Dr. Nono Anwar Makarim: Jangan Bereaksi Secara Primitif
Oleh Redaksi
Saya cuma pengen sekali teman-teman saya seagama ini bisa diajak untuk beranjak dari keprimitifan reaksi yang begitu emosional. Saya kira reaksi terhadap keterperosokan kita semuanya ini kalau tetap berkisar pada emosi, kalau tetap berkisar di ujung pedang, saya kira kok tidak akan menang, keterperosokan dan ketertinggalan kita. Senantiasa itu yang saya ingin ajak dari mereka itu.
Berbagai sikap dan pandangan bermunculan seiring dengan maraknya anti-Amerika pasca pengeboman WTC. Sebagian sikap itu mendukung aksi-aksi kekerasan yang dibalut simbol-simbol agama. Tapi, sebagian lainnya keberatan dengan pendekatan kekerasan semacam itu. Nah, dalam kesempatan ini, Kajian Islam Utan Kayu menyiapkan wawancara panjang dengan beberapa tokoh dan pemimpin Islam. Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif, Ketua Umum PB Muhammadiyah, KH. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, Dr. Nono Anwar Makarim, Ketua Yayasan Aksara Jakarta, dan Dr. Moeslim Abdurrahman, Cendikiawan Muslim.
Pandangan Anda terhadap tragedi di New York baru-baru ini?
Yang saya lihat selama ini, pandangan banyak pihak di Indonesia itu mengacaukan antara dua jalur pandangan. Yang satu adalah jalur bisa mengerti, mengingat sikap dan sepak terjang Amerika selama ini bisa mengerti dan bahkan ada perasaan menyukurkan itu terjadi. Itu dicampuradukkan dengan bagaimana seharusnya bersikap terhadap tragedi yang memakan korban begitu banyak.
Saya kira perlu dipisah antara yang satu dengan yang lain. Bahwa orang bisa mengerti Amerika karena sepak terjang Amerika selama ini, itu satu hal. Hal lainnya adalah orang seharusnya bersikap dalam rangka kelanjutan dari peradaban yang ada. Dan itu salah satu patokan kemajuan dan pertumbuhan peradaban, yakni kemampuan untuk empati.
Maksud saya dengan empati itu adalah kita tidak usah mengalami sendiri kejadian itu, tapi harus bisa merasa bagaimana orang yang ditimpa kejadian tersebut. Hal ini sangat sulit sekali.
Mengapa banyak orang yang sepertinya menyalahkan Amerika ketimbang berempati?
Begini, kalau kita perhatikan selama ini. Ambil saja beberapa contoh. AS mungkin di sepanjang pemerinthan Clinton, kongresnya itu dikuasai oleh Partai Republik dan oleh elemen-elemen yang bisa dikatakan paling konservatif di partai itu. Pertama, ngemplang utang iuran ke PBB. Kedua, memaksa PBB menyesuaikan diri dengan kehendak AS sebelum mau bayar. Setelah menyesuaikan diri pun masih ditunda-tunda pembayarannya.
Seorang Sekjen PBB yang cerdas, pinter, tapi mempunyai sikap yang independen seperti Beutros Beutros Ghali itu tidak bisa diperpanjang. Satu hal yang jarang terjadi pada sekjen PBB. Kemudian, menentang pengadilan internasional HAM. Kemudian menentang perjanjian ranjau darat. Kemudian menentang perjanjian Kyoto.
Kemudian di dalam negeri mempunyai pasal yang dahsyat sekali untuk melawan perdagangan perdaangan bebas; pasal 301 UU Perdagangan mereka. Itu semua dijalankan bersamaan dengan memperjuangkan demokrasi di negara-negara yang lemah dan kecil, sekaligus mendukung Arab Saudi, mendukung Mubarak, mendukung Israel, mendukung Syah Iran.
Kemudian sambil menolak perjanjian Kyoto, menghukum negara-negara yang lemah dalam ekspor-ekspornya ke Amerika dengan dalih lingkungan hidup. Inkonsistensi dan sikap berganda bertubi-tubi ini bikin orang kesal. Bikin masyarakat yang tadinya sangat pro amerika menjadi terpojok. Membuat para intelektual menggeleng-geleng kepalanya. Di satu pihak Amerika mendesak membebaskan pendapat, memajukan demokrasi, tapi di bidang politiknya mereka bersikap seperti itu.
Jadi hal ini semuanya mengkonstruksi sikap-sikap tertentu, yang saya kira bukan saja di Indonesia. Kalau Anda membaca pendapat-pendapat, di antara garis-garis berita yang mendukung Amerika di Eropa itu senantiasa terbaca reserve mereka dalam dukungan mereka tersebut, senantiasa terbaca keengganan mereka turut serta gila-gilaan seperti yang ada. Tampaknya Amerika sudah mulai mendengar kritik-kritik dari Eropa.
Bagaimana cara memisahkan antara kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika dengan sentimen anti Amerika?
Saya ingat satu gelombang yang sama ketika terjadi peristiwa Timor Timur. Saya kira itu tidak bisa dipisahkan. Seluruh mesin media massa Amerika tergerak dan tidak bisa direm dengan memecut genderang perang, genderang kebencian. Tidak peduli apakah itu tepat atau tidak. Di hari-hari pertama, baik di New York Times yang menganggap dirinya liberal maupun di Washington Post, itu tidak ada satupun opini yang menyimpang.
Jadi untuk sementara, saya kira sia-sia saja kalau kita berharap bahwa masyarakat maupun politik luar negeri itu mau mengadakan distingsi terhadap itu. Jangan lupa, politik LN AS itu tidak hanya terdiri dari logika kepentingan mereka saja, tapi juga dipengaruhi oleh logika popularitas presiden di dalam negerinya sendiri. Dan sekarang ini mayoritas mereka meminta hajar kembali, bom habis-habisan, balas, sikat. Itu permintaan mayoritas dari masyarakat Amerika.
Pandangan masyarakat Amerika sendiri, apakah ada satu pandangan seragam mengenai ini?
Kalau atas dasar satu lawan satu, orang Amerika berpikir sangat rasional. Dua anak saya, karena pengalaman tinggal di kota New York, itu sangat mencintai kota itu. Seakan-akan nggak ada tempat lagi untuk menunjukkan sukses, untuk hidup enak, hidup senang, dan semua kesempatan ada seperti di kota New York. Anak saya sekarang minta pulang. Di sekitar rumahnya selalu dibisingi suara-suara teriakan corong-corong besar, bendera-bendera amerika serikat. Saya bilang ke dia, ini adalah reaksi yang barangkali sementara saja, tunggulah. “Tidak” dia bilang. “New York sudah berubah”. Ya biasa, barangkali emosi.
Bagaimana Anda melihat reaksi media dalam negeri?
Menurut saya tidak terjadi polarisasi. Artinya begini, sebagian besar media konservatif mengemukakan ini hal yang buruk terjadi, dan kewajiban moral kita untuk mengutuk, tapi terselip di bawah-bawahnya itu kalimat-kalimat “kita bisa mengerti arogansi mereka.” Nah, kalau kita lihat misalnya sekali lagi seperti juga masa ketika kita mengalami affair Timor Timur, media seperti Republika itu all out. Tapi saya duga kali ini yang diutarakan oleh Republika, barangkali banyak sekali orang Indonesia yang berpendapat seperti itu. Kalau kita secara formalistis saja, saya kira pertama-tama golongan Islam dalam hatinya ya kesal terhadap Amerika. Terutama dipicu oleh kebijakan Amerika di Timur Tengah, khususnya terhadap Palestina.
Kemudian kalau kita lihat TNI, kemungkinan masih belum bisa memaafkan apa yang terjadi yang disebut dengan penipuan Amerika; tadinya membiarkan atau mendukung TNI masuk ke Timtim kemudian berada di barisan depan mencaci maki TNI. Itu sudah jelas mereka tidak senang. Jadi golongan Islam, golongan TNI, kemudian PDIP yang memang tradisionil, ideologi nasionalismenya kuat, agak kiri, dan oposisi terhadap AS. Makanya saya agak geleng-geleng kepala, agak terpukau saya lihat. Oposisi itu datangnya dari kiri.
Yang beroposisi terhadap Bush adalah golongan kiri, golongan liberal. Jadi kita kembali lagi, kita mestinya bersikap berdasarkan prinsip-prinsip yang teguh, bukan berdasarkan pro si Anu, anti si Polan, dan pro si Badu. Prinsipnya itu apa dulu. Kadang-kadang prinsip itu menghinggapi si Polan, kadang-kadang dia menghinggapi si Badu. Kalau kita setiap kali mesti mencla mencle, pindah-pindah, dalam pro dan kontra kita, kredibilitas kita nggak ada. Kalau kredibilitas kita nggak ada, social trust di masyarakat kita pun nggak ada.
Soal penggunaan istilah jihad, pandangan Anda?
Saya cuma pengen sekali teman-teman saya seagama ini bisa diajak untuk beranjak dari keprimitifan reaksi yang begitu emosional. Saya kira reaksi terhadap keterperosokan kita semuanya ini kalau tetap berkisar pada emosi, kalau tetap berkisar di ujung pedang, saya kira kok tidak akan menang, keterperosokan dan ketertinggalan kita. Senantiasa itu yang saya ingin ajak dari mereka itu.[]
Komentar Masuk (0)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)