Reportase,
23/08/2010

Membubarkan FPI, Mungkinkah? Reportase Diskusi Kampus di Malang

Oleh Edi Purwanto

Indonesia yang terkenal dengan penduduk muslimnya terbesar di dunia seolah tidak memberikan jawaban bahwa Islam adalah agama yang membawa pesan perdamaian dan cinta kasih. Apalagi akhir-akhir ini sering kita mendengar dan bahkan melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kekerasan berbasis agama sudah semakin sering dilakukan, baik oleh individu terlebih kelompok. Tindakan-tindakan Front Pembela Islam (FPI) yang cenderung main hakim sendiri menjadi salah satu contoh nyata betapa memang kekerasan telah semakin membudaya di diri sebagian bangsa ini.

Kekerasan adalah cermin jiwa yang rapuh, begitu tutur Mahatma Gandhi suatu ketika. Memang jika kita telisik lebih jauh ucapan yang diutarakan oleh tokoh nasional India tersebut merupakan cermin kekerdilan akan kondisi suatu individu, kelompok bahkan bangsa yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Sudah berlembar-lembar sejarah telah ditorehkan dalam perjalan bangsa ini. Berlembar-lembar itu pula sejarah kekerasan terus-menerus diproduksi dan di reproduksi ulang. Entah dalam konteks sosial, budaya, agama ataupun dalam kancah perpolitikan. Kekerasan seolah selalu menjadi jawaban akhir. Ruang-ruang publik yang seharusnya bisa menjembatani perbedaan ternyata tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Bagi mereka yang tidak sepakat, ruang publik semacam dialog terbuka tidak dilihat sebagai sebuah jawaban atas penyikapan perbedaaan tersebut. Naïf, ruang publik justru dilihat sebagai salah satu media brainwashing.

Indonesia yang terkenal dengan penduduk muslimnya terbesar di dunia seolah tidak memberikan jawaban bahwa Islam adalah agama yang membawa pesan perdamaian dan cinta kasih. Apalagi akhir-akhir ini sering kita mendengar dan bahkan melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kekerasan berbasis agama sudah semakin sering dilakukan, baik oleh individu terlebih kelompok. Tindakan-tindakan Front Pembela Islam (FPI) yang cenderung main hakim sendiri menjadi salah satu contoh nyata betapa memang kekerasan telah semakin membudaya di diri sebagian bangsa ini. Pembakaran, fatwa penyesatan, pengucilan adalah sedikit dari sekian yang dilakukan oleh yang mengklaim diri mereka yang paling benar. Tindakan main hakim sendiri ini dari sisi manapun tidak bisa dibenarkan.

Kekerasan yang dilakukan oleh FPI di berbagai kota memberi inspirasi Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes bekerja sama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) Jakarta mengadakan diskusi publik pada 26 Juli 2010. Diskusi tersebut mengangkat tema, Pembubaran Ormas Islam “Keras” Mungkinkah? (Tinjauan Konseptual Dan Yuridis Atas Gagasan Pembubaran FPI).

Acara yang dihelat di gedung IKA Universitas Brawijaya Malang ini dihadiri oleh kurang lebih sekitar 110 peserta. Peserta datang dari berbagai kelompok dan elemen yang kebanyakan adalah mahasiswa. Termasuk HTI tidak pernah mau ketinggalan untuk kegiatan seperti ini. Beberapa tampak hadir dari LSM, organisasi kepemudaan, media cetak dan elektronik juga sempat meliput acara ini. Bahkan salah satu radio sempat meliput on air acara tersebut.

Pada sesi pembuka diskusi ini diawali dengan paparan Fajar Santoso. Wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) ramai di bincangkan dan diwacanakan, karena tindakannya yang anarkis dan sering main hakim sendiri. Kekerasan yang lakukannya terjadi di berbagai daerah, terakhir terjadi di Banyuangi. FPI membubarkan sebuah acara sosialisasi kesehatan yang diselenggarakan tiga anggota DPR dari PDI Perjuangan, Nursuhud, Ribka Tjiptaning dan Rieke Dyah Pitaloka yang dilaksanakan di Rumah Makan Buyung, Kelurahan Pakis, Banyuwangi. Berbagai forum dan pengamat banyak yang mengusulkan agar FPI dibubarkan.

Aktivis LBH Malang ini menilai bahwa pembubaran ormas Islam semisal FPI hingga sekarang masih dalam perdebatan. Salah satu problemnya, karena organisasi tersebut tidak berbadan hukum. Ketika beberapa saat yang lalu diajukan uji materi pembubaran FPI, Mahkamah Konstitusi (MK) membantah dengan alasan tidak berkompeten untuk mengadili masalah ini. Karena Undang-Undang hanya memberi amanah pembubaran partai politik (parpol), bukan pembubaran ormas. Ini adalah problem ketika pembubaran ormas diajukan ke MK, ungkap Fajar Santoso dalam pertemuan itu.

Lebih lanjut Fajar beranggapan bahwa wacana pembubaran FPI memang ada kekosongan hukum. Namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa di tengah kekosongan hukum itu. Jika masalah ini diajukan di pengadilan, hakim tidak bisa menolak dengan alasan tidak ada hukumnya. Alasan hakim seperti itu terbantahkan dengan asas hukum yang mengatakan solis populis sprimalek (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi). Alasan ini cukup kuat jika digunakan untuk membubarkan ormas semisal FPI, ungkap alumni Sekolah demokrasi ini.

Dalam melihat masalah ini, Levi Riansyah memiliki pandangan yang berbeda. Direktur PUSPeK Averroes ini malah tidak sepakat jika FPI dibubarkan. “Saya sebenarnya orang yang tidak sepakat dengan pembubaran ormas maupun partai dan saya tidak sepakat dengan pembubaran apa pun, karena di dunia ini semua berhak hidup, siapapun itu. Ada atau tidak ada hukum, meskipun ada perkara lain tapi mereka berhak hidup,” tegasnya.

Menurutnya, jika FPI dibubarkan akan muncul ormas-ormas baru yang semakin tidak jelas bajunya. Alasan kedua jika ormas dibubarkan maka peristiwa ini akan dijadikan rujukan untuk membubarkan ormas-ormas yang tidak sejalan dengan pemerintah. Hal ini akan mengulang kediktatoran orde baru. Pembubaran FPI adalah emosi sesaat saja, ketika melihat ulahnya dalam menanggapi berbagai persoalan.

Namun ketika melihat ulah FPI dalam melakukan aksinya semakin membabibuta dan tidak terkontrol serta menggunakan kekerasan, maka dia dengan lantang mengatakan bahwa “Dalam bahasa kemanusian mana pun, yang namanya kekerasan tidak ada yang bisa membenarkan. Tindakan ini satu level dengan hukum mencuri dan korupsi yang terjadi di Negara ini”, tambahnya.

Semangat untuk berperang terhadap kriminalitas yang mengatasnamakan agama harus tetap dilakukan, cuman perang yang dilukan oleh Habib Rizik dengan cara yang otoriter tetap tidak boleh. Karena cara-cara otoriter tidak baik untuk membangun peradaban kemanusiaan. Pada kenyataannya memang agak sulit untuk membangun dialog dengan mereka, namun membangun ruang bersama adalah tanggung jawab kita bersama. Ruang itu harus tetap dibangun untuk mencari kesepahaman dengan cara-cara yang strategis. “Ini adalah tugas intelektual untuk membangun dialong dan mentranformasikan pemahaman, bahwa tindakan-tindakan seperti itu tidak dibenarkan,” pungkasnya.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan pemaparan yang disampaikan oleh Ust. Mus`ab Abdurrahman dari HTI. Dalam diskusi itu hanya sedikit tanggapan yang disampaikan. Mus’ab hanya mengklarifikasi kejadia di Banyuwangi. Dia tidak ingin mengetahui dan menjelaskan lebih jauh tentang peristiwa itu. “Terkait kejadian di Banyuangi saya tidak ingin terlalu jauh berbicara tentang FPI, karena kasus di Banyuwangi sudah di klarifikasi oleh Habib Rizik, bahwa yang membubarkan acara itu bukan FPI, melainkan hanya oknum-oknum karena FPI tidak ada di sana. Mus’ab malah menaggapi tentang terminologi Islam keras dan lunak yang menurutnya tidak ada dalam Islam. Ia beranggapan bahwa terminologi itu diciptakan oleh orang-orang Barat.

Menanggapi tentang kekerasan, Mus’ab balik melempar bahwa kekerasan itu tidak hanya dilakukan oleh ormas Islam saja. Ada berbagai ormas dan organisasi yang melakukan aksinya dengan jalan kekerasan. Dia mencontohkan Arema Indonesia yang menurutnya sering melakukan kekerasan. Kenapa tidak dibubarkan saja organisasi ynag seperti itu? Kenapa hanya organisasi yang berlabelkan Islam saja yang dibubarkan jika melakukan kekerasan, pungkasnya.

Menanggapi berbagai dan tindakan FPI, Moqsith Gozali, narasumber dari JIL adalah orang yang lantang dan tegas mengatakan, “tindakan FPI di berbagai daerah merupakan tindakan kriminalitas yang harus ditindak tegas oleh aparat, karena begitu banyak aksi kekerasan yang sudah dilakukan oleh FPI. Wahid Institute dan JIL memiliki data terkait sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI di berbagai daerah, lanjutnya.

Menurut Moqsith pihak kepolisian dan pemerintah harus tegas. Begitu ada orang atau ormas yang melakukukan tindakan kriminial, maka segera tangkap dan diadili. Namun kenapa FPI tidak ditindak, padahal tindakannya dilakukuan secara sistemik dan terstruktur. Selain itu FPI membuka kemungkinan bahkan menjadi ideologi untuk membolehkan tindakan kekerasan, sekalipun tidak memiliki hak”, tambahnya.

Kasus yang terjadi di Banyuwangi menurut Moqsith termasuk dalam tindak kekerasan. “Sekalipun itu benar ada sekelompok oknum yang membicarakan atau mendiskusikan Marxisme, Leninisme dan Komunisme. FPI tidak punya otoritas atau hak apapun membubarkan dan menginterfensi acara itu. Kecuali FPI di SK terlebih dahulu menjadi pegawai negeri kepolisian, lalu punya hak dan otoritas untuk membubarkannya. Saya tegaskan lagi, mereka tidak punya kewanangan apapun. Sebalikya juga, JIL tidak boleh mengintervensi diskusi-diskusi tentang Khilafah Islamiah yang dilakukan oleh FPI atau HTI, karena itu menjadi bagian diskursus demokrasi,” tegasnya.

Dia juga mengatakan, bahwa apa yang dilakukan Habib Rizik, telah keluar dari koridor Ahlussunah Waljamaah (ASWAJA), siapa yang mengaku ahlussunnah, maka tidak boleh main hakim sendiri di tengah-tengah masyarakat. Soal FPI adalah tindak kriminalitas dan solusinya melalui penyelesaian dari sudut hukum. Pemerintah harus tegas dan tegak menjalankan hukum dan aparat kepolisian menjamin keselamatan masyarakat.

Kemudian, aktivis Wahid Institute ini juga menyinggung bahwa HTI adalah organisasi keagamaan yang tidak mengakui UUD. “Bagaimana menyikapi organisasi-organisasi keagamaan yang tidak mengakui eksistensi UUD. Misalkan HTI, itu kan tidak mengakui indonesia berlandaskan UUD, kalau tidak mengakui bagaimana bisa melakukan, bagaimana bisa mengkritik. Dan pemerintah bisa bertindak tegas dengan membubarkan HTI, karena dianggap terlarang”, terangnya.

Menurut Moqsith, jika HTI tidak ingin dibubarkan, maka harus menjadi partai politik Indonesia. Dengan demikian bisa menguasai parlemen dan mendeklarasikan syari’at Islam. “Kalau hanya dengan demonstrasi-demonstrasi anti palestina, ya kapan syariat islam ini bisa terbentuk di Indonesia”, ucapnya sambil terkekeh.

Setelah itu dibuka sesi pertanyaan dan ditanggapi oleh beberapa narasumber. Diskusi itu dihadiri oleh Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal, Ust. Mus’ab Abdurrahman (HTI), Fajar Santoso (LBH Malang) dan Levi Riansyah (Puspek Averroes) ini berjalan dengan rileks. Walaupun ada sentilan-sentilan yang kadang membuat muka memerah ataupun memmbuat kuping menjadi panas. Diskusi diakhiri jam 13.15 diteruskan dengan pemberian kenang-kenangan kepada para nara sumber yang hadir.

Panitia sebelumnya telah mengundang KH. Lutfi Bashori Alwi (komisi fatwa FPI Jawa Timur), pada mulanya beliau memastikan kehadirannya. Namun ketika beliau mengetahui bahwa akan berada dalam satu meja dengan Moqsith Gazali, Lutfi Bashori membatalkan kesediaannya. Entah trauma peristiwa apa yang melanda KH. Lutfi Bashori Alwi sehingga tidak berkenan satu meja dengan Moqsith.

Penulis adalah Aktivis Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes Malang

23/08/2010 | Reportase, | #

Komentar

Komentar Masuk (38)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

bagai mana orang akan masuk islam jika orng tersebut takut pada islam, sebenar nya sekarang itu sudah tidak jaman untuk menyebarkan agama, tapi sekarang kita itu harus memajukakan agama….
islam itu bagai air,, jika jaman berubah menjadi botol islam pun akan berubah menjadi botol, dan jika jaman menjadi kubus islam pun akan berubah menjadi kubus

Posted by arif bani alpian  on  12/25  at  07:12 AM

ary aryono
January 2, 2010 at 1:55 am
assallamuallaikum,

Bapak-Bapak FPI yang terhormat,

Sebelumnya tolong jangan berprasangka atau mengatakan saya kafir.. ya.. apalagi agen CIA atau intel

walaupun saya ini orang yang kotor.. dzolim dan munafik tapi saya ini sayang sama nabi lho pak… sering juga membaca syahadat…

Karena dari buku buku, Guru-Guru dan kata orang-orang… Nabi saya itu orang (manusia) yang berdakwah dengan lemah lembut.. beliau pemaaf.. beliau penyabar.. beliau tidak pernah marah.. membimbing orang yang tersesat dengan kelembutan.. dan ikhlas dalam berdakwah…

Setelah membaca FPI.or.id, kok saya ingin mengatakan sesuatu hal..

“Sebaiknya lebih baik kalau sampean (anda) merubah cara berdakwah..

Tidak perlu teriak-teriak dengan memakai tutup kepala seperti sorban…, ya kalau melarang orang berbuat maksiat, larang dengan sabar…

Tenang saja pak… tenang pak…!! Orang amerika itu tidak akan invasi ke sini kok pak..

mereka tidak membenci sampean, cukup hormati dan sayangi mereka… mereka akan sayangi dan hormati sampean juga kok pak..

jangan di “jihad” pak… mereka punya agama sendiri… biarkan saja… sampean juga punya agama sendiri kan…

Saya mohon pak…jangan menyakiti orang yang tidak salah… walaupun kafir atau yahudi sekalipun… apalagi yang sudah punya agama di indonesia pak.. jangan di “jihad” ya pak…

bener pak sampean memang bikin takut… semua pada takut di “jihad” sama sampean…

Pak Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab yang menjadi pemimpin yang bertanggung jawab…
coba bapak baca di fpi.or.id,

ada tulisan “Ganyang teroris ekonomi” atau kata-kata “antek neolib” di press statemen…

siapa sih yang antek neolib? atau teroris ekonomi..?

Jangan gibah dan ber prasangka lho pak… apalagi ngganyang orang…

O iya saya sama sekali tidak ada hubungan dengan neolib atau teroris ekonomi itu lho pak…

saya bener-bener orang kebanyakan… saya jangan di “jihad” lho pak… saya takut sama golongan sampean…

Islam itu melarang gibah dan prasangka, sampean itu islam bukan sih…

kalau golongan Sampean itu islam kok eggak terasa kalau golongan sampean “rahmatan lil ‘alamin”…

saya tahu sampean itu pinter banget membenarkan diri… pakai ayat-ayat suci lagi… tapi kami semua itu jadi saksi allah dimuka bumi lho pak..

coba tanyain orang orang di jalan, suruh mereka komentar… gimana FPI itu…

saya bermaksud baik… cuma ingin mengingatkan sampean… nanti kalau saya sampean “jihad’ terpaksa saya nglawan.. sama teman-teman saya penduduk kampung, teman-teman ngaji saya… karena yang kami tahu… cara jihad sampean itu maen keroyokan…

terus terang saya takut mencantumkan alamat… bahkan email sama nomer telephone saya juga palsu…

saya takut di “jihad” sama sampean…

saya cuma ingat ketika pak Al-Habib
Muhammad Rizieq Syihab berbantahan dengan Gusdur… (saya juga bukan orang NU lho pak…)

coba lihat pak begitu banyak orang yang mendoakan dan menyolatkan GusDur… hampir semua mesjid… jutaan orang lho pak… saya kemarin jum’atan juga ikut sholat Ghoib… Bapak saya nonton TV sampai mbrambangi… padahal bertemu sama Gus Dur saja belum pernah…

ingat pak… kami ini jadi saksi nya allah di muka bumi lho pak..

Coba pelajari Islam lagi ya pak… pelajari islam lagi… apa maksudnya islam yang rahmatan li ‘alamin… ya…

jangan yang “jihad.. Jihad-tan” gitu, kalau mau “jihad-jihad-tan” jangan pakai nama Islam deh.., pakai saja nama lain… malu-maluin… pak

karena saya pribadi dan banyak orang menjadi saksi kalau cara anda kurang tepat…

ini saya cuplikan dakwah dari media internet…

Pernah suatu hari sebuah jenazah dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah saw, melihat itu mereka menyebutkan kebaikan si mayit, Nabi menjawab: wajib. Setelah itu mayit yang lain lagi dibawa. Para sahabat yang melihatnya tidak memujinya, bahkan menilainya tidak baik. Nabi menjawab: wajib. Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan Nabi? Nabi menjawab: mayit pertama yang kamu sebut kebaikannya wajib masuk surga, sementara mayit kedua yang kamu sebut keburukannya wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah di bumi. (HR. Bukhari, no. 181, Muslim, no. 949)

saya mohon pak Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab bertobat… saya berdoa untuk bapak…

Sampean itu memalukan lho pak… memalukan agama rohmatan lil ‘alamin…

sampean tidak merasa ya pak,

tambah memalukan lagi kalau sampean itu membela diri pakai dalil dalil al qur’an…

istigfar pak… istigfar

saya berdoa untuk bapak… semoga hati anda tenteram dan menjadi penyebar kedamaian di muka bumi… dan berdakwah dengan sabar… amin

sehingga semua orang akan bersaksi kalau anda itu orang baik…

Posted by akbar  on  05/10  at  10:30 PM

FPI = Front Pembela Islam

1. Saya muslim tetapi tidak pernah merasa terwakili sedikitpun oleh gerakan anarkis mereka

2. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar bukan dengan begitu caranya, semua ada aturannya

3. Dengan segala keterbatasan pengetahuan saya,teruskan menegakkan kebenaran namun tetap dengan menjaga kemurnian Islam. Jangan nodai agama suci ini dengan perilaku biadab

Posted by okee'  on  03/21  at  08:49 PM

Assalamu’alaikum wr.wb.

FPI dibubarkan itu urusan pemerintah. FPI itu juga orang Islam, dan pada dasarnya gak suka kalau Islam diganggu. Sebaiknya didakwahi, diingatkan tentang akhlak Islam seperti dicontohkan Rasulullah SAW bagaimana menghadapi para pelaku maksiat. Bukankah dalam Al-Qur’an kita diminta untuk saling menasehati dan mengingatkan?

Posted by muhammad hakim  on  11/05  at  08:04 AM

ha ha ha
ternyata banyak juga yang komentar nich…...
FPI dibubarkan ato tidak itu tidak penting. yang terpenting kekerasan di Indonesia itu harus disudahi.

Posted by edi purwanto  on  11/01  at  12:37 PM