adalah bisnis perfilman yang ‘spectakuler’, cluster industri perfilman yang terpadu.
Memang ada nilai-nilainya seperti hiburan, kemanusian, perjuangan, dll. Dan kesimpulannya adalah ‘hanya hiburan’ setelah dilihat dan berlalu.

Posted by Firmansyah  on  03/18  at  01:22 PM

Bukan film kiamat, tak perlu dihebohkan..biasa-biasa sajalah, teman-teman..hmm

Posted by harry.uncommon  on  02/28  at  10:50 PM

Jgn jgn film ini dibuat sbg propaganda utk menggeser issue the End of Days 2012 yg bisa saja nyata terjadi. Ramalan bangsa Maya ini ‘dijadikan’ sebagai sekedar bahan ‘seru seruan ringan’ aja di film ini untuk meredam kepanikan orang2 yg bisa terjadi kalo memang ramalan ini lebih dipromosikan keakuratannya.

Gimana menurut mas Ulil?

Posted by Erwin  on  01/26  at  12:21 AM