Partai Politik Islam: Memakan Teman Sendiri
Oleh Saidiman
Lebih jauh Burhanuddin menjelaskan bahwa realitas politik yang menunjukkan semakin banyaknya partai yang gangdrung menggunakan jargon-jargon islami sebetulnya adalah bukti bahwa partai-partai nasionalis justru sedang berusaha melebarkan sayap menggerogoti basis pemilih partai-partai Islam. Alih-alih partai Islam yang mampu mengalihkan dukungan partai nasionalis, suara di basis-basis massa mereka sendiri yang semakin terancam oleh para elit partai nasionalis yang semakin “islamis.”
Reportase Diskusi Bulanan JIL
“Kanibalisasi Partai-partai Politik Islam”
Teater Utan Kayu, 30 Oktober 2008
Fenomena partai-partai Islam memicu perbincangan menarik belakangan ini menyusul kemenangan koalisi yang melibatkan partai Islam di beberapa pemilihan kepala daerah (Pilkada). Media memberitakan kemenangan-kemenangan itu dengan perspektif seolah partai Islam memang sedang menanjak dan akan menjadi kekuatan dominan pada pemilihan umum 2009. Seiring dengan beberapa kemenangan yang terekspose oleh media itu, beberapa lembaga survei merilis temuan terakhir yang menunjukkan bahwa Partai Keadilan Sejahtera terus mengalami peningkatan suara: dari 1,4 persen pada Pemilu 1999 (masih bernama PK) menjadi 7,3 persen pada Pemilu 2004 dan survei-survei itu menunjukkan bahwa PKS saat ini bisa mencapai 9-11 persen suara. DPP PKS bahkan menargetkan 20 persen suara pada Pemilu 2009.
Wacana yang berkembang dalam diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL), 30 Oktober 2008, tampak mengusung kesimpulan yang berbeda dengan kesimpulan kebanyakan media mengenai bangkitnya kekuatan partai politik Islam. Dua narasumber, Dodi Ambardi (Lembaga Survei Indonesia) dan Burhanuddin Muhtadi (Charta Politika), sepakat untuk hati-hati melihat fenomena “kebangkitan” ini. Sementara Zulkiflimansyah (Partai Keadilan Sejahtera) lebih banyak berbicara dari sudut pandang politisi partai islamis.
Di pihak yang lain, ada sejumlah kalangan, terutama politisi, yang menilai bahwa dikotomi antara kekuatan politik Islam dan nasionalis sudah kehilangan relevansi. Ini terkait dengan tidak jelasnya materi kampanye masing-masing partai. Partai yang dikenal nasionalis dengan mudah mengumbar jargon-jargon Islam, sementara partai yang dikenal berideologi islamis malah mengusung semangat nasionalisme. Dalam sebuah talkshow televisi yang diadakan oleh harian Republika, Yusuf Kalla menegaskan “Tidak ada lagi pertentangan antara Islam dan nasionalis.” Taufik Kiemas, Muhaimin Iskandar, Hidayat Nurwahid, Yusril Ihza Mahendra, Wiranto, dan Republika sendiri mengeluarkan pendapat yang senada dengan Yusuf Kalla.
Politik Aliran
Kesimpulan para tokoh di atas dibantah oleh Dodi Ambardi dan Burhanuddin. Dodi mengemukakan beberapa fakta. Pada level perdebatan institusional di lembaga legislatif, beberapa kasus yang paling sensitif menunjukkan pembelahan ideologis itu masih relevan. Perdebatan mengenai Rancangan Undang-undang Sisdiknas, Pornografi, dan Piagam Jakarja menunjukkan pembelahan ini berjalan secara konsisten. Agenda-agenda Islam yang termuat dalam sejumlah Rancangan Undang-undang itu ditolak secara konsisten oleh partai-partai nasionalis (PDIP, PDS, Golkar, dan seterusnya). Sementara partai-partai islamis hampir selalu menjadi pendukung terdepan agenda-agenda ideologis tersebut.
Pada level pemilih, Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan bahwa sebetulnya masyarakat bawah mampu membedakan garis batas ideologi dalam partai-partai politik. Survei LSI, 8-20 September 2008, menunjukkan kecenderungan pemilih mengidentifikasi PKS, PKB, PPP, PAN, PNUI dan PBB sebagai partai yang islamis. Sementara Golkar, PDIP, Demokrat, dan Gerindra adalah partai nasionalis atau pancasilais.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa para pemilih sesungguhnya menolak klaim para petinggi partainya sendiri. Ada kesenjangan antara opini publik yang berkembang di kalangan elit partai dan realitas politik yang ada.
Burhanuddin memberi data yang lebih spesifik mengenai realitas politik PKS. Belakangan ini PKS begitu sibuk membangun citra nasionalis bagi partainya. Pada sejumlah materi kampanye terlihat bahwa PKS mencoba meraih simpati pemilih nasionalis dengan mengusung ide-ide mengenai toleransi dan nasionalisme. Tokoh-tokoh nasionalis semacam Soekarno bahkan tampil dalam materi-materi kampanye tersebut. Para elit PKS juga sibuk melakukan sosialisasi dalam rangka mengubah citra PKS yang Islamis menjadi nasionalis. Tetapi menurut data kuantitatif yang dikemukakan oleh Burhanuddin, mayoritas aksi kader-kader PKS dalam bentuk demonstrasi selalu berhubungan dengan agenda-agenda islamis. Pemilih PKS juga adalah pemilih yang paling kuat mendukung agenda-agenda islamis, seperti pemberlakuan hukum potong tangan, menolak presiden perempuan, dan seterusnya. Apa yang dikemukakan oleh para elit PKS ternyata tidak memiliki korelasi dengan aspirasi dasar pemilih PKS itu sendiri.
Menanggapi isu ini, Zulkiflimansyah memberi semacam klarifikasi. Dia berpendapat bahwa PKS adalah partai yang terbuka, menerima siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Yang paling penting dari kiprah PKS sekarang ini adalah sebagai wadah bagi ummat Islam untuk melakukan reformasi diri dalam hal penyaluran aspirasi politik. “Berikan waktu kepada ummat Islam untuk melakukan reformasi diri,” ungkap Zulkifli. Bagi dia, apa yang sekarang dijalani oleh PKS adalah semacam upaya untuk menjadikan Islam sebagai instrumen perubahan sosial. Ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Recep Tayyip Erdogan dan Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) di Turki. Mereka adalah generasi Islam yang tercerahkan. Mereka akan membuat politik Islam menjadi lebih rasional dan terbuka.
Partai Politik Islam
Pada level elektabilitas, PKS memang menunjukkan tren menanjak. Tetapi, menurut Dodi, jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa partai politik Islam secara umum memang sedang mendapat momentum untuk terus menanjak. Realitas politik menunjukkan bahwa mayoritas pemilih tetap pada pendirian untuk memilih partai-partai nasionalis. Survei nasional LSI, April 2008, menunjukan bahwa 60 persen pemilih tetap memilih partai non-Islam, sementara hanya 16,6 persen yang memilih partai Islam, 24,4 persen sisanya belum menentukan pilihan. Angka ini cukup stabil sejak 2005.
Jika kemudian PKS tampak mendulang suara semakin besar, maka yang patut dipertanyakan adalah dari partai mana suara PKS itu datang. Dalam pelbagai survei ditemukan bahwa seiring dengan meningkatnya suara PKS saat itu pula suara partai-partai seideologi juga mengalami penurunan. Dua partai yang paling menderita atas peningkatan suara PKS ini adalah PAN dan PBB. Itu artinya, PKS telah masuk ke dalam praktik “ta’kula lahma akhihi” (memakan teman sendiri).
Pola ini disadari betul oleh para elit PKS. Itulah yang membuat mereka tampak bersiteguh untuk tampil lebih nasionalis. Menurut Dodi, kekuatan PKS yang islamis sesungguhnya tidak sebanyak yang dibayangkan. 7,3 persen pada Pemilu 2004 tidak bisa serta merta berisi pemilih-pemilih Islam. Materi kampanye yang diusung oleh PKS saat itu justru adalah tentang pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. Sementara pada 1999, di mana PKS hanya memperoleh suara 1,4 persen suara, PK begitu kental dengan agenda-agenda politik Islam. Yang membuat PKS mendulang suara berkali lipat justru adalah kampanye di luar agenda islamis.
Tetapi, menurut Burhanuddin, PKS tetap harus berhati-hati mengambil isu-isu nasionalis dalam materi kampanyenya. Realitas pemilih PKS yang sangat kental dengan nuansa islamis akan membatasi ruang gerak PKS itu sendiri. Tantangan utama PKS dalam melebarkan sayap audiens politik kepada pemilih nasionalis akan mendapat tantangan dari kalangan internal sendiri. Sangat mungkin PKS akan ditinggalkan oleh pemilih ideologisnya jika ia terus bermain-main dengan isu-isu nasionalis, sesuatu yang tidak mendapat tempat di hati para pemilih PKS itu sendiri.
Lebih jauh Burhanuddin menjelaskan bahwa realitas politik yang menunjukkan semakin banyaknya partai yang gangdrung menggunakan jargon-jargon islami sebetulnya adalah bukti bahwa partai-partai nasionalis justru sedang berusaha melebarkan sayap menggerogoti basis pemilih partai-partai Islam. Alih-alih partai Islam yang mampu mengalihkan dukungan partai nasionalis, suara di basis-basis massa mereka sendiri yang semakin terancam oleh para elit partai nasionalis yang semakin “islamis.”
Komentar
PETUALANG BADUT POLITIK DI NUSANTARA :
Islam aliran kekuasaan empayar Umayah & Abasiyah telah meracuni otak umat Islam menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad Rasullullah SAW. Islam adalah agama yg mengajarkan budipekerti luhur. Islam tidak mengajarkan ambisi politik menguasai negara. Nusantara ini negara bhinekatunggalika, bukan negara Islam. Berpolitiklah sesuai ajaran politik ketataprajaan (kenegarawan) sejati, jangan Islam dijadikan kedok & kendaraan politik yg pada akhirnya mencampurbaurkan keimanan agama dan yg lebih parah lagi bersikaplaku partai politik islam adalah segalanya, nauzubilahiminzalik MENJADI KAFIR MENUHANKAN PARTAI POLITIK. Kembalilah menjadi agamawan Islam umat Nabi Muhammad SAW yg sebenarnya Islam. Serahkanlah tugas negara kepada yg ahlinya, ingat sabda Rasullullah: “Serahkanlah setiap tugas pekerjaan kepada yg ahlinya, jika tidak maka tunggu saja akan berakhir dengan kehancuran”.
Bangsa Nusantara ini sudah hampir 1000 tahun secara kepribadian dijajah Islam empayar aliran Umayah & Abasiyah. Bangsa Nusantara sudah lelah mengalah dibodohi dan teraniaya miskin. Ketidak ahlian Islam empayar aliran Umayah-Abasiyah & pemimpinnya (seperti Haji Muhammad Suharto dkk) telah membuat bangsa Nusantara ini terjajah kapitalisme secara sistemik hingga hari ini. Ditambah lagi masuknya dlm otoritas negara seperti para badut2 politik, artis, pelawak, bintang film yg sama sekali tdk mengerti ketataprajaan Nusantara negara kepulauan terbesar yg bhinekatunggalika. Lengkap sudah ketidak becusan dan penderitaan Negara NKRI dan bangsa Nusantara menjadi kancah panggung badut2 politik yg tdk tau diri yg hanya mengandalkan ketenaran media publik fasilitas investasi Yahudi.
BANGSA INI MEMBUTUHKAN PROFESIONALISME KEAHLIAN PEMIMPIN KETATAPRAJAAN, BUKAN PETUALANG BADUT2 POLITIK YG HANYA MENJADI IMPERIALIS POLITIK BAGI BANGSANYA SENDIRI. INGATLAH FIRMAN TUHAN DIBAWAH INI:
“……Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang -orang yang tidak mempergunakan akalnya.”( QS Yunus [10] ayat 100)
sempit - sempit banget yaaa pemikiran islamnya, islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan, bercermin aja ada doa nya apalagi BERPOLITIK, politik itu bersih namun para pemainnya aja yang mengotorinya. Bagi yang tidak setuju dengan PKS atau partai islam lainnya berdiri, banyak-banyak baca buku islam yang kahffah jangan haya pakai akal aja, ngak ngerti agama ngomong agama.
islam itu universal, jadi segala aspek kehidupan harus terdapat nilai islam di dalamnya, hanya saja terlalu dangkal sekaligus penghinaan yang keji jika agama dijadikan kambing hitam dan topeng pembenaran dalam memperoleh kekuasaan politis yang berawal dari egoisme pribadi untuk berkuasa.
Terus terang Islam terang terus
Umat Islam jangan takut bicara politik, karena Islam sangat flexible membicarakan masalah hubungan manusia. Kalau masyarakat menuntut peran Islam dalam menyelesaikan masalah manusia di jaman modern ini, ya politik salah satu permasalahan itu. Kalau ada upaya menarik Islam ke wilayah ibadah ritual dan memisahkan diri dari aplikasinya.. ini bentuk standard ganda umat manusia. Kalau ada masalah, agama disalahin, kalau disuruh aplikasikan agama, malah bingung menghindar. partai politik Islam? ada beberapa di Indonesia.. (yang dikritik kok cuma PKS ya?..he..he ada apa hayo?). Bahwa sekarang partai nasionalis mulai “menjual” agama juga? Itu bagus…Artinya orang mulai sadar bahwa agama merupakan “branding” dalam dunia politik di Indonesia. INI PRESTASI BESAR PARTAI POLITIK ISLAM dalam membalikkan atmosfir perpolitikan di Indonesia. COOL!!
Hayo Umat Islam ..open your eyes! Bersatulah, saling memuji dan mencintai.Perbedaan pandangan tentang partai jangan membuat kalian berpecah belah.
saat agama menjadi kendaraan politik, maka nialai dari ajaran agama tersebut akan dipolitisasi juga demi kepentingan golongan, sementara agama adalah nilai yang sangat universal dalan perannya menyelamatkan manusia sebagai pribadi yang lebih utuh dan bermatabat.
Komentar Masuk (55)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)