Kolom,
10/01/2012

Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab

Oleh Husein Ja’far Al Hadar*

“...sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).”

Ironi! Di penghujung 2011, kita harus menutupnya dengan satu kasus kekerasan bermotif agama. Bahkan, yang ini, bukan lagi isu satu agama vis a vis agama lain, tapi dalam internal Islam, yakni antara madzhab Sunni dan Syiah. Sekelompok oknum yang mengklaim Sunni (ahlussunnah wal jammaah) melakukan penyerangan dan pembakaran terhadap pondok pesantren beraliran Islam-Syiah di Sampang, Madura. Akhirnya, kita pun harus menambah satu lagi daftar catatan kekerasan atas nama agama di negeri ini yang oleh Setara Institute baru-baru ini dilaporkan statistiknya mencapai 244 kasus selama 2011.

Menurut penulis, sebenarnya pada tingkat keyakinan dan ajaran (keislaman), apa yang terjadi di Madura seharusnya tak terjadi. Sebab, masalah perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam Islam sudah diklarifikasi dan dituntaskan dengan utuh dan tepat oleh tokoh-tokoh Islam di negeri ini. Salah satu yang tepat untuk disebutkan di sini, misalnya, M. Quraish Shihab (pakar tafsir di Indonesia) dengan karyanya yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?; Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (2007). Dalam karyanya itu, Quraish Shihab yang memang memiliki kredibilitas dan otoritas dalam membicarakan isu ini, mengawali pembicaraannya tentang keniscayaan sebuah perbedaan yang diakui secara langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 48) sekaligus kepatutan dirajutnya persatuan (ukhuwah) karena pada dasarnya manusia adalah umat yang satu (QS. Al-Baqarah: 213). Pembacaan, pemahaman dan penafsiran atas realitas dan ayat tentang keniscayaan perbedaan dan kepatutan persatuan menjadi sangat signifikan guna membangun paradigma dan sikap yang bijak menanggapi isu-isu seputar keberagaman. Kesalahan memahami realitas atau ayat (dan juga hadis) yang terkesan paradoks seperti di atas akan berdampak negatif berupa timbulnya konflik horisontal di antara umat yang keduanya sama-sama membawa nama Islam.

Umat Islam kerap memposisikan perbedaan dan persatuan sebagai dua hal yang paradoks. Sehingga, berpegang pada salah satunya otomatis berarti menafikan yang lainnya; berbeda berarti berselisih-pecah dan bersatu berarti tak mentoleransi –apalagi menerima- perbedaan. Sehingga, perbedaan dan persatuan pun menjadi ‘buah simalakama’ bagi umat Islam; pilihan atas salah satunya akan menimbulkan bencana berupa perselisihan dan konflik. Padahal, pada dasarnya, perbedaan dalam Islam justru patut dipahami sebagai rahmat Allah sebagai bentuk kekayaan khazanah intelektual sekaligus pilihan dan alternatif bagi kesulitan yang dihadapi umat. Sedangkan persatuan sebenarnya berarti kepatutan untuk saling berbagi, mengisi dan menyempurnakan di tengah perbedaan, bukan berarti menyamakan sesuatu yang berbeda dan mustahil untuk disatukan. Pada titik ini, maka peran keterbukaan, dialog dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan menjadi sangat mendasar. Ketiga komponen guna membentuk perbedaan menjadi rahmat itulah yang seringkali hilang dari paradigma umat Islam, khususnya di Indonesia.

Dalam karya monumentalnya yang berjudul al-Milal wa an-Nihal, Al-Syahrastani bukan lagi mendokumentasikan perbedaan pada tingkat furu’ al-din (cabang agama) dalam internal ulama Islam. Namun, ia mendokumentasikan beragam perbedaan pendapat pada tingkat ushul al-din (dasar agama) di internal ulama Islam yang sudah ada bahkan sejak Nabi Muhammad sedang sakit. Quraish Shihab mencatat setidaknya sepuluh perbedaan teologis itu. Namun, patut dipahami dan disadari bahwa perbedaan itu adalah perbedaan sudut pandang yang dibenarkan dalam Islam yang dilatarbelakangi oleh keterbukaan, keikhlasan dan kedewasaan dalam ber-Islam sebagai upaya bersama untuk berlomba-lomba dalam mendekati (bukan mencapai) kebenaran, dan sama sekali bukan bertendensikan egoisme atau ambisi pribadi atau golongan untuk mengklaim –apalagi memonopoli- kebenaran. Sehingga, perbedaan pun menjadi rahmat bagi persatuan umat.

Filosofi dan pemahaman akan hakikat perbedaan dan persatuan seperti di zaman ulama klasik itulah yang belum ada dan perlu ditumbuhkan di zaman ini. Oleh karena itu, sampai di sini penulis mengapresiasi sikap petinggi (ulama) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah yang sangat terbuka dan dewasa menyikapi kasus Sampang dengan menegaskan bahwa kasus Sampang terjadi akibat provokasi atas perbedaan di antara Sunni-Syiah yang sesungguhnya tak berarti dan sudah disepakati bahwa itu bagian dari rahmat dalam Islam. Pernyataan ini sejalan dengan kesepakatan ulama besar dunia –dari berbagai madzhab Islam, termasuk Sunni dan Syiah- di berbagai konferensi dan kesepakatan dalam dialog dan pendekatan antar madzhab. Misalnya Konferensi Doha 2002, Draft ISESCO yang dibentuk di pertemuan puncak OKI 2003 di Malaysia hingga Kesepakatan Ulama Sunni-Syiah di Makkah pada 2006 hingga Muktamar Doha yang diselenggarakan oleh Universitas Qatar bersama Universitas Al-Azhar-Mesir dan Lembaga Internasional untuk Pendekatan Madzhab-madzhab Islam pada 2007. Secara umum, disepakati bahwa pertama, Muslim adalah siapa saja yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya. Kedua, darah, harta dan kehormatan Muslim haram (diganggu). Ketiga, tempat peribadatan umat Muslim suci, yang artinya haram untuk diserang, dibakar, apalagi diambil alih.

Penyatuan madzhab-madzhab menjadi satu madzhab dalam Islam merupakan sesuatu yang mustahil, sebab keberagaman dalam memahami dan menafsirkan teks dan ajaran merupakan keniscayaan. Bahkan dalam internal Sunni dan Syiah pun terdapat keragaman: ada Sunni-Syafi’i, Sunni Hanafi, Sunni Maliki, Sunni Hambali; Syi’ah-Ja’fari, Syiah-Ismailiyah, Syiah-Zaidiyah, dll. Karenanya, yang patut diagendakan dan diupayakan saat ini dan ke depan dalam Islam yakni persatuan umat dalam arti membiarkan madzhab-madzhab dalam Islam yang ada tumbuh-berkembang sembari bergandengan tangan, berjalan seiring, bekerja sama untuk menghadapi musuh bersama Islam serta mengembalikan kejayaan Islam masa lalu sebagai salah satu penopang peradaban dunia. 

Terkait upaya itu, maka upaya membersihkan dan menjauhkan umat dari fanatisme dalam beragama –apalagi bermadzhab- harus juga menjadi agenda utama. Sebab, agama dengan sederet ajaran, ritual dan simbolnya merupakan isu yang sangat sensitif. Jika fanatisme telah menjadi bagian dari corak keberagamaan umat, maka provokasi sedikit saja (seperti yang terjadi di Sampang) niscaya akan menyulut ketegangan dan bahkan konflik yang membahayakan umat. Apalagi jika isu agama telah ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh karena itu, corak masyarakat beragama yang harus dibentuk adalah masyarakat yang terbuka, damai dan dialogis. Sebab, ketegangan dan konflik sering kali terjadi hanya karena ke-jumud-an dan ketidaktahuan (ke-jahiliyah-an) kita akan keyakinan dan ajaran umat lain. Oleh karena itu, mengutip penyataan Quraish Shihab, semakin tinggi pengetahuan (keagamaan) seseorang, maka semakin tinggi pula semangat toleransinya. 

Akhirnya, sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).     

*Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta

 

10/01/2012 | Kolom, | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Pointer dalam buku tersebut bahwa syiah sama dengan ahlu sunnah dan sebaliknya tidaklah konsisten terhadap pointer lain dalam buku tersebut, al-Syi’ah Hum Ahlus Sunnah, hal. 161 yang menyatakan, “Dan tidak membutuhkan pengenalan lagi bahwa madhab al-Nawashib adalah madhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan al-Mutawwil adalah pembela madhab Al Nawashib, dia itu sendiri yang bergelar muhyis sunnah (pengidup sunnah), maka pahamilah.” Al-Nawasib diartikan sebagai kelompok yang memusuhi Ali r.a dan ahlul bait, dan al-Mutawwil diartikan sebagai tokoh utama al-Nawasib. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa sunnah-syiah sama sedangkan ia meyakini dan menjuluki ahlu sunnah sbg musuh? Syiah dan Ahlu sunnah sama hanyalah propaganda.

Posted by Servant of Allah  on  01/31  at  08:41 AM

keragaman dalam bermazhab tidak perlu direspon, artinya biarkan terjadi perbedaan sebanyak-banyaknya. konsep yang kita gunakan dlam perbedaan itu bermazhab itu adalah mengunakan pendekatan akhlak, artinya biarkan kita berbeda tapi kita saling menghargai, menghormati dan mentoleransi sesama kita. ok

Posted by saim  on  01/19  at  11:20 AM

Assalamu\‘alaikum wrwb
Masarakat Islam di dimana saja berada,baik di Indonesia,maupun di negara2 majoritas Islam di luar negeri tidak bisa hidup damai-harmoni seperti
umat budha,sinto dan umat Kristen dan Yahudi.

Dalam umat islam ada klompok yang nakal,jahat dan tidak menerima perbedaan2 dalam menaafsiran ayat2 ALLAH. Jadi masih masarakat anak2 atau primitif.

Selagi pemerintah belum mempunyai undang2 anti diskriminasi karena agama,suku dan gender,selama itu pula pemerintah tidak sanggup menghentikan klompok Islam yang jahat dan nakal ini.

Dan selaam itu pula bangsa Indonesia tidak mendapat rahmat dari ALLAH.

Bagaiman bisa mendapat rahmat dari ALLAH,kalau dlm satu keluarga besar masih terdapat penindasan dan pembunuhan.

Pemerintah dan masarakat banyak masih membiarkan klompok yang nakal itu untuk berbuat zolim kepada klompok yang minoritas atau lemah.

Sedangkan ALLAH memerintahkan kepada pemerintah,ulama2 dan masarakat untuk membantu klompok yang tertindas, jangan di biarkan saja.

Kalau dibiarkan dan berpangku tangan saja, maka orang yang berpangku tangan itu adalah termasuk gol.Penindas juga.

Klompok penindas ini makin membesar setiap tahunnya.Kalau sudah besar,ormas2 yang besar seperti NU,Muhammadiyah dan Kristen akan menjadi korban berikutnya,seperti negara Pakistan.Dimana Taliban sangat berkuasa dan kuat.

ALLAH SAID;
[QS 4:75] Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah(tertindas) baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: \“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah)yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!\”.

Semoga ayat ALLAH ini benar2 dapat kita taati dan mari membuat komitment untuk membantu klompok tertindas.

Wassalamu\‘alaikum wrwb

Masarakat amerika dirahmati oleh ALLAH dengan kedamaian dan kesejahteraan, karena tidak ada penindasan2 krn agama,suku dan gender.Silakan buka website saya ini;

Pengalaman saya tinggal di majoritas Kristen Amerika.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

Posted by alatif  on  01/15  at  09:33 AM

Aliran Syiah sudah lama hidup di Indonesia, bahwa di NU sendiri beberapa mazhab/alirannya berkaitan dengan aliran Syiah seperti pujian pujian pada Ali dan Hasan Husein. Disini perlunya ulama/umat belajar sejarah dengan berbagai macam versi. Bisa juga dimungkinkan konflik ini sengaja diciptakan untuk dibesarkan-seperti juga terhadap Ahmadiyah-dan menjadi isu nasional. Di dunia Internasional konflik sunni-Syiah juga akan terus disulut. Salah satu alasannya mungkin untuk melegimasi serangan AS ke Iran yang telah disiapkan jauh jauh hari…Wallahu’alam.

Posted by abu jasmine  on  01/12  at  07:42 AM

Dan dalam sejarah kitab-kitab suci samawi , tidak satupun dari “para pencetus agama” yaitu para Nabi dan Rasul yang meminta upah materi pada sesamanya untuk menopang kehidupan mereka,  ketika menyampaikan risalah dan ajaran-ajaran mereka, bahkan mereka memberi dan berkorban bagi kabajikan dan kemaslahatan sesama, sebagai contoh nyata !  sehingga mereka tidak diminta pertanggungjawaban dalam penyampaian ajaran mereka baik didunia dan akhirat demikian jugalah sifat dan prilaku orang-orang yang mendapat petunjuk diantara pengikut mereka.
Dan diharapkan dari pengikut-pengikut Agama yang telah sadar dan tercerahkan oleh kemurnian ajaran Agamanya inilah yang dapat mewujudkan dengan nyata “ cita-cita dan harapan”  dari leluhur pendiri bangsa Indonesia dan kita semua secara adil dan beradab dan penuh rasa persaudaraan antar sesama, yaitu makna yang tercakup dalam Pancasila, dan lain-lain, dengan karakter “  Jujur,  Kasihsayang, Adil dan Beradab serta Bertanggungjawab ! orang-orang yang digembleng dengan karakter yang diproduksi dari pencerahan Agama inilah yang akan memperbaiki segala system dalam ketatanegaraan, seperti pendidikan, perekonomian, peradilan, dll.
Jelas ! dalam perjalanan setiap Agama “ Sang pencetus Agama”  itu sendiripun ternyata dalam hidupnya tidak sanggup membuat setiap orang pada jamannya mengikuti apa yang diajarkannya !  jadi apakah kita sanggup, dengan memaksakan kehendak atau dengan kedustaan dan iming-iming ?
jadi jelas konsep QS: “ Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku “  (Mari ! kita buktikan Agama mana yang dapat lebih membawa tokoh-tokoh dan pengikut Agama tersebut menuju kebajikan dan keselamatan baik didunia dan akhirat dan Agama mana yang membawa umatnya menuju kehancuran moral dan prilaku = “ Akhlak”  dan kehidupan ? ) dengan satu tekad bulat “ dalam bingkai 4 pilar berbangsa ” yaitu urusan kebajikan dalam   kehidupan dunia dan kebernegaraan kita bersaudara dan saling membahu dan tolong menolong dan mencerahkan. Dan urusan akidah dan ibadah maka itu urusan masing-masing Agama dan marilah kita saling intropeksi kedalam dan buktikan dalam perlombaan berbuat kebajikan secara nyata , bukan kerusakan dalam berbagai hal !  Dalam dan demi waktu yang terbatas ini !!! 
NB:  gagasan ini tidak bermaksud merendahkan atau menghina siapapun, tetapi ada ungkapan “ Kebenaran itu pahit dan getir awalnya namun manis buahnya sebaliknya kepalsuan itu manis awalnya tetapi pahit dan getir akhirnya “ , nah, Jika apa yang selama ini dilakukan itu lebih baik atau ada gagasan yang lebih baik,  maka lupakanlah semua ini !
                                                                             

                                                                                Banda Aceh,  January 2012
                                                                              Oleh : Muhammad Dharmawan

Posted by Muhammad Dharmawan  on  01/09  at  12:13 PM