Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi: Pada Akhirnya, Akal Yang Menghukumi Agama
Oleh Redaksi
Salah seorang sastrawan dan intelektual Mesir, Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi, pekan lalu berkunjung ke Indonesia untuk membacakan sajak-sajak berbahasa Arab-nya dalam perhelatan Indonesian International Poetry Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Mohammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL), sempat mewawancarai lulusan Sorbonne yang sempat menjadi dosen sastra Arab di Universitas Paris dan Sorbonne (1974-1990) itu. Berikut petikannya.
Salah seorang sastrawan dan intelektual Mesir, Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi, pekan lalu berkunjung ke Indonesia untuk membacakan sajak-sajak berbahasa Arab-nya dalam perhelatan Indonesian International Poetry Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Mohammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL), sempat mewawancarai lulusan Sorbonne yang sempat menjadi dosen sastra Arab di Universitas Paris dan Sorbonne (1974-1990) itu. Berikut petikannya…
M. GUNTUR ROMLI (JIL): Beberapa waktu lalu, di negeri Anda, Mesir, ada kasus pembredelan beberapa karya sastra dan keluarnya fatwa pengharaman seni patung. Apa komentar Anda?
AHMAD ABDUL MU’THI HIJAZI: Pembredelan dan permusuhan terhadap karya sastra yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, dilakukan untuk mengambil hati dan mengendalikan kelompok-kelompok Islam radikal di Mesir. Sebab, sekarang kelompok-kelompok radikal itu sudah punya kekuatan untuk menekan rezim penguasa. Memang, rezim Anwar Sadat lah yang mula-mula menciptakan kelompok-kelompok radikal tersebut, demi melawan kelompok sosialis dan pendukung Gamal Abdul Nasser.
Ketika Sadat berkuasa, ia mengeluarkan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dari penjara dan membuat perjanjian politik dan mempersenjatai senjata. Departemen Dalam Negeri Mesir adalah pihak yang paling betanggungjawab atas terbentuknya kelompok-kelompok Islam radikal. Namun setelah itu, Depdagri cuci tangan dan pura-pura tidak tahu. Anggota kelompok radikal itu makin leluasa bergerak memusnahkan musuh-musuh politik Sadat. Kita tahu, akhirnya rezim Sadat pun tidak kuasa mengendalikan mereka. Dan, Sadat sendiri menjadi korban keganasan kelompok-kelompok radikal tersebut.
JIL: Mengapa kelompok-kelompok radikal di Mesir masih eksis hingga saat ini?
Karena rezim penguasa saat ini gagal memerintah. Inilah yang biasa disebut sebagai gejala negara yang gagal (ad-daulah al-fâsyilah). Mereka juga tidak lebih baik dari Ikhwanul Muslimin. Mereka gagal memakmurkan rakyat Mesir, sehingga fenomena radikalisme dapat disaksikan di negara-negara lain yang rezimnya juga gagal. Di negara seperti itu, rakyat akan terpesona oleh retorika dan jargon-jargon kelompok-kelompok radikal yang menjanjikan perubahan. Rumusnya, kelompok radikal akan tumbuh-kembang dalam kondisi multikrisis. Dan fenomena inilah yang saya saksikan di Mesir saat ini.
JIL: Sebagai penikmat seni, bagaimana Anda hidup di dalam iklim yang sangat memusihi seni dan penuh teror?
Yang paling penting, Anda harus pantang menyerah dan konsisten. Kalangan intelektual dan sastrawan Mesir saat ini hidup di antara dua tekanan yang sama-sama buas: rezim yang otoriter dan kelompok Islam radikal. Kita sulit memprediksi mereka; kadang kala mereka berkoalisi, dan kadang-kadang berkonfrontasi. Tapi kami sudah mengikrarkan diri menjadi musuh bersama mereka. Kami tetap kritis baik terhadap rezim penguasa maupun kelompok agama radikal. Hidup dalam iklim seperti itu sudah dialami oleh intelektual dan para sastrawan Mesir, sejak Ali Abdul Raziq, Thaha Husein, Luis Awadl, dll. Kaum intelektual, sepanjang hidupnya akan menjadi oposan. Sebab kalangan intelektual selalu memimpikan hal-hal yang ideal. Karena itu, oposisi kaum intelektual berbeda dengan oposisi kalangan politisi. Kalangan politisi yang semula beroposisi, akan berhenti jika niat dan tujuan politiknya sudah tercapai. Namun bagi intelektual, sepanjang hidup ia akan menjadi oposisi.
JIL: Anda juga sering melontarkan kritik terhadap fatwa-fatwa keagamaan di Mesir. Mengapa?
Karena saya melihat banyak sekali fatwa agama yang berasal dari pesanan, bukan berdasarkan prinsip mencari kebenaran. Hemat saya, suatu upaya pencapaian kebenaran tidak pernah akan datang tiba-tiba, tapi selalu melalui proses pengujian dan diskusi. Sementara, fatwa agama yang sebenarnya hanya pendapat orang biasa yang kebetulan menekuni bidang agama, kini sudah dipahami sebagai kebenaran agama yang final dan tidak bisa dibantah serta diuji kembali. Karena itu, hemat saya, jika fatwa keluar dari mekanisme seperti itu, ia tak lebih dari fatwa pesanan, bukan fatwa-fatwa kredibel yang sering dikenal dalam prosedur pengeluaran fatwa dalam Islam.
Contohnya, baru-baru ini Mufti Mesir mengeluarkan fatwa pengharaman pembuatan seni rupa berbentuk patung. Saya heran, apa yang bisa diharapkan dari fatwa semacam ini. Dulu para ulama memang pernah mengeluarkan fatwa seperti itu, tapi bukan terhadap pembuatan patung sebagai ekspresi seni, melainkan patung sebagai sarana penyembahan. Syekh Muhammad Abduh sejak dulu sudah mampu menangkap perubahan fungsi pembuatan patung dalam ekspresi berkesenian itu. Beliaulah orang yang menentang fatwa pengharaman patung. Alasannya, membuat patung haram hanya dalam konteks penyembahan, dan boleh-boleh saja untuk selain itu.
Namun ironisnya, Mufti Mesir saat ini kembali mengharamkan pembuatan patung. Artinya, ia mundur ke era sebelum Muhamad Abduh. Dia mungkin tidak mengerti, tujuan pembuatan patung saat ini hanyalah estetis belaka, bukan untuk disembah dan disakralkan. Dia juga tak pernah tahu, Mahmud Mukhtar, perupa Mesir paling terkenal tidak pernah menyembah patung yang dibuatnya. Dan dia juga lupa, patung-patung warisan peradaban Mesir merupakan sumber pendapatan rakyat dan negara. Semua warisan peradaban Mesir kuno itu menjadi sumber devisa negara terbesar dengan tumbuhnya kunjungan wisata sejarah. Sektor ini tidak bisa dilepaskan dari unsur patung yang kebanyakan masih replika dari zaman Firaun Kuno.
Jadi fatwa semacam ini layak dikritisi karena jelas-jelas menutup peluang pendapatan bagi rakyat Mesir. Fatwa ini juga menjadi sumber keributan. Setelah fatwa itu dikeluarkan, segerombolan pemuda Mesir yang masuk Musium Mesir menghancurkan beberapa patung. Untung saja yang jadi sasaran mereka bukan patung-patung antik yang bernilai seni dan bersejarah. Namun aksi mereka tersebut jelas-jelas sudah membahayakan warisan peradaban masa lampau Mesir. Fatwa seperti ini telah memberhangus fatwa-fatwa lain yang lebih moderat dan mencerahkan.
JIL: Kalau menyimak fatwa-fatwa semacam itu, apakah agama dan sudut pandang agama masih relevan dalam menyikapi persoalan dunia modern?
Kita masih tetap butuh agama. Artinya, tanpa agama, kita tak bisa menjadga keseimbangan hidup dan menjawab pelbagai persoalan kekinian. Ilmu pengetahuan memang sudah mampu menjawab beberapa teka-teki dunia modern, namun lebih banyak terbatas pada persoalan-persoalan empiris dan fenomena alam. Seni menjawab soal-soal estetika dan perasaan. Sementara filsafat menjawab persoalan-persoalan teoritis dan membantu untuk selalu mengkritisi epistimologi ilmu pengetahuan, ide-ide, apa yang disebut keyakinan, kebenaran, dan logika. Namun masih ada sisa soal yang tak bisa dijawab ilmu-ilmu tadi, yaitu persoalan yang berhubungan dengan “alam lain” yang bersifat metafisik, seperti awal dan akhir alam semesta, soal kematian, dan misteri kehidupan setelah kematian. Beberapa prinsip moral, seperti hakikat kebaikan, kebenaran, keadilan, dan lain-lain, juga penting dilihat dari sudut pandang agama. Dan yang lebih penting, agama menyangkut soal naluri keberagamaan (al-dlamîr al-dînî).
Atas dasar itu, manusia jelas tetap butuh agama. Itu mengandaikan agama akan mendatangkan manfaat dan kita tak mungkin hidup tanpa agama. Seseorang yang bersikeras ingin hidup tanpa agama, juga akan mengalami gangguan kejiwaan. Orang yang meyakini kematian adalah akhir dari kehidupan, tak ada kehidupan sesudah mati, alam tercipta dengan sendirinya tanpa kekuasaan Sang Pencipta, akan merasa hidup sendirian di dunia ini. Akibatnya, hidupnya akan nihil, tanpa harapan, sia-sia, dan putus asa. Itu akan membuat dia hidup tanpa tanggungjawab, agenda dan tujuan hidup. Jika seseorang yakin kalau hidup di dunia ini tidak akan diminta pertanggunganjawab di akhirat nanti, ia tidak akan punya integritas dalam hidup di dunia ini. Ia akan hidup untuk dirinya sendiri, karena yakin tidak akan ada sanksi setelah mati. Nah, agama memasuki ruang-ruang majhul yang menjadi misteri yang tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan manusia itu. Itu di satu sisi.
Di sisi lain, kalangan agamawan yang meyakini sebaliknya, atau mereka agamalah yang membutuhkan kita, bukan kita yang membutuhkan agama, juga bermasalah. Ada perbedaan besar antara kedua prinsip itu. Kalau agama dianggap membutuhkan kita, maka agama akan selalu menuntut, sementara ia sendiri tidak berubah sepanjang masa. Kita tidak bisa berpikir ulang tentang agama, karena kita mengikuti arus dogma saja. Kita juga tidak bisa menggali manfaat dari agama, karena kitalah yang dimanfaatkan oleh agama. Nah, mereka-mereka ini akan memandang segala persoalan dari sudut pandang dogma agam: mutlak dan sakral. Mereka ini, seperti dalam kasus fatwa soal patung tadi, tidak mampu membedakan antara pengetahuan manusia sebagai proses berpikir kreatif dengan agama sebagai rahasia ilahi.
Kita harus juga menolak sikap kedua ini. Kita mestinya meyakini sebaliknya; justru kita yang secara sadar membutuhkan agama. Atas dasar itu, kita harus selalu berpikir ulang tentang relevansi agama. Hal-hal yang bermanfaat dari agama mesti kita ambil, dan pandangan yang tidak bermanfaat perlu kita tinggalkan. Karena setiap generasi butuh agama, maka, setiap generasi juga berhak untuk berpikir ulang tentang agamanya. Yang perlu dipikirkan ulang dari agama itu terutama persoalan-persoalan yang berhubungan dengan relasi sosial umat manusia (al-mu’âmalât) bukan aspek keyakinan (al-i’tiqâdât) atau ritual ibadah (al-’ibâdât). Sisi sosial agama itu berhubungan dengan persoalan keduniaaan, seperti sistem politik dan ekonomi yang lebih baik, dan persoalan hubungan antar warga negara. Apa yang terbukti bermanfaat kita ambil, yang tidak bermanfaat kita campakkan.
JIL: Anda menyatakan manusia tetap butuh agama, tapi lupakah Anda bahwa kini tak sedikit agama menjelma bencana; menginspirasi kekerasan, tidakan semena-mena, dan terorisme…
Agama menjadi bencana tatkala para agamawan memahami agamalah yang membutuhkan kita, bukan sebaliknya. Dengan begitu, terseret, lebur, dan tidak punya pandangan dan sikap yang kritis ketika berhadapan dengan dogma-dogma agama. Kita mengikuti saja dogma agama, padahal setelah melakukan kajian kritis, belum tentu dogma-dogma tersebut merupakan tuntunan agama yang benar. Tak jarang dogma-dogma tersebut sengaja dikembangkan orang-orang atau kelompok yang mengatasnamakan agama untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka. Orang-orang seperti ini akan senantiasa mengembangkan pandangan bahwa agama mewajibkan kita untuk memusuhi pemeluk agama lain, menyerang orang kafir, membunuh mereka, dan lain-lain.
Itulah yang juga kita saksikan dalam sejarah kelam agama-agama. Kita sudah sering juga mengalami konflik berkepangangan atas nama agama. Konon, Perang Salib dianggap sebagai perang demi agama. Dengan begitu kita punya persepsi bahwa agama-agama memang tak bisa hidup rukun dan selalu akan bertikai. Yang orang juga sering lupa, perang tidak terjadi hanya antara dua agama berbeda, tapi juga dalam satu agama yang berbeda aliran. Konflik Katolik-Protenstan sudah banyak memakan korban. Benturan Sunni-Syiah juga tak sedikit memakan korban.
Karena itu, agar peristiwa-peristiwa tragis semacam itu tidak terjadi lagi di dunia modern, negara harus tetap netral dari ikatan semua agama. Sebuah negara harus dibangun atas dasar kesamaan nasib, tujuan, dan cita-cita yang hendak dicapai. Negara dibangun berdasarkan tanah yang dijejak, bukan agama yang dijunjung. Ikatan agama boleh saja diperhitungkan, tapi bukan satu-satunya ikatan yang akan menggantikan ikatan kebangsaan. Di dunia modern, kita tidak bisa menggunakan ikatan agama sebagai standar dalam bernegara, karena agama dalam suatu bangsa juga bermacam-macam. Tidak adil kalau kita hanya memilih satu ikatan primordial itu saja.
JIL: Apa standar kita dalam memeluk dan meyakini suatu agama?
Kebutuhan. Kita beragama sesuai dengan kebutuhan kita. Hal-hal yang bermanfaat kita ambil, yang merugikan perlu kita tinggalkan. Misalnya kita perlu mengambil maksud dan semangat dasar dari teks-teks suci agama, bukan bunyi harfiahnya. Kita harus menggali esensi dari agama yang kita yakini sesuai dengan kebutuhan hidup kita. Agama memang datang untuk kemaslahatan dan kebutuhan manusia, bukan sebaliknya. Agama misalnya sudah mengajarkan prinsip dasar keadilan. Namun versi keadilan yang diperkenalkan dalam pemikiran keagamaan, seperti di dalam fikih, berbeda-beda dari masa ke masa. Intinya, kita wajib adil terhadap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Tapi bagaimana adil itu diterapkan?
Sebelum Islam datang, perempuan dihargai tak lebih dari binatang dan barang dagangan. Mereka tidak hanya kehilangan hak sosial, hak hidup pun tidak. Islam lalu datang membawa kabar keadilan bagi perempuan. Mulailah diakui hak-hak sosial perempuan. Poligami, pada masa awal Islam bisa dianggap sebagai salah satu versi keadilan Islam terhadap perempuan, namun saat ini sudah tidak memadai. Karena itu, kita sudah tidak bisa menganggap poligami itu adil saat ini. Poligami tidak pernah mampu menjamin keadilan dalam relasi suami-isteri.
Bagaimana cara Anda dalam membaca teks-teks keagamaan?
Yang pertama perlu diketahui, setiap teks-teks keagamaan pasti punya tujuan-tujuan tertentu (maqâshid). Contohnya, ayat-ayat yang bicara tentang pentingnya prinsip urun-rembuk (syûrâ) dalam bermasyarakat. Namunayat itu tidak menjelaskan perincian mekanisme urun-rembuk yang dimaksud. Dulu, anggota masyarakat yang bisa ikut dalam forum urun-rembuk amatlah terbatas. Ada istilah ahlul hal wal `aqdi (dewan perwakilan) yang biasanya diambil dari para kepala suku. Dengan begitu, masyarakat awam, budak, dan perempuan, tidak berhak mengikuti urun-rembuk dan mengambil keputusan. Urun-rembuk atau musyawarah jenis inilah yang dikenal sejarah Islam awal.
Namun saat ini, kita dikenalkan dengan jenis-jenis lain dari forum urun-rembuk, berupa permusyawaratan rakyat yang tidak lagi dibatasi pada golongan tertentu. Prinsip ini dirumuskan oleh teori-teori demokrasi modern. Perwakilan dalam forum urun-rembuk juga sudah diperluas dalam cakupan semua warga bangsa (nation) bukan karena ikatan agama, dan suku. Ikatan berbangsa ini didasarkan pada prinsip kemaslahatan, persamaan nasib, dan persamaan tujuan dan cita-cita berbangsa. Problemnya, jenis majlis permusyawaratan seperti dalam sistem demokrasi saat ini, yang diwakili oleh simpul-simpul pengikat kebangsaan itu, tidak dikenal dalam sejarah Islam. Namun, kewajiban untuk bermusyawarah, bersatu dalam satu ikatan tertentu, jelas-jelas sudah ditekankan Islam. Karena itu, jika saat ini ada tuntutan agar masyarakat dunia kembali menggunakan ikatan agama sebagai pengikat hubungan sosial politik antar mereka, saya rasa dunia akan kembali tercabik-cabik.
JIL: Apa pandangan Anda tentang hubungan akal dan agama?
Tidak ada pertentangan antara akal dan agama. Namun, akal pada akhirnya menghukumi agama, memilah prinsip-prinsip yang tetap dan tidak tetap dalam agama, dan hal-hal sahih dan tidak sahih dalam agama. Kita tidak bisa mengenali kebenaran-kebenaran yang diwartakan agama kecuali dengan menggunakan akal. Akal juga akan menjadikan pemahaman kita terhadap agama berkembang dan bertambah canggih. Tanpa akal, agama tidak akan mampu menyapa manusia dalam setiap generasinya. Dengan akal pulalah, agama mampu beradaptasi dengan kehidupan manusia. Pemahaman generasi abad ke-7 Masehi terhadap teks-teks Islam yang turun waktu itu, mestinya berbeda dengan pemahaman generasi kini. Ada konteks yang berubah dan banyak hal yang belum ada pada abad silam sudah kita jumpai saat ini.
JIL: Bagaimana Anda melihat posisi seni, terutama sastra dalam Islam?
Sastra akan menyapa dimensi kemanusiaan yang tidak mampu disapa oleh agama. Namun, dimensi rasa dan khayali manusia, tak jarang pula dilarang oleh agama. Karena itu kita perlu tegaskan, agama bukanlah segalanya dalam hidup ini. Ia ada karena dimensi kemanusian kita membutuhkannya. Tapi itu tak berarti seluruh dimensi kemanusiaan akan senantiasa membutuhkan agama. Agama bukan segalanya dan tak bisa berbicara tentang seni. Agama juga gagap berbicara soal negara, perdagangan, dan olahraga. Namun begitu, agama selalu memiliki ruang tersendiri di dalam nurani manusia. Sastra juga demikian; ia selalu memiliki ruang tersendiri, bersifat otonom, dan tidak bisa dan selalu emoh dimasuki oleh otoritas agama.
JIL: Anda banyak menulis tentang sekulasisme. Di Indonesia ada fatwa yang mengharamkan sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Komentar Anda?
Sekularisme lahir di Eropa sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritarianisme agama yang disimbolkan Gereja. Kala itu, agama menjadi lembaga yang sangat otoriter, memonopoli kekuasaan dan kebenaran yang tanpa batas. Rakyat pun diperbudak atas nama agama oleh raja. Tapi itu tidak khas perilaku Gereja masa lampau. Seperti yang kita saksikan, para agamawan dalam Islam pun tak jarang berkoalisi dengan kekuasaan dan berusaha memonopoli kebenaran. Mereka mengeluarkan fatwa sesuai keinginan penguasa atau berdasarkan pandangan sempit mereka. Karena itu, sekularisme merupakan proyek perlawanan terhadap aliansi tidak suci antara kedua kekuasaan yang berpotensi otoriter tersebut.
Dalam Islam, sebetulnya tidak dikenal sistem kekuasaan yang terpusat antara kekuasaan agama dan kekuasaan dunia seperti yang pernah dialami Gereja Katolik. Doktrin Islam tidak pernah mengakui sistem kerahiban yang menghubungkan antara otoritas Tuhan dan hamba-Nya. Karena itu, sebenarnya watak kekuasaan Islam, sejak awal sudah berbentuk sangat sekular. Sistem sosial-politik dalam Islam juga sejak dulu berbentuk sekular. Sebagai muslim, kita akan sekular jika kita tidak menginginkan negara agama atau berhimpunnya kekuasaan agama dan negara (teokrasi). Saya bisa katakan, semangat sekularisme itu sudah terkandung dalam hadis Nabi: antum a’lam bi umûri dunyakum (kalian lebih tahu cara pengelolaan urusan dunia kalian).
JIL: Dalam model Prancis dan Turki, sekularisme sering dipahami sebagai semangat antiagama. Komentar Anda?
Anda beragam pengalaman negara-negara modern dalam mengelola hubungan agama dan negarat. Memang ada negara yang sangat antiagama karena punya sejarah pahit konflik antara agamawan dan rakyat. Contoh Turki menunjukkan itu, tatkala kalangan agamawan tetap keras kepala mendukung sultan—yang dianggap sebagai khalifah Islam—saat rakyat, tentara, dan kalangan intelektual, sudah tak menginginkan sultan berkuasa. Mereka meneriakkan negara sipil, sementara sultan dan agamawan ingin tetap mempertahankan negara agama. Maka lumrah jika terjadi ketegangan terus-menerus antara kalangan agamawan dan pendukung sekularisme di Turki.
Namun itu bukan satu-satunya model. Di negara lain, tidak terjadi ketegangan seperti itu, misalnya di era kemerdekaan Mesir antara 1923 dan 1952, setelah Revolusi 1919. Di era tersebut, Mesir sudah memiliki sistem yang demokratis dan liberal. Tahun 1925, Raja Fuad ingin tetap menjadi khalifah Islam setelah runtuhnya Khalifah Utsmani di Turki. Namun para politisi dan intelektual Mesir berhasil menggagalkan rencana Raja Fuad. Saat itulah buku Ali Abdul Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Islam dan Prinsip-Prinsip Bernegara, Red) terbit dan menegaskan perlunya pemisahan antara otoritas politik dan agama di Mesir. Pendapat Abdul Raziq ini didukung oleh kalangan intelektual Mesir, seperti Thaha Husein, Abbas Mahmud al-Aqqad, dan juga politisi dari parpol-parpol yang ada waktu itu.
Waktu itu, tak ada konflik fisik; yang ada hanya polemik pemikiran. Ada debat dan dialog yang bebas dan demokratis di masa itu, dan tidak ada yang angkat senjata atau melakukan kudeta. Karena itu, pertentangan antara agama dan politik dalam sekularisme ala Mesir, tidak sesengit di Turki. Dan perlu diketahui, kalangan Islam Politik seperti Ikhwanul Muslimin yang tak bosan-bosannya mengampanyekan negara agama, juga tidak terlalu populer di kalangan rakyat Mesir.
JIL: Kini kalangan pendukung Islam Politik mulai mengikuti menkanisme demokrasi dalam proses perebutan kekuasaan, seperti yang ditunjukkan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan Hamas di Palestina. Komentar Anda?
Mereka hanya memanfaatkan kesempatan berdemokrasi saja. Saya yakin, pada akhirnya mereka akan menghancurkan demokrasi itu sendiri. Mereka saat ini berpesta karena sistem politik mulai memperkenankan mereka untuk ikut pemilu. Pertanyaannya: apakah setelah memegang kekuasaan mereka akan membiarkan gerakan-gerakan Komunis atau yang lainnya ikut pemilu? Mereka masih punya pemahaman yang negatif tentang demokrasi. Bagi mereka, demokrasi adalah sistem buatan manusia, sementara satu-satunya sistem yang harus dipraktikkan adalah sistem Tuhan. Pada dasarnya, mereka menolak segala sistem pengaturan sosial politik yang berkembang di dunia modern. []
Komentar
Bukan Akal Yang Menghakimi Agama.
Tetapi Agama Menghakimi Akal.
Bukan Agama Yang Dihakimi Akal.
Tetapi Akal Yang Dihakimi Agama.
Pembuktiannya Hukum Dasar/Azas Hukum:
1. Semua Nabi/rasul diwajibkan Allah (Agama) untuk menyampaikan Risalah Tuhan/Allah sejak Adam sampai kiamat, sesuai Al Maidah (5) ayat 67 (tiap-tiap rasul), Al An Aam (6) ayat 124,125 (Allah sendiri menyesuaikan kepada janji-Nya), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (Nuh), 68,65,66 (Hud), 79,75 (Saleh), 93,88 (Syuaib), 144,109 (Musa), Al Ahzab (33) ayat 38,39,40 (Muhammad atau siapa saja yang hidup hari ini), Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28 (rasul yang dirido’i).
2. Yunus (10) ayat 100: Beriman (kepada Risalah Tuhan/Allah) itu izin Allah, dan manusia tidak mempergunakan akalya dimurkai/dihinakan Allah, jadi Akal mengikuti Agama, untuk menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
3. An Nisaa (4) ayat 150,151,152: Tiap-tiap umat beragama hanya menyampaikan salah satu nabi/rasul yang dilarang Allah, bahkan divonis “benar-benar kafir”, yang menyebabkan perselisihan, perpecahan persepsi agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 111,112,113,120,130,135,145, Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54.
4. Ali Imran (3) ayat 80: Perselisihan dan perpecahan disebabkan sifat pikiran/hati ARBABAN/BERHALA/KULTUS/MENUHANKAN nabi-nabi.
5. At Taubah (9) ayat 31: Perselisihan dan perpecahan disebabkan sifat pikiran/hati ARBABAN kepada PEMUKA-AGAMA selain Allah.
6. Al Hajj (22) ayat 31: Arbaban = musrik, menyimpang dari jalan lurus dan tidak sampai kepada tujuan Risalah Tuhan/Allah.
-Musrik bunuh dengan hujjah ilmu agama Risalah Tuhan/Allah sesuai At Taubah (9) ayat 5.
-Musrik najis sesuai At Taubah (9) ayat 28.
-Musrik perangi dengan hujjah ilmu agama Risalah Tuhan/Allah sesuai At Taubah (9) ayat 36.
-Musrik jangan dido’akan untuk tidak musrik dan sampai kepada Risalah Tuhan/Allah, sesuai At Taubah (9) ayat 113.
- Musrik tidak ada ampunnya untuk tidak musrik, dan sampai kepada Risalah Tuhan/Allah, sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.
7. Maka oleh karena itu, agar manusia tidak musrik, wajib menyampaikan Risalah Tuhan/Allah, sejak Adam sampai kiamat seperti para nabi/rasul, artinya Agama Yang Menghukumi Akal, bukan Akal Yang Menghukumi Agama
8. “Ulama” mengaku pewaris nabi/rasul, padahal selama hidupnya mereka tidak pernah menyampaikan Risalah Tuhan/Allah, seperti para nabi/rasul yang sebenarnya mengakibatkan agama yang satu sesuai An Nahl (16) ayat 93, yang tidak setuju disesatkan Allah dan yang setuju diberi-Nya petunjuk; akan tetapi “ulama” hanya menyampaikan salah seorang nabi/rasul yang dilarang.
Hai para “ulama” carilah wujud Risalah Tuhan/Allah siklus 10.000 tahunan itu, dimana nabi Muhammad saw. melukiskan Risalah Tuhan/Allah siklus 10.000 tahunan itu pada syiar-syiar Allah dalam manasik haji: tawaf keliling Kabah, sa’i antara Safa dan Marwa, wukuf di-Arafah, mabit Musdalifah dan jamarat Ula-Wusta-Aqaba, sesuai Al Baqarah (2) ayat 125,158,189,196,197, Al Hajj (22) ayat 26,27, Ali Imran (3) ayat 96,97, Al Maidah (5) ayat 97, atau membongkar rahasia Isro-Mikraj sesuai Al Isro (17) ayat 1, An Najm (53) ayat 1-18, yang sama dengan arti mendirikan Agama, mendirikan Shalat, mendirikan Taurat, Injil dan yang turun kemudian, sesuai Asysyuuraa (42) ayat 13, Al Baqarah (2) ayat 43, Al Maidah (5) ayat 66,68, bila ingin disebut beragama dan tidak ingin disebut Allah durhaka dan kafir.
Jadi bongkarlah rahasia manasik haji dan Isro-Mikraj dan Perintah Shalat yang sama dengan maksud Risalah Tuhan/Allah yang disampaikan oleh semua para nabi/rasul, baru itu namanya “ulama”, baru itu namanya manusia beragama yang mempunyai “Persepsi Tunggal Agama”, akibatnya menjapai perdamaian “medinah dan hudaibiyah” zamani sesuai Ali Imran (3) ayat 103, An Nashr (110) ayat 1,2,3, pada era globalisasi sesuai Al Isro (17) ayat 104, Al Kahfi (18) ayat 99, Al Qaari’ah (101) ayat 4, untuk kepentingan masyaratkan P.B.B. (United Nations Communities) sesuai Asysyuuraa (42) ayat 7 dan Al An Aam (6) ayat 92.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Sangat beralasan untuk mengatakan akal merupakan potensi primer untuk memahami dan tempat bagi agama untuk beradaptasi. Bahwa agama tanpa akal merupakan suasana yang sama sekali sunyi dari berkembangnya nilai-nilai etika dan peradaban manusia juga adalah hal yang bersemai dalam ranah kebudayaan Islam sejak manusia mengenal apa itu Islam.
Namun memproyeksikan agama sebagai sesuatu yang bertempat pada suatu kotak tanpa ada campur tangan terhadap hal lain di sekelilingnya adalah pernyataan yang agaknya perlu di tinjau ulang.
Walaupun tidak dapat dilatakan bahwa agama merupakan satu tiang tegak yang membentuk seluruh bangun peradaban manusia, dimana ia sebagai satu - satunya standar dasar bagi tertanamnya kebenaran di permukaan bumi, namun –khususnya dalam islam- agama mempunyai format yang memungkinkan ia berinteraksi dengan dimensi lain dari peradaban manusia.
Dengan seni, dengan formatnya yang khas, agama telah menjelma bukan saja sebagai dasar etika bagi tingkah polah seni, melainkan lebih jauh ia juga memberikan contoh dalam dirinya sendiri.
Keindahan, keserasian, kesinambungan, dan pala yang sangat berperasaan yang merupakan segi paling penting bagi terciptanya nuansa seni menjelma secara luar biasa dan dengan kapasitas yang tidak sedikit di pelataran dan seluruh dimensi agama. Dalam hal ini harus diakui bahwa agama menempatkan dirinya dalam satu posisi yang mengungkapkan romansa seninya tanpa factor yang oleh sebagian orang dipahami sebagai pengadilan tanpa kompromi.
Agaknya dalam hal inilah agama menempatkan dirinya sebagai pilar yang senantiasa menantang akal untuk menemukan romansa keindahannya.
——-
Sungguh akal manusia diciptakan dalam kondisi yang sangat terbatas. Walaupun ia belajar hingga strata sepuluh pun, tak akan mampu menggali hakikat hakikat agama dan Tuhan.
Apapun sistem atau pandangan hidup yang diciptakan oleh akal manusia adalah sangat kondisional dan temporary. Ia tak akan mampu memecahkan segala persoalan yang ada dan muncul di setiap masa.
Hanya agama (Islam) lah yang dapat dijadikan Pegangan hidup disetiap kondisi dan masa ....
Allahu Akbar ... (gak dimuat juga gak ape ape ....he he ... kasihan deh looo)
Assalamualaikum wr.wb.
Kalaulah semua orang-orang Mainstream Islam dan Ulama-Ulama Mereka (Ulama Uhum mentalis kufur seperti sebagian besar ulama-ulama semisal MUI , FPI , MMI ) itu mencoba membaca kembali kitab Suci mereka Al-Qur’an itu tentulah mereka tidak menuduh secara gegabah dengan macam-macam tuduhan dan melansir fitnah mereka terhadap Jamaah Ahmadiyah yang diindikasikan oleh mereka sebagi satu-satunya kelompok kafir dan berada diluar Islam. Pada hal dalam beberapa hadist secara jelas disebutkan bahwa hanya satu golongan saja yang yang betul-betul Islam, yaitu golongan “illa millatan wahidah”, yakni satu golongan yang menurut beliau Rasulullah SAW dikecualikan dari neraka diantara tujuh puluh tiga golongan yang diprediksi oleh beliau SAW akan menghuni neraka itu…. (Tirdmidzi).
Kenyataan pada zaman sekarang sangat sulit untuk diingkari bahwa indikasi satu golongan yang dikecualikan dari neraka diantara 73 golongan yang sekurang-kurangnya ada dalam Islam sekarang ini memang telah wujud ada dihadapan kita. Mereka para ulama-ulama itu juga telah sepakat memutuskan dengan fatwa mereka bahwa Jamaah Ahmadiyah adalah satu-satunya golongan yang kafir dan berada diluar Islam. .... Satu golongan yang dikecualikan diantara 73 golongan lain yang mengaku Islam dan umat Muhammad SAW telah dikafirkan oleh 72 golongan lainnya yang juga semuanya mengaku Islam dan umat Muhammad SAW.
“Ulama-Ulama Uhum itu (MUI dan kroni-kroninya ) yang sukanya mengkafir-kafirkan orang-orang Islam itu laksana orang-orang yang bopeng dengan bercak-bercak hitam diwajah mereka , namun memaksa orang-orang lain untuk bercermin meneliti wajah mereka.Mereka tidak tahu adanya kebopengan diwajah mereka karena mereka tidak pernah mengaca diri melihat wajah mereka sendiri sebelum menyodorkan cermin itu kepada orang lain.. Mereka seakan-akan sedang berbugil diri beramai-ramai diatas panggung namun masih saja mencoba berteriak menganjurkan orang-orang yang telah berbusana dihadapan mereka agar memasang kembali pakaian mereka…Ada istilah yang begitu populer ditengah masyarakat kita dimana memang ada orang maling malah berteriak kemalingan ... “maling teriak maling”....Anda tidak percaya? Berikut di ketengahkan tiga contoh saja diantara sekian contoh yang bisa di ketengahkan di milis ini sebagai bukti ketidakbenaran apa yang mereka fitnahkan itu…
Pertama, tentang Kitab Suci Al-Qur’an dan Kitab Suci Tadzkirah yang mereka hebohkan itu. Mereka mengatakan bahwa Kitab Suci orang-orang Ahmadiyah adalah Tadzkirah dan Tadzkirah itu berbeda dengan Al-Qur’an kitab Suci mereka dan orang-orang Islam yang mayoritas itu. Mereka juga memaksakan kehendak mereka agar orang Ahmadiyah mau mengakui bahwa Tadzkirah itu benar-benar ada dan benar-benar Kitab Suci mereka , dan Tadzkirah yang menurut mereka itu adalah merupakan Kitab Suci yang berbeda dengan Al-Qur’an yang mereka punyai.
Sebenarnya cara mereka memaksakan kehendak itu saja sudah berlawanan dengan Al-Quran yang menurut mereka adalah satu-satunya Kitab Suci dan panduan hidup mereka. Nah anda-anda semua , kebodohan yang demikian itulah yang telah mereka pertontonkan dihadapan kita-kita semua.Apakah mereka tidak pernah membaca dan mengetahui bahwa yang berkitab sucikan Tadzkirah itu bukannya orang-orang Ahmadiyah saja tetapi mereka juga berkitab sucikan Tadzkirah itu. Sayangnya mereka tidak pernah membaca dan memahami Kitab Suci Tadzkirah mereka itu. Mereka hanya pandai membaca Tadzkirah itu meniru-niru beo, tetapi tidak pernah memahami apa yang terkandung dalam Tadzkirah itu sehingga Tadzkirah yang mereka lagukan itu ,syair dan melodinya tidak sama dengan Tadzkirah yang mereka baca itu. Layaknya keledai yang membawa setumpuk buku-buku dipunggungnya namun ia tidak mampu membacanya…
Ulama-2 itu laksana keledai-2 yang membawa kitab dipunggungnya sebagaimana yang dikatakan oleh Tadzkirah itu. Anda jengkel dan penasaran inilah buktinya sebenarnya bahwa al-Qur’an itu sesungguhnya identik dengan Tadzkirah sebagai mana kutipan ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini… “Kalla innahu Tazkirah…Famansya ‘a zakarah… Waman yazkuruna illa an yasya ‘a llahu , huwa ahlul taqwaa, wa ahlul maghfirah…” yang artinya sbb: ” Sekali-kali tidak demikian halnya . Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Tazkirah ( peringatan).... Maka barangsiapa menghendaki niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertaqwa kepadaNya dan berhak memberikan pengampunan….(QS. Al-Muddatstir 74:54, 55, dan 56). dikutip dari Al-Qur’an dan Terjemahnya dari Departemen Agama RI) Penerbit CV Gema Risalah Press, Bandung… 1993). Dengan demikian yang dikatakan Tadzkirah itu sendiri adalah Al-Qur’an , sayangnya mereka tidak memahami dan mengetahuinya…
Kedua, MUI mengeluar fatwa mereka yang mengatakan bahwa orang-orang Ahmadiyah adalah kafir, murtad , sesat dan menyesatkan dan mereka meminta agar Pemerintah melarang keberadaan Jamaah Ahmadiyah dan memohon agar Jamaah Ahmadikyah membubarkan dirinyanya . Nyanyian senada juga didendangkan oleh oleh Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Masoed Abidin bersama-sama dengan Irfanda Abidin dari FUI Sumatera Barat , dan beberapa anggota Kelompok Paganagari secara koor bersama mengulang-ulang lantunan lagu dalam ratapan dan himbauan Menteri Agama Maftuh Basuni agar orang-orang Ahmadiyah jangan melakukan ritual-ritual Islam dan agar mereka mencari atau membuat agama sendiri selain Islam karena Jamaah Ahmadiyah telah menodai Islam satu-satunya agama yang diredai Allah itu….
Siapa sesungguhnya yang telah menodai Islam? Kalaulah mereka membaca dan memahami ajaran Islam yang mereka anut tentulah himbauan mereka terhadap orang Ahmadi agar mereka mencari dan membuat agama baru selain Islam tidak akan mereka lakukan. Apakah mereka tidak membaca Al-Quran yang menyerukan agar orang-orang masuk kedalam Islam secara kaffah bukan mengeluarkan orang-orang telah Islam kepada kekafiran dan kesesatan sebagaimana yang mereka perbuat ini. Mereka tidak mengajak orang-orang kepada Islam bahkan mengeluarkannya bahkan menyuruh orang-orang yang telah Islam agar mencari agama selain Islam… ! Apakah mereka sengaja mencoba melawan Al-Quran yang mengatakan bahwa ” barang siapa yang mencari agama selain Islam tidak diterima agama itu dari padanya dan diakhirat dalam keadaan merugi….. Mereka mengecam orang yang murtad dari Islam tetapi mereka melakukan pemurtadan terhadap orang yang telah Islam.. Aneh memang nyata… Memang orang-orang bodoh sering bertindah aneh yang mereka tidak menyadari keanehan yang mereka perbuat…Orang-orang Ahmadi mereka suruh mencari agama selain Islam pada hal mereka mengetahui bahwa “barang siapa yang mencari agama selain Islam tidak diterima agama itu dari padanya”...(QS. 3:80)
Nah ini yang ketiga, mereka mengatakan orang-orang Ahmadiyah tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dalam pengertian mutlak yakni tidak mempercayai bahwa Islam agama yang juga Terakhir dan sempurna. Mari kita lihat siapa yang tidak mempercayai Muhammad SAW sebagai Nabi Terakhir secara mutlak dan tidak mempercayai Islam agama yang Terakhir dan sempurna itu. Berikut keterangan kami bahwa apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar dan bagaikan bumerang dari Papua itu , yang tidak mengenai alamat dan sasarannya dan malah kembali mengenai dan menohok mereka sendiri.
Mereka mengatakan Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dalam pengertian mutlak. Betapa indahnya pengakuan mereka itu bila dilihat dari kacamata Islam. Namun sayangnya yang demikian hanyalah ucapan mereka dibibir saja. Betapa tidak bisa diterima akal sehat disatu pihak mereka meyakini Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dilain pihak mereka meyakini juga Nabi Isa yang datang sebelum Muhammad SAW itu “masih hidup hingga masa kini” dan “akan turun dari atas langit diakhir zaman sebagai juga Nabi Terakkhir seperti halnya juga Nabi Muhammad SAW .
Ketika dikatakan kepada mereka bahwa kepercayaan mereka Nabi Isa hidup dilangit dan turun dari langit diakhir zaman itu akan mengarahkan mereka kepada keyakinan bahwa Nabi Isa yang menjadi Nabi Terakhir , mereka berdalih berdalih bersilat lidah dengan mempermainkan makna dari perkataan Nabi Terakhir itu. Kata mereka ......“bahwa Muhammmad SAW adalah Nabi yang terakhir datangnya namun duluan matinya , sementara Nabi Isa yang Nabi datang duluan dari Muhammad SAW namun adalah Nabi paling belakangan matinya . Siapa yang terakhir sebenarnya? Orang-orang yang berakal pasti menjawab bahwa Nabi Yang Terakhir adalah Nabi yang paling akhir pergi atau wafat… anak-anak kecil saja logikanya pasti menjawabnya demikian… Atau kedua-duanya sama-sama Nabi Terakhir? Semakin tidak mungkinlah yang demikian akan terjadi. Kalau seandainya begitu keadaannya maka kemungkinan yang lain adalah bahwa kedua-duanya bukanlah Nabi Terakhir ... Jadi siapa Nabi Yang Terakhir dengan pengertian mutlak sebagaimana yang mereka katakan itu? Mereka akan kebingungan bila menjawabnya. Suatu kontradiksi dalam keimanan mereka yang menurut mereka hanya bisa diselesaikan dengan menganjurkan kekerasan sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap Jamaah Ahmadiyah.
Dengan demikian semakin jelaslah bagi kita bahwa merekalah yang tidak mempercayai sepenuhnya bahwa Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir, namun sayangnya mereka tidak mengerti dan memahami apa yang ada dalam hati mereka sendiri. Mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat… Kaburan ma’tan an taqulu ma latafaluun.. Amat besar murka Allah kepada orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak mengamalkan apa yang dikataknnya itu…. (QS. 61:3).
Yang ini masih dari pengakuan mereka , “Islam adalah agama sempurna dan tidak ada tambahan apa-apa lagi dan telah disempurnakan oleh Muhammad SAW lewat Syahadatain ” Asyahadualla ila ha ilallah, wasyahadu anna Muhamaddarasululullah.”.... Tidak ada syahadat yang lain dari itu dan tidak ada penggantian dan tambahan lain-lainnya… Yang dikatakan mereka itu benar adanya tidak bantahan dari Jamaah Ahmadiyah dan semua orang-orang yang mengaku Islam.Namun apakah MUI dan ulama-ulama itu mengamalkan apa yang mereka katakan dan sepakati itu ?
Apa yang sering kita dengar dari mulut-mulut mereka ketika mereka berkhotbah atau berdiri gagah didepan mimbar-2 masjid mengkhotbahi orang-orang Islam? Dari mulut mereka “sangat sering “keluar ucapan syahadat yang ditambah-tambahi pada ujungnya dengan perkataan ” La Nabiya Bakda…”. Sebagian besar orang-orang Islam yang memang bodoh ini meniru-niru syahadatain mereka itu, dengan menambah-nambahi perkataan “la nabiya bakda” diujung syahadat mereka…
Ucapan syahadatain yang begini jelas sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW, juga sahabat-sahabat beliau dan sama sekali tidak pernah kita dengar dalam lafaz Adzan, Iqamat dan Attahiyat dalam sholat… Apakah menurut mereka Rasulullah SAW belum menyempurnakan syahadatain yang merupakan gerbang pertama dalam Rukun Islam itu maka mereka perlu menambah-nambahinya dengan lafaz “la nabiya bakda itu”...?
Itu saja dulu ada puluhan tindakan dan ucapan mereka yang bila kita cermati jelas-jelas mencoba melawan Islam… Wahai “Ulama-Ulama Uhum” kenapa kalian hanya berkata tetapi tidak mengamalkan apa yang kalian katakan? Tidak kah kalian mengetahui bahwa dalam kitab Tadzkirah itu ada tertulis” Kabura ma’tan indallahu an taqulu mala tafaluun..? Amat besar murka Allah kepada mereka (orang-orang yang mengaku beriman) yang hanya berkata tetapi tidak mengamalkan apa yang dikatakannya..(QS. 61:3)
pada dasarnya saya sangat setuju dengan pendapat Ahmad Abdul Mu’thi Hijaz. menurut saya pemikiran beliau sangat terbuka daripada kaumnya. mungkin yang perlu kita ketahui adalah bahwa Tuhan tidak menciptakan agama pada saat Ia menciptakan alam semesta. mungkin Tuhan sudah tahu bila Ia menciptakan agama maka akan terjadi banyak pertentangan diantara umat manusia. lagipula jika Tuhan itu adalah Satu, mengapa di dunia ini banyak sekali agama dan merasa agamanya selalu yang paling benar. mungkin umat manusia masih perlu banyak belajar dari Tuhan bukan dari agama itu sendiri karena Tuhan lebih besar daripada agama.
Komentar Masuk (5)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)