Run Away World
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Kecepatan, kecepatan, kecepatan. Itulah kata kunci yang menjadi ciri kehidupan kita sekarang. Seorang sosiolog Inggris terkemuka saat ini, Anthony Giddens, menyebut dunia kita saat ini sebagai “run away world” atau dunia yang mberot, lari cepat, tunggang langgang.
CATATAN pendek ini saya tulis kemarin pagi di rumah yang terletak di pinggir kota Jakarta. Tulisan ini tiba di tangan redaksi tak berapa lama setelah saya menyelesaikannya. Saya tak perlu amplop untuk membungkus artikel ini. Saya tak perlu pergi ke kantor pos untuk mengirim ke redaksi koran ini. Saya tak perlu membeli prangko. Yang saya lakukan hanyalah sederhana, sesederhana “kun, fayakun”. Usai menulis, saya hanya perlu membuka internet, memasukkan artikel ini dalam attachment atau sisipan, memencet tikus (mouse), “klik”, dan dalam waktu yang kurang dari dua menit artikel itu sudah sampai di meja redaksi. Begitu cepat, begitu sederhana.
Saya tetap di rumah, tak perlu bergeser seinci pun dari sana.
Saat isteri saya pergi haji tahun ini, sebuah peristiwa sederhana terjadi dan amat mencengangkan buat saya. Hingga sekarang, peristiwa itu masih menjadi bahan pikiran dan kekaguman saya. Peristiwa itu sendiri boleh jadi terlalu sederhana dan lewat dari perhatian banyak orang. Selama setengah bulan di Tanah Suci, isteri saya selalu mengirim layanan pesan pendek (SMS) setiap hari, mengabarkan perkembangan perjalanan ibadah dari detik ke detik. Isteri saya mirip dengan seorang wartawan yang melaporkan peristiwa penting dari menit ke menit ke meja redaksi. Saya yang berada di rumah merasa seperti berada di antara jutaan hujjaj lain di tanah suci. Peristiwa di tempat lain yang amat jauh bisa ’dipindahkan’ ke tempat lain dengan cepat, dengan sederhana, dan, ini yang penting, murah. Harga mengirim pesan dari tanah suci ke Indonesia berkisar antara Rp 500 hingga Rp 1000.
Kita baru saja menyelesaikan pemilu presiden yang hasil akhirnya bisa diketahui dengan cepat melalui metode quick count. Tetapi, sebelum pemilu itu, sebetulnya ada pemilu lain yang tak kalah menariknya. Selama berbulan-bulan, pemirsa televisi kita mengikuti suatu “pemilihan” atau referendum populer untuk memilih penyangi terbaik di negeri ini melalui dua acara yang sangat populer, AFI (Akademi Fantasi Indosiar), Indonesian Idol, dan KDI (Kontes Dangdut TPI). Cara mereka memberikan suara pun sangat unik: dengan mengirim SMS. Dalam waktu yang teramat cepat, suara mereka terekam dan mempengaruhi nasib kontestan setiap minggu.
Saya membayangkan, suatu ketika, tidaklah mustahil, dengan perkembangan tekonologi telekomunikasi yang kian canggih, kita bisa memilih seorang presiden melalui tombol telepon seluler. Kita tak perlu datang ke bilik suara. Kita tak butuh petugas PPS. Kita tak butuh saksi yang menunggui kotak suara berjam-jam. Kita tinggal pencet tombol pagi hari, dan siang hari presiden terpilih sudah kita ketahui. Kampanye juga tak perlu memakai biaya yang mahal. Cukup mengirimkan informasi ke kotak email para konstituen, tentang platform kandidat, visinya, programnya, dan lain-lain. Ini sangat mungkin terjadi saat semua penduduk Indonesia sudah memiliki komputer pribadi, jaringan telepon, dan alamat email. Kita tak tahu, kapan hal itu terjadi. Saya hanya berandai-andai. Andaian itu bukan sesuatu yang jauh. Suatu ketika sangat mungkin terjadi.
Kecepatan, kecepatan, kecepatan. Itulah kata kunci yang menjadi ciri kehidupan kita sekarang. Seorang sosiolog Inggris terkemuka saat ini, Anthony Giddens, menyebut dunia kita saat ini sebagai “run away world” atau dunia yang mberot, lari cepat, tunggang langgang.
Ada sejumlah hal yang patut dipikirkan tentang dunia yang bergerak cepat semacam ini. Pertama, betapa hebatnya kemampuan manusia untuk mencapai kemajuan-kemajuan yang membawa kemudahan bagi kehidupan mereka. Fakta ini perlu digaris bawahi untuk menjawab sinisme kaum agama (terutama yang fundamentalis) yang biasanya memandang rendah potensi akal manusia. Mereka selalu mengatakan bahwa akal ada batasnya. Benar, akal ada batasnya, tetapi kita tidak tahu di mana batas itu, sehingga akhirnya kita tak salah jika mengatakan: kemampuan akal manusia tak berbatas.
Kedua, di manakah sumbangan umat Islam dalam perkembangan teknologi yang kian cepat ini. Islam dikenal sebagai agama yang pro-pengetahuan. Tetapi, lihatlah betapa terlambatnya perkembangan dunia sains dan teknologi di dunia Islam saat ini. Siapakah sarjana Islam modern yang pernah menerima hadiah Nobel di biang sains setelah Profesor Abdussalam dari Pakistan (kebetulan pengikut sekte Ahmadiyah, bukan sekte besar Sunni atau Syiah). Tantangan bagi dunia Islam adalah memajukan pendidikan seluas-luasnya dan setinggi-tingginya, sebab hanya dengan cara itulah dunia Islam bisa “melawan” Barat (jika benar “Barat” harus dilawan; bagi saya, Barat lebih tepat dianggap sebagai teman setara untuk belajar).
Ketiga, kecepatan semacam itu tentu akan berdampak luas dalam struktur sosial dan pola hidup masyarakat modern. Dampak itu ada yang positif, tentu pula ada yang negatif. Nilai dan norma masyarakat tentu akan cepat berubah: ada yang berubah semakin baik, ada yang semakin jelek. Di sini satu hal layal dikemukakan. Nabi, konon pernah bersabda, bahwa Tuhan akan mengutus seorang pembaharu pada pembukaan abad. Kelahiran seorang pembaharu sosial, menurut hadis itu, mengikuti siklus seratus tahunan. Hadis itu relevan dalam konteks masyarakat pra-modern yang tingkat kecepatan perubahannya masih lamban sekali. Dalam abad internet, email, dan SMS, sudah tentu siklus pembaharuan masyarakat tidak bisa mengikuti langgam yang lamban semacam itu. Umat Islam membutuhkan pembaharu-pembaharu dalam semua bidang setiap tahun, bahkan bulan dan minggu. Bukan setiap seratus tahun. (Ulil Abshar-Abdalla)
Komentar
Mengapa kita tak punya Taji? kemanakah kita? sejauh manakah kepedulian pemimpin kita untuk memperhatikan pendidikan dinegeri ini?
——-
Menarik, membaca tulisan-tulisannya kang Ulil ini. Membuat saya merasa seperti anak kecil yang diperlihatkan pelangi yang dibentuk dari cahaya mentari yang dibiaskan prisma. Waaaaaah…Saya hanya melongo, menganga alias calangap.
Tapi, ada beberapa hal yang mengganjal, yang menyisakan beberapa tanya, betul-betul tanda tanya untuk beberapa pernyataan kang Ulil:
Fakta ini perlu digaris bawahi untuk menjawab sinisme kaum agama (terutama yang fundamentalis) yang biasanya memandang rendah potensi akal manusia…
Betulkah kaum agama biasanya memandang rendah potensi akal? Seinget saya di pengajian, di masjid, saya selalu diajarkan dua hadist yang maksudnya kurang lebih: agama adalah akal, tiada agama untuk orang yang tidak berakal & tuntutlah ilmu hingga kenegeri cina. Jika memang demikian ada kaum agama yang memandang rendah akal, kamu agama yang mana? Kang Ulil menulis dalam kurung terutama yang fundamentalis. Wow! Saya jadi bertanya kaum yang fundamentalis itu yang bagaimana? Apakah Kang Ulil faham, bukan hanya tau, tentang kaum fundamentalis? Seinget saya yang agak pelupa ini kaum fundamentalis adalah kaum agama yang menginginkan kembalinya islam kepada nilai-nilai dasarnya. Dan karena dasar-dasar islam itu diambil dari qur’an dan hadist maka kembali kepada dua hadist yang saya sebutkan tadi.
Jika, pernyataan kang Ulil ini didasarkan pada kenyataannya yang Kang Ulil lihat, Kang Ulil melihatnya dimana?Atau pertanyaannya menjadi berubah: Kang Ulil sudah melanglang kedunia Islam bagian mana saja sehingga bisa menghasilkan pernyataan tersebut? Jika pernyataan itu diambil dari kenyataan di Indonesia, akan menjadi sangat tidak relevan sebab saya kira semua orang sudah tahu bagaimana Islam di Indonesia (kasarnya saya ingin mengatakan:Indonesia hanya sedikit yang benar-benar mengamalkan keislamannya alias islam KTP, jika mengamalkan juga penuh “kotoran”:klenik, musyrik, sisa-sisa kepercayaan de-el-el).
Jika kang ulil mengatakan terutama kaum fundamentalis islam di Indonesia, pertanyaan saya menjadi kaum fundamentalis yang mana? Berapa banyak sih kaum fundamentalis di Indonesia? Bisakah sample yang kang Ulil amati mewakili pandangan umum seluruh kaum fundamentalis Islam Indonesia?
Kedua, tentang pernyataan Kang Ulil:
...di manakah sumbangan umat Islam dalam perkembangan teknologi yang kian cepat ini. Islam dikenal sebagai agama yang pro-pengetahuan. Tetapi, lihatlah betapa terlambatnya perkembangan dunia sains dan teknologi di dunia Islam saat ini..
Kalau untuk pernyataan ini saya kira sebaiknya kang Ulil riset ulang dech, bukan apa apa saya hanya khawatir Kang ulil menjadi seperti anak kecil yang siang hari melototin matahari karena terpesona oleh terangnya, melototin hingga buta dan tak bisa mengamati banyaknya bintang lain diangkasa yang kenyataannya banyak yang lebih besar dan lebih terang dari matahari ( matahari juga bintang kan? satu bintang:aljabar dari islam kan?).
Saya mengakui dan sangat percaya pada kenyataan bahwa saat ini iptek ada ditangan barat. Tapi saya percaya pada pergiliran takdir. Bahwa dahulu Islam menjadi “matahari” iptek dunia, sampai kemudian beralih kebarat, InsyaAllah kedepan taqdir itu akan dipergilirkan kepada kita. Saya bisa optimis karena saya telah melihat rekan-rekan ( termasuk kang ulil
) yang sangat konsen pada iptek plus imtaq yang “wah, ruar biasa…”
OK kang Ulil? ![]()
Dunia indonesia sekarang sudah sangat berbeda denagn apa yang kita rasakan ketika masa pemerintahan suharto, perbedaan itu sangat kentara dalam perkembangan teknologi, sehingga saat seakan-akan sebagai abad yang luar biasa secara teknologi dari mulai telivisi, HP, INternet dll sebagainya yang semuanya canggih dan yang pasti hal itu akan bertambah canggih lagi pada tahuan yang akan datang. Cuman yang menjadi maslah kadang bagi kita umat islam, sudahkah kita siap untuk berubah dengan tanpa meninggalkan etika budaya timur kit, kiranya hal itu yang perlu kita garis bawahi, agar teknologi tersebut dapat bermakna positif, itu satu , yang kedua sejauh mana peranan umat islam dalam andilnnya ke dunia teknologi bagimana? umat islam sekarang seperti orang kampung yang serba gumunan benarkah demikian dan pada kenyataannya kita hanya sebagi pengkonsumsi saja, bahkan tak pernah menemukan temuan teknologi baru, untuk saat ini kiranyA Kita juga ikut menikmati apa yangmereka temukan, namun bagaimana mungkin kita akan seperti itu terus, sedang kiat juga punya akal yang sama dengan mereka mampu berinovasi dan menemukan alat-alat baru sedangkita apa yang sudah kita peran dlm hal ini. saudara ulil albab al abada, apa yang anda tulis sebenar sebuah kenyataan obyetif yang seharusnya kita sikapi dan atasi bersama-sama sebagi umat islam, kalau mungkin banyak orang -orang kita yang saat in banyak yang bertentangan dengan barat , namun dalam masalah teknologi kita seakan masih berkiblat dengan barat, saya berfikir secra akliayah saya bahwa kita harus lebih banyak belajar dari barat untuk yang satu ini. lihatlah kesekitar kita betapa banyak alat alat atau produk produk yang di import dari luar, hal itu menunjukkan bahwa kiat saaat ini masih ketinggalan jauh oleh mreka. Oleh hal ini umat islam harus mengkader generasi dalam hal ini , saya yakin dengan pengkaderisasi denagn baik itu akan memunculkan habie-habie baru dalam perkembangan TI kita , dengan cara mengirimkan mereka belajar dibarat dan negara negra yangmaju dalam biadang teknologi, wal hasil manfaatnya akan kembali kepada kita semua khhususnya uamt islam itusendiri. untuk menggapai hal itu umat haruslah lebih berfikir logis dan rasional sehingga umat islam tampak akan lebih dewasa dalam memegang peran sebagai komunitas yang kearah perdamaian. hal ini jelas akan sesui deng islam itu sendiri yang bermakna “damai” . oleh karean itu , kedepan islam akan menyerukan “perdamaian” melalui tehnologi dan diharapkan menjadi pioner dalam teknologi muthakir.
atas perhatian anda dan sempatnya anda membaca ini saya ucapkan terima kasih, saya yakin anda orang sibuk , tapi tolong baca dong….:
pengirim M. Nafi’udin A Mahasiswa pasca sarjan UNY
Eksistensi seorang mujtahid yang di ilustrasikan oleh hadits bahwa keberadaannya siklus 100 tahun mengindikasikan bahwa Islam akan selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman. Periode klasik perkembangan Islam, telah dimulai dengan penetapan qualifikasi seorang mujtahid, diantaranya: Hafal AlQur’an, menguasai ilmu tauhid, fiqh, dan ilmu alat lain serta tidak cacat moral. Memasuki abad 19 ketika Islam sudah mulai mengkristal dari adanya mujtahid-mujtahid kelompok, dan diperparah dengan isue perang salib yang vis a vis adalah komunitas barat, maka semakin melebar dan tidak adanya pemersatu yang konkret untuk Umat Islam. Era modern, dengan Run Away World seperti ditulis Sdr. Ulil Abshar sepertinya akan semakin sulit menelurkan seorang mujtahid modern yang diterima oleh semua komunitas Islam yang sudah tercerai-berai ini yang menguasai tehnologi modern dan IT. Pemahaman saya didasarkan pada beberapa alasan: Alumni Al-Azhar Mesir sebagai perguruan tinggi Islam tertua-pun tidak mampu; qualifikasi seorang mujtahid seperti yang disyaratkan oleh ulama klasik belum mampu direvisi di masa kini; terjadinya friksi-friksi umat Islam sendiri yang sepertinya sulit untuk menyatukan visi tentang Islam yang berperadaban modern; mudahnya Umat Islam diadu domba; dll. Namun solusi untuk mengejar =dunia yang lari tunggang-langgang= ini menurut hemat saya adalah bahwa setiap muslim harus menjadi mujtahid yang menguasai iptek.
jika ustad berkata bahwa barat harus menjadi “sparing partner”. untuk mengukur sedangkal apakah pengetahuan ummat islam hari ini ,maka saya sepakat jika hal tersebut ,dijadikan sebagai cambuk untuk lebih giat belajar .(dlm hal yang positif ),namun disisi lain kita pula jangan terlalu mematok bahwa barat adalah parameter sebuah kemajuan peradaban . ustad dapat melihat betapa kekejaman negara adidaya barat hari ini “mereka muncul sebagai penindas -penindas baru.
Komentar Masuk (9)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)