Editorial,
19/12/2011

Mengucapkan Selamat Natal

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih,  yang diduga jatuh pada tanggal 25 Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga dibolehkan merayakan hari kelahiran Isa dan hari kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW. Sebab, Isa bukan hanya milik umat Kristiani secara komunal melainkan juga semua orang yang mengimaninya. Tokoh-tokoh besar seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa al-Masih dan Muhammad SAW bukan kepunyaan kelompok tertentu saja. Para tokoh itu bisa menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun.”

Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan atau tradisi saling mengucapkan selamat atas perayaan agama yang dilakukan oleh setiap umat beragama. Sikap saling mengapresiasi seperti itu sudah lama dipraktekkan umat beragama di Indonesia. Umat Islam mengucapkan selamat natal terhadap rekan-rekannya yang beragama Kristen. Begitu juga sebaliknya, umat Kristiani mengucapkan selamat ‘idul fitri terhadap koleganya yang beragama Islam. Sering disaksikan, sejumlah tokoh agama saling berkirim SMS menyatakan selamat ketika hari perayaan agama masing-masing berlangsung. Fenomena ini tak mudah didapatkan di negeri-negeri muslim lain. Bahkan, negeri-negeri muslim lain itu harus belajar pada umat Islam Indonesia atas toleransinya yang tinggi terhadap umat agama lain.

Memang, ada fatwa dari sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani. Salah satu argumennya adalah; pertama, bahwa hal itu tidak pernah diteladankan Nabi Muhammad. Dengan demikian, ia dapat digolongkan kepada bid’ah yang sesat. Disebutlah (konon) sebuah hadits, “kullu bid’atin zhalalah wa kullu zhalalatin fi al-nar” [semua bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah neraka]. Ditambahkan pula, umat Islam dilarang menciptakan hal-hal baru, termasuk mentradisikan pengucapan selamat natal kepada umat Kristiani.

Kedua, pengucapan selamat natal oleh umat Islam dipandang sebagai sikap turut membenarkan keyakinan umat Kristiani. Padahal, demikian para ulama itu berargumen, pembenaran itu adalah terlarang sehingga seharusnya umat Islam tidak melakukan itu. Ia dinilai menggoncangkan iman karena masih membuka kemungkinan tentang adanya kebenaran di luar Islam. Para ulama kerap mengingatkan agar umat Islam tidak melakukan tindakan yang mengesankan adanya pembenaran terhadap paham yang tidak sejalan dengan Islam. Dikutip sebuah ayat al-Qur’an, inna al-din `inda Allah al-Islam, yang kemudian diterjemahkan bahwa agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, yaitu agama yang dibawa Nabi Muhammad. Para ulama tersebut seakan menutup pintu perihal nilai-nilai universal yang menjadi roh dan titik temu semua agama-agama. Padahal, seperti sering saya tulis, “al-islam” dalam ayat itu tak menunjuk pada nama agama yang dibawa Nabi Muhammad.

Namun, sebagaimana lazimnya sebuah fatwa yang tidak mengikat, tidak seluruh umat Islam mengikuti fatwa ulama tersebut dan menjadikannya sebagai pegangan. Buktinya sebagian umat Islam masih melakukannya dan mempertahankan kebiasaannya itu. Menurut saya, pengharaman mengucapkan natal bagi umat Islam perlu ditinjau ulang dengan alasan berikut: Pertama, memberikan ucapan selamat natal kepada kaum Kristiani tidak paralel dan identik dengan pengakuan akan kebenaran semua keyakinan pengikut Nabi Isa. Ucapan selamat perlu diletakkan sebagai kelaziman sosial dan bukan keharusan teologis. Sebagai kelaziman sosial, ia tak bisa dikategorikan sebagai bid’ah. Dalam bidang mu’amalah-duniawiyah dibolehkan melakukan inovasi. Sejauh terkait dengan urusan sosial kemasyarakatan, tidak ada yang disebut bid’ah. Nabi Muhammad bersabda, “antum a’lamu minni bi umur dunyakum” [kalian lebih mengetahui tentang perkara-perkara duniawiyah kalian].

Dalam konteks tertentu, mengucapkan selamat natal bisa maslahat, misalnya sebagai upaya merajut dan mengukuhkan harmoni dan kesetiakawanan sosial antar umat beragama di Indonesia. Setiap umat beragama harus saling menghargai dan mengapresiasi umat agama lain, termasuk dengan cara mengucapkan selamat kalau perayaan agama masing-masing tiba. Memang tampak simbolis, tapi simbolisasi seperti ini potensial mengurangi konflik dan ketegangan di antara mereka. Dengan demikian, mengucapkan selamat natal bisa ditradisikan.

Kedua, dalam al-Qur’an (Surat Maryam [19]:33) disebutkan bahwa Nabi Isa al-Masih pernah berkata, “wa al-salam ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amutu wa yauma ub’atsu hayya” [salam sejahtera untukku pada hari kelahirankku, wafatku, dan kebangkitanku]. Dalam mengomentari ayat ini, al-Qurthubi mengatakan, ucapan salam (selamat) itu datang dari Allah, sebagaimana juga dilakukan buat Nabi Yahya. Ini berarti, Allah pun mengucapkan selamat atas kelahiran Isa, apalagi umat Islam sebagai hamba-Nya. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid VI, hlm. 96)
Ucapan selamat bukan hanya diberikan kepada Nabi Isa. Al-Qur’an mengucapkan selamat buat nabi-nabi lain. Untuk Nabi Nuh, al-Qur’an (surat al-Shaffat [37]: 79) menyebutkan, “Salam ‘ala Nuh fi al-‘Alamin” (salam kesejahteraan dilimpahkan buat Nuh di seluruh alam); untuk Nabi Ibrahim (QS, al-Shaffat [37]: 109), “Salamun ‘ala Ibrahim” (salam kesejahteraan buat Ibrahim); untuk Nabi Musa dan Nabi Harun (QS, al-Shaffat [37]: 120), “salamun ‘ala Musa wa Harun” (salam kesejahteraan buat Musa dan Harun); untuk Nabi Ilyasin (QS, al-Shaffat [37]: 130), “salamun ‘ala Ilyasin” (salam kesejahteraan buat Nabi Ilyasin”. Bukan hanya kepada beberapa nabi itu, al-Qur’an (Surat al-Shaffat [37]: 181) juga mengucapkan salam buat seluruh Rasul, “salamun ‘ala al-mursalin” semoga salam kesejahteraan dilimpahkan buat semua rasul).

Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih,  yang diduga jatuh pada tanggal 25 Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga dibolehkan merayakan hari kelahiran Isa dan hari kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW. Sebab, Isa bukan hanya milik umat Kristiani secara komunal melainkan juga semua orang yang mengimaninya. Tokoh-tokoh besar seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa al-Masih dan Muhammad SAW bukan kepunyaan kelompok tertentu saja. Para tokoh itu bisa menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun.
Jika merayakan natal bagi umat Islam dibolehkan, maka apalagi hanya sekedar mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen. Mengucapkan selamat natal tak hanya diberikan kepada umat Kristiani, melainkan juga kepada orang-orang yang mengimani kenabian Isa al-Masih, termasuk umat Islam. (:)

19/12/2011 | Editorial, | #

Komentar

Komentar Masuk (92)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Maaf, menurut pemahaman saya terhadap artikel ini, Pak Moqsith tidak mempermasalahkan benar atau tidaknya hari kelahiran Yesus atau Isa A.S., bahkan beliau juga tidak menyuruh untuk mengimani perayaan natal itu sendiri dari sisi teologis. Beliau hanya menguraikan betapa pentingnya ucapan selamat kepada umat agama lain dalam konteks kehidupan sosial antarumat beragama di Indonesia. Jadi, saya melihat sebagian besar komentar negatif yang ditulis tidak didasarkan pada pemahaman teks yang baik. Sekian.

Posted by Orang Pintar Minum Tolak Angin  on  03/11  at  11:25 PM

ada yang bilang yesus lahir tanggal 25???

itu siapa yah yang bilang???

mohon penjelasannya

Posted by ramen  on  02/03  at  01:44 PM

saya tahu anda dari kelompok JIL akan sering menulis artikel yang sesuka kalian sendiri dan menurt logika anda sendiri dan saya tidak perlu berkomentar terhadap apa yang anda tulis ini karena saya pikir anda paham yang anda tulis dan itu percuma….Kalian menafsirkan Alquran dengan logika kalian sendiri DAN HAWA NAFSU MAKA RUSAKLAH PENAFSIRAN KALIAN….INGAT MANUSIA DICIPTAKAN ALLAH DENGAN KEMAMPUAN YANG TERBATAS ARTINYA LOGIKA MANUSIA ITUPUN TERBATAS.

Posted by ulil albab  on  01/30  at  09:11 AM

Apakah saya berdosa menurut anda , MUS, kalau saya mentaati perintah ALLAH lewat Bible ini:

Assalamu’alaikum wrwb
Apakah saya salah atau berdosa kalau saya mentaati perintah
ALLAH yang turun kepada Nabi Jesus as seperti dibawah ini?

Love your neighbor, brothers as you love yourself.
Love your enemies, bless those who curse you,do good to those who hates you.

Pray for those who spitefully use you, and persecute you.

If your enemies hungry, give them breads,
If they are thirsty give them water to drink…(Matthew 5:43)

For that love God with all your heart, with all your soul, and with all your
mind. Follow God’s laws completely. God will bless you, and then you may have
happy life in this beautiful world that God has created for us all. ( Matthew
22:37 )

Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini? terutama dari klompok Islam fundamentalis.

Wassalamu’alaikum wrwb

Lanjuti detailednya disisni.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/2010/11/beriman-kepada-kitab2-allahseri-1.html

Posted by alatif  on  01/16  at  12:30 AM

Sdr SAM Yth.

Al Qur’an bukanlah mengambil nilai2 yg ada dr kitab2 sebelumnya, tapi nilai2 itu adalah BLUE PRINT dr Allah untuk manusia, jadi blue print itu sama dr jaman dahulu hingga jaman sekarang hanya tata cara/syariatnya saja yg agak berbeda. Dan dengan berjalannya waktu pd kitab2 terdahulu banyak dilakukan penyimpangan dan turut dijadikan bagian dr Al Kitab, pertanyaannya apakah ada kitab2 terdahulu yg masih orisini?

========================

Respond saya begini.

Apakah kitab Bible itu masih ORIGINAL?

Kita orang2 yang beriman kepada Nabi2 dan kitab2nya,maka kita tidak usah memikirkan apakah kitab2 ALLAH itu masih ORIGINAL atau TIDAK.

Wahyu2 ALLAH yang tida bertentangan dgn al Quran masih VALID,terutama kitab ZABUR yang banyak mengandung pelajaran HIKMAH dimana Nabi Isa as dan Muhmmad saw banyak belajar.

Wahyu2 ALLAH kepadaNabi Daud itu dgn kitab HIKMAHnya tidak tertulis dlm Al Quran.

Orang2 yang tidak beriman kepada kitab ALLAH,maka hantinya tidak mempunyai RASA KASIH SAYANG.

Sebaliknya orang2 yang belajar dgn wahyu2 ALLAH dlm kitab BIBLE ,sudah tentu yang bertentangan dgn al Quran tidak VALID lagi,ditinggalakn saja.

ALLAH BERFIRMAN KEPADA RASULULLAH SAW.

Bismilahirahmanirrahiim.
Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan
(pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang.QS.57:27.

Then, in their wake, We followed them up with (others of) Our Messengers: We
sent after them ‘Isa the son of Maryam, and bestowed on him the Gospel; and We
ordained in the hearts of those who followed him Compassion and Mercy..

ALLAH dan Rasulullah saw jelas2 mengatakan bahwa orang2 yg mengikuti ajaran2 nabi Jesus ALLAH akan memberikan kepada hatinya==RASA KASIH SAYANG DAN RASA SANTUN==

Oleh karena itulah kalau saya perhatikan dari dekat umat Nasrani lebih mempunyai rasa kasih sayang dan santun kpd manusia dan binatang2..


Klompok Islam fundamentalis Taliban,Al qaida cs yang membenci dan haram membaca BIBLE HATInya tertutup dengan rasa kasih sayang.

Hatinya penuh dgn kebencian kepada orang2 kristen ,yahudi, dan Muslim2 Syiah ,Ahmadiyah dll dengan mudah melakukan perbuatan penindasan dan pembunuhan kepada anak2,wanita2 serta orang2 CIVIL yang tidak ikut berperang.

BENAR BUKAN?

Oleh karena itu ALLAH dan RASUL memerintahkan umat Islam untuk beriman kepada kitaB ALLAH sebelumnya. TITIK

Wassalam

40 perbedaan2 Islam Fundamentalis Taliban,Al Qaida.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

Posted by alatif  on  01/16  at  12:17 AM