Indahnya Perbedaan
Oleh Khoirul Anam*
Tujuan penting dari perlunya melakukan dialog antar agama selain untuk menumbuhkan pengetahuan yang lebih tentang agama-agama diluar agama yang kita miliki sendiri, juga untuk menumbuhkan kepercayaan dan penghormatan terhadapnya. Namun perlu juga untuk diperhatikan, dialog tidak hanya berhenti dalam tataran perbincangan atau diskusi semata, karenanya perlu tindakan nyata sebagai manifestasi dari kepercayaan dan penghormatan itu. Sehingga sangat salah kiranya jika dialog digunakan sebagai ajang untuk memperkokoh truth claim. Juga tidak benar jika dialog hanya dianggap sebagai sebuah pembentukan wacana saja tanpa adanya gerak nyata. Dialog yang dimaksud di sini juga bukan berupa obrolan ringan para agamawan. Sebab dialog di sini adalah proses berani melayang di awang-awang tanpa melupakan cara untuk kembali turun ke bumi.
“….sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu” (Al Maidah, 48), petikan dari ayat ini tentu memiliki banyak maksud, namun satu diantaranya adalah penegasan bahwa manusia tidak diciptakan secara sendiri saja, ia diciptakan bersama dengan manusia-manusia lainnya dengan bentuk dan karakter yang ‘tentunya’ berbeda-beda. Hal ini tampaknya dimaksudkan agar manusia dapat saling belajar dari satu sama lain.
Toleransi menjadi salah satu cara dalam membangun jembatan terhadap hubungan yang baik antar sesama. Secara bahasa, toleransi berasal dari kata ‘to tolerate’ dalam bahasa Inggris, yang berarti ‘mengakui dan menghargai’, sekilas memang tak tampak betapa sulitnya mempraktekkan sikap ini, namun toleransi rupanya telah menjadi barang yang mahal, terlebih jika kita menilik pada beberapa kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat akhir-akhir ini. banyak dari kejadian-kejadian itu yang diklaim sebagai upaya purifikasi atau Jihad terhadap salah satu agama (atau lebih tepatnya paham) tertentu. tampaknya memang terlalu membesar-besarkan jika kerusuhan-kerusuhan tersebut diklaim sebagai tindakan yang berbasis pada agama, sebab agama terlalu besar untuk sekedar direpresentasikan oleh tindakan-tindakan semacam itu! juga, kalaupun memang hal itu benar berbasis pada agama, maka agama mana yang dimaksud? sebab hingga saat ini belum ada agama yang bersepakat untuk bersama-sama mengamini tindakan-tindakan rusuh tersebut sebagai bagian dari ‘rutinitas keagamaan’ manapun. terlepas dari segala polemik tersebut, yang jelas, berbagai jenis tindakan anarkhi tentu saja tidak dapat dibenarkan. peristiwa di cikeusik, Pandeglang, Banten, dan Temanggung beberapa waktu yang lalu merupakan contoh kecil tentang betapa kerusuhan terlalu mudah untuk disulut. dalam salah satu disfungsinya, agama masih merupakan salah satu pemicu yang paling dahsyat terhadap peristiwa-peristiwa sejenis.
Perbedaan penafsiran terhadap ajaran agama ‘memang’ seringkali menjadi pemicu dalam pecahnya konflik-konflik yang (lagi-lagi) diatasnamakan agama, seolah-seolah mereka tau betul apa yang Tuhan inginkan. Tariq Ramadan menyebut terdapat setidaknya dua sumber pokok mengapa terjadi kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Pertama, Orang-orang yang berbeda-beda agama ini jarang atau bahkan tidak pernah bertemu, dan kedua, kurangnya pengetahuan tentang agama-agama lain diluar agamanya sendiri. Oleh karenanya, sikap toleransi terhadap perbedaan penghayatan terhadap agama harus, bukan saja ditanamkan, tetapi juga ditumbuh kembangkan. Sebab, seperti diungkapkan oleh Hans Küng”No Human life together without a world ethic for the nations, no peace among the nations without peace among the relegions, no peace among the relegions without dialog among the relegions.” di lain kesempatan ia juga menyatakan, ”There will be no peace among the peoples of this world without peace among the world religions.” Yang kemudian dilengkapi lagi oleh John Hick dengan mengatakan, ”There will be no true peace among the world religions without the recognition by each that the others are different but equally valid responses to the ultimate divine Reality that we call God.”
Dengan toleransi, rasa cinta terhadap sesama akan tumbuh. sedang dengan dialog, rasa menerima dan menghargai terhadap ’the others’ akan bersemi. Tetapi toleransi saja tidak cukup, Oleh karenanya dialog harus diikutsertakan sebab poin penting dari dialog adalah pertemuan sebuah ’kesaksian’ keimanan, sharing tentang keyakinan, dan menggunakannya untuk kemanusiaan, lebih duniawi/riil, lebih dekat dengan apa yang diinginkan Tuhan dari kemanusiaan.
Tujuan penting dari perlunya melakukan dialog antar agama selain untuk menumbuhkan pengetahuan yang lebih tentang agama-agama diluar agama yang kita miliki sendiri, juga untuk menumbuhkan kepercayaan dan penghormatan terhadapnya. Namun perlu juga untuk diperhatikan, dialog tidak hanya berhenti dalam tataran perbincangan atau diskusi semata, karenanya perlu tindakan nyata sebagai manifestasi dari kepercayaan dan penghormatan itu. Sehingga sangat salah kiranya jika dialog digunakan sebagai ajang untuk memperkokoh truth claim. Juga tidak benar jika dialog hanya dianggap sebagai sebuah pembentukan wacana saja tanpa adanya gerak nyata. Dialog yang dimaksud di sini juga bukan berupa obrolan ringan para agamawan. Sebab dialog di sini adalah proses berani melayang di awang-awang tanpa melupakan cara untuk kembali turun ke bumi.
Dalam Islam, toleransi atas kebebasan beragama terpampang dengan sangat jelas dalam QS: Al Baqarah: 62, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. ayat tersebut merupakan bukti bahwa perbedaan yang ada bukanlah sesuatu yang mesti dihindari, sebab hal itu merupakan sebuah keniscayaan yang datangnya dari Allah, satu-satunya hal yang dapat dilakukan dengan perbedaan itu ialah dengan menggunakannya sebagai sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
*Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
Komentar Masuk (0)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)