Editorial,
16/10/2006

Perempuan dan Kue Donat

Oleh Nong Darol Mahmada

Di antara percikan petuahnya itu, ia menganjurkan perempuan-perempuan muslimah memakai jilbab. Dengan penuh percaya diri, dia mengumpamakan, bahkan menyamakan perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik rapat-rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli.

Di sebuah televisi swasta ketika sedang sahur, saya mendengar Ustadz Jefri al-Buchori, da’i yang sekarang naik daun, sedang memberi petuah-petuah keagamaan.  Di antara percikan petuahnya itu, ia menganjurkan perempuan-perempuan muslimah memakai jilbab. Dengan penuh percaya diri, dia mengumpamakan, bahkan menyamakan perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik rapat-rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli. Menurut teman-teman saya, Ustad Uje, begitu panggilan akrabnya, kerap sekali menyinggung soal ini di setiap ceramahnya.

Sebagai perempuan, tentu saya terusik dengan perumpamaan seperti itu. Bagaimana mungkin perempuan disamakan, meski sekadar umpama, dengan kue donat. Itu namanya kiyas dengan sesuatu yang salah (qiyâs maal fâriq) dalam ilmu logika atau mantiq. Perempuan dan kue donat sudah jelas berbeda. Kue donat hanyalah sekedar barang mati, yang diracik manusia, kemudian dibeli dan dimakan. Sementara perempuan adalah manusia yang mempunyai akal budi. Bahkan menurut Ibn ’Arabi, seorang sufi yang filsuf, perempuan merupakan manifestasi Tuhan yang paling sempurna.

Dan perlu diketahui, kue donat paling enak dan mahal, yang sekarang lagi trend pun—sampai-sampai orang harus bersabar ngantri untuk membeli—sama sekali tak berbungkus plastik. Jadi, alih-alih ingin memromosikan keunggulan perempuan yang berjilbab, dia malah keliru mengambil perumpamaan.

Sementara di sebuah acara talkshow di televisi yang sama tentang perda syariat beberapa bulan lalu, saya juga mendapatkan penjelasan yang menggelikan dari seorang walikota yang rajin mengeluarkan perda tentang pewajiban jilbab di daerahnya. Menurutnya, paling tidak ada tiga alasan pewajiban itu.

Pertama, karena daerah itu bersuhu dingin. Dengan jilbab, perempuan-perempuan di sana tak lagi kedinginan dan masuk angin. Kedua, sejak diturunkanya perda jilbab, menurutnya, tidak terdengar lagi kasus penjambretan. Perempuan-perempuan pun tidak perlu lagi memakai perhiasan. Ketiga, pelajar putri yang selama ini tak mampu memiliki perhiasan, tidak perlu malu lagi masuk sekolah.

Bagi saya, baik perumpamaan yang dibuat Ustad Uje maupun alasan walikota di atas, amatlah dibuat-buat. Alasan yang dibut-buat tentang baiknya pemakaian jilbab itu kini menjadi trend di kalangan kita, bahkan harus diatur dalam peraturan daerah. Saya bukannya anti terhadap jilbab, tapi saya anti terhadap pemaksaan pemakaian jilbab. Karena secara hukum syar’i, mengutip guru saya, M. Quraish Shihab, masih ikhtilaf (ragam pendapat).

Bila kita kembali ke sejarah tentang anjuran pemakaian jilbab dalam Islam, konteksnya sangat terang benderang. Jilbab berasal dari kata jalaba, yang artinya menghimpun dan membawa. Pada era Nabi, yang dimaksud jilbab adalahpakaian yang besar dan longgar, menutupi seluruh tubuh dari kepala hingga kaki. Dan pada masa itu, tak hanya perempuan yang memakai pakaian itu tapi juga laki-laki. Sampai sekarang kita masih melihat hal seperti itu di tanah-tanah Arab. Pakaian seperti ini berfungsi sebagai pelindung dari panas dan debu yang pekat di padang pasir.

Dalam surat al-Ahzab ayat 59, anjuran jilbab juga sangat berkait-erat dengan ”alasan rasionalnya” (al-’illah)—bukan alasan buatan seperti walikota di atas. Alasan pertama, ”supaya mereka mudah dikenal” (dzâlika adnâ an yu’rafna) dan kedua, ”agar mereka tidak diganggu” (fa lâ yu’dzayna). Dahulu, jilbab juga berfungsi untuk menandai perempuan merdeka dan budak. Perempuan budak memang bisa diperlakukan sewenang-wenang sesuai kehendak yang punyanya. Namun untuk konteks sekarang, situasi itu sudah tak relevan lagi. Bahkan dalam Islam, sistem perbudakan sudah dihapus.

Alasan untuk menghindari pelecehan terhadap perempuan, saya rasa bukan dengan membungkus perempuan rapat-rapat seperti kue donat yang dibungkus plastik, tapi dengan cara yang lebih manusiawi dengan memberdayakan akal budi. []

16/10/2006 | Editorial, | #

Komentar

Komentar Masuk (72)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim

Sewaktu saya masih sekolah dulu (tahun 80-an s.d awal 90-an), guru2 & teman sy tdk ada yg memakai JILBAB padahal mereka mayoritas muslim. Tapi mereka rajin sholat, sopan, baik dan menghormati sesamanya. Tdk pernah terdengar ada pelecehan/tindakan kurang ajar terutama sama wanita, padahal mereka tdk memakai JILBAB. Tapi mereka berpakaian sopan.
Tapi lihat akhir2 ini, JILBAB menjamur dimana2 dgn berbagai mode, ada yg bilang ini ciri seorang muslimah. Benarkah? Berarti wanita (guru & teman sy dulu BUKAN MUSLIMAH, krn mereka tdk pakai JILBAB !!!
Wanita Indonesia seperti LATAH dgn mode, contohnya Latah memakai JILBAB. Padahal ini jelas bukan budaya Indonesia, tp ini adalah budaya negara2 Timur Tengah yg mempunyai alasan khusus menggunakan jilbab/burqa yg antara lain disebabkan kondisi cuaca panas & berdebu.
Kalo memang ini perintah dr Allah lewat Al-Quran, kenapa bukan dari dulu saja wanita Indonesia menggunakan JILBAB? Knp baru dimulai sktr awal 90-an? Apakah wanita2 Indonesia dulu spt Tjut Nyak Dien, RA Kartini, R Dewi Sartika, dan banyak lagi wanita dulu spt orangtua kita yg mengalami hidup tahun 70-an kebawah bukan muslimah?
Mereka tdk menggunakan JILBAB, tapi KERUDUNG yg merupakan ciri khas budaya Indonesia yg menandakan mereka seorang MUSLIMAH. Apakah JILBAB itu adalah lambang kesucian bagi wanita islam?
menurut saya, itu hanya sebuah busana dan juga budaya serta simbolisasi dari agama Islam di Timur Tengah.
Yg saya heran, kenapa rambut di kepala wanita disebut AURAT ?? Yg tdk boleh dilihat kaum pria. Apa hubungannya rambut di kepala dpt merangsang kaum pria? Bukankah wanita Indonesia dulu tidak menggunakan JILBAB merasa dilecehkan pria jika mereka memiliki rambut yg rapih dan sopan?
Apakah wanita selalu menjadi objek penderita (sex & aurat) bagi pria Indonesia? Kl memang ya, berarti sdh dr dulu banyak berita wanita Indonesia menjadi korban pelecehan pria karena tdk menggunakan JILBAB.
Sadarilah…yg penting wanita itu berpakaian sopan, rapih dan yg terpenting sifat dan kelakuannya dlm kehidupan sehari2 mencerminkan bhw dia itu wanita muslimah/beragama. Bukan LATAH dan mengikuti mode apa yg bukan ciri khas budaya Indonesia. Banggalah dgn ke-Islamanmu sebagai Warga Negara Indonesia.

Terimakasih.

Posted by Siti Khadijah  on  06/18  at  10:03 PM

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim

Sewaktu sy masih sekolah dulu (tahun 80-an s.d awal 90-an), guru2 & teman sy tdk ada yg memakai JILBAB padahal mereka mayoritas muslim. Tapi mereka rajin sholat, sopan, baik dan menghormati sesamanya. Tdk pernah terdengar ada pelecehan/tindakan kurang ajar terutama sama wanita, padahal mereka tdk memakai JILBAB. Tapi mereka berpakaian sopan.
Tapi lihat akhir2 ini, JILBAB menjamur dimana2 dgn berbagai mode, ada yg bilang ini ciri seorang muslimah. Benarkah? Berarti wanita (guru & teman sy dulu BUKAN MUSLIMAH, krn mereka tdk pakai JILBAB !!!
Wanita Indonesia seperti LATAH dgn mode, contohnya Latah memakai JILBAB. Padahal ini jelas bukan budaya Indonesia, tp ini adalah budaya negara2 Timur Tengah yg mempunyai alasan khusus menggunakan jilbab/burqa yg antara lain disebabkan kondisi cuaca panas & berdebu.
Kalo memang ini perintah dr Allah lewat Al-Quran, kenapa bukan dari dulu saja wanita Indonesia menggunakan JILBAB? Knp baru dimulai sktr awal 90-an? Apakah wanita2 Indonesia dulu spt Tjut Nyak Dien, RA Kartini, R Dewi Sartika, dan banyak lagi wanita dulu spt orangtua kita yg mengalami hidup tahun 70-an kebawah bukan muslimah?
Mereka tdk menggunakan JILBAB, tapi KERUDUNG yg merupakan ciri khas budaya Indonesia yg menandakan mereka seorang MUSLIMAH. Apakah JILBAB itu adalah lambang kesucian bagi wanita islam?
menurut saya, itu hanya sebuah busana dan juga budaya serta simbolisasi dari agama Islam di Timur Tengah.
Yg saya heran, kenapa rambut di kepala wanita disebut AURAT ?? Yg tdk boleh dilihat kaum pria. Apa hubungannya rambut di kepala dpt merangsang kaum pria? Bukankah wanita Indonesia dulu tidak menggunakan JILBAB merasa dilecehkan pria jika mereka memiliki rambut yg rapih dan sopan?
Apakah wanita selalu menjadi objek penderita (sex & aurat) bagi pria Indonesia? Kl memang ya, berarti sdh dr dulu banyak berita wanita Indonesia menjadi korban pelecehan pria karena tdk menggunakan JILBAB.
Sadarilah…yg penting wanita itu berpakaian sopan, rapih dan yg terpenting sifat dan kelakuannya dlm kehidupan sehari2 mencerminkan bhw dia itu wanita muslimah/beragama. Bukan LATAH dan mengikuti mode apa yg bukan ciri khas budaya Indonesia. Banggalah dgn ke-Islamanmu sebagai Warga Negara Indonesia.

Terimakasih.

Posted by Siti Khadijah  on  06/18  at  09:47 PM

kritik kok kritik analoginya,dimana-mana analogi itu ya tidak pernah ada yang sama, itu adalah perumpamaan. kalau minta sama ya bukan analogi itu namanya. Nong Darol tadi bilang orang-orang yang menganjurkan jilbab itu seenaknya sendiri, sekarang logikanya kalau anda tidak setuju dengan anjuran memakai jilbab berarti anda telah mengatakan Allah dan rasulnya seenaknya sendiri. padahal Allah dan rasulnya juga menganjurkan untuk memakai jilbab. sebuah orang yang mengaku Islam tapi anda telah menghancurkan Islam. kalau mau liberal, jangan pakai label Islam, karena Islam bukan Liberal. Islam mempunyai aturan Allah, bukan bebas seenaknya. logika orang liberal yang kacau

Posted by Ahar  on  11/15  at  01:55 PM

klo ini dihubungkan dengan Islam yang terbaik berpalinglah kepada Alqur’an dan Alhadits karena urusan agama tidak boleh asal nafsunya sendiri n klo yang merasa benar tanpa tuntunan 2 diatas yaaa semoga aja 4jji memberikan jalan yang terbaik untuk kalian semua.sudah banyak bid’ah yang merajalela skarang ini so BE CAREFUL

Posted by justhuman  on  02/25  at  11:59 AM

mba,manusia adalah ciptaan Allah,jadi ya terserah Allah yang ngatur gimana cara kita berhijab.

Posted by wiwin  on  02/13  at  04:59 PM