Pernyataan Keprihatinan Komunitas Lintas-Iman
Akhir-akhir ini, di tengah proses demokratisasi yang kita upayakan bersama sebagai jalan menuju Indonesia yang lebih baik, kami dari komunitas lintas-iman menyatakan sangat prihatin melihat gejala semakin maraknya sikap dan perilaku intoleran, khususnya dalam relasi antar-umat beragama di tanah air.
Akhir-akhir ini, di tengah proses demokratisasi yang kita upayakan bersama sebagai jalan menuju Indonesia yang lebih baik, kami dari komunitas lintas-iman menyatakan sangat prihatin melihat gejala semakin maraknya sikap dan perilaku intoleran, khususnya dalam relasi antar-umat beragama di tanah air. Gejala tersebut dapat dilihat dari upaya-upaya sekelompok orang tertentu yang mengatas-namakan tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk menolak kehadiran gereja di wilayah Bekasi dan sekitarnya, bahkan menghentikan dan melarang ibadah kaum Kristiani pada sejumlah gereja.
Kami sangat prihatin oleh karena tindakan tersebut dilakukan secara terbuka dengan memasang spanduk-spanduk di tempat umum yang telah meresahkan dan menimbulkan rasa tidak aman dalam masyarakat. Begitu juga kami sangat prihatin oleh karena sikap aparat yang membiarkan saja praktik-praktik semacam itu dilakukan.
Menurut kami, tindakan-tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan atas alasan apapun juga. Adalah hak asasi setiap warga yang dijamin oleh UUD’45 untuk memeluk dan melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinan dan hati nurani masing-masing, sesuai pasal 28E(1-2) dan pasal 29(2) UUD’45. Menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan serta menjunjung tinggi hak-hak asasi untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing, merupakan ajaran setiap agama dan mencerminkan keadaban masyarakat.
Apalagi kami sangat prihatin melihat tindakan-tindakan sepihak tersebut dilakukan dengan mengatas-namakan tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi panutan. Tradisi Islam selama berabad-abad, sejak jaman Nabi Muhammad s.a.w. sendiri, telah memberikan pandangan dan contoh konkret bagi sikap toleran, inklusif, serta penuh penghargaan terhadap ajaran Nabi-nabi sebelumnya, termasuk Nabi Isa a.s. Bukankah Alqur’an dan sunnah Nabi telah berulang kali menegaskan bahwa perbedaan merupakan ni’mat Allah SWT, Pencipta dan Pemelihara Kehidupan? Dalam Alqur’an (Surah al-Hujurat: 13) ditegaskan bahwa sesungguhnya Tuhan telah menciptakan umat manusia beruku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (ta’aruf) satu dengan lainnya, sehingga tercipta persaudaraan universal. Bukankah perilaku Nabi Muhammad s.a.w. sendiri yang penuh toleransi kepada para Ahlul Kitab merupakan contoh nyata sikap dan praktik keberagamaan yang inklusif, penuh penghargaan dan toleran kepada yang lain, yang menjadikan Islam agama rahmat bagi seluruh umat manusia?
Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa tindakan sekelompok orang yang, dengan mengatas-namakan kaum Muslim dan para alim ulama, telah melarang dan bahkan menghentikan kegiatan beribadah kaum Kristiani merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan oleh ajaran Islam sendiri maupun oleh norma-norma keadaban publik dalam suatu negara yang modern dan demokratis.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, menjelang hari raya Natal yang merupakan hari peringatan kelahiran Nabi Isa a.s., kami dari komunitas lintas-iman menyerukan:
- Kepada seluruh aparat yang berwenang: Anda merupakan pelayan masyarakat yang diberi tugas dan wewenang untuk menjaga ketertiban dan keamanan agar kehidupan bersama dapat berjalan baik. Karena itu, jangan ragu-ragu mengambil tindakan tegas terhadap upaya sekelompok orang yang telah meresahkan masyarakat, bahkan telah mengganggu kebebasan beragama yang sudah dijamin oleh UUD’45.
- Kepada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono: Sebagai kepala pemerintahan yang dipilih secara langsung oleh seluruh masyarakat, Anda diberi amanah untuk memelihara iklim toleransi antar-umat beragama yang sangat penting bagi tercapainya tujuan Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, sikap tegas dan langkah-langkah konkret Anda sebagai kepala pemerintahan sangat dinanti-nantikan.
- Kepada kelompok-kelompok yang telah mengganggu hak kebebasan beragama dengan mengatas-namakan agama tertentu: Hentikan tindakan sepihak Anda yang telah menciptakan saling-curiga dan rasa terancam dari kelompok lain, sebab tindakan Anda bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama Islam, dan hanya akan memperburuk citra Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.
- Kepada seluruh tokoh dan pimpinan agama: Kami mendorong Anda untuk mengambil langkah-langkah bijak yang dapat mengatasi sentimen kecurigaan antar-umat beragama. Di pundak Anda terletak beban berat untuk mendidik dan mengembangkan sikap inklusif dan toleran umat beragama.
- Kepada seluruh umat Kristiani: Dengan tulus kami mengucapkan Selamat Hari Natal. Marilah bersama-sama kita menjadikan momen perayaan keagamaan seperti Hari Natal ini sebagai momen rekonsiliasi sosial, dan mengembangkan persaudaraan antar-umat beragama, agar kita dapat mencapai tujuan kita semua: Indonesia yang lebih baik dan demokratis.
Semoga Tuhan, Pencipta dan Pemelihara Kehidupan, menaungi dan memberi rahmat bagi upaya tulus kita semua.
Jakarta, 24 Desember 2004
Atas nama Komunitas Lintas-Iman
JIL – MADIA – Freedom Institute – ICRP – ICIP – LAKPESDAM – P3M –
MATAKIN – Wahid Institute – Tifa – ISAI – Crisis Center – PGI – JPS
Komentar
asskum.wr.wb. seandainya kita memakai kaca mata objektif-kondisional kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. kita cendetung berpikir analogis kontras-perbandingan sehingga kadang tidak menyentuh secara mendalam konteks permasalahan. Dalam memandang intern atau lintas agama kita masih dibaluti pikiran seperti itu, ditambah sikap absolutisme, eksklusif, fanatis. atau kita memang dijejali sikap-sikap pikiran itu selama dibangku sekolah. kita tidak dididik untuk terbuka tapi mengisi, seandainya kita dididik terbuka alangkah malunya kita ini karena kedunguan serta kebodohan kita, tapi sayang itu tidak terjadi karena kita merasa ‘isi’ kepala kita sudah penuh, lalu yang timbul adalah sikap ego-sentris, menang, benar sendiri. sebelum berdemokrasi, dialog intra/antar agama dalam bentuk apapun kita mesti melihat menerawang jauh ke dalam kapasitas sikap pikiran kita, apakah sudah terbuka, tidak apologi (cenderung defensif saat kalah pendapat),semuanya perlu dilakukan untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu tegaknya keadilan, sebuah maksud Tuhan yang agung.sukron wasskum. wr.wb
ass.wr.wb
udah kawan mendingan kita kerjakan apa yang kita bisa dengan sbaik baiknya g usah urus orang lain.ingat disekitar kita udah rusak semua kita benahi dulu diri kta n sekitar kita g usah ngomong tlalu tinggi ok2
saya juga menantang rekan2 di JIL yg luar biasa ini utk ngomong sm orang2 swiss, perancis, termasuk juga yahudi. bilangin : atas nama demokrasi, anda tdk bs main larang2 smbarangn. jangan cuma koar2 di Indonesia. gimana? jgn dr 1 sisi sj. kritik yg non islam jg. katany objektif. buktikan lah.
=Ada yang masih mau peduli hendak berbuat kebajikan itu sudah salah satu modal yang bagus,salah satunya mau bergotong royong mbuat tempat ibadah, misal :kalau kita mau membuat penilaian segi positip =Berniat,=guyup bergotong royong =itu semuua kalau di jabarkan bentu sosial yang mendasar.itu pun rasanya berat dalam pelaksanan masalah ijin,kesepakatan para penguasa /tokoh/sesepuh dll,yang intinya ada unsur monopoli /dipolitisir.sehingga realisasinya lama terkadang hasilnya “BATAL” padahal yang konon kabarnya keyakinan itu bebas dan syah syah saja.
JIL ini memang luar biasa… da’wah untuk mengajak umat non muslim menuju satu tuhan yaitu Allah swt.. teruskan berjuang untuk tuhan yang satu yaitu Allah ta’ala.. ajak mereka untuk mengatakan kalimat Allah…
Komentar Masuk (10)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)