Kenapa Dunia Islam Terbelakang?
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Ada tiga penyakit mental yang dianggap oleh Arsalan sebagai “biang kerok” kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah diri (al-istikhdza’) dan cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Pada penutup bukunya, Arsalan mengutip ayat yang dalam pandangannya merupakan kunci kebangkitan dunia Islam, yakni Al-Ankabut (29):69. Bunyi ayat itu: wa ‘l-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana – mereka yang berjuang (jihad) di jalanKu, Aku akan menunjukkan mereka jalan-jalan menuju Aku.
Pertanyaan tentang kenapa dunia Islam terbelakang sudah kerap dikemukakan sejak lama. Orang yang pertama kali mengajukan pertanyaan ini adalah Amir Syakib Arsalan (1869-1946), seorang aktivis, pemikir dan sastrawan dari Libanon yang terkenal karena bukunya yang berjudul Limadza Ta’akhkhar al-Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum? (Kenapa Umat Islam Terbelakang, dan Kenapa Umat Lain Maju). Buku ini terbit pertama kali sebagai sebuah artikel panjang di Majalah Al-Manar yang dipimpin oleh Rashid Ridha di Mesir pada pada 1936.
Belakangan, artikel itu diterbitkan sebagai buku pada 1940 dengan kata pengantar oleh Rasyid Ridha.
Kisah bagaimana buku ini terbit menarik untuk dituturkan di sini. Buku Arsalan itu ditulis sebagai respon terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang pembaca Majalah Al-Manar dari Jawa bernama Muhammad Basuni Imran. Surat itu dikirim ke redaksi Al-Manar pada bulan Rabi’ al-Akhir 1248 H (1929 M).
Oleh Rashid Ridha pertanyaan itu kemudian dikirim ke Syakib Arsalan. Yang terakhir ini langsung tergerak menuliskan jawaban. Kebetulan saja, saat menerima surat pertanyaan dari tanah Jawa itu, ia baru saja kembali dari perjalanan ke Andalusia, negeri yang dulu, selama kurang lebih tujuh abad, berada di bawah kekuasaan Islam (711-1492), dan kemudian direbut kembali oleh bangsa Kristen di Eropa dalam peristiwa yang dikenal dengan “reconquista”. Kenangan akan hilangnya tanah Islam itu membuat Arsalan sedih. Tepat pada saat itulah, ia menerima surat dari Jawa. Dalam waktu tiga hari ia menyelesaikan bukunya itu.
Apa penjelasan Arsalan tentang kemunduran dunia Islam? Ada dua. Pertama, dalam pandangan Arsalan, bangsa-bangsa non-Muslim maju karena mereka tetap berpegang pada tradisi keagamaan mereka sendiri. Arsalan menyebut dua contoh: Jepang dan Eropa, simbol kemajuan dunia pada awal abad ke-20. Dua dunia itu maju tanpa harus mengabaikan tradisi keagamaan mereka. Penjelasan kedua, bangsa-bangsa itu maju karena kerja keras untuk meraih kemajuan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan.
Dalam pandangan Arsalan, kemajuan bangsa-bangsa Islam hanya bisa dicapai melalui jalan yang sama yang ditempuh oleh bangsa-bangsa non-Islam, yakni berpegang pada tradisi, serta kerja keras. Hukum kemajuan berlaku secara “konsisten” bagi bangsa Islam dan non-Islam. Ada tiga penyakit mental yang dianggap oleh Arsalan sebagai “biang kerok” kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah diri (al-istikhdza’) dan cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Pada penutup bukunya, Arsalan mengutip ayat yang dalam pandangannya merupakan kunci kebangkitan dunia Islam, yakni Al-Ankabut (29):69. Bunyi ayat itu: wa ‘l-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana – mereka yang berjuang (jihad) di jalanKu, Aku akan menunjukkan mereka jalan-jalan menuju Aku.
“Jihad” adalah kata kunci yang disebut oleh Arsalan. Tetapi, ini bukanlah jihad dalam pengertian “perang suci” sebagaimana kita jumpai pada kelompok Islam garis keras. Baginya, jihad adalah kerja keras dan kesediaan untuk melakukan pengorbanan (al-tadlkhiyah).
Jawaban Arsalan, di mata kita sekarang, mungkin terasa sederhana dan simplistik. Tetapi, ada pengamatannya yang cukup tajam dan, saya kira, masih relevan hingga saat ini. Gagasannya bahwa kemajuan harus bertopang pada tradisi, bukan malah memusuhinya, saya kira senada dengan pandangan yang dikemukakan oleh banyak ilmuwan sosial pada abad ke-20.
Robert Wuthnow, seorang profesor sosiologi dari Universitas Princeton, misalnya, mengemukakan tentang pentingnya peran “community of discourse” dalam tiga perubahan penting di Eropa: Reformasi Protestan, Pencerahan, dan Revolusi Sosialis. Apa yang oleh Wuthnow disebut sebagai “komunitas wacana” adalah suatu arena perdebatan, di mana tradisi dan kekinian saling berdialog. Unsur tradisi sangatlah penting di sana. Suatu komunitas wacana menjadi kurang bermakna tanpa suatu tradisi yang melatarinya. Apa yang dikemukakan oleh Wuthnow menggaungkan sebagian apa yang telah dikemukakan oleh Arsalan sebelumnya, tentang pentingnya konteks tradisi dalam mencapai suatu kemajuan.
Pertanyaan tentang alasan kemunduran dunia Islam terus bertahan hingga saat ini. Sebuah tulisan pendek yang cukup provokatif yang ditulis oleh seorang penulis Pakistan, Dr. Farrukh Saleem, menarik untuk kita simak sejenak. Judul artikel itu “Why are Jews so powerful and Muslim so powerless?”, dimuat di situs Blitz yang didirikan oleh Salah Uddin Shoaib Choudhury, seorang wartawan Bangladesh yang mendedikasikan diri untuk melawan ideologi kaum Jihadis Muslim. Dalam artikelnya itu, Saleem mengemukakan sejumlah data yang menarik (validitas data-data ini bisa saja diperdebatkan).
Inilah sejumlah data perbandingan yang dikemukakan oleh Saleem. Jumlah bangsa Yahudi di seluruh dunia saat ini adalah 14 juta. Sementara jumlah umat Islam adalah 1,4 milyar. Tetapi, keunggulan numerik umat Islam ini tak berkorelasi dengan prestasi mereka dalam, misalnya, bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi. Selama 105 tahun sejarah hadiah Nobel, sebanyak 180 Hadiah Nobel telah dimenangkan oleh bangsa Yahudi. Sementara, dari 1,4 milyar umat Islam, baru ada tiga ilmuwan/sastrawan Muslim yang memenangkan hadiah tersebut (di luar Hadiah Nobel di bidang perdamaian).
Salah satu pemenangnya ialah Prof. Abdus Salam dari Pakistan. Ia memenangkan Hadiah Nobel di bidang fisika pada 1979. Yang sangat ironis, di negerinya sendiri, Abdus Salam tak diakui sebagai seorang Muslim, karena ia pengikut kelompok Ahmadiyah.
Data lain yang dikemukakan Saleem: Jumlah seluruh universitas di 57 negeri Muslim yang menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OIC/OKI) hanyalah sekitar 500. Sementara di Amerika Serikat saja, terdapat 5.748 universitas. Di India, negeri dari mana Pakistan memisahkan diri, ada 8.407 universitas. Perbandingan ini memang sangat fantastis karena begitu “njomplang”.
Melihat perbandingan semacam ini, sangat jelas di mana letak masalah yang dihadapai oleh dunia Islam, yaitu kemerosotan pendidikan dan etos saintifik. Ini tentu menyedihkan mengingat sejarah masa lampau Islam yang dikenal sebagai pembangun kebudayaan ilmu pengetahuan. Salah satu cari utama peradaban Islam, menurut seorang orientalis terkenal Franz Rosenthal, ialah ia merupakan peradaban pengetahuan (bisa dibaca dalam bukunya yang berjudul Knowledge Triumphant [1970]).
Kunci kemajuan Islam di masa depan, menurut Saleem, ia harus mengejar ketertinggalan yang cukup jauh di bidang pendidikan dan riset. Saya kira, pengamatan Saleem ini sangatlah tepat. Jika kita kembali kepada gagasan Arsalan sebelumnya, yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa Islam saat ini adalah “jihad”, bukan dalam pengertian yang dipahami oleh kalangan Islam garis keras; melainkan jihad intelektual, yakni kerja keras untuk meraih kemajuan di bidang pengetahuan.
Itulah jalan kemajuan bagi dunia Islam di masa depan.[]
Komentar
Mari kita lihat kembali pada sejarah kejayaan Islam. Apakah umat islam mengalami kejayaan karena hebat dalam ilmu pengetahuan, persenjataan, kebudayaan ataupun Ekonomi?. Apa karena Aqidah yang lurus dan keimanan yang benar? Sehingga Allah memberikan (pertolongan)kejayaan pada Umat Islam. Jadi menurut saya kalau umat ini mau kembali berjaya tak ada jalan lain kecuali kepada cara beragama yang benar, seperti awal-awal kebangkitan Islam.
Coba kita renungkan lagi kejadian pada zaman Rosulullah, yaitu pada perang Badar dan perang Uhud. Dimana pada perang Uhud yg sebenarnya secara fisik kekuatan lebih banyak (dibanding saat perang badar), tetapi karena mulai ada yg tidak taat pada Rosul maka kekalahanlah yang terjadi. Perhatikan umat sekarang berapa banyak yang masih taat pada Rosulullah?.
Untuk sdr joko….
Belum terbukti negara islam itu maju,malah terbelakang,lihatnya Taliban,Sudan dan lain2nya
lihat pula ormas2 Islam Fundamentalis menunjukan umat yg lemah ekonomi dan terbelakang dalam soal ekonomi dan technologi.
salam
http://muslimbertaqwa.blogspot.com/p/make-money.html
untuk bung alatif….....Mengapa (2-Pemerintahan yang korup). bukankah semua pengusa sekarang telah liberal seperti yang anda inginkan?...
Bagi saya, justru karena mereka telah liberallah yang menjadi ketinggalan, yakni mengikuti dibelakang kafirin JIL…Setiap yang mengikut, maka pastilah dibelakang selamanya. Coba jalan sendiri dalam sisten Islam, maka patilah tidak akan ada hakim Syarifuddin dan korotor Gayus tambunan. peristiwa Mesuji…Pelabuhan Sape…Jembatan Runtuh…..Kursi DPR berharga 24 juta perbuah…Benar begitu bukan…alatif?
1- meninggalkan ajran Al-Quran, ia bermula dari sistem beraja (Muawiyah), tidak dinafikan MUawiyah itu berjasa besar telah mengembang islam sehingga saya pun menjadi ummatnya
2- seterusnya diistanya yang dikuasai penuh itu telah mula cinta dunia (takut mati)karena dilamnya banyak gundik2, emas permata.
kesempatan itulah yang diambil oleh Yahudi & Kristen untuk mengkotak-katikkannya. tetapi dari soal aqidah, islam tetap unggul dan mendabik dada"Hanya Islam yang benar”. ini bisa dibuktikan ” Banyak Rahib dan Pendeta yang akhirnya peluk Islam” bahkan hindu-budha dll.
soal kekayaan, baik dalam Quaran atau Bible tetap sama, -yakni” Jangan heran dengan kekayaan mereka, karena Allah akan mengazab mereka dengan nya”. Yesus pun tidak suka dengan orang kaya yang sombong, bahkan kekayaan harus dibuang jika ingin menjadi pengikutnya (Lihat P,Baru).
Untuk saudara-saudaraku sesama umat muslim
Coba baca dan pahami opini dari saudara Muhhamad Dharmawan di #2, #3, #4 dan #5
Jawabannya nggak jelas, muter-muter dan kalau kita mau jujur menilai jawaban dari sdr. Muhamad Dharmawan hanya jawaban yang bersifat menghibur dan mencari pembenaran akan kemunduran umat islam dibandingkan umat lain. Pembenarannya apalagi kalau tidak diambil dari Al qur’an yang isi pembenarannya selalu itu-itu saja, bahwa umat islam tidak hanya mementingkan kehidupan duniawi, umat islam harus memikirkan kehidupan di akherat nanti, bla…..bla…...bla…. dan sebagainya.
Pertanyaan saya sederhana saja, apakah karena umat islam ingin masuk surga lalu serta merta harus melupakan perkembangan iptek, menolak segala bentuk riset dan penelitian ilmiah dll??? Selama ini kalau kita mau jujur menilai metode pengajaran agama islam di pesantren dan sekolah-sekolah umum, hanyalah masalah surga dan neraka, dan dicekokilah umat kita oleh cerita-cerita bahwa di neraka tubuh para pendosa akan dibakar, ditusuk, dipanggang dll, sementara di surga sebaliknya, ada sungai madulah, bidadari yang selalu perawanlah dll.
Saya berpendapat bahwa metode pengajaran agama islam harus dirubah total, coba sekali-sekali tanyakan kepada umat lain, bagaimana metode pengajaran agama mereka selama ini? Dari perubahan metode pengajaran agama inilah akan menyebabkan kita akan mempunyai cara berpikir dan cara pandang yang berbeda.
Saya mempunyai seorang sahabat non muslim yang pernah saya ajak berbicara mengenai kemajuan iptek, ekonomi dll yang didominasi oleh umat non muslim? Jawabannya sangat sederhana, cara berpikir umat muslim lah penyebabnya, persis seperti yang disampaikan islam di #8. Celakanya cara berpikir itu diberikan oleh para ulama-ulama panutan kita yang juga celakanya mencekoki pikiran umat sejak anak-anak dengan cerita-cerita horor siksaan di neraka. Yang ada akibatnya adalah umat islam terbiasa berpikir bahwa tujuan hidup ini hanyalah mencari sungai madu dan bidadari perawan di surga.
Komentar Masuk (27)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)