Pertanyaan tentang Hati Nurani Saatnya Membaca Karya Immanuel Kant
Oleh Natalia Laskowska*
Antara pertanyaan-pertanyaan tentang agama kadang-kadang muncul refleksi yang menimbulkan ketidak nyamaan, kegelisahan, dan juga rasa malu karena pikiran kita menuju ke arah yang kita ingin hindari.Apakah iman kita menjadi lebih kuat ketika kita berusaha untuk mendiamkan pikiran-pikiran yang sesungguhnya tak dikehendaki? Mungkin. Akan tetapi saya ingin bagi dengan Anda salah satu pertanyaan seperti itu. Barangkali Anda juga pernah menemuinya.
Antara pertanyaan-pertanyaan tentang agama kadang-kadang muncul refleksi yang menimbulkan ketidak nyamaan, kegelisahan, dan juga rasa malu karena pikiran kita menuju ke arah yang kita ingin hindari.Apakah iman kita menjadi lebih kuat ketika kita berusaha untuk mendiamkan pikiran-pikiran yang sesungguhnya tak dikehendaki? Mungkin. Akan tetapi saya ingin bagi dengan Anda salah satu pertanyaan seperti itu. Barangkali Anda juga pernah menemuinya.
Dalam pengalaman saya pertanyaan ini selalu datang pada saat saya mendengar orang yang mewakili institusi agama sedang mengumumkan ajaran orang lain sesat. Di sini saya tidak menunjuk kepada agama tertentu, dan tokoh yang disebutkan tadi bisa siapa saja, sang alim, pendeta, pastor, romo, memang afiliasinya tidak penting.
Pertanyaan ini mungkin tidak sepenuhnya logis, namun tetap ada semacam keperluan rohaniah untuk bertanya: apakah para tokoh agama (yang tahu siapa sesat dan siapa tidak), bila menghadapi Tuhan akan tanpa ragu-ragu mengakui bahwa segala ajaran mereka benar-benar berdasarkan wahyu? Saya lega kalau tidak.
Di bab keempat Agama dalam Batas-batas Akal Murni (ditulis pada tahun 1793) di bagian tentang soal hati nurani dalam masalah iman, Immanuel Kant memberi contoh seorang inkuisitor yang menghukum orang yang disebut sebagai ahli bidaah. Si inkuisitor percaya dengan teguh dan sampai sudi mati syahid, bahwa keyakinannya adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak. Kepercayaan si yang disebut ahli bidaah sedikit berbeda dengan kebenaran si inkuisitor, namun selain itu yang disebut ahli bidaah adalah warga negara yang baik budi dan bijaksana.
Yang saya faham dari bacaan karya Kant, hati nurani adalah kekuatan akal untuk menilai keputusannya sendiri. Kekuatan itu kekuatan moral. Akal sendiri bisa menilai apakah keputusannya adil atau tidak adil. Dan hati nurani merupakan kekuatannya untuk menilai jika akal sungguh dengan segala perhatian membuat keputusannya.
Prinsip nurani yang paling mendasar – dalam setiap tindakan yang saya ingin lakukan, saya harus yakin tindakan itu adil. Apakah sang inkuisitor bila memvonis mati seseorang dengan keyakinan yang dianggap salah (meski dia warga negara yang baik dan bijaksana), telah melakukannya sesuai dengan hati nurani? Apakah dia benar-benar tahu keputusannya adil? Apakah dia menyadari bahwa dia bisa salah? Kalau dia menyadari itu, apakah mungkin dia sengaja melakukan ketidakadilan?
Memang, seperti sudah disebutkan tadi, sang inkuisitor dengan teguh percaya bahwa keyakinannya adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak. Dia juga percaya, tentu dengan teguh dan dengan segala kemutlakan, bahwa dia diberikan hak untuk memberantas kepercayaan yang sesat serta penyokong bidaah itu. Namun apakah keyakinannya sungguh begitu luar biasa kuat sampai dia mampu memutuskan hayat manusia akan diambil atas nama kebenaran yang mutlak itu?
Membunuh orang karena keyakinan jelaslah tidak adil. Kecuali, kata Kant, jika sang hakim sendiri dengan cara yang agak ajaib diberikan perintah membunuh langsung dari Tuhan. Apakah sang inkuisitor bisa yakin dan dengan seluruh hatinya percaya perintah membunuh adalah kata murni dari Tuhan?
Bagaimana perasaan dan pendapat Anda? Tolong bagi fikirannya. Saya amatlah menghargai waktu yang Anda sudi luangkan untuk memberi komentar.[]
* Penulis adalah mahasiswi PhD Department of Oriental Studies, University of Warsaw, Polandia.
Komentar
Tentanng adanya kehidupan setelah kematian… pertanyaannya: apa hidup? apa itu mati? sekarang ini kita dalam kondisi hidup atau mati?
Jika agama “HARUS” sejalan dengan akal kemungkinan yang akan terjadi adalah “akal-akalan terhadap agama”. Dalam agama “akal” yang mana yang selayaknya di jalanan???
Yang selalu diperbincangkan yang dicari adalah “AGAMA”...maunya agama yang benar lagi.. Cobalah sesaat berpikir untuk tidak mencari agama..walau agama yang benar sekalipun. Selamanya kita takkan pernah menmukan “agama yang benar”, karena semua mengakunya benar…..???
Agama memang sering membuat tidak nyaman, membuat pertentangan baik di dalam diri maupun di luar diri kita.
Jika kita mau melihat mana yang benar dan salah, kita tidak akan tau sebenenarnya kebenaran yang hakiki, karena yang tahu kebenaran yang hakiki hanyalah Tuhan. Namun kita dapat melihat pada hati nurani. Hati nurani dan akal sehat mengarah pada hal yang baik dan benar, jika tidak maka koreksilah diri kita sendiri, kita tidak mungkin menginginkan hal yang buruk. Dengan adanya kebingungan, ketidakgelisahan dan sebagainya, tentang agama, politik, atau apapun, lihatlah ke jauh ke dalam diri kita, hati nurani, apa yang sebenarnya kita inginkan.
Ass.wr.wb.
Menurut pendapat saya, memahami ayat suci (misal Al Qur’an)memerlukan akal dan hati yang bersih (bebas dari prasangka dan ketakaburan diri, memiliki nalar yang sehat), bahwa ayat2 tadi adalah narasi tertulis dari wahyu Allah SWT yang disampaikan ke Rasulullah melalui proses rohaniah dan ditangkap Rasulullah serta disampaikan kembali oleh Rasulullah dg bahasa /narasi Arab Al Qur’an) , rendah hati (bahwa sang pembacanya sadar bahwa dia adalah mahluk yg lebih rendah derajat spiritual dan intelektualnya dari Rasulullah)),ikhlas (sadar dan siap menerima hal2 yang di luar jangkauan kapasitas akal dan hatinya)...Kalau beberapa syarat tadi terpenuhi, kemungkinan besar tdk akan ada klaim2 kebenaran yg disampaikan dg dibumbui nafsu amarah, sombong, merasa paling benar (yg lain salah)...karena dia akan sadar sekali bahwa wahyu Allah SWT (dalam teks Al Qur’an) dan penafsiran serta pemahaman wahyu adalah 2 hal yang berbeda…Bukankah menganggap pemahaman/penafsiran sendiri sebagai kebenaran mutlak dari Allah SWT adalah sama dg sikap takabur dan merasa menjadi Tuhan?Apalagi kalau disampaikan dg gaya menghakimi? Rasulullah Muhammad SAW sendir mengajarkan agar penyampaian teks Al Quran harus dilakukan dengan penuh hikmah (keilmuan) dan dg cara yang arief? Dalam hal ini penggunaan akal dan nurani yang terrawat adalah pra-syaratnya… Wallahu’alam.
agama mensyaratkan kedewasaan,keWARASan akal bagi orang yg mau memeluknya,,kedewasaan adl tanggung jawab,kewarasan adl kemampuan memahami teks,membaca yg tersirat,abstraksi,memaknai…bagian terbesar dari pemeluk agama adl anak2 yg tua,,org2 yg dewasa secara kalender,namun jiwa dan nalarnya tdk pernah berkembang jd dewasa…agama spt suluh,bagi org dewasa yg bijak bs dipakai utk menerangi-menghangatkan-mematangkan,bagi org jahat agama bs jd pembakar-perusak-peneror,bagi anak2 agama adl hal yg membahayakan-menakutkan sama seperti sikap bagian terbesar pemeluk2 agama yg saya sebut tadi…TUHAN bagi mereka adl SANG PENGHUKUM ,pdhl jelas DIA adl AR-RAHMAN WA AR RAHIM…lbh jauh,bagi org dewasa TUHAN adl MAKNA DARI KEBERADAAN KITA/SAYA…
Komentar Masuk (16)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)