Ramadhan Pohan: Kini, Tragedi 9/11 Jadi Berkah Terselubung
Oleh Redaksi
Tragedi 11 September tak selamanya menghadirkan petaka. Meski komunitas muslim di Amerika sempat merasakan perlakuan diskriminatif pasca-tragedi itu, tapi kini ada efek domino yang menghinggapi seluruh lapisan masyarakat Amerika untuk memuaskan rasa kuriositas mereka tentang Islam. Kini, setelah dua tahun tragedi yang menyayat hati itu berlalu, Islam menjadi “komoditas spiritual” paling laris di negeri Paman Sam.
Tragedi 11 September tak selamanya menghadirkan petaka. Meski komunitas muslim di Amerika sempat merasakan perlakuan diskriminatif pasca-tragedi itu, tapi kini ada efek domino yang menghinggapi seluruh lapisan masyarakat Amerika untuk memuaskan rasa kuriositas mereka tentang Islam. Kini, setelah dua tahun tragedi yang menyayat hati itu berlalu, Islam menjadi “komoditas spiritual” paling laris di negeri Paman Sam. Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Ramadhan Pohan, koresponden Jawa Pos di Washington DC pada Kamis, 26 Juni 2003:
ULIL ABSHAR-ABDALLA: Anda lama bermukim di Amerika. Bagaimana Anda melihat perkembangan Islam di sana seiring gencarnya nuansa perang melawan terorisme pasca 9/11?
RAMADHAN POHAN: Sebelum terjadi serangan teroris pada 11 September 2001 (baca: 9/11), pemahaman atau eksistensi Islam di Amerika tidak mendapat sorotan yang mendalam. Tapi setelah 9/11, sorotan, tinjauan, dan kritikan ataupun perhatian terhadap Islam dan komunitas muslim menjadi cukup besar. Kita tahu, pelaku 9/11 itu diidentifikasi sebagai berasal dari negara Arab. Mereka muslim semua, sehingga konsentrasi orang-orang Amerika langsung tertuju pada komunitas muslim.
Saya cermati paling tidak ada beberapa respons. Pada tingkat pemerintah, empat hari setelah 9/11, Presiden George Walker Bush langsung pergi ke Islamic Center. Peristiwa itu sebetulnya hal yang langka dilakukan oleh seorang presiden Amerika. Sebelum Bush, Presiden Bill Clinton maupun Presiden Bush Senior, tidak pernah berkunjung Islamic Center. Selain itu, dalam acara doa nasional, wakil dari Islam juga diberikan kesempatan untuk memulai doa dengan bacaan surat al-Fatihah. Jadi ada semacam penghormatan dan sikap toleransi yang ditampakkan oleh Pemerintahan Amerika terhadap Islam.
ULIL: Itu menunjukkan kesediaan pemerintah Amerika untuk tidak memusuhi Islam?
RAMADHAN: Betul. Tindakan itu memang harus dilakukan sesegera mungkin, karena pada saat yang sama, sentimen anti-Islam bermunculan di kalangan masyarakat Amerika. Bahkan misalnya, surat kabar semacam The New York Times, tampak sekali bias dalam mengutip ungkapan insinuatif. Misalnya berbunyi, “Mari kita habisin saja Arab-Arab barbar itu!”
Usaha pemerintah Amerika untuk mencegah persepsi buruk tentang Islam itu mempunyai efek yang positif. Sebab pada saat yang sama, tindakan pemerintah melalui berbagai usaha itu, diikuti oleh kamu moderat Kristen di Amerika. Kita tahu, mereka kebanyakan adalah penganut Protestan. Mereka melakukan dialog dengan kalangan muslim. Orang Islam, melalui tokoh-tokohnya seperti Dr. Sulaiman Nyang, Ivon Hadad, dan lain-lain diminta untuk menjelaskan hakikat Islam. Mereka diundang ke gereja-gereja.
ULIL: Anda pernah menyaksikan pertemuan semacam itu di Washington?
RAMADHAN: Secara konkret tidak. Tetapi saya pernah mengikuti dalam kesempatan yang lain, yaitu ketika Gus Dur bertemu tokoh Yahudi, Protestan, Katolik, dan lain-lain di New York. Setelah 2 tahun pasca 9/11, Presiden Bush melakukan berbagai kegiatan dengan komunitas muslim, seperti ifthâr (buka puasa bersama). Saya sendiri ikut dalam acara itu. Itu terjadi pada bulan puasa pertama pasca 9/11. Bukan hanya Presiden Bush, Capitol Hill juga memberi kesempatan kepada kalangan Islam untuk berdoa dan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Pada level yang lebih bawah lagi, ifthâr juga dilakukan oleh Menlu Colin Powell. Sebelum 9/11 juga pernah dilakukan oleh mantan Menlu Madeline Albright.
ULIL: Apakah Anda ingin mengatakan bahwa sangkaan terhadap pemerintah Amerika tidak bersahabat dengan umat Islam tidaklah benar seluruhnya?
RAMADHAN: Masalahnya bukan bersahabat atau anti umat Islam. Tapi, Islam di Amerika mendapat tempat yang baik sama seperti agama-agama lainnya. Bahkan secara tak langsung ada pemahaman yang lebih kuat di kalangan pemerintah Amerika tentang Islam. Dari segi masyarakat, kita menyaksikan antusiasme yang kuat untuk tahu Islam; apakah Islam itu? Benarkah Islam menyuruh para penganutnya untuk membunuh orang kafir? Alquran menjadi salah satu “buku” terlaris di Amerika saat ini.
Tren itu masih dan terus berkembang sampai sekarang. Memang ada kasus-kasus yang menghambat. Tapi itu semua tidak signifikan dibandingkan dengan nilai positif yang sudah muncul ke permukaan.
ULIL: Tragedi 9/11 menjadi semacam blessing in disguise, berkah yang tersembunyi, karena justru membuat orang Amerika belajar tentang Islam. Dengan demikian, apakah pengetahuan orang Amerika tentang Islam semakin baik?
RAMADHAN: Saya kira, pengetahuan mereka makin membaik, mendalam, dan positif. Hal itu didasarkan dari hasil survei yang pernah dilakukan harian USA Today yang ternyata pemahaman mereka tentang Islam menjadi semakin baik, bahkan mencapai angka 80 persen. Survei ini dilakukan dalam skala nasional kira-kira setengah tahun lalu.
ULIL: Apakah pengetahuan yang makin membaik itu berpengaruh positif dalam perlakuan mereka terhadap komunitas muslim?
RAMADHAN: Kalau secara umum, sebetulnya mereka tak punya masalah dengan komunitas muslim. Hanya saja ada beberapa kasus, bahkan ratusan kasus, seperti penganiayaan dan pelecehan, bahkan hingga menyebabkan kematian. Hanya saja di Amerika ada mekanisme hukum yang berjalan. Dalam satu bulan terakhir, sebelum saya berangkat ke Indonesia dua minggu lalu, ada juga kasus yang dimenangkan orang Islam dalam pengadilan. Kemarin ada kasus pelecehan, misalnya, seorang muslim tidak dibolehkan naik bis antarkota karena meminta duduk persis di belakang supir. Padahal, setelah 9/11, peraturannya memang tak membolehkan siapapun untuk duduk di belakang supir.
ULIL: Di kebanyakan negeri muslim, persepsi orang Amerika tentang Islam banyak direpresentasikan orang-orang seperti Samuel P. Huntington tentang konflik peradaban (clash of civilization), misalnya. Apakah gambaran Huntington itu tepat menggambarkan persepsi orang Amerika tentang Islam?
RAMADHAN: Tentang Huntington, pejabat Amerika sendiri pernah membantah tesisnya tentang konflik peradaban itu. Buku Huntington menjadi bahan olok-olokan, dikritik secara pedas dan ditanggapi dengan sinisme oleh banyak ilmuwan. Francis Fukuyama secara tak langsung melakukan bantahan terhadap teori Huntington.
Lain dengan figur Daniel Pipes. Pipes sekarang masuk sebagai anggota dalam sebuah lembaga perdamaian yang anggarannya langsung dari Negara (tax payers). Kalangan muslim di Amerika melakukan protes. Mereka meminta pemerintahan Bush untuk meninjau kembali pengangkatan Daniel Pipes karena dia dinilai tidak punya nilai-nilai perdamaian, bahkan menyemai benih-benih permusuhan.
Sampai saya kembali ke Indonesia kemarin, kontroversi itu tetap berlangsung. Tapi saya melihat perubahan justru terjadi pada diri Daniel Pipes sendiri. Dia melakukan bantahan, misalnya, bahwa tidak benar dia anti-Islam. Menurut Pipes, yang dikritisi adalah kalangan fundamentalis Islam. Perubahan kedua, tulisan-tulisan dia yang dimuat di The New York Post, tidak lagi mencerminkan karakter pandangan yang anti-Islam.
ULIL: Apakah perasaan pro-Yahudi di kalangan pengambil kebijakan di Amerika itu lebih kuat dibanding Islam?
RAMADHAN: Memang benar. Hal itu malah diakui secara eksplisit oleh Presiden Bush sendiri. Dari level pemerintahan, yang paling dekat adalah Israel, dan karenanya mereka membela kepentingan Israel. Perlu diingat, komunitas Yahudi sendiri cukup kuat di sana, khususnya dalam akumulasi kapital. Tapi semua itu berlangsung dalam prosedur demokrasi sehingga bila dijumpai ketidakpuasan, dapat menempuh jalur yang sudah ada.
Tapi Yahudi itu sendiri tidak tunggal. Ada seorang Yahudi dari Partai Demokrat, tapi membela Islam secara getol di Amerika sampai dia meninggal dunia beberapa bulan lalu. Noam Chomsky yang banyak dirujuk kaum fundamentalis untuk mengkritisi Amerika juga seorang Yahudi tulen. Jadi kita tidak bisa main pukul rata bahwa Yahudi pasti anti-Islam. Atau, pemerintah Amerika serta-merta dekat dengan Yahudi.
ULIL: Dewasa ini Kristen fundamentalis melakukan propaganda negatif atas Islam yang didukung misalnya, TV Fox. Bagaimana orang Amerika menyikapi hal ini?
RAMADHAN: Orang Amerika sendiri sebetulnya tidak terlalu suka dengan TV Fox atau acara Bill O’Reilly, The Factor, meski banyak juga yang menontonnya. Bahkan dalam prime time, acara tersebut termasuk yang paling banyak ditonton. Tapi mungkin sekadar tontonan saja. Kita senang dengan film perang, tapi belum tentu senang peperangan. Jadi tidak bisa menjadi indikator bahwa demikianlah wajah orang Amerika. O’Reilly memang sangat provokatif dalam mendebat lawan bicaranya. Hanya saja, acaranya tidak ada korelasinya dengan suburnya kecenderungan anti-Islam di Amerika.
Kalau kita lihat fakta-fakta belakangan ini orang Islam di Amerika kini menjadi lebih padu. Terakhir mereka melakukan salat Ied di Convention Center. Tempat tersebut berkapasitas lebih dari lima ribu orang, tapi dilaksanakan sampai bergiliran tiga kali karena saking membludaknya jamaah.
Jadi ada perkembangan positif di Amerika, terutama internal muslim sendiri. Yang menjadi kunci persoalan kita saat ini adalah orang Islam dari Timur Tengah dan Arab dengan orang Yahudi dan kaum fundamentalis Kristen di Amerika. Tapi, mayoritas muslim di Amerika bukan orang Arab.
ULIL: Bagaimana Anda melihat persepsi orang Islam di Amerika terhadap Presiden Bush?
RAMADHAN: Secara umum, persepsi mereka positif dan terkesan lebih pandai dalam berdiplomasi. Kadang-kadang, untuk menghadapi Kristen fundamentalis atau pejabat yang sering aneh omongannya, kaum muslim memakai kutipan-kutipan kalimat Presiden Bush. Misalnya, mereka kutip Bush bahwa Amerika berperang melawan terorisme, bukan Islam. Poinnya adalah Islam dianggap sebagai agama perdamaian.
Pada saat yang sama, mereka mendesak pemerintah Amerika dengan cara lobi, untuk mengklarifikasi omongan pejabat tertentu yang dianggap merugikan Islam. Suatu kali, seorang pejabat pernah split his tongue (keseleo lidah) tentang Islam di muka publik. Ungkapan itu diinterpretasi sebagai tidak menghargai Islam. Lalu State Department melalui Colin Powell segera melakukan bantahan atas omongannya.
ULIL: Dalam pemilu lalu, mayoritas umat Islam mengalirkan suaranya pada George W. Bush. Saat ini umat Islam menilai kebijakan Bush banyak bertentangan dengan kepentingan mereka. Bagaimana perasaan muslim Amerika dalam menghadapi kenyataan ini?
RAMADHAN: Mereka jengkel pada Bush. Pada dasarnya, muslim di Amerika cenderung pada Partai Demokrat yang lebih berwarna, liberal dan banyak menampung aspirasi mereka. Mereka memberikan suaranya pada Bush, karena calon presiden dari kubu Demokrat, Al Gore, menolak bertemu dengan delegasi komunitas muslim. Akhirnya, blok suara dialihkan kepada kubu Bush, karena mau menerima orang-orang Islam. Mereka mau bertemu dan berbicara dengan komunitas muslim.
Nah, saat ini memang ada persoalan. Tapi secara umum, kebijakan Presiden Bush masih bisa dimengerti. Hanya ada satu kasus di mana Presiden Bush kepleset lidah. Sembilan puluh sembilan persen tidak. Masa’ yang satu persen menggugurkan kebijakan yang sembilan puluh sembilan persen? Tapi, kelompok Islam sendiri, saat ini suaranya terbelah. Meski tetap berupaya membawa Islam lebih masuk lagi pada warga Amerika yang mayoritas nonmuslim. John L. Esposito misalnya, dalam acara yang dihadiri puluhan ribu muslimin, mengajak agar terlibat dalam urusan-urusan komunitas Amerika sehingga asimilasi secara cultural makin cepat terjadi.
Tapi ada juga kaum muslim, terutama dari Wahabi, yang sering mengumbar fitnah atas Yahudi. Pernah isu dokter Yahudi menyuntik racun kepada bayi-bayi muslim mencuat ke permukaan dan banyak yang percaya. Saya sempat kesal juga membaca berita itu. Tapi setelah berhenti sejenak dari kemarahan, terbukti isu itu keliru. Yang melakukan bantahan tentang isu itu justru dari tokoh-tokoh Islam sendiri.
ULIL: Belajar dari toleransi di sana, bagaimana Anda mengomentari adanya halangan beribadah bagi pemeluk agama lain?
RAMADHAN: Karena pemuka agama kurang aktif melakukan pendekatan pada umat. Umat Islam di Amerika bisa salat di mana pun, bahkan beberapa blok saja dari The White House, tempat Bush tinggal dan berkantor, dan beberapa blok saja dari Capitol Hill, tempat senator dan kongres berkantor.
Hanya saja, yang selalu saya risaukan tentang Islam di sana adalah, Islam lebih dipahami dari kaum fundamentalis-radikal seperti Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad dan lain-lain. Foto dan berita-berita Abu Bakar Ba’asyir lebih menonjol ketimbang Presiden Megawati dan menghiasi koran-koran besar Amerika seperti The Washington Post dan The New York Times.
Saya kira, kalangan moderat di Indonesia; NU, Muhammadiyah, atau Aa Gym, dituntut untuk lebih pro aktif dalam menyuarakan Islam rahmatan lil alamin. Mindset kaum muslimin di sini bahwa Amerika anti-Islam dan punya konspirasi besar meluluhlantakkan Islam harus dienyahkan dari benak mereka. Sikap apriori seperti ini akan menjauhkan dari —apa yang disebut Prof. Syafi’i Ma’arif— dialog peradaban. Terlebih lagi, secara sosial, ekonomi, pendidikan dan militer, kita masih bergantung dari Amerika. Kita memang tidak boleh menggadaikan martabat bangsa, tapi bukan berarti kita lantas membenturkan kepala ke tembok. []
Komentar
Dari wawancara saudara Pohan, memang ada sedikit pandangan yang berbeda, walaupun kita berdua tinggal di Amerika. Pandangan mayoritas orang Amerika pada agama pengikut agama Islam lebih banyak pertanyaan dari pada pengertian. Ini disebabkan karena tidak ada organisasi Islam baik di Amerika maupun di luar negeri yang dengan berani mengutuk teror 9-11, yang dilakukan oleh sebagian besar warga negara Saudi Arabia.
Walaupun sudah dibuktikan dengan Videonya Osama Bin Laden sendiri yang menyatakan bahwa organisasi Al Qaeda yang menabrakkan kapal terbang ke WTC, masih saja banyak masyarakat Islam baik di Amerika dan di Indonesia yang memberikan opini, bahwa Al Qaeda meneror Amerika disebabkan karena politik Amerika di Timur Tengah yang anti Islam, kecongkakan Amerika di luar negeri, dan pada budaya Amerika yang materialistis. Ditinjau dari segi keamanan Amerika, baik dari Al Qaeda maupun orang Islam yang tidak setuju dengan tindakan Al Qaeda, tidak pernah belajar sejarah Amerika. Amerika tidak pernah perang didalam negeri kecuali perang saudara, dan tidak pernah diserang secara mendadak kecuali oleh Jepang pada Pearl Harbor sebelum perang Dunia Kedua, dan WTC 9-11.
Amerika amat sensitif pada keamanan negaranya, sehingga kalau diserang secara mendadak tanpa alasan, Amerika akan bangun dan akan menghancurkan penyerang. Ini pernah dikatakan oleh Admiral Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, yang pernah menjadi Atache Angkatan Laut di Washington DC, sebelum pulang ke Jepang: Jepang telah membangunkan raksasa yang sedang tidur. Skala penyerangan WTC memang amat keji, dan kita pengikut agama Islam harus waspada, bahwa kalau para pemimpin agama Islam baik di pesantren, di Mesjid, partai2 politik berdasar agama, harus menentukan sikap yang tegas. Para pemimpin harus mawas diri, apakah dengan jalan teror, agama Islam akan menjadi maju, atau malah mundur dengan pesat.
Sepanjang pengetahuan saya sebagai pengikut agama Islam, agama yang saya anut hampir setengah abad bukanlah didasarkan kekerasan, kebencian pada satu golongan atau kebencian pada agama lain. Agama Islam menjadi kuat sebagai landasan untuk menuju ke acherat, dengan kebajikan dan kebaikan. Nah, kalau para pemimpin agama kita selalu mencurigai Amerika, karena Amerika harus menjaga keamanan negaranya, kita juga harus mulai melihat akibat dari tindakan teror yang dilakukan oleh golongan radikal, yang mungkin menjadikan agama kita disorot dengan kaca mata yang hitam. Ini adalah tabiat manusia, bahwa kalau kita berteman dengan golongan yang mau mengebom dan meneror, kita sendiri dianggap sebagai penyokong yang diam (silence supporters).
Walaupun saya sendiri yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di Amerika tidak merasa saya dapat diskriminasi karena saya beragama Islam, walaupun saya bekerja di pemerintah Amerika selama ini, ingin memberikan sokongan pada saudara Pohan, bahwa kalau dia pergi Sholat Jumat di Mesjid2 di Washington DC atau di Virginia, polisi Amerika mengatur lalu lintas dan memperbolehkan kita markir di rumput pinggir jalan yang biasanya dilarang untuk mobil parkir disana. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa baik pemerintah maupun penduduk sipil menghormati kita yang menjalani ibadah. Kita juga tidak harus menyerahkan kepada Amerika untuk membasmi teroris yang telah mengotori agama Islam, namun harus diselesaikan secara musyawarah oleh para pemimpin Islam dari seluruh penjuru dunia yang harus dihadiri leh para pemimpin atau ulama, Ayatolah, kyiai dan pemimpin partai politik beraliran Islam. Kalau pertemuan ini tidak bisa dilaksanakan karena perpecahan antara Shiat, Sunni dan sekarang timbul Wahabiisme di Saudi Arabia, kita akan gagal untuk menyatukan agama kita sendiri, atau negara2 lain yang tidak berkempentingan dengan agama Islam akan memaksakan kita untuk menyelesaikan persoalan kita sendiri.
We have no choice, either we are united or follow with the flow, which the US will lead. Saudara Pohan pasti mengerti bagaimana jalannya pemerintah demokrasi yang dipraktekan di Amerika. Salah satu ciri dari demokrasi adalah mengeritik diri sendiri atau mengeritik organisasi sendiri. Apakah agama Islam sudah siap untuk mengeritik diri sendiri? Di Iran sudah mulai ada demonstrasi di jalanan pada pimpinan Islam yang menguasai negara 30 tahun. Sekarang dimulai oleh PM Khatemi untuk mengeritik negara mereka sendiri: It will be very painful, but the end result will be the best for the country, Islamic religion and the people of Iran. All eyes will see Iran as the next generation of modernization of Islam or the destruction of it. Lets the time will tell. Untuk saudara Pohan, selamat bekerja, dan terima kasih untuk email anda.
Untuk pembaca, mohon maaf dengan tulisan bahasa Indonesia, karena sudah 30 tahun saya tidak menggunakan bahasa Indonesia secara tertulis.
Rio Adianto, President, Indonesian Security Information Service.
——-
Pokoknya ini politik. Hey kamu-kamu yang yang illegal, silakan ikut section 245(i) agar kamu-kamu bisa dapat permanent resident setelah booom 9/11….Wait !!!! Maaf yaa, saya pending programnya dan silakan registrasi dan silakan pulang atau dipulangkan…..jadinya yaaa pagi tempe sorenya menjadi dele ( kedelai )
Pokoknya ini politik, siapa tahu, tahun depan ganti presiden dan ganti peraturan atawa program lagi.
Pokoknya ini politik…Lha wong belum ketahuan siapa dalang sesungguhnya kok malah nyerang Iraq dan akibatnya tarif bis dan metro subway menjadi naik, maka dari itu pokoknya ini politik.
Saya sampai saat ini masih sangsi atas sikap baik pemerintahan Bush terhadap Islam. Kesangsian saya ini didasarkan beberapa kasus yang secara tidak langsung mendiskriditkan umat Islam, di antaranya: menurut laporan CAIR, salah satu organisasi Islam tersbesar di US, kasus pelecehan terhadap umat Islam semakin hari semakin menigkat, bahkan sekalanya sudah mulai meluas ke beberapa State, dulunya hanya terkonsentrasi di state-state tertentu saja.
Masih segar di ingatan kita, tentang adanya Special Registeration bagi 25 negara, di antara 25 itu hanya satu negara yang tidak berpenduduk mayoritas Muslim, yaitu Korea Utara. Korea Utara masuk dalam daftar itu, karena secara idiologis mmemang sudah bersebrangan. Setelah beberpa hari dikeluarkannya kebijakan ini, ada banyak tanggapan, komentar bahkan kritikan terhadap kebikan itu, inti dari semua itu menyatakan bahwa kebijakan itu sangat diskriminatif, Presiden Megapun turut menyatakan itu.
Dengan banyaknya kritikan atas kebijakn itu, White House mengeluarkan tanggapan, bahwa kebijakan itu akan dikenakan pada seluruh negara tanpa terkecuali dan akan diurut, memang secara kebetulan yang masuk pada ururan pertama adalah negara-negara Muslim, tapi apa yang terjadi, ternyata kebijakan itu hanya mentok di 25 itu alias tidak dilanjutkan kenegara-negara lainnya, alasan tidak dilanjutkannya sangat politis. Oleh kerana itu tenyata dibalik kebijakan itu ada hiden mission, dan kita bisa membacanaya. Kemudian terkait dengan artikel tersebut jangan-jangan itu hanya lip service belaka.
Saya setuju banget dengan apa yang Bang Pohan tuliskan mengenai Islam di Amerika pasca 9/11. Bagaimana Bush sendiri sebenarnya tidak membenci Islam, tercermin dari kedatangan ke Islamic Center, War againts Terrorism not Islam, dll. Juga pengakuan bahwa lobi kaum Yahudi cukup kuat di Amerika dan ini juga merupakan pengetahuan yang biasa di Amerika ini.
Cuma saya hanya ingin menambahkan bahwa walaupun kepala negaranya mengatakan Islam agama perdamaian, tetapi pelaksanaanya di bawah tidak demikian. Sering law enforcement nya melakukan tindakan yang tidak berkenan terhadap kaum muslim, bahkan terakhir kejaksaan mereka sudah mulai mengakui bahwa banyak terdapat human rights violation pasca 9/11. Memang sosialisasi tentang Islam harus tetap di perjuangkan, sehingga kata-kata Islam fundamentalis, Islam radical, Islamic extremist, dan Islam Islam yang menurut mereka JELEK. Bisa terimbangi dengan yang damai, teduh, dan jauh dari kekerasan.
Sejauh ini menurut penilaian saya Bang Pohan melakukan tugas sebagai seorang muslim tidak diragukan lagi, teruskanlah. Ajaklah yang lain biar dunia kaum muslim di Amerika lebih baik lagi. Amien.
Faisal (Adik dari Agus Budiman)
Assalamualaikum WW,
Yth. Pak Pohan Yth. Pak Redaktur JIL
Komentar saya hampir sama dengan Sdri.T Wulandari, namun untuk afdol-nya dan agar artikel Pak Pohan betul-betul melegakan alangkah lengkapnya apabila biodata Pak Pohan boleh diketahui.
Horas Pak Pohan. Saya juga oraang Medan, dan saya juga punya teman yang sama dengan Pak Pohan 35 tahun yang lalu.
Wasalam wr. wb.
M. Nasir
Redaksi
Mas Nasir, berikut ini segelintir CV yang dikirim ke redaksi. Name : Ramadhan Pohan Born : December 06, 1966 in Pematang Siantar, Indonesia Education : - University of Indonesia, Faculty of Politics and Social Sciences, Department of Politics (Bachelor, BA), 1992, Depok, Indonesia. B.A. Thesis: The Consensus Politics: The Policy Strategy in Hawke Government in Australia (1983 - 1990), Depok 1992. - Semeseter in Washington (SIW) at Graduate School of Political Management (GSPM) at George Washington University (GWU), Washington, DC (Fall 2002). I earned a grade of A- in the Skills Practicum (3 credits) for Political Management, and earned a grade of B+ in Electoral and Legislative Process (3 credits). Current Position: - Journalist of “Jawa Pos” Daily Newspaper, Surabaya, Indonesia (1990-now) Mas Nasir, kalau Anda masih kurang yakin apakah Ramadhan Pohan yang satu ini teman Anda atau bukan, silakan Anda kirim email ke .(JavaScript must be enabled to view this email address) (Yang bersangkutan sudah ngepos kembali di Washington DC. Terima kasih.
Komentar Masuk (6)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)