Kolom
08/02/2010

Sekularisme Perancis Tengah Diuji

Oleh Andar Nubowo

Sarkozy menegaskan perlunya kaum Muslim dan kelompok agama manapun yang datang belakangan di Perancis untuk menghormati nilai-nilai dasar Republik Perancis, yaitu kesetaraan manusia, hak-hak wanita, sekularisme (laïcité), dan pemisahan antara yang profan dan spiritual. Sarkozy juga menegaskan perlunya kelompok dan komunitas yang beragam untuk berbaur (metissage) satu sama lain. Bagi Sarkozy, Perancis adalah sebuah negara dan Republik yang berbeda dengan kecenderungan komunitarianisme. Komunitas nasional yang ia inginkan adalah Republik yang berbaur (Republique métissée) yang majemuk.

Di tengah guyuran salju, Tramway 1 jurusan St Denis-Noisy Le Sec menapaki jalan besi yang dingin dan kaku. Pagi itu, bangku di dalam kereta tak semuanya penuh. Jarum jam yang masih di angka 07.45 lebih membuat orang memilih untuk menghangatkan diri di rumah. Di bangku belakang, duduk seorang wanita dengan dua anak yang masih balita. Wanita itu berbalut burka, jenis pakaian berwarna gelap yang menutupi seluruh badan kecuali kedua matanya. Anak laki-lakinya yang baru berusia kira-kira 2 tahun merengek-rengek minta susu botol dari dalam kereta dorong. Anak perempuannya yang berusia 4 tahunan memainkan ujung jilbab yang menutupi kepalanya. Dari raut muka dan kulit wajahnya, terlihat jenis ras mereka yang Kaukasoid, bule.

Tramway terus menerobos suhu minus tujuh derajat selsius. Di halte La Courneuve, masuk dua wanita berburka yang berkulit hitam dan putih. Itu terlihat dari kulit mata yang luput dari balutan burka. Keduanya langsung menyapa si ibu dan dua anaknya. Mereka saling menguluk salam lalu bercakap dalam bahasa Perancis. Di halte terakhir St Denis, semua penumpang turun. Ketiga rombongan wanita berburka tersebut bergegas menuju pasar kaki lima di bilangan Gereja Basilique St. Denis di mana terdapat persemayaman terakhir raja-raja Perancis yang Katolik. Ketiganya melebur dan berjejal dengan ribuan orang yang memadati pasar tradisional sekaligus internasional tersebut.

Pasar kaki lima yang dikenal dengan nama “Marché du Monde” (Pasar Dunia) itu adalah pasar murah segala ada yang menjadi favorit para imigran dan mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Dagangan yang dijajakan berasal dari produk-produk dunia ketiga, termasuk Indonesia. Dengan harga sangat murah, kualitas barangnya tidaklah terlalu parah. Di pasar ini, terlihat orang beragam ras dan warna kulit berjejal melakukan transaksi jual beli di tengah hawa salju yang ekstrem. Suasananya persis pasar-pasar tradisional di Indonesia. Para imigran Arab, Afrika Utara, Afrika Barat, dan Eropa Timur yang mayoritas muslim tampak dominan. Ada para wanita berjilab, juga para pria berkopiah dan gamis khas Arab. Sebuah fenomena mengesankan yang terjadi di jantung sekularisme Perancis.

Perancis yang sekuler kini memang tengah menghadapi tantangan gelombang imigran yang berasal dari bekas koloninya yang berpaham Islam seperti Aljazair, Maroko, Tunisia, Senegal, Kepulauan Komorro, Mali, dan lain sebagainya. Tak pelak, simbol-simbol Islam (masjid, jilbab, burka, halal food, gamis, jenggot Islami) kini kentara di ruang-ruang publik Perancis. Tak sedikit pula warga pribumi yang memeluk Islam lantaran kawin campur ataupun telaah ilmiah. Menguatnya Islam beserta simbolnya di Perancis dan Eropa membuat barisan politik konservatif kanan dan ultra-kanan mulai bereaksi. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang berasal dari partai kanan UMP meluncurkan debat identitas nasional dan menghembuskan pelarangan pemakaian burka di Perancis. Siapa itu orang Perancis? Apakah burka sesuai dengan prinsip-prinsip republikan dan sekular Perancis?

Referendum Rakyat Swiss yang menolak pembangunan menara masjid pada 29 November 2009 juga menyulut pro-kontra di media cetak dan elektronik Perancis mengenai tempat Islam di bumi Napoleon Bonaparte ini. Lembaga poling Ifop-Le Figaro mengungkapkan jajak pendapat bahwa 46% rakyat Perancis setuju pelarangan pembangunan masjid, sekitar 40% menerima, dan 14% lainnya tidak menyatakan pendapat. Jérome Fouquet, wakil direktur Ifop menyatakan, rakyat Perancis terbelah, tetapi hingga kini kemarahan terhadap Islam juga tidak kuat di kalangan rakyat. Secara keseluruhan, rakyat Perancis yang menolak pembangunan masjid baru berjumlah 41%.

Namun prosentase yang setuju (40%) adalah yang paling rendah sejak dua puluh tahun terakhir. Pada tahun 1989, hanya 38% rakyat Perancis yang tidak suka masjid berdiri di dekat rumah mereka. Kemudian pada tahun 2001, setelah serangan 11 September, rakyat Perancis yang menolak tinggal 22%. Sedang 46% lainnya masih tidak memiliki sikap. Lalu pada 2009, kecenderungan anti-Islam menguat dan mewujud dalam penolakan rakyat Perancis terhadap simbol-simbol Islam. Peningkatan islamophobia ini, menurut Fouquet, membuktikan bahwa konsep sekularisme positif (laïcité positif) yang dilontarkan Nicolas Sarkozy hanyalah wacana di permukaan belaka. Bagi para penolak masjid, Islam diidentikkan sebagai agama yang mengkhawatirkan dan identik sebagai agama penakluk. Oleh karena itu, upaya normalisasi Pemerintah Perancis terhadap Islam dan prakteknya agar tidak terjebak di dalam paham-paham radikal yang bertentangan dengan nilai-nilai Republik Perancis tampaknya bertolakbelakang dengan opini masyarakat yang berkembang selama ini.

Presiden Nicolas Sarkozy sendiri (8/12/09) menjelaskan pandangannya tentang Islam dan kaum Muslim di Perancis. Ia menegaskan jaminannya terhadap kebebasan beribadah kaum Muslim dan memperbolehkan konstruksi menara masjid asalkan sesuai dengan kearifan dan kesepakatan lokal. Ia juga menyerukan kaum Muslim untuk tidak berlebihan dalam menjalankan ibadah mereka, tetap rendah hati (humble discretion), karena ibadah yang berlebihan dan menonjolkan simbol (misalnya burka) dapat melukai warisan budaya Kristen Perancis. Terkait burka, Sarkozy menyatakan pakaian tersebut bukanlah ajaran Islam tetapi ajaran yang bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia dan merupakan bentuk pengekangan kebebasan terhadap perempuan dari kehidupan sosial dan budaya.

Suami mantan model Carla Bruni ini menegaskan perlunya kaum Muslim dan kelompok agama manapun yang datang belakangan di Perancis untuk menghormati nilai-nilai dasar Republik Perancis, yaitu kesetaraan manusia, hak-hak wanita, sekularisme (laïcité), dan pemisahan antara yang profan dan spiritual. Sarkozy juga menegaskan perlunya kelompok dan komunitas yang beragam untuk berbaur (metissage) satu sama lain. Bagi Sarkozy, Perancis adalah sebuah negara dan Republik yang berbeda dengan kecenderungan komunitarianisme. Komunitas nasional yang ia inginkan adalah Republik yang berbaur (Republique métissée) yang majemuk.

Di lain pihak, kaum Muslim Perancis menolak stigmatisasi terhadap Islam menyusul polemik menara masjid di Swiss. Mereka menganggap Pemerintah telah memanfaatkan referendum Swiss untuk menyatakan pandangan negatifnya tentang Islam dan kaum Muslim Perancis. Hal itu merupakan serangan bagi konsep sekularisme (laïcité) Perancis sendiri. Mereka berpendapat bahwa larangan menara masjid, burka, dan jilbab di sekolah-sekolah negeri hanyalah satu tahap untuk melarang masjid dan stigmatisasi Islam di Perancis dan tanah Eropa lainnya.

Rasyid Cherifi, 30 tahun, Franco-Aljazair, menolak ketakutan pemerintah dan rakyat Perancis terhadap Islam yang dituduh hendak mengubah Republik Perancis. Kekhawatiran tersebut merupakan provokasi dan stigmatisasi terhadap Islam dan kaum Muslim di Perancis. Bagi mereka, pelarangan burka di Perancis hanyalah sasaran antara. Sasaran sesungguhnya adalah Islam. Baginya, pemerintah dan rakyat Perancis seharusnya menghormati kebebasan mereka untuk menjalankan keyakinan mereka.

Presiden Dewan Ibadan Muslim Perancis (CFCM) Mohammed Moussaoui menyerukan kaum Muslim Perancis untuk tetap tenang dan tidak terpancing provokasi pihak-pihak yang sinis terhadap Islam dan kaum Muslim. Baginya, reaksi atau sikap berlebihan yang ditunjukkan kaum Muslim tidaklah menguntungkan bagi kaum Muslim sendiri. Dalam situasi sekarang ini, ia mengimbau kaum Muslim untuk tidak menampilkan simbol-simbol Islam secara berlebihan guna menghindari stigmatisasi. Tetapi kaum Muslim juga tidak boleh tinggal diam terhadap setiap upaya yang berniat mengucilkan dan memasung kaum Muslim secara total. Hal yang paling tepat dilakukan adalah mencari kompromi dan memanfaatkan debat identitas nasional yang kini tengah digelar sebagai peluang untuk menyatakan kembali prinsip kesetaraan beribadah kepada para pemimpin politik Perancis.

Senada dengan Moussaoui, Imam Masjid Evry di pinggiran Paris Mohammed Merroun juga menyerukan umat Islam untuk menunjukkan citra positif Islam kepada masyarakat Perancis. Ia juga khawatir terhadap stigmatisasi Islam dan kaum Muslim Perancis yang belakangan meningkat karena dapat menyebabkan kaum Muslim terkucil secara sosial, ekonomi, dan politik. Jika isolasi ini terjadi, menurutnya, maka kaum Muslim tidak dapat berpartisipasi selaku warga negara dalam pembangunan Perancis. Kaum Muslim tidak dapat membangun kehidupan, mendidik anak dan mengembangkan usaha mereka.

Bagi saya, berislam secara rendah hati (tawâdhu’ ) dan berintegrasi dengan masyarakat setempat, sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, adalah sebuah sikap ideal. Penonjolan simbol keagamaan yang dapat mengganggu komunitas lain, sebenarnya justru kurang sesuai dengan nilai dasar Islam yang toleran, moderat, dan terbuka. Melalui cara beragama yang santun dan ramah, nilai-nilai Islam yang sejati bakal dikenal dan dipahami secara baik oleh masyarakat sekuler Perancis. Bukankah sejarah selalu mengajarkan kepada umat manusia bahwa kesantunan dan kesederhanaan dalam beragamalah yang dapat mengubah alur peradaban dunia?

* Andar Nubowo, bermukim dan bekerja di Paris. Pernah berguru kepada Olivier Roy di program master politik Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, Perancis.

08/02/2010 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (17)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

@ Gusti Raden Mangunwijaya

Yth Pak Gusti
Maaf tulisan saya mungkin agak membingungkan, maklum saya tidak pandai merangkai kalimat. Pihak yang saya maksudkan menganggap sekulerisme = agama itu orang-orang Perancis yang melarang pemakaian identitas agama. Bukan saya. Mereka terjebak dalam diskriminasi terhadap kepercayaan dan atau agama tertentu karena akhirnya yang dikatakan muncul “tanpa identitas itu” adalah representasi kelompok mayoritas. Saya lebih menganggap sekulerisme di Amerika itu lebih dewasa karena menghormati perbedaan dan tidak menghendaki homogenisasi dengan pemaksaan.Meskipun dalam aplikasinya masih ada kelemahan dan penyalahgunaan (selama manusia terlibat, subjektivitas pasti ada). Tapi dengan mengesampingkan prejudice (syak wasangka), minimal hukum menghargai perbedaan ras, gender dan agama).
Untuk yang lain, silakan baca lagi perbincangan saya dengan Pak Anton.

Salam hormat

Posted by indah  on  03/05  at  10:38 PM

Mas Is.

You are a great man. Deal!!

Posted by indah  on  03/05  at  11:08 AM

@Indah : rupanya anda tidak baca surat khabar ya, banyak gereja ditutup ataupun dicabut ijin imb spt didepok, begini sj mbak, coba mbak tanya ke KWI dan PGI, gereja2 mana yang ditutup dan dibatalkan imbnya, sy kasihan dng mbak indah seolah2 di Indonesia, everything is fine, padahal tdklah begitu. Sy setuju dng pendpat pak anton, sekulerisme itu ideologi, bukan agama, pola pikir mbak indah mencampur adukan sekuler =agama, kecuali agama mbak indah ideologi.

Posted by Gusti Raden Mangunwijoyo  on  03/04  at  10:44 PM

@dik Indah : Pertama, saya perlu jelaskan saya adalah yg anda sebut dgn “Mas Is” dan bukan yg anda panggil “Mas Anton”. Although in my social life they mostly call me “Anton”, but it’s OK, a calling of “Mas Is” sounds nice too,...he-he-he.

Saya hormati pendapat anda. Tapi saya punya pendapat yg berbeda dgn anda tentang HUMANISME, HATI NURANI dan SEKULERISME PERANCIS. Biarlah kita berbeda pendapat seperti itu.

Namun saya tidak akan menguraikan dimana perbedaan pandangan kita tentang ketiga subyek tsb diatas. Sebab, perbedaan pendapat atas ketiga hal diatas diantara kita itu, kelihatannya bersifat keyakinan yg tak perlu lagi diperdebatkan lebih panjang lagi, karena sifatnya yg prinsipiil sudah menjadi keyakinan masing-masing.

LET’S STAY, HOWEVER, WITH OUR DIFFERENCES.

Posted by Anton Isdarianto  on  03/03  at  05:22 PM

@Anton Isdaryanto dan den bagus.

Mas Is (Anton) dan Mas Denbagus yang baik.
Pertama saya ingin menyampaikan :tidak pernah meremehkan kristiani. Jadi kata den bagus “kita sering ...” kita siapa? aku nggak ikut lho.

Maksud saya, saya hanya tidak ingin mengedepankan prejudice (syak wasangka). Sudah banyak kesengsaraan bangsa ini karena dipermainkan oleh mereka yang senang menyebarkan prejudice. Baiklah supaya lebih fair saya akan katakan bahwa model sekuler yang baik itu adalah Amerika serikat(Mohon jangan diplintir kalau saya pro Amrik lho). Keragaman lebih dihargai di sana. Kalau suatu negara hendak mengembangkan sekulerisme, dia sendiri jangan memaksakan homogenitas. Maka Non block is the third block artinya “katanya anti diskriminasi tapi dia sendiri mendiskriminasi orang lain”. Humanisme Block juga rawan karena masing-masing orang akan merasa lebih humanis dari yang lain.Hati nurani? hati nurani mereka yang berburka atau yang tidak berburka? hati nurani muslim atau Kristen, Budha, atau siapa?. Di Amerika, secara resmi hukum mengatakan tidak dibolehkannya perusahaan memecat pegawai karena alasan ras, agama, gender, dsb. Meskipun tentu banyak pelanggaran yang masih terjadi, minimal secara resmi alasan dibuat yang lebih universal (diterima semua pihak).Mungkin alasan kinerja, financial, keselamatan kerja, dsb yang masih bisa diklarifikasikan. Nah yang di Perancis itu sekulerisme aneh. Maunya semua sama, yaitu mengikuti mayoritas, padahal cuma untuk duduk di taman. Ini berlebihan. Saya sendiri bukan termasuk aliran yang memerintahkan perempuan memakai penutup wajah, tapi saya sangat menghormati mereka, sepanjang mereka tidak memaksa saya.  Baiklah kalau toh ada kecurigaan membangun gereja sulit (meski belum dikemukakan juga data yang meyakinkan), ternyata ada pengakuan pengikut katolik dan kristen yang taat yang mengaku lebih nyaman secara ideologis tinggal di Indonesia ketimbang di negara Barat. Teman saya seorang kristen yang taat dari Australia mngatakan dia akan membesarkan anaknya di Indonesia sampai lulus SMA, karena mereka lebih mudah beribadah dan mendidik perilaku anaknya secara Kristen di Indonesia (Dia mengatakan kristen yang taat merasa banyak aturan di Indonesia yang lebih kristiani dari pada di barat). Saya bersyukur pernah mengenalnya dan hidup berdampingan dengan damai. 

Mas Anton, kalau semua survey harus dicek ke lapangan oleh semua orang, tidak ada laporan apapun yang bisa dipercaya termasuk buku-buku pelajaran.Tapi konvensi masyarakat mengatakan sebuah laporan/buku akan lebih meyakinkan kalau ada alasan yang logis dan data pendukung yang reliable. Hanya ini yang ingin saya komunikasikan melalui situs ini. Kalau tidak ada ya tidak apa-apa. Mohon kalau bisa jangan hanya prejudice yang ditonjolkan, karena ini mengarah ke menuduh tanpa dasar dan tidak mencerdaskan.

Posted by Indah  on  03/03  at  12:33 AM