Editorial
15/07/2008

Gus Dur di Mata Dunia

Oleh Saidiman

Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi.

Ada yang menarik dari konferensi tahunan ketujuh yang diadakan oleh Globalization for the Common Good, From the Middle East to Asia Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions, 30 Juni – 3 Juli 2008, di Melbourne, Australia. Para peserta dan pembicara yang berasal dari universitas-universitas terkemuka pelbagai Negara ini hampir selalu menyebut nama mantan presiden Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai contoh ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan semangat toleransi dan perdamaian.

Prof. Muddathir Abdel-Rahim (International Institute of Islamic Thought and Civilization, Malaysia) menunjuk Gus Dur sebagai sosok yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan perdamaian. Prof. Abdullah Saeed (The University of Melbourne) juga mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal al-Qur’an. Dr. Natalie Mobini Kesheh (Australian Baha’i Community) mengatakan bahwa satu-satunya pemimpin Islam dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha’i adalah Gus Dur. Prof. James Haire (Charles Stuart University, New South Wales) berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai paling gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas. Sementara Dr. Larry Marshal (La Trobe University, Australia) menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan. Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan sekali ini saja. Gus Dur kerapkali menerima sejumlah penghargaan dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap perjuangannya selama ini.

Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di Indonesia. Belakangan ini Gus Dur tampak sedang berada pada fase-fase yang cukup sulit. Setelah tersingkir dari jabatan struktural Nahdlatul Ulama (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi, kini Gus Dur harus menghadapi tekanan politik dari kemenakannya, Muhaimin Iskandar, di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh ideologisnya bahkan secara terang-terangan berani memperolok-olok mantan presiden ini di depan publik. Pada sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab menyebut Gus Dur “buta mata, buta hati.” Olok-olok dan penghinaan ini kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut Rizieq di pelbagai daerah yang tanpa sungkan membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan.

Gus Dur tidak hanya menuai tantangan dari musuh-musuh politik dan ideologisnya. Madina, sebuah majalah yang dikenal moderat dan kerapkali menampilkan gagasan-gagasan pembaruan Islam, tidak menyebut namanya dalam daftar 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Gus Dur tersingkir dari nama-nama beken seperti Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, atau Helfy Tiana Rosa. Bahkan di kalangan kelompok moderat Indonesia sekalipun, Gus Dur tak jarang terabaikan.

Meski begitu, apa yang terjadi pada konferensi Melbourne dan forum-forum internasional lain bukan sekedar apresiasi dan pujian, melainkan harapan. Gus Dur dianggap sebagai harapan bagi masa depan perdamaian di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Melalui aktivitas pembelaan terhadap kelompok pinggiran, Gus Dur telah memberi bukti bahwa Islam juga punya semangat toleransi dan perdamaian, bahkan dalam bentuk yang paling tradisional sekalipun.

Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi. Perkataan Gus Dur dalam sebuah konferensi pers mungkin akan sulit dilupakan para pejuang HAM dan demokrasi: “Selama saya masih hidup, saya akan tetap membela keberadaan Jemaat Ahmadiyah, karena itu sesuai dengan amanat Konstitusi.” Bagi Gus Dur, hak hidup semua orang dengan latar belakang primordial apapun adalah harga mati.

Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan zamannya. Hanya masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa mengapresiasi perjuangannya. Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu perdamaian bagi negeri tercinta, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap gagasan-gagasannya justru melemah. Dalam pelbagai survey opini publik, suara Gus Dur malah anjlok ke titik terendah. Jika di dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk masyarakat internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin.

15/07/2008 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (117)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

sebetulnya yang mencaci gusdur sedang dihinggapi penyakit hati sehingga hatinya tertutup tidak mau menerima realitas gusdur sebagai orang mumpuni.
mereka yang mencaci gusdur seperti disinyalir dalam QS.Albaqoroh” mereka itu buta tuli hatinya sehingga tidak mampu melihat realitas kebenaran.”

Posted by gusgirund  on  07/16  at  11:30 PM

Bagi saya Gus Dur adalah tokoh yang saya kagumi,perbuatan beliau begitu nyata tidak hanya ngomong belaka.Tokoh yang seperti inilah yang saya anggap memiliki jiwa yang besar,banyak orang pintar di negeri ini,tapi tidak relistis,sering berbeda ucapan dan perbuatan.Menurut saya dalam agama tidak ada paksaan,islam adalah agama yang rahmatan lilalamin,tidak menjadi ancaman bagi keyakinan lain,seharusnya menjadi pengayom dalam interaksi di kehidupan sehari2.islam agama yang damai.Bagaimana bisa maju islam kalau islam ditegakkan dengan kesewenang-wenangan,kekerasan.Saya rasa hal-hal yang telah dilakukan gusdur dalam hal pembelaan kaum minoritas adalah islam yang berpikir maju,realistis.Ingat shalahudin al ayubi ketika perang melawan raja richard dari inggris yang dengan terang2an menentang islam,shalahudin memberikan pengobatan ke raja richard ketika raja richard tidak mampu berperang,inilah tokoh teladan yang disegani kawan ataupun lawan,jadi kita tidak berhak menghakimi dengan ego pribadi.

Posted by mohammad machrus  on  03/16  at  08:27 PM

Cuma yg paham n mendalam dlm fikiran’y yg tau kcerdasan K.H Abdur Rahman Wahid.

Posted by Zilhan  on  02/13  at  01:11 AM

eh ternyata ada yang sirik ya sama beliau
baru tahu aku!!!! emang sih ternyata orang lain yang lebih menghargai beliau daripada bangsanya sendiri

memalukan. semoga bangsa ini lekas sadar

Posted by zaini  on  01/11  at  07:16 PM

GD kyai? Pasti
GD Negarawan? Itu benar.
Masalah Ahmadiyah, saya rasa GD tidak memberikan statement berdasarkan ke-kyai-annya, melainkan beliau ber-statement berdasarkan ke-Negarawan-annya. Awalnya, ketika saya mendengar pembelaan GD thdp Ahmadiyah, saya sangat gusar. Tetapi setelah saya baca di http://gusdur.net saya jadi paham akan maksud beliau. Singkat cerita, pendiri Ahmadiyah (Indonesia) ini adalah keponakan dari KH. Hasyim Asy’ari, sedangkan KH. Hasyim Asy’ari adalah sepupu dari H.O.S Cokroaminoto. Pada saat itu, Soekarno masih blm menjadi siapa2, Soekarno hanya sebagai seorang santri yang dititipkan oleh ortunya kepada keluarga HOS.Cokroaminoto. Mereka2 ini berkumpul di kediaman HOS.Cokroaminoto di Surabaya setiap hari kamis ba’da dzuhur. Kita yakin bahwa mereka2 ini mempunyai pandangan2 yang sangat berbeda, baik mengenai islam, mazhab dll. Tapi mereka2 ini rela mengendapkan ego dan perbedan2nya demi kemerdekaan Republik ini. Mereka merasa bahwa kemerdekaan hanya bisa dicapai jika semua golongan ini bersatu, dan itulah satu2nya alasan bahwa Indonesia bukan hanya milik orang islam saja. GD pernah berkelakar bahwa mereka2 yang menyuarakan pembubaran Ahmadiyah adalah orang2 yang tidak tahu sejarah, dan suatu saat mereka akan mengetahuinya dan akan berbalik berterima kasih kepadanya. Itulah kenapa baik Ahmadiyah, PKI, konghucu, Kristen, NU, Muhammadiyah dll harus dijamin hak2nya, karena mereka2 ini punya andil besar dalam pembentukan NKRI. “Tidak ada satupun orang/organisasi di Indonesia ini yang berhak membubarkan Organisasi lain, kecuali Organisasi yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa”. Ingat “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”

Posted by vahied  on  01/09  at  08:53 PM