Editorial,
25/11/2010

Minoritas

Oleh Saidiman Ahmad

Persoalan besar yang menghadang pembangunan Indonesia adalah masih adanya masalah yang dihadapi oleh kelompok-kelompok marjinal dan minoritas. Kelompok-kelompok itu adalah minoritas penganut kepercayaan dan agama-agama lokal.

Konon, negeri ini berdiri di atas semua golongan. Negara ini dibangun berdasarkan kesepakatan dari semua unsur masyarakat untuk membangun dan hidup bersama. Apakah semua itu sudah berjalan atau masih angan-angan?

Persoalan besar yang menghadang pembangunan Indonesia adalah masih adanya masalah yang dihadapi oleh kelompok-kelompok marjinal dan minoritas. Kelompok-kelompok itu adalah minoritas penganut kepercayaan dan agama-agama lokal. Di samping itu, kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) juga menjadi korban dari sistem kehidupan berbangsa yang diskriminatif. Kelompok lain yang juga minoritas yang didiskriminasi adalah difabel.
Kelompok-kelompok minoritas ini didiskriminasi dalam tiga level. Pertama, mereka tidak memeroleh pengakuan. Mereka hidup di tengah masyarakat tapi seolah-olah tidak ada. Mereka dianggap sebagai penyimpangan yang harus dilupakan.

Kedua, representasi. Karena mereka tidak memeroleh pengakuan, akhirnya aspirasi mereka dalam kehidupan publik tidak terakomodir. Lihatlah, misalnya, tata kota dan bangunan. Sama sekali tidak ditemukan sebuah representasi bagi kelompok difabel. Bangunan-bangunan kota begitu angker bagi mereka. Sementara bagi kelompok-kelompok minoritas kepercayaan dan agama lokal, suara-suara mereka tidak terdengar. Tidak sekedar tidak memiliki representasi dalam sistem sosial, kelompok LGBT bahkan dipinggirkan dan dikriminalkan.

Ketiga, redistribusi. Pada akhirnya, layanan publik yang seharusnya menjangkau semua warga negara tidak diperoleh oleh kelompok-kelompok minoritas-marjinal. Begitu banyak kasus bagaimana penganut agama dan kepercayaan lokal selalu menghadapi persoalan ketika mereka mengurus identitas, mengurus perkawinan, pendidikan, dan mencari pekerjaan. Dalam kartu identitas (KTP), jelas kelompok LGBT selalu kebingungan ketika mereka mesti mencantumkan identitas kelamin. Ketika terpaksa memilih jenis kelamin perempuan atau laki-laki, mereka sebenarnya membohongi diri sendiri. Dalam beberapa kasus, pengakuan sebagai laki-laki atau perempuan bagi LGBT menjadi masalah besar dan harus masuk meja hijau. Dengan tidak berpihaknya pembangunan fisik bagi kelompok difabel, mereka akhirnya tidak memeroleh akses yang setara dengan masyarakat lainnya. Mereka juga kurang memeroleh akses pendidikan setara. Kalaupun bisa, mereka dimasukkan ke sekolah-sekolah luar biasa (SLB) yang jelas memiliki kualitas yang jauh berbeda.
Persoalan ini harus kita pikirkan, sebab kita sudah memilih untuk hidup bersama tanpa diskriminasi.

25/11/2010 | Editorial, | #

Komentar

Komentar Masuk (31)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

(Kilafah yg mana ya? Jika saya baca sejarah Islam, salah satu masa keemasan Islam…..
#18. Dikirim oleh nurcahaya pada 04/12   12:37 PM)

Saya bisa menyelami hati dan fikiran orang-orang seperti anda. (Fi Qulubihim maradun). Wa sawa’un alaihim a’anzartahum….).berikut hakikat hati anda;
JIka sistem khilafah yang melaksanakan syariat islam dan ketuanya (Kahifahnya orang islam) anda tidak setuju. tetapi jika yang menjadi khalifah adalah Bush dan naibnya Sharon, anda setuju. dan bahkan jika belanda melanggar Indonesia lagi, andalah manusia awal yang menjilat kaki belanda.
anda lupa sistem matahari yang kekal membakar tanpa bahan pembakar. sedangkan dapur gas anda tidak menyala jika kehabisan bahan pembakar. itulah sistem yang Maha Agung. dan Syariat itu termasuk sistem yang dirangka-Nya.

Posted by joko  on  01/12  at  04:06 PM

Sistem pemerintahan Amerika yaitu melindungi klompok2 minoritas dengan perungdangan2 agar klompok2 majoritas jangan samapi menjadi tyrani.

Oelh karena itulah masarkat amerika dpt hidup dgn damai karena tidak ada penindasan2 atas nama agama,suku dan rac…..Jawab.

Anda terlalu taassub dg AS. sehingga terdinding dari Rasulullah saw yang berkata; “Barang siapa menyakiti Zimmi, maka ia telah menyakiti aku”.
“Apabila kekayaan berkitar diatas,(sentralisasi), maka tunggulah kebinasaannya”.
Sekarang anda melihat dalam konteks Indonesia. Beberapa pemimpin atasnya ber-KTP islam. Jika mereka ditakdirkan Allah melaksanakan sabda Nabi diatas, andalah orang pertama yang akan menghalangnya. karena itu anda menggunakan segala kekuatan yang ada untuk menghalangi jalan Allah.
Sekarang mereka telah tunduk kepada kehendak anda, yaitu (Liberal / bebas dari agama). lalu apa yang anda boleh buat jika semuanya menjadi Gayus?.Menjadi Islam anda halang, menjadi Gayus, anda salahkan Islam. padahal segala perbuatan pemimpin telah keluar dari Islam. lalu apa yang anda mahu.
2-Yahudi merampok tanah dan mengusir rakyat Palestin. siapa dibelqkang itu?. AS… Negara dan Rakyat Iraq dan Afghanistan hancur tinggal Puing. siapa pelakunya?. AS.
kelompok yang menentang sovyet dan memalukannya, dibilang Mujahidin. tetapi kelompok yang sama menentang AS, anda bilang Teroris.
saya rasa Psikister tidak mampu menyembuhkan rasio anda, kecuali anda sendiri menjadi rakyat Palesthin.

Posted by joko  on  01/12  at  03:52 PM

Siapa yang merasa paling benar coba kirim email ke saya. Saya bayar 100. juta cash. ! ada Yang berani ?
saya tunggu !!

Kebenaran yang sjati adalah Kebenaran yang datang dari ALLAH, bukan berdasarkan tafsiran tafsiran otak manusia yang terbatas dan dibungkus dengan emosional kedagingan yang sudah jelas jelas berdosa. Tidak ada seorangpun yang berhak menghakimi orang lain, kecuali orang tersebut benar benar suci, tidak berdosa, bebas dari pengaruh dosa kedagingan.

Posted by adam usman  on  01/10  at  07:38 AM

ALLah itu raja segala raja. Dia punya peraturan / sistem yang wajib di patuhi oleh agen-agen-Nya. sistemnya itu luas tiada tepi, panjang tiada ujung.(Rabbul Alamiin Bukan hanya mengatur sebuah negara) jika salah satu sitem-Nya tersalah Eroor, maka bencana yang akan melanda.

Raja dunia /Negara, ia punya Sistem, jika sistemnya tidak dilaksanakan oleh pengamal polisi agen-agennya, maka huru-haralah negara tsb. jika anda bisa mentaati raja dunia, mengapa keberatan mentaati Raja segala raja (Rabbul-alamiin?).

Posted by atan  on  01/03  at  06:53 AM

keragaman penciptaan manusia itu menandakan adanya balasan yang sama. misalnya si-A buta sejak lahir. dan si-B biasa / normal. jika tiada balasan yang sama bagi yang sabar melaksanakan perintah dan larangan-Nya. rugilh si-B.

untuk menikmati balasan yang sama *Syorga* yang cacat,LGBT dan lainnya itu semua tergantung sejauh mana ketaatan mereka terhadap UU Allah *Syariat*

Posted by atan  on  01/03  at  06:45 AM