Editorial,
18/07/2004

Kursi Khalifah Bahloul

Oleh Hamid Basyaib

Khalifah Harun sangat suka pada Bahloul, pemuda pandir, sedikit sinting, tapi sering mengungkapkan kearifan yang memaksa sang khalifah tercenung. Bahloul juga menjalankan fungsi lazim bagi para raja di mana-mana: menjadi penghibur.

Khalifah Harun sangat suka pada Bahloul, pemuda pandir, sedikit sinting, tapi sering mengungkapkan kearifan yang memaksa sang khalifah tercenung. Bahloul juga menjalankan fungsi lazim bagi para raja di mana-mana: menjadi penghibur.

Ia menyimpan banyak cara untuk membuat Khalifah gembira. Kadang ia sengaja tersandung kaki kursi dan terjungkal, sehingga Khalifah terbahak menyaksikan kemalangannya. Lain kali ia pura-pura kalah dalam main catur atau main tebak-tebakan dengan Khalifah atau para gundiknya; Bahloul akan bersungut-sungut—seisi istana pun tergelak menertawai kebodohan yang dikutuknya.

Suatu hari Bahloul menyelonong seperti biasa ke balairung istana. Di ruang mewah yang sedang lengang itu tampak kursi kosong Khalifah. “Di mana gerangan Baginda Raja?” pikirnya. Iseng, ia duduk di tahta sakral itu. Tiba-tiba dua pengawal memergoki, yang segera menyeret Bahloul turun dari kursi emas itu.

“Dasar anak dungu!” hardik mereka sambil menghajar dengan pentungan. “Kamu memang kesayangan Khalifah, tapi tingkahmu ini sudah keterlaluan!”

Bahloul melengking, tak sanggup menanggung hujan pukulan di sekujur tubuhnya yang kecil. Lolongannya sedemikian keras sampai membangunkan Khalifah yang sedang istirahat di kamarnya.

“Apa-apaan ini? Ada apa ini?” tanya Khalifah Harun dengan kaget.

Kedua pengawal berhenti memukul dan menceritakan kejadiannya. “Betul begitu, Bahloul?” tanya Khalifah.

“Betul, Baginda, hoaaaaaa….,” jawab Bahloul sambil terus menjerit-jerit.

“Sudah, sudah. Tak apa. Berhentilah memekik-mekik! Pusing kepalaku mendengarnya! Kenapa pula kau terus menangis, padahal pengawal sudah tak lagi memukulimu?”

“Hamba justru menangisi nasib Baginda, hoaaaa…”

“Lho, mengapa pula kau menangisi nasibku? Apa yang salah denganku?”

“Baginda, hamba duduk di kursi Baginda hanya tiga menit, tapi siksaan yang hamba terima begini pedihnya…hoaaaa. Baginda sudah duduk di tahta itu selama tiga puluh tahun…hoaaa…Hamba tak sanggup membayangkan betapa pedihnya pukulan yang akan Baginda terima kelak…hoaaaa…”

Kini giliran Khalifah yang menangis terisak-isak.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Khalifah, sambil terus tersedu.

Bahloul bangkit dari lantai, dan berlari-lari kecil mengitari balairung istana yang megah itu sambil mengacung-acungkan tinjunya: “Keadilan, Baginda! Keadilan! Beri keadilan pada seluruh rakyat! Keadilan! Keadilan! Keadilan!”

Khalifah lalu bersumpah untuk memenuhi permohonan Bahloul itu. Ia mengaku selama ini memang telah ratusan kali, telah ribuan kali, menjanjikan hal itu kepada rakyat, dengan berbagai bahasa yang indah, dengan ungkapan-ungkapan yang terkesan serius – tapi tak pernah sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. “Sejak detik ini aku akan benar-benar memberi keadilan kepada segenap rakyatku”.

Bahloul pun pulang, sambil mengatakan bahwa ia tak akan percaya begitu saja pada janji Khalifah. “Hamba tetap akan sering-sering mengingatkan Baginda tentang janji itu..”

Khalifah Harun ada di mana-mana, di setiap jaman. Mereka memerlukan para bahloul, yang wajib untuk tak henti mengingatkan betapa panasnya kursi yang mereka duduki. (Hamid Basyaib)

18/07/2004 | Editorial, | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

pelajaran buat pemimpin kita

Posted by fahmy almakkawy alhasany  on  06/12  at  09:46 AM

jaringan iblis laknatullah, membebaskan semaunya saja apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT. saya ambil contoh, nikah beda agama. menurut JIL boleh-boleh saja, apa ini tidak menyesatkan. kenapa tidak mau menggunakan hadist yang shahih saja dan tidak melanggar Al-Quran. kalau memang mau membuat peraturan baru dan mau membebaskan apa-apa yang dilarang, lebih baik buat agama baru saja. sebut saja aslim jangan Islam. terima kasih
——-

Posted by Aman  on  01/14  at  03:01 AM

Di negeri yang sangat kita cintai ini banyak orang-orang bahloul sampai orang-orang yang memiliki intelektual yang tinggi, dari orang-orang tersebut biasanya banyak diungkapkan kearifan bagi para pemimpin.  Yang perlu diperhatikan adalah seberapa jauh kepekaan dari para pemimpin negeri ini dalam menangkap kearifan dari orang bahloul sampai orang yang memiliki intektual yang tinggi. Dengan adanya kepekaan dari para pemimpin kita yakin dan percaya bahwa bangsa dan negeri kita tercinta ini akan dapat bangkit dan berubah. Wassalam

Posted by Julias Shofiar  on  07/22  at  01:07 AM

Ketika manusia awam berteriak lantang dengan sendirinya ia hanya mewakili dirinya sendiri, boleh jadi ia membawa suara kebenaran ataupun ia meneriakan yang sesuatu yang salah. Namun lain halnya ketika seorang raja bertitah, seolah-olah dia adalah legitimasi suara dari rakyat bukan saja dirinya. Negeri ini mungkin banyak menyimpan Bahloul2 seperti ini tapi negeri ini belum merasakan adanya kearifan seorang baginda baginda sultan. Adakah cerita yang lebih konkret menggambarkan jika seorang Bahloul terjadi pada masa kini dan tempatnya di negeri kita tercinta. Gambarkanlah kepada kami kearifan seorang pemimpin yang lebih memberikan nilai sejuk untuk kedamaian.

Wassalam.

Posted by Indra Djumna  on  07/20  at  01:07 AM