Diskusi Bulanan “Ikonoklasme dalam Agama”
Oleh Redaksi
Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal
“Ikonoklasme dalam Agama”
Narasumber: Ulil Abshar-Abdallla, Ioanes Rakhmat dan Saras Dewi
Moderator: Abd Moqsith Ghazali. Selasa, 25 Oktober 2011, Jam 19.00-21.30 WIB
Di Teater Utan Kayu Jakarta
Islam adalah agama ikonoklastik. Yaitu, agama anti patung dan gambar. Ketika umat Islam awal berhasil merebut kembali kota Mekah, ratusan patung di sekitar Ka’bah dipugar. Bahkan, tak sedikit ulama yang hingga kini mengharamkan menggambar benda bernyawa. Itu sebabnya, kita tak pernah menemukan patung Muhammad SAW di lingkungan umat Islam, sebagaimana meluasnya patung Yesus di Kristen, patung Sidharta di Budha, dan patung dewa-dewa di Hindu. Di lingkungan Hindu juga Budha, pendirian patung bahkan cukup semarak dan gigantik.
Dalam pandangan agama Monoteis-Semitik seperti Yahudi dan Islam, patung Apollo, Venus, Ganesha, dan lain-lain adalah wujud nyata poloteisme yang ditentang. Sebagian teolog agama berpendirian bahwa pendirian patung pun perlu ditentang karena ia mengandung semangat heraldic, yaitu semangat mengagungkan manusia sebagaimana pada patung Julius Caesar, Ken Dedes dan patung Pak Dirman di Jakarta. Pengagungan manusia seperti ini dianggap bertentangan dengan spirit egalitarianisme (al-musawah) yang diusung agama seperti Islam.
Tak seperti Kristen Romawi yang membolehkan pembuatan patung (representasi tiga dimensi), maka Kristen Yunani atau Ortodoks hanya mengijinkan pembuatan gambar pada bidang datar (representasi dua dimensi). Setali tiga uang dengan Kristen Ortodoks, belakangan muncul pandangan di kalangan ulama Islam yang menghalalkan menggambar benda bernyawa di atas kanvas atau membidik obyek dengan lensa kamera. Sementara mematung yang menimbulkan efek bayangan tetap diharamkan.
JIL (Jaringan Islam Liberal) khawatir, pendapat di atas dijadikan argumen sebagian kelompok untuk merubuhkan patung di Purwakarta. Dalam konteks Indonesia yang plural, tarik-tolak soal patung ini potensial menimbulkan konflik intra dan antar umat beragama. Saatnya umat Islam mendengarkan argumen dan filosofi pendirian patung dari kalangan agama seperti Hindu-Budha yang menyetujui dan menginisiasi pematungan. Apalagi, pengharaman patung pun bisa menghambat gerak dan kreasi seni lukis dan seni rupa di dunia Islam. []
Komentar
Terlalu naif kalo dibilang orang Nasrani itu sesat hanya karena membuat patung. Mestinya bagi Anda yang mengatakan demikian perlu belajar banyak ttg Kekristenan. Salah satu model ekspresi iman Kristen adalah melalui seni. Sebuah patung dari batu atau kayu biasa ketika melukiskan seorang kudus, dlm agama Nasrani begitu dihargai - jelas praktek penjualan dan penyimpanan patung di rumah sekarang ini berbeda dg praktek ikonoklasme zaman dulu yg secara umum dunia masih feodal, dan ini sebuah sesat berpikir dan metolodologis kalau menyamakan saja keduanya.
Buddha memiliki patung religus, begitupun Nasrani. Perkembangan Nasrani sekarang ini sudah melangkah lebih jauh, berfokus pada pelayanan universal dan prokemanusiaan. Jadi, tidak seperti agama lain yang masih berkutat pada persoalan tradisional: Timur-Barat, Kristen-Non Kristen.
“Apakah suatu agama membolehkan pembuatan patung orang kudus?” Sy kira ini inti bahan diskusi di atas, dan buay saya sangat menarik. Kaum beriman yg membolehkan pembuatan patung tidak bermaksud menyembah patung, tetapi simbol utk menjembatani komunikasi dg Yang Ilahi. Simpan patung kudus di rumah mengingatkan pemiliknya utk senantiasa berdoa dan dekat dengan Allah. Ketika seseorang berdoa di depan patung, dia tidak menyembah patung, tetapi mmenyembah kepada DIA yang ada di atas; patung hanya sarana. seperti ketika pacar saya ditinggal pergi, satu2nya sarana spy sy mengingat dia hanyalah foto spy sy selalu dekat di hatinya. Ini contoh simple sj. Dan saya kira topik ikonoklasme membuat pengetahuan kita lebih dalam, membuat kita bisa keluar dari eksklusivisme agama, berdialog dengan budaya, dan membangun toleransi.
Dalam BIBLE langan membuat patung itu lebih keras berbanding didalam Islam [Hadis]. Jika tidak sipa dalam KELUARAN 20 mengatakan; ” Jangan buat patung apapun yang menyerupai benda dilangit atau dibumi”.
Dalam islam hanya melarang membuat patung yang berpotensi untuk disembah saja. jadi janganlah gara-gara kecetekan ilmu atau sengaja membiarkan otak diprogram oleh Barat, maka ia menjadi suatu pembukaan terhadap pekung didada orang-orang JIL.
Islam selalu menganjurkan segala sesuatu yg bermanfaat, jika membuat patung kurang bermanfaat dibanding yg lain, misalnya anggaran pembuatan patung digunakan untuk menyantuni fakir-miskin, menyantuni pendidikan yatim piatu atau pembiayaan untuk penyembuhan orang2 gila yg banyak berkeliaran di jalan….. kenapa harus bikin patung?
Sesungguhnya kasus patung di Purwakarta hanyalah bentuk ke arogansian penguasa, karena pertanyaannya adalah apakah rakyat Purwakarta sudah makmur seluruhnya sehingga ada alokasi anggaran untuk pembuatan patung???
Ini dia Kafir yang sebenarnya kafir…..mengaku islam tapi perilaku seperti seperti para Nasrani yang sesat….Sungguh Janji Allah berlaku sampai hari kiamat…tnggu saja azab bagi kalian…
Komentar Masuk (17)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)