Editorial
10/03/2009

Kapan Muhammad SAW Lahir?

Oleh Abd. Moqsith Ghazali

Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial.

Nabi Muhammad SAW adalah pusat keteladanan. Segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan umat Islam, dulu dan sekarang. Haditsnya menjadi sumber hukum (mashdar al-hukm) kedua setelah Alquran. Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial. Itu sebabnya, jika waktu kelahirannya dirayakan, maka saat kematiannya tidak. Perihal kelahirannya, sebagian umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin pagi menjelang subuh, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (`am al-fil). Disebut begitu karena bertepatan dengan tahun penyerangan “Pasukan Gajah” pimpinan Abrahah (Gubernur Abisinia) ke Kabah.

Namun, dengan merujuk pada buku-buku sejarah, kita akan mengerti bahwa tak ada kepastian tentang jam, hari, tanggal dan bulan kelahiran Muhammad SAW. Dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, 260-267), Ibnu Katsir menjelaskan keanekaragaman pandangan para ulama tentang kelahiran Nabi. Husain Haikal juga menjelaskan pluralitas pendapat tersebut dalam Hayat Muhammad (hlm. 102). Mengenai tahun kelahirannya misalnya terdapat beberapa pendapat. Menurut Ibnu Abbas, Muhammad lahir pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat, kelahirannya lima belas tahun sebelum peritiwa penyerangan Kabah itu. Ada yang memperkirakan beberapa hari (satu bulan, empat puluh hari, lima puluh hari), beberapa bulan, bahkan beberapa tahun setelah Tahun Gajah. Menurut Abi Ja`far al-Baqir, Muhammad lahir 55 hari setelah peristiwa pasukan bergajah itu. Yang lain menghitung sepuluh tahun, dua puluh tiga tahun, tiga puluh tahun hingga tujuh puluh tahun setelah Tahun Gajah. Abu Zakaria al-Ajalani berpendapat, Muhammad lahir empat puluh tahun setelah Tahun Gajah.

Begitu juga tentang bulan dan tanggal kelahirannya. Sebagian ulama berpendapat, Muhammad lahir pada bulan Rabiul Awal. Yang lain berpendapat, bulan Muharram, Safar, Rajab. Ibnu Abdil Birri mengutip pendapat al-Zubair ibn Bikar bahwa Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Ramadan. Sementara tanggal kelahirannya diperkirakan sebagian ulama jatuh pada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. Ibnu Hazm berpendapat, kelahiran Muhammad jatuh pada 8 Rabiul Awal. Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Ulama pun berbeda pendapat, tentang waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 18 Rabiul Awal.

Artikel ini hendak menegaskan bahwa di kalangan ulama Islam klasik sendiri tak ada konsensus (ijma`) tentang waktu kelahiran Nabi Muhammad. Ini terjadi karena tak ada tradisi pencatatan waktu kelahiran seorang bayi saat itu. Baik ibunda maupun kakek Nabi tak mencatat kelahiran anak atau cucunya itu sehingga wajar kalau terjadi kesimpangsiuran waktu kelahiran Muhammad. Jelas, ketepatan dan kepersisan tanggal kelahiran seorang tokoh sekian ribu tahun lalu tak mudah ditunaikan. Tak ada kepastian tentang waktu kelahiran Nabi Isa, Nabi Musa, apalagi Nabi Ibrahim lalu Nabi Adam. Semua tanggal dan tahun kelahiran mereka ditentukan kemudian, berdasar asumsi dan prakiraan dan akhirnya membentuk keimanan. Lalu siapa sesungguhnya yang lahir di Mekah pada Senin 12 Rabiul Awal 1500 tahun lalu itu? Kita tak tahu. Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H. []

10/03/2009 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (80)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Ah perbincangan yang tidak bermutu.
Bandingkan agama islam di Arab (Saudi) dengan Indonesia.
Kelihatannya Islam di Indonesia lebih Islam dari Arab Saudi.
Kalau kalian percaya Islam dan Quran, percayalah seperti penganutnya di Arab (Saudi), karena bahasa Quran seperti sudah bahasa mereka.

Di Indonesia Islam sudah tercemar karena Do’i atau penceramah atau Kiayi yang ngawur, yang banyak ajarannya yang tidak cocok dengan ajaran Islam sesungguhnya.

Bagaimana ada yang protes ?, kalau kalian tidak mempercayai agama Islam yang di Arab sana, ya sudah bikin agama tersendiri dan jangan bawa bawa embel ember Islam.

Sebagai contoh Jemaah Liberal (tanpa Islam), Jemaah Ahmadiah (tanpa Islam), dan lain lain.

Bagaimana bang Ulil ?

Posted by Adi Is  on  09/07  at  04:32 AM

Don’t you know that it is the best time to get the <a >credit loans</a>, which can help you.

Posted by RosannaRamos20  on  09/05  at  12:56 AM

Muhamad saw adlh pemimpin para nabi.Ia adalah manusia, tp tdk seperti sifat manusia pd umumnya. Akhlaknya adlh al quran. Oleh sbb itu Sejarah hidupnya perlu dikaji secara benar.Agar bs dijadikan ibrah/pelajaran dlm menapaki hidup ini.Mencintai dan Mengagungkannya suatu keharusan. “Barang siapa yg mencintaiku maka ia akan bersamaku d surga.[al-Hadist]

Posted by Al-weezra  on  03/19  at  01:15 PM

ya tuhan ijinkan q untuk bisa berziarah ke rumah yang pernah dibangun oleh kekasihmu

Posted by alehudin al-lomboki  on  02/28  at  11:50 AM

Kalau saya sih gak pusing. Karena dalam peringatan Maulid Nabi SAW yang dilakukan adalah ceramah siraman rohani mengenai kisah kehidupan Rasulullah SAW dan silaturahmi. Dan saya tidak pernah menganggap itu ibadah ritual. Mengenai asal usulnya peringatan ini, saya sependapat dengan saudara isoelaiman, bahwa hal itu berawal dari sayembara yang diadakan oleh Sultan Salahuddin Al Ayubi untuk menggelorakan kembali semangat pasukan muslim yang mengalami kekalahan dalam perang salib. Itu dilakukan setelah Sultan Salahuddin mengamati bahwa pasukan Salib di jaman itu setiap selesai merayakan Natal, semangatnya kembali menggelora, dan memenangkan pertempuran. Singkat cerita, setelah diadakan sayembara, pemenangnya adalah seorang muslim berkebangsaan Perancis bernama Albarzanc (tolong dikoreksi penulisannya). Buku kumpulan pujian terhadap Rasulullah SAW yang ditulisnya di-bahasa Indonesia-kan menjadi Barzanji. Jadi tujuan awalnya itu bukan untuk ibadah, tetapi lebih pada pengingatan kembali akan teladan kehidupan Rasulullah SAW, sebagai bagian dari strategi agar semangat pasukan muslim tidak kendor dalam pertempuran di jaman itu. Peperangan itu adalah akibat persaingan politik antar bangsa waktu itu yang oleh segelintir orang yang tidak toleran diperalat dan dijadikan perseteruan antar umat beragama. Bahkan sampai sekarang masih ada yang mengikuti pendapat tersebut. Di kalangan muslim ada yang beranggapan bahwa setiap yang dari barat pasti adalah musuh dan di kalangan bangsa barat ada yang beranggapan bahwa setiap yang dari Islam musti dicurigai.

Saya gak ngerti dengan orang yang bilang perayaan maulid itu bid’ah dalam artian penyelewengan ibadah. Apa sih maunya? Penyelewengannya di mana? Saya ngerti bid’ah itu berarti sesuatu hal yang baru, hal yang diadakan kemudian. Katanya sholat tarawih 23 raka’at baru ada di jaman Khalifah Umar bin Khattab. Itu sesuatu yang baru. Musabaqah tilawatil qur’an itu juga sesuatu yang baru. Juga mushaf Utsmani adalah sesuatu yang baru. Tetapi ini kan tidak dikategorikan bid’ah dhalalah. Dan bukankah ketika akan dibuatnya mushaf Utsmani, juru tulis Rasulullah SAW sempat menolak karena menganggapnya hal yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Kenapa hal-hal tersebut tidak dikategorikan sebagai penyelewengan? Katanya karena itu tergolong bid’ah hasanah. Dan orang-orang yang tidak melakukan sholat tarawih 23 raka’at tidak pernah menghina orang-orang yang melakukannya. Yang tidak setuju dengan musabaqoh tilawatil qur’an juga tidak pernah menghina para qori dan penyelenggaranya. Lalu mengapa dalam hal maulid ada penghinaan semacam kata bid’ah itu (dalam artian penyelewengan?) Apa karena phobia terhadap perayaan kelahiran yang dianggap berasal dari budaya barat? Bagaimana kalau peringatan itu diubah menjadi sekedar ceramah tentang sirah nabawiyah tanpa embel-embel perayaan hari kelahiran dan juga waktunya pun tidak mesti bulan rabiul awwal? Apa masih tetap bid’ah?

Kalau misalnya ada yang melakukan ceramah, menceritakan kisah sirah nabawiyah, apakah itu bid’ah? Bukankah isi kitab Barzanji itu, yang sering dibaca (di perkotaan sekarang sudah jarang disertakan) ketika peringatan maulid adalah puisi pujian terhadap Rasulullah SAW? Saran saya kepada yang mengatakan itu bid’ah, lebih baik adalah bukan asal bilang bid’ah. Tetapi beri penjelasan yang baik dan mencerahkan, bukan bernada mencemoohkan dan merendahkan yang merayakannya. Mana akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berdakwah? Bukankah lebih baik menganjurkan masyarakat untuk mengkaji sirah nabawiyah setiap saat jika ada kesempatan tanpa harus menunggu bulan Rabiul Awwal? Selain itu, isi kitab Barzanji sebaiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar masyarakat yang gak ngerti bahasa Arab juga mengerti isinya. Bukankah kita dianjurkan untuk berdakwah dengan cara yang baik? Mohon jangan hanya bisa bilang bid’ah sekedar mengekor dari ketuanya/gurunya/ustadznya yang mengatakan itu bid’ah tanpa pernah tanya apa solusi dari hal semacam ini dan menjelaskan dengan baik kepada yang awam. Lebih baik diam, karena setiap tingkah laku anda jangan sampai menimbulkan citra jelek terhadap agama Islam. Hal yang baik jika disampaikan dengan cara yang buruk, akan ikut menjadi buruk. Ibarat pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga; jangan sampai karena segelintir orang yang menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang tidak baik, maka ajaran yang baik ini menjadi tercemar namanya. Marilah berdakwah dengan baik sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW.

Posted by muhammad hakim  on  02/25  at  11:52 PM