Mewaspadai Transmisi Radikalisme Arab
Oleh Hasibullah Satrawi*
“Kebangkitan kaum radikal di dunia Arab pascarevolusi merupakan kabar buruk bagi bangsa ini. Hampir bisa dipastikan, cepat atau lambat, kebangkitan kaum radikal di dunia Arab akan mengalami proses transmisi ke Indonesia. Baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Hasil penelitian Imdadun Rahmat tentang transmisi gerakan radikal Timur Tengah ke Indonesia (Erlangga, 2006) menarik untuk diperhatikan. Penelitian tersebut mengungkap dengan jelas proses transmisi gerakan radikal Timur Tengah yang berjalan mulus melalui beberapa alumni lembaga pendidikan di sana. Bahkan salah satu tokoh gerakan ini pernah hadir secara langsung dan tinggal di Indonesia (seperti Abdurrahman al-Baghdadi, aktivis gerakan Hizbut Tahrir di Lebanon). Masih menurut penelitian tersebut, transmisi gerakan radikal Timur Tengah ke Indonesia telah berlangsung semenjak akhir tahun 1980-an.”
Revolusi dunia Arab harus melalui jalan penuh tantangan untuk mewujudkan cita-cita luhurnya. Tak hanya karena revolusi harus terlonta-lonta seperti yang terjadi di Yaman dan Suriah. Lebih dari pada itu, karena revolusi yang berhasil menjungkalkan penguasa seperti di Tunisia, Mesir dan Libya berpotensi hanya memberikan jalan bagi kaum radikal menuju tampuk kekuasaan.
Laiknya bunga mekar di musim semi, revolusi Arab sempat disambut dengan senyuman oleh kaum terdidik di kawasan itu. Namun dalam beberapa waktu terakhir, kondisi di atas acap berbalik seratus persen; senyuman berubah menjadi tangisan dan optimisme berubah menjadi pesimisme.
Hal ini terjadi karena revolusi Arab yang berkobar sejak akhir tahun lalu itu acap gagal mencapai tujuannya. Alin-alih berhasil mencabut kekuasaan untuk rakyat dari para penguasa diktator, di beberapa negara Arab, revolusi tak ubahnya pedang terhunus yang terus menebas rakyat jelata (seperti yang terjadi di Libya, Yaman dan Suriah).
Panggung Radikalisme
Pada tahap tertentu, revolusi yang terjadi di dunia Arab bisa dikatakan hanya memberi panggung bagi radikalisme dan terorisme. Apa yang kerap terjadi di Mesir, Yaman dan Libya dalam beberapa waktu terakhir bisa dijadikan contoh dari yang disampaikan.
Pasca-revolusi 25 Januari, Mesir seakan masuk ke dalam “pusaran kekisruhan”. Hingga hari ini, Mesir senantiasa mengalami pelbagai macam aksi kekerasan. Peristiwa paling anyar adalah penyerangan Kedubes Israel di Kairo yang berakibat pada memanasnya hubungan Mesir dan Israel.
Hubungan antarumat beragama yang berlangsung damai dalam kurun waktu sebelumnya pun mulai “terbakar” oleh konflik sektarian pasca Mubarak lengser. Kerusuhan bernuansa agama paling besar terjadi di provinsi Imbabah tidak lama ini. Provinsi yang tak jauh dari kota Kairo itu menjadi ajang konflik antara kalangan ekstremis Muslim dengan umat Kristiani. Konflik tersebut memakan puluhan orang koran jiwa dan pembakaran rumah ibadah.
Kerusuhan yang kurang lebih sama juga terjadi di pentas politik Mesir. Kekuatan-kekuatan agamis yang acap diberangus pada masa Mubarak segera tampil sebagai kekuatan politik alternatif pasca Mubarak lengser. Termasuk di dalamnya adalah kelompok yang belakangan dikenal dengan nama Islam Salafi.
Kehadiran Islam Salafi menimbulkan kecemasan baru di kalangan para akademisi dan elite Mesir. Tidak semata-mata karena mereka hendak menjadikan Mesir sebagai negara agama. Lebih dari pada itu, karena kelompok ini acap tampil lebih radikal dibanding Ikhwan Muslimin yang dianggap sebagai kekuatan politik agama paling radikal pada era Mubarak. Terutama dalam menghadapi kelompok yang berbeda agama.
Beberapa pengamat di Mesir menyebut pelbagai macam aksi kerusuhan yang terjadi mutakhir sebagai upaya menggagalkan agenda revolusi yang dilakukan oleh loyalis Mubarak. Aksi kerusuhan sengaja dilakukan untuk merusak stabilitas keamanan Mesir. Hingga tercipta “ruang rindu” di kalangan masyarakat Mesir untuk kembali ke “pelukan” Mubarak yang selama ini terbukti mampu menjaga ketentraman dan perdamaian.
Analisa di atas tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Dikatakan tidak sepenuhnya salah karena faktanya Mubarak masih mempunyai cukup kekuatan, termasuk di lingkungan militer yang saat ini menjalankan pemerintahan transisi Mesir.
Dikatakan tidak sepenuhnya benar karena hampir mustahil Mubarak mampu menggerakkan kalangan Islam radikal untuk melakukan pelbagai macam kerusuhan seperti yang kerap terjadi belakangan. Apalagi Mubarak tak pernah “memberi hati” kepada kelompok radikal selama menjadi presiden Mesir. Justru yang mungkin terjadi sebaliknya; kekuatan politik agama radikal akan membasmi kekuatan Mubarak sebagaimana mereka dahulu kerap diperlakukan demikian.
Dengan kata lain, fenomena kekuatan politik agama radikal di Mesir sesungguhnya telah eksis pada masa Mubarak. Tapi pemerintahan otoriter Mubarak memaksa mereka tiarap dan sulit untuk bergerak. Mereka baru menemukan ruang yang bebas untuk bergerak setelah Mubarak lengser. Terlebih lagi kondisi Mesir tidak kunjung stabil seperti sekarang.
Hal yang kurang lebih sama juga terjadi di Yaman. Instabilitas keamaan mutakhir di Yaman telah memberikan ruang bagi para teroris untuk bergerak secara leluasa. Hingga mereka kerap terlibat kontak senjata langsung dengan aparat pemerintah.
Sebagaimana dimaklumi bersama, Yaman selama ini menjadi salah satu basis kekuatan terorisme global di bawah pimpinan Osama bin Laden (AQAP). Untuk mengantisipasi dan menghadapi kelompok teroris yang ada, Amerika Serikat (AS) selama ini bekerja sama dengan Yaman di bawah pemerintahan Ali Abdullah Saleh.
Dalam konteks Libya, kisah sukses kaum radikal dalam memanfaatkan revolusi yang terjadi tak kalah mencengangkan. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Ketua Dewan Transisi Nasional Libya (NTC), Mostafa Abdel Jalil, kaum radikal Libya bahkan berhasil menyusup ke barisan kaum revolusi.
Transmisi Radikalisme
Kebangkitan kaum radikal di dunia Arab pascarevolusi merupakan kabar buruk bagi bangsa ini. Hampir bisa dipastikan, cepat atau lambat, kebangkitan kaum radikal di dunia Arab akan mengalami proses transmisi ke Indonesia. Baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Hasil penelitian Imdadun Rahmat tentang transmisi gerakan radikal Timur Tengah ke Indonesia (Erlangga, 2006) menarik untuk diperhatikan. Penelitian tersebut mengungkap dengan jelas proses transmisi gerakan radikal Timur Tengah yang berjalan mulus melalui beberapa alumni lembaga pendidikan di sana. Bahkan salah satu tokoh gerakan ini pernah hadir secara langsung dan tinggal di Indonesia (seperti Abdurrahman al-Baghdadi, aktivis gerakan Hizbut Tahrir di Lebanon). Masih menurut penelitian tersebut, transmisi gerakan radikal Timur Tengah ke Indonesia telah berlangsung semenjak akhir tahun 1980-an.
Hal yang harus diperhatikan adalah, gerakan radikal di Timur Tengah masih bisa menembus pengawasan ketat yang diberlakukan oleh rezim-rezim Arab saat itu, hingga mereka bisa mengembangkan jaringannya ke Indonesia.
Di sini dapat dipastikan, transmisi gerakan radikal Timur Tengah pascarevolusi mutakhir akan melalui arus yang jauh lebih besar. Mengingat di satu sisi, rezim-rezim otoriter Arab yang selama ini kerap mengekang gerakan radikal terus berjatuhan. Sementara di sisi lain, gerakan radikal di Indonesia terus menggurita dan menciptakan “keluarga besar” yang saling melindungi.
Oleh karenanya, semua pihak harus mewaspadai transmisi gerakan radikal dari dunia Arab pascarevolusi mutakhir. Hingga perdamaian dan kemajemukan sebagai jati diri bangsa ini tidak semakin tergerus oleh “kultur padang pasir” yang dibawa oleh “para tamu tak diundang” itu. Bila tidak, maka bangsa ini akan menjadi “tamu dan terasing” di rumahnya sendiri.
*Alumni Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta.
Komentar
Penafsiran ayat2 ALLAH secara literal kelihatan hukum syariat Islam
kembali kepada zaman primitif,purba yang sadist ,menganiaya dan tidak manusiawi sama sekali.
https://docs.google.com/document/d/1A6r960PQ2uWxBzxJ-6amwgTDWay6g75VtKQvP59UAqg/edit
Bahayanya pemahaman Islam wahhabi dan salafy
salam
Maaf judul tulisannya sudah berburuk sangka.
Sebaiknya tulisan2 di rubrik ini selain mengedepankan intelektualitas juga senantiasa membawa angin kedamaian, tidak berburuk sangka terhadap golongan lain. Berikan solusi alternatif kepada Umat, berikan teladan bahwa Islam itu bisa memimpin dunia dengan syariatnya yang rahmatan lil alamin. Perbanyak tulisan dan contoh yg lebih aplikatif kemasyarakat seperti berbisnis, memimpin , berpolitik, berbudaya ala Islam Liberal.
Adalah Fakta berbicara Orang Afrika Hitam telah tinggal di Mekah sejak Zaman nabi Ibrahim mereka jadi Budak smapai hari ini di Saudi mereka tetap jadi Budak karena Budaya Arab Islam menghalalkan perbudakan.
Orang Afrika Hitam diangkut Ke USA pada abad 17 sebagai Budak,tapi sekarang abad 21 tahun 2011 Obama yang keturunan Afrika Hitam telah jadi Presiden USA.
Fakta tersebut menujukan Budaya Barat Anglo saxon/USA dengan Demokrasi nya lebiha manusiawi ketimbang Budaya Arab Islam.
Bangsa Indonesia belajrlah dengan kenyataan ini.
Orang begok manut kepada yang lebih begok ya rusak dach
islam ya islam itu sendiri tak ada paksaan bagi siapapun termasuk bagi pemeluknya untuk mengamalkan ajarannya bagimu amalmu bagiku amalku, begitulah konsep islam sehingga ia tak mengenal radikalisme, kalaupun ada pelaku bukan berarti islam yg salah, pemahaman islam dan arab berbeda, sehingga abu jahal yg arab tak masuk islam, begitu pula mayoritas islam di indonesia memeluk islam padahal bukan orang arab, bahkan mengucapkan salam padahal bkn arab, sebenarnya yang mulia adalah yg paling taqwa suku bangsa manapun dia. Termasuk kita mengkritisi seseorang dg pedas padahal kita tidak terima kritik orang lain jadi kalau sy bertanya apa beda kita dg dia? Allahu’alam.
Komentar Masuk (9)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)