Editorial,
17/11/2008

Gagalnya Ideologi Kekerasan Dalam Islam

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Perkembangan dalam tubuh umat Islam sendiri dalam arena internasional makin mengarah pada “dialog antar peradaban”. Baru-baru ini,
misalnya, Raja Saudi menuan-rumahi suatu peristiwa yang saya anggap sangat historis dalam sejarah negeri Saudi, yaitu konferensi yang diniatkan untuk
mendorong dialog antaragama. Dilihat dari sudut pandang ideologi Wahabisme (ideologi resmi negeri Saudi) yang sangat tertutup dan eksklusif, tindakan Raja
Abdullah dari Saudi itu sangat berani dan bersifat terobosan.

Banyak kalangan yang khawatir bahwa dieksekusinya Amrozi dkk akan melambungkan status mereka sebagai seorang “syahid” atau martir di mata umat Islam. Beberapa kalangan was-was jika mereka dihukum mati, alih-alih akan memotong akar-akar ideologi kekerasan, hukuman itu justru akan membuat ideologi mereka menjadi menarik di mata umat Islam, terutama di kalangan anak-anak muda.

Menurut saya, kekhawatiran semacam ini sama sekali tak beralasan. Untuk sementara, mungkin saja kematian Amrozi dkk akan menaikkan emosi umat Islam, terutama kalangan yang sejak dari awal memiliki simpat pada ideologi para pelaku pengeboman di Bali itu, meskipun tak serta merta mesti setuju dengan tindakan mereka. Tetapi, lambat-laun, Amrozi dkk akan hilang dari memori umat Islam. Dalam beberapa tahun saja, nama Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Imron akan segera dilupakan oleh umat Islam.

Salah satu perkembangan menarik setelah peristiwa 9/11 adalah bahwa hampir terjadi penolakan serentak di semua kalangan umat Islam, terutama kalangan yang moderat yang merupakan mayoritas dalam umat Islam, terhadap ideologi Al-Qaidah. Meskipun kita menjumpai simpati terhadap figur Osama bin Ladin di sebagian kalangan Islam, tetapi secara umum kita melihat suatu penolakan yang nyaris kompak terhadap tindakan Osama itu. Ratusan ulama dari berbagai sudut dunia Islam mengeluarkan fatwa yang dengan serentak menolak dan mengutuk tindakan para pelaku terorisme yang memakai nama Islam. Di mana-mana, kita mendengar suatu penegasan yang nyaris kategoris bahwa Islam adalah anti tindakan teoriristik, apalagi jika membawa korban masarakat sipil yang sama sekali tak berdosa (al-abriya’).

Di Indonesia sendiri, setelah bom Bali, kita mendengar kutukan yang serentak dari semua tokoh-tokoh agama dan masyarakat, terutama kalangan Islam, terhadap tindakan nista itu. Memang ada banyak kalangan Islam yang secara apologetik mencari-cari alasan yang secara tak langsung hendak “memahami” dan, dengan demikian, secara implisit juga “membenarkan” tindakan pengeboman itu. Tetapi, suara dominan di kalangan Islam hampir seluruhnya menyatakan bahwa tindakan Amozi dkk itu salah secara kategoris dari sudut pandang ajaran Islam.

Dengan kata lain, kalangan Islam arus utama sama sekali tak memberikan persetujuan atas tindakan kekerasan itu. Simpati terhadap Amrozi dkk tentu ada.
Sejumlah kalangan Islam juga mencoba memahami tindakan Amrozi dkk dalam kerangka “teori konspirasi” di mana pihak Barat (dalam hal ini Amerika dan sekutunya) dipandang sebagai yang berada di balik peristiwa itu. Tetapi, “apologetisme” semacam itu sama sekali tak bisa menolak fakta bahwa kalangan arus utama dalam Islam tetap mengutuk tindakan kekerasan tersebut. Ideologi Amrozi dkk sama sekali tak didukung oleh umat Islam arus utama.

Saya kira ini yang menjelaskan, antara lain, kenapa hingga sejauh ini kelompok-kelompok kekerasan seperti Jamaah Islamiyah dan ideologi yang menyangganya sama sekali tak pernah mendapatkan tempat yang mantap di kalangan Islam arus utama.

Sementara itu, perkembangan lain juga layak mendapat perhatian kita. Pada saat reputasi kelompok-kelompok Islam radikal-pro-kekerasan mengalami kemerosotan tajam, kita melihat perkembangan lain yang justru menarik, yaitu melambungnya reputasi sejumlah partai Islam dalam kancah politik resmi. Dalam kasus Indonesia, hal ini bisa dilihat dari maraknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gejala serupa juga kita lihat di sejumlah negeri Islam yang lain.

Perkembangan ini, menurut saya menandakan satu hal: bahwa umat Islam lebih memberikan “endorsement” pada perjuangan Islam secara “damai” melalui arena politik normal, seraya mengutuk metode kekerasan yang hanya akan membawa dampak fatal bagi umat Islam sendiri.

Hukuman yang diberikan kepada tokoh FPI, Rizieq Syihab, baru-baru ini makin memperkuat kecenderungan yang kontrap-kekerasan ini. Hukuman itu boleh kita pandang sebagai paku terakhir yang ditancapkan pada peti-mati ideologi kekerasan atas nama Islam. Dengan mantap saya bisa mengatakan bahwa ideologi Osama bin Ladin, Amrozi, Rizieq Syihab dll. telah gagal memperoleh dukungan dari umat Islam arus utama. Ideologi itu telah gagal.

Dengan mengatakan demikian, bukan berarti bahwa dukungan atas ideologi kekerasan hilang sama sekali dalam tubuh umat Islam. Dukungan itu akan selalu ada, tetapi tak akan pernah menjadi pandangan dominan dalam tubuh umat Islam. Penolakan kategoris atas ideologi ini yang kita lihat hampir di semua sudut dunia Islam makin membuat posisi ideologi itu terpinggirkan. Ideologi Osama pelan-pelan akan menjadi “residu” yang lambat-laun kehilangan relevansi dan ditinggalkan sama sekali oleh kalangan umat Islam.

Sementara itu, perkembangan dalam tubuh umat Islam sendiri dalam arena internasional makin mengarah pada “dialog antar peradaban”. Baru-baru ini,
misalnya, Raja Saudi menuan-rumahi suatu peristiwa yang saya anggap sangat historis dalam sejarah negeri Saudi, yaitu konferensi yang diniatkan untuk
mendorong dialog antaragama. Dilihat dari sudut pandang ideologi Wahabisme (ideologi resmi negeri Saudi) yang sangat tertutup dan eksklusif, tindakan Raja
Abdullah dari Saudi itu sangat berani dan bersifat terobosan. Raja Saudi konon akan menyeponsori acara serupa dalam waktu yang tak terlalu lama lagi di PBB.

Momentum yang mengarah kepada dialog antarperadaban ini makin mendapatkan ruang setelah terpilihnya Presiden Barack Obama. Retorika kampanye presiden-terpilih Obama saat pemilu kemaren sangat menekankan kebijakan luar negeri yang lebih membuka dialog ketimbang memaksa pihak lain dengan laras senjata seperti kita lihat pada Presien Bush saat ini.

Dengan sedikit optimis, saya bisa mengatakan bahwa era Bush, Osama bin Ladin, Ayman Al-Zawahiri, Dr. Azahari, Amrozi, Imam Samudra, Rizieq Shihab dll.
pelan-pelan mulai memudar. Kita sedang menjelang era lain yang jauh lebih “dialogis”. Pelaku-pelaku utama dalam era ini bukanlah mereka yang menenteng
senjata AK-47 di tangan kiri dan Kitab Suci di tangan kanan lalu meneriakkan Allahu Akbar seraya membunuhi nyawa-nyawa yang tak berdosa. Pelaku utama dalam era baru ini adalah mereka yang siap berjuang di kancah resmi, di panggung politik normal, berani adu pendapat, berani melakukan kompromi, seraya secara kategoris menolak kekerasan.

17/11/2008 | Editorial, | #

Komentar

Komentar Masuk (93)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

coba tolong klo kasi tulisan di attach juga dasar/dalil ayatnya. contoh: kekerasan dlmm Islam itu salah, bukti ayatnya QS 007 ayat 700. jadi yg baca jg faham bhw penulis ga asal ngomong. klo ternyata ga ada ayat pendukung padahal sdh di baca berulang2 seluruh isi Al Quran, brarti .....bikin penilaian sndiri deh. Islam itu agama yg sempurna ato bukan? klo bukan berarti butuh kitab2 lain seperti Hadist ato buku Kitab Undang2 (KUHP/KUHAP), dll.

Posted by andy  on  03/17  at  03:21 AM

skarang memang sudah bukan jamannya perang karna semua aturan dalam perang nabi sudah tidak bisa lagi diterapkan. tidak ada lagi lokasi bebas penduduk sipil seperti badar, uhud misalnya. Tehnologi persenjataan yg begitu canggih justru yg menjadi alasan ditiadakannya perang. Jihad muslim diabad ini adalah justru mencegah terjadinya perang bukan justru memicu atau balas dendam kepada masyarakat sipil yg tidak tahu menahu tentang pengambilan keputusan pemerintah mereka.

Posted by andi  on  04/18  at  05:27 AM

Untuk Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid, ekoji, Irsad, Indra, Iqbal, Zulfikar Akbar Romadlon: jadi karena Israel dan Amerika Serikat menginvasi negara Islam, lalu kita boleh membom di mana-mana….? Gimana kalau ada yang meledakkan bom dekat rumah antum dan sanak keluarga antum jadi korbannya….? (ada yang mati, ada yang terbakar, ada yang cacad, dsb…?) Masih setuju dengan tindakan pemboman itu…?

Wong Rasulullah SAW saja ketika menaklukkan Mekkah memaafkan semua orang yang tadinya memerangi Beliau dan para pengikutnya. Kalau anda mungkin sudah memancung semua orang di Mekkah saat itu ya…?
Baca qur’an lagi deh…utamanya ayat yang ini nih…

Q.S. Ali ‘Imran ayat 186: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Untuk Delli: Mohon baca sejarah Muhammad SAW. Selama 13 tahun ditindas di Mekkah. Tidak melakukan pembalasan apapun. Perang dilakukan karena Quraisy yang menyerang mereka di Madinah. Buktinya, setelah penaklukkan kota Mekkah, semua penduduk Mekkah dimaafkan. Kalau mengenai peperangan pasca Rasulullah SAW, itu masuk pada politik ekspansi pada masa itu. Anda lupa bahwa Romawi menyerang wilayah Persia, begitu pula Persia balas menyerang Romawi, Umar bin Khattab menyerang Romawi dan juga sebaliknya, Sparta menyerang Athena dan sebaliknya, Inggris menyerang Amerika, kulit putih Amerika membantai suku Indian (sebelumnya ada 10 juta populasi suku-suku Indian, setelah dibantai, tinggal 300-an ribu), Anglo Saxon menyerang Inggris, dan sebagainya, karena itu adalah bagian dari keadaan politik dan diplomasi pada jaman itu (malah perang dunia I dan II itu awalnya adalah sengketa antara negara-negara Eropa). Anda lupa pada saat Yesus Kristus lahir, Palestina berada di bawah kekuasaaan Romawi alias dijajah bangsa Romawi, sebelumnya Palestina berada di bawah kekuasaan Babylonia, dsb. Jadi Eropa pun pernah melakukan penyerbuan ke Timur Tengah bung. Itu sudah menjadi bagian dari politik dan diplomasi jaman itu. Tolong baca lagi sejarah baru mengambil kesimpulan, jangan mengambil kesimpulan yang mengesankan bahwa seolah-olah Muhammad SAW yang mengajarkan kekerasan. Malah sewaktu Rasulullah menawan musuh pada Perang Badar, sampai-sampai turun ayat yang menegur beliau. Tapi memang begitulah beliau, sebelum turun teguran, beliau selalu mengutamakan perdamaian. Itu disebabkan karena Muhammad SAW adalah seorang yang cinta damai. Kalau tidak turun ayat yang mengijinkan beliau untuk berperang, pasti beliau tidak akan melakukannya. Tahukah anda bahwa dalam adab perang Islam itu dilarang membunuh wanita dan anak-anak, orang yang lemah dan tidak berdaya, orang yang ditawan, orang yang tidak ikut perang, para kurir, dilarang menghancurkan lahan pertanian, dilarang menghancurkan rumah-rumah ibadah seperti gereja, kuil, sinagog, dsb. (Itulah sebabnya tempat-tempat ibadah berusia ratusan tahun di bekas wilayah kekuasaan khalifah muslim masih tetap bertahan hingga sekarang). Kemudian bila lawan menawarkan damai, baik itu sungguh-sungguh, atau hanya bagian dari taktik militer, wajib hukumnya diterima oleh pihak muslim. Kalau peperangan yang sekarang, karena senjata yang digunakan adalah jenis penghancur (bom, rudal, granat, mortir, bazooka, roket, dsb), maka syarat-syarat perang sesuai adab Islam menjadi sulit dilaksanakan. Itulah jeleknya perang yang sekarang. Yang tidak ikut berperang pun akan kena getahnya. Kalau jaman dahulu, perang itu dilaksanakan di suatu tempat dan yang mati hanya yang ikut perang tersebut. Jadi lebih terbatas yang jadi korban.

Intinya di setiap jaman pasti ada peperangan baik besar maupun kecil. Dan tak ada seorang pun Nabi dan Rasul yang menganjurkan kekerasan. Hanya para pengikutnya yang karena tekanan psikologis, ekonomi, politik, yang sedang mencari motivasi untuk melakukan pembalasan terhadap kekerasan yang mereka alami, secara keliru menafsirkan setiap ucapan mereka tanpa melihat syarat-syaratnya. Akhirnya muncullah orang-orang seperti Taliban, Amrozi cs., Klu Klux Klan, kaum zionis, dsb.

Posted by muhammad hakim  on  03/14  at  05:28 AM

gak usah jauhjauh analisis pake agama ..... pengebom = PENGECUT ... perakitnya = BIANG PENGECUT

Posted by gilanto  on  07/21  at  05:19 PM

To Muhammad arif & Igbal

Lebih baik kalian hidup di arab sono atau kalian hidup di pulau tersediri. Hidup adalah pilihan kalian tidak berhak memvonis orang lain salah dan menghukumnya. Kalo mmg org2 kafir (versi kalian) atau org2 paddy cafe berbuat maksiat dan mereka adalah pendosa, so what??? Kalian berhak membunuh? berhak menghukum? Tolong tanyakan itu ama diri kalian. Kami yang di bali dan tmp2 lain yg mayoritas non muslim cinta damai, kami ingin hidup rukun dan saling menghargai. Tolong ramah dengan semua perbedaan dan please don’t negative thinking..segala sesuatu dari luar yang merongrong agama kalian..justru pemikiran kalian yang akan merusak simpati disetiap orang yang memiliki hati nurani.

Posted by kaka  on  07/20  at  01:24 PM