Editorial,
19/10/2011

Kerukunan

Oleh Saidiman Ahmad

Bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo. Beberapa hari sebelumnya, di Ambon, meledak kerusuhan. Sejumlah pakar menganalisis bahwa peristiwa Ambon dipicu oleh beredarnya SMS yang memberi informasi salah mengenai penyebab kematian seorang tukang ojek. Diduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk membuat keributan dengan mengadu-domba warga.

Bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo. Beberapa hari sebelumnya, di Ambon, meledak kerusuhan. Sejumlah pakar menganalisis bahwa peristiwa Ambon dipicu oleh beredarnya SMS yang memberi informasi salah mengenai penyebab kematian seorang tukang ojek. Diduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk membuat keributan dengan mengadu-domba warga.

Bom Solo juga dinilai sebagai upaya provokasi. Jauh sebelum bom Solo, malam tanggal 25 Desember 2000, terjadi pengeboman sejumlah gereja. Solahuddin (2011) menyatakan bahwa rangkaian bom Natal itu ditujukan untuk memprovokasi umat Kristen agar menuntut balas atas hancurnya gereja mereka. Kalau umat Kristen terprovokasi, giliran umat Islam yang akan melakukan gerakan. Semua akan kacau balau.

Provokasi-provokasi semacam ini ternyata tidak cukup berhasil. Alih-alih melakukan balas dendam, para tokoh Kristen dan Muslim malah bergandengan tangan mengutuk aksi teror bom dan kekerasan. Mereka mengkampanyekan satu kata, yakni “kerukunan.”

Kerukunan adalah kata yang sering sekali dipakai untuk kampanye perdamaian di tengah ancaman kerusuhan dan kekerasan sosial. Sepintas lalu banyak yang mempertukarkan atau menganggap sama antara kata rukun dan damai (kerukunan dan kedamaian). Sebenarnya, kerukunan memiliki makna yang jauh lebih dalam dan karenanya sangat dibutuhkan untuk mengatasi persoalan konflik dan kekerasan.

Kata “rukun” pada dasarnya bermakna fondasi atau pilar. Ia bukan sekedar hidup damai dan harmoni. Kata yang berasal dari bahasa Arab ini sering digunakan ketika menyebut frase “rukun iman” atau “rukun Islam.” Rukun pada frase-frase itu merujuk pada makna fondasi, pilar, atau tiang. Pada frase “rukun iman,” misalnya, tidak dimaksudkan sebagai upaya untuk mendamaikan prinsip-prinsip keimanan dalam Islam. Percaya kepada Tuhan, Nabi, Kitab Suci, hari akhir, dan ketentuan Tuhan adalah prinsip-prinsip utama yang tidak saling bertentangan. Demikian pula pada frase “rukun Islam.” Membaca dua kalimat syahadat, salat, puasa, zakat, dan naik haji bagi yang mampu bukanlah hal-hal yang bisa berkonflik dan harus didamaikan. Kata “rukun” di sana bermakna fondasi.
Kedalaman makna dari kata “rukun” inilah yang tampaknya menjadi alasan kenapa dua wilayah pemerintahan disebut sebagai “rukun warga” dan “rukun tetangga.” Di sini tampak bahwa kerukunan tidak hanya dimaknai sebagai hidup dalam damai dan saling menghargai. Lebih dari itu, kerukunan dimaknai sebagai fondasi bagi kehidupan bersama.

Kesadaran mengenai pentingnya kerukunan sebagai fondasi hidup bersama juga melandasi semangat pendirian negara Republik Indonesia. Membangun negara di atas kebhinekaan yang sedemikian rupa ini memang tidak mudah. Potensi konflik dan kekerasan sosial terus menerus membayangi perjalanan bangsa ini. Kata “kerukunan” menjadi sangat penting. Ia mewakili satu semangat untuk hidup bersama secara damai dan itu disadari sebagai fondasi yang paling kokoh dalam kehidupan yang majemuk ini.

19/10/2011 | Editorial, | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Tolong JIL buat tulisan untuk kasus ini “Astaghfirullah…Pengadilan Prancis Bolehkan Pemecatan Karyawan Berjilbab”

Posted by xsun  on  10/28  at  03:18 PM

bangsa kita sudah mulai sadar akan pentingnya kerukunan,jebakan jebakan yg provokativ mulai agak kurang laku jualannya,masyarakat umumnya merindukan adanya kedamaian diantara sesama anak bangsa,hanya berharap pemerintah meminimalkan peluang terjadinya gerakan gerakan yg berpotensi menyuburkan radikalisme,seperti kemiskinan,kebodohan,jurang yg lebar antara miskin dan kaya,ketidak adilan serta hal hal kecil yg mungkin tanpa disadari membuat benci sebagian masyarakat seperti gaya hidup pejabat yg serbah wah..serta komentar komentar para pemimpin di media yg kurang edukatif dan cenderung kontra produktif

Posted by kingskhan  on  10/26  at  06:29 PM

      Perhatikanlah ! Setiap manusia apapun agamanya yang dianutnya,  yang hidup jiwanya pasti akan mempercayakan dan menyerahkan kehidupannya kepada Sesuatu Zat, Yang Hidup terus menerus dan Tidak pernah mati, Yang Ada dan Hadir Dimana-mana, Yang Tidak Diciptakan atau Dilahirkan dan Yang Kuasa. Dan mereka ini tidak terjebak pada grafitasi bumi meskipun mereka hidup diatasnya dan senantiasa ingat untuk meninggalkan bumi,  Namun orang yang mati jiwanya cenderung mempercayakan dan menyerahkan kehidupannya kepada sesuatu zat yang diciptakan atau dilahirkan yang bakal mati, roh orang-orang yang sudah mati, kuburan orang mati , dan benda-benda mati, dan yang tidak berdaya. Dan umumnya mereka terjebak oleh ”grafitasi”  bumi dan lupa mati.
      Doktrin iblis (pelopor kejahatan sejak awal kemanusiaan) : Sembahlah Apa dan Siapa saja tetapi jangan sembah Pencipta kalian ! Langgar Perintah dan Larangan Pencipta kalian , agar kalian hidup kekal dan bisa menjadi malaikat ! Cemarkan Dia ! dengan menggambarkan-Nya dengan apa saja ,Putuskan hubungan dengan Pencipta kalian ! dan Jangan bersyukur ”berterimakasih” kepada-Nya secara langsung !, Ikutilah apa-apa yang diajarkan nenek moyang atau tokoh-tokoh agama kalian dan jangan dipertanyakan!,  Bacalah kitab-kitab suci kalian tetapi jangan dipikirkan ! Dengarkanlah nasehat-nasehat agama baik-baik tetapi jangan diamalkan ! Putuskan persaudaraan antar sesama manusia !,  Aniaya ”sakiti ” diri sendiri dan orang lain” juga sesama” ! Gigitlah tangan orang yang menolong kalian ! Nikmatilah fasilitas hidup dengan menghalalkan segala cara ! dan Lupakanlah tentang kematian !
      Demikianlah perbedaan yang mendasar tentang keimanan benar dan salah dari penyembahan manusia sejak awal kemanusiaan.     
    Keimanan yang mutlak benar itu satu dan tidak akan terputus! dan tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kebhatilan ”kejahatan dan kepalsuan”

Posted by M. Dharmawan  on  10/23  at  11:10 PM

mari kita yang masih merasa sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan bangsa ini peduli dengan kondisi seperti ini. bagaimana kita bicara tetang 6 koridor ekonomi atau bicara tentang prospek indonesia menjadi slah satu potensi penyangga pertumbuhan eknomi dunia. yang saat ini disebut BRICS atau pun yang lain tapi modal sosial kita baru bermasalah masih dalam keadaan sakit.kadang kadang saya berfikir apakah mereka yang melakukan terorr mengakibatkan nyawa melayang itu berfikir tantang apa yang terjadi kalau   saja para PMA lari dari indonesia gara gara faktor keamanaan tergangu otomatis negaralah yang dirugikan

Posted by Aang Sahrir Sigit  on  10/23  at  09:09 AM