Prof. Dr. Tariq Ramadan: Semua Jenis Terorisme tidak Islami!
Oleh Redaksi
Setiap umat Islam tidak boleh lagi terpedaya oleh simbol-simbol yang berlagak seakan ingin menegakkan panji-panji Islam lewat kekerasan. Faktanya, aksi teror selalu saja merupakan horor atas kemanusian yang mestinya diselamatkan oleh watak kerahmatan Islam bagi alam. Sebab itu, umat Islam tak lain, mesti kritis atas klaim-klaim kalangan teroris, sekaligus tegas-tegas membuat jarak dengan mereka.
Sumber: Radio 68H
Delegitimasi tindak-tindak teror yang dilakukan oleh mereka yang menggunakan simbol-simbol Islam adalah kewajiban semua muslim. Setiap umat Islam tidak boleh lagi terpedaya oleh simbol-simbol yang berlagak seakan ingin menegakkan panji-panji Islam lewat kekerasan. Faktanya, aksi teror selalu saja merupakan horor atas kemanusian yang mestinya diselamatkan oleh watak kerahmatan Islam bagi alam. Sebab itu, umat Islam tak lain, mesti kritis atas klaim-klaim kalangan teroris, sekaligus tegas-tegas membuat jarak dengan mereka.
Itulah sebagian intisari percakapan Prof. Dr. Tariq Ramadan, dengan reporter Radio 68H Jakarta, pada Jum’at, (25/07/03). Selain dikenal sebagai cucu Hassan Al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin yang tersohor itu, Tariq juga dikenal luas sebagai penganjur dialog Islam-Barat yang paling bersemangat dewasa ini. Beberapa buku pengajar filsafat di Friborg University ini sudah dapat dinikmati dalam bahasa Indonesia. Buku Teologi Dialog Islam-Barat dan Menjadi Modern Bersama Islam (keduanya diterbitkan Mizan) merupakan dua buah karangan beliau yang sudah diterbitkan dalam edisi Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:
Radio 68H: Prof Tariq, Anda dikenal sebagai salah seorang tokoh muslim pengajur dialog Islam dengan Barat. Sungguh demikian, Anda juga cucu Hassan Al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin yang tersohor itu. Siapakah sebenarnya Anda?
Saya lahir di Swiss, dan dibesarkan di sana dalam lingkungan keluarga yang sangat religius. Saya dan keluarga memiliki sejarah yang sangat panjang tentang pengasingan demi mencari keadilan dan kemerdekaan. Ayah saya (Syekh Ramadan) meninggal setelah mencecap masa 41 tahun di pengasingan. Lamanya pengasingan itu sama persis dengan usia saya sekarang. Selama 24 tahun di Swiss, saya tetap memiliki angan-angan untuk pulang ke kampung halaman kami di Mesir, kelak. Saya tidak pernah berpikir akan berkewarganegaraan Swiss. Sampai kemudian saya menikah di sana, beranak pinak, dan melihat dan sadar akan kenyataan. Akhirnya, impian untuk pulang ke Mesir lambat laun sirna.
Saya mulai paham bahwa saya adalah warga negara Swiss. Saya benar-benar hidup di sana. Empat orang anak saya sudah menjadi warga negara Swiss, dan mereka dipengaruhi budaya Swiss. Sampai kini, saya tetap mencoba mengkaitkan mereka dengan budaya Mesir. Saya berupaya membuat mereka mengerti bahwa mereka memiliki khazanah kebudayaan yang lebih kaya. Saya memeri mereka kesempatan untuk hidup seperti yang mereka inginkan di Eropa. Mereka saya biarkan untuk menerima, meningkatkan kualitas diri mereka dan maju dalam budaya dan identitas Eropa. Namun demikian, saya meminta mereka untuk tetap menjadi seorang muslim yang baik, selain menjadi orang Eropa yang baik. Saya ingin mereka membantu orang-orang Eropa untuk tahu lebih dalam tentang prinsip-prinsip yang kami pegang, karena dengan jalan itulah kita dapat membangun suatu konsep tentang hidup berdampingan.
Radio 68H: Anda juga salah seorang cucu Hassan Al-Banna, pendiri gerakan Ikhanul Muslimim yang tersohor itu. Anda punya pendapat tentang kakek Anda?
Semua orang yang sempat bertemu dengannya, menilai kualitas keyakinan yang ia miliki sangat menakjubkan. Ini satu hal yang patut kita cermati. Saya pikir, hal yang juga perlu kita cermati dari dirinya adalah penentangannya yang total atas segala bentuk kekerasan. Ketika seseorang menggunakan kekerasan atas nama Islam, dia akan langsung menyatakan bahwa pelakunya bukanlah seorang muslim, dan pelaku tersebut bukanlah bagian dari kita. Ia sangat menentang kekerasan. Di saat masih hidup, dia selalu mengatakan bahwa satu-satunya perlawanan bersenjata yang bisa dibenarkan dan dipromosikan adalah perlawanan bersenjata bangsa Palestina. Itu diungkapkan sekitar tahun 40-an, sebelum berdirinya negara Israel.
Selain itu, banyak sekali aksi sosial yang telah dia perbuat. Dia telah mendirikan 2000 sekolah untuk anak laki-laki dan perempuan. Dia juga bekerja untuk orang-orang miskin, dan mengunjungi hingga 17.000 desa. Ia mendedikasikan hidupnya secara total di situ. Saya sangat menghormati apa yang telah dia lakukan. Saya hanya dapat mengatakan bahwa, dia adalah orang yang sangat teguh memegang prinsip-prinsip, konsisten, dan mencoba memberi yang terbaik dari apa yang akan dia lakukan. Untuk ukuran masyarakat Mesir saat itu, dia telah memberikan jalan keluar pada tingkat sosial dan tingkat politis yang sangat terperinci.
Saya dapat mengerti seluruh tindakannya saat itu, meski kita sudah tidak dapat lagi menerapkannya untuk konteks sekarang. Kini, kita sudah memiliki sederet tantangan baru. Saya dapat mengatakan bahwa dia adalah penerus tradisi kalangan reformis Islam yang sudah digagas sebelumnya oleh Abduh dan Rashid Ridlo. Karakteristik utama dari tradisi ini adalah: kebertahanan pada prinsip-prinsip utama dan metodologi yang mereka anut. Adapun jawaban atas tantangan yang datang, bagi tradisi reformis, dapat saja berubah-ubah.
Radio 68H: Anda menceritakan Hassan Al-Banna sebagai pendiri pergerakan Islam yang empunya kualitas kepribadian yang membanggakan. Tapi bukankah gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikannya mengalami evolusi, bahkah mengalami radikalisasi pada fase selanjutnya?
Ya. Setiap gerakan mengalami evolusi. Setelah represi yang sangat keras dari rezim Gamal Abdul Nasser, Ikhwanul Muslimin lantas terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama setia mengikut visi Hassan Al-Banna yang menolak kekerasan, mendukung pendidikan, non politis—dalam artian tidak terlibat dalam partai politik—sekaligus menentang opresi pemerintah. Mereka yang mengambil sikap demikian pun dijebloskan ke dalam penjara.
Kelompok lain yang juga mendekam dalam penjara, mulai memahami bahwa mereka telah gagal dengan misi-misinya. Mereka berpendapat, bila Nasser masih dan sedang berkuasa, artinya selalu kegagalan. Akhirnya, mereka mulai mengubah persepsi mereka tentang perjuangan, dan menganggap semua usaha tersebut sebagai upaya untuk merebut kekuasaan belaka, bukan untuk mengubah masyarakat. Mereka kemudian sangat terobsesi akan kekuasaan pemerintahan, struktur, dan apa yang mereka namakan sebagai negara Islam.
Ikhwanul Muslimim akhirnya memiliki dua kelompok. Mereka, meski sama-sama mendekam di penjara, tetap saja tidak berdo’a bersama, bahkan sama sekali terpisah satu sama lain. Kelompok kedua, sejak saat itu mulai mempromosikan aksi-aksi kekerasan melawan pemerintah, sementara kelompok lainnya mengikuti jejak Hassan Al-Banna. Sekarang ini, orang-orang berprasangka kelompok kedua adalah pengikut teori, doktrin, dan ideologi yang dikembangkan Hassan Al-Banna. Saya pikir, itu tidak adil! Kita harus menempatkan segala sesuatu sesuai konteksnya.
Anda pasti dapat mengira, seminggu dalam proses penyiksaan dapat memaksa Anda untuk mengatakan apa saja yang tak diinginkan. Saya pikir, kita harus tahu bahwa semua kelompok itu mengalami tekanan. Dan perlu diingat, radikalisme tidak pernah muncul dengan sendirinya. Radikalisme selalu muncul karena tekanan pemerintah. Statemen ini harus secara lantang kita katakan: “Represi pemerintah datang lebih dulu. Kelompok-kelompok radikal menyusul kemudian.”
Radio 68H: Tapi, saat ini banyak kalangan umat Islam yang ingkar kalau sebagian kelompok ekstremis telah melakukan aksi-aksi teror yang biadab. Mereka lebih suka berbicara tentang teori konspirasi atas Islam. Bagaimana seharusnya menyikapi ini?
Memang, banyak sekali orang Islam yang berkata bahwa yang melakukan (aksi-aksi teror tersebut) pasti bukan orang muslim. Menurut saya, itu adalah cara yang salah untuk menjawab tantangan-tantangan yang selama ini muncul. Kita semua tahu, ada saja beberapa orang atau kelompok muslim dengan enteng mengatakan: “Saya dapat membunuh seorang Yahudi, Kristen, ataupun orang Amerika, atas nama Islam!” Kita harus menolak klaim mereka tersebut. Kita harus memiliki pendirian yang jelas bahwa tindakan tersebut tidak pernah Islami.
Mungkin saja kita tak punya bukti-bukti yang kuat tentang siapa pelaku tindak-tindak teror tersebut. Tapi setidaknya, kita tahu bahwa sekelompok muslim terlibat, dan bisa saja terlibat hingga tingkatan yang tertinggi. Sebagai seorang muslim, kita harus mengatakan: “Atas nama Islam, semua itu salah. Itu tidak islami!”
Radio 68H: Tapi sebagian umat Islam telah terpengaruh muslihat para teroris tersebut. Sebabnya, sebagian mereka tak segan-segan menggunakan simbol-simbol Islam dalam aksi terornya. Tanggapan Anda?
Kita harus mengatakan bahwa seluruh jenis terorisme adalah tidak Islami. Pada saat yang sama, dalam tataran internasional, menurut saya, sangat penting juga untuk berhati-hati dalam bertindak, karena kebijakan perang melawan terorisme juga telah membidik muslim di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, atau negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim, perang melawan terorisme telah digunakan untuk menekan, atau mengekang umat muslim dari hak-hak sipilnya.
Radio 68H: Artinya, kampanye melawan terorisme juga punya dampak buruk atas kebebasan sipil?
Ini adalah titik tersulit dari diskusi ini: masalah kebebasan sipil. Ini bukan hanya tentang umat muslim. Di Amerika atau di Eropa, persoalan pembatasan pada kebebasan sipil terjadi pada semua warga negara. Saya pikir, kita harus mengatakan: “Kita menentang terorisme, tapi kita tidak mau menerima semua itu atas nama perang atas terorisme!”
Radio 68H: Menurut Anda, selain sebagian teroris adalah orang Islam radikal, apa yang membuat teorisme begitu identik dengan Islam dalam persepsi orang Barat?
Islamophobia, atau ketakutan berlebihan terhadap Islam pada sebagian intelektual, pakar, dan kalangan Kristen konservatif di Amerika dan Eropa. Satu-satunya opini yang ingin mereka paksakan hanyalah: terorisme merupakan aspek sebenarnya dari umat Muslim. Dengan begitu, tidak ada pembedaan antara muslim radikal dengan muslim moderat. Menurut mereka, hal itu begitu identik karena orang muslim berpegang pada satu sumber doktrin dan belajar dari satu ajaran yang sama.
Menurut saya, kita harus terbuka dan harus lebih giat mempromosikan dialog. Kita tidak boleh bertindak naif. Di balik semua itu selalu ada kepentingan politik, geo-politik. Selain itu, ada sekelompok orang yang hanya ingin memajukan agama mereka sendiri atas penderitaan agama orang lain. Itu semua juga harus diungkapkan.
Radio 68H: Lantas, perlukan membuat jarak yang tegas antara umat Islam yang suka melakukan tindak teror dengan mereka yang cinta kedamaian? Kalau iya, bagaimana caranya?
Saya mencermati, saat ini kita kekurangan suara yang menyuarakan secara lantang bahwa perbedaan itu memang ada, dan kita memang bertentangan dengan kaum radikal dan kaum ektremis tersebut. Saat ini, kita kekurangan figur yang menegaskan hal tersebut. Saya sedang mencoba melakukan hal tersebut di Amerika dan Eropa. Hanya saja, meski kita telah mencoba melakukan itu, persepsi tentang Islam saat ini, masih saja sangat buruk.
Anda mungkin telah mengetengahkan pandangan-pandangan seperti ini; mengkritisi sebagian muslim, megritik diri sendiri, mempromosikan dialog, mencoba untuk setuju kalau kita perlu kritis terhadap diri sendiri dengan mengatakan bahwa apa yang sedang mereka kerjakan bukanlah atas nama Islam. Namun, kita juga memerlukan sikap yang sama di kalangan orang Barat: melakukan otokritik. Paling tidak, ini bisa tergambar dari cara mereka menghadapi kediktatoran ataupun ketika mengatakan bahwa pemerintahan-pemerintahan Dunia Selatan adalah salah.
Radio 68H: Menurut Anda, apa dampak buruk kampanye perang melawan terorisme yang paling kentara di Dunia Selatan sejauh ini?
Perang terhadap terorisme, oleh pemimpin negara-negara di dunia belahan selatan, ternyata digunakan untuk menghadapi masyarakatnya sendiri dan khususnya partai-partai oposisi. Mereka (para diktator tersebut) misalnya mengatakan: “Bila tidak bersama saya, berarti bersama mereka!” Kata “mereka” di sini artinya adalah kaum muslim. Sekali lagi, di sini tidak ada pembedaan antara kaum legalis, ataupun kaum yang berpegang pada hukum dengan kaum radikal ataupun moderat. Mereka disini sama-sama dianggap mempromosikan terorisme.
Saya pikir, ini juga banyak digunakan di dunia Islam. Kita perlu mengatakan bahwa, kita menginginkan demokrasi yang transparan dan jujur bagi semua warga negara. Membiarkan para diktator itu mengatakan bahwa kekuasaan dia lebih baik daripada partai-partai Islam, saya pikir tidak akan menolong dunia Arab, dan dunia Islam untuk keluar dari krisisnya.
Radio 68H: Bagaimana gambaran demokrasi yang ideal menurut Anda?
Semua pihak yang mengaku bermain dan berperan dalam menegakkan demokrasi, mestinya setia dengan empat prinsip berikut. Pertama, prinsip menghormati hukum. Kedua, prinsip kesetaraan dalam masyarakat. Dalam prinsip kedua ini, tidak ada perbedaan antara orang Kristen, Yahudi, maupun Islam dalam konteks negara. Di sini ada penghormatan kepada semua warga negara. Semua pihak berpegang pada landasan yang sama.
Prinsip ketiga adalah kebangkitan dan kesadaran umum, yang bisa diartikulasikan dalam sebuah pemilihan umum yang bebas. Sebagian muslim mengatakan, bagi seorang muslim, yang berlaku mestinya adalah prinsip syûra. Kita jangan sampai tersesat oleh model pemikiran demikian. Permasalahannya ada pada kesamaan prinsip.
Sementara itu, prinsip terakhir adalah kemungkinan suksesi kekuasaan secara bergiliran. Kita harus bisa mengatakan kepada pemimpin kita bahwa dia dapat diturunkan dari kekuasaannya bila dia tidak kompeten. Ada mandat yang spesifik untuk beberapa tahun. Dan mandat tersebut dapat diputuskan secara kolektif. Selain itu, kita juga bisa menyelenggarakan pemilihan umum, dan menempatkan pemimpin yang sesuai dengan prinsip akuntabilitas dan pertanggungan jawab publik. Menurut saya, ini adalah prinsip yang sangat penting.
Nah, taruhlah sekarang kita memiliki empat prinsip ini. Maka bila Anda dari partai politik Islam, Anda harus menyatakan bahwa Anda menghormati empat prinsip ini sebelum pemilihan dan setelah pemilihan umum. Mari kita melakukan dialog intra komunitas untuk mencari model ideal Islam untuk demokrasi. Saya kira itu mungkin.
Radio 68H: Jargon model ideal Islami untuk demokrasi sangat nikmat didengar. Tapi masalahnya, banyak sekali aktivis Islamis yang secara kontinyu menegaskan supremasi Islam atas demokrasi. Menurut mereka, semua sudah diatur dalam Islam. Kita tak perlu demokrasi. Tanggapan Anda?
Memang, ada saja sebagian muslim yang suka mengutip ulama abad pertengahan mengatakan demikian. Menurut mereka, semua hal tersebut sudah dilaksanakan umat muslim, dan semua model yang ideal yang terbayangkan sudah termaktub dalam Alqur’an. Kita harus menolak pendapat itu. Prinsip-prinsipnya memang dijumpai dalam Alqur’an, namun model-modelnya tidak pernah ada. Kitalah yang harus membangun model-model tersebut, serta menciftakan definisi baru tentang itu.
Contohnya syariat. Syariat bukan berarti panduan hukum. Beberapa ulama di beberapa tempat muncul dengan definisi hukum dan yurisprudensi bahwa syariat adalah panduan hukum. Kita harus meredefinisinya, walaupun belum ada konsensus antara cendekiawan muslim tentang hal ini. Contoh usaha tersebut dapat dijumpai dalam buku terbaru saya (Menjadi Modern Bersama Islam, cetakan Mizan, 2003). Saya sampai pada kesimpulan bahwa, syariat bukanlah panduan hukum, tapi hanya jalan menuju ke sana; jalan menuju keyakinan. Syariat mengatakan bagaimana kita dapat setia pada keyakinan, mengadaptasikan prinsip-prinsip kita ke dalam lingkungan baru, tantangan baru, dan masa-masa baru.
Menurut saya, hal-hal yang saya utarakan itu perlu dikembangkan dalam pengembangan ajaran Islam. Mereka yang mengutip kitab mentah-mentah dan cenderung literalis, mendambakan kembali kepada dasar-dasar Islam dengan cara pandang yang literal pula mungkin mengatakan: “Semua prinsip-prinsip itu sudah ada dan sudah kita lakukan.” Menurut saya, cara-cara penafsiran literal tidak akan banyak menolong kita untuk menghadapi tantangan-tantangan terbaru. Kenyataannya sekarang, kita harus menyaring prinsip-prinsip tersebut dari sumbernya, lalu berupaya untuk memahami dan mencarikan jalan keluar yang terbaik.
Saya punya cerita. Suatu ketika, saat saya memberikan kuliah, saya menggunakan kata “demokrasi”. Usai kuliah, seorang mahasiswa menghampiri saya lalu mengatakan tidak ada istilah demokrasi dalam Alqur’an. Saya jawab: “Ya, tidak ada kata demokrasi dalam Alqur’an, namun prinsip-prinsip demokrasi jelas terkandung dalam Alqur’an.” Karena itu, kita harus berpegang pada prinsip-prinsip itu. Hal itu sama persis dengan konsep kewarganegaraan. Tidak ada kata-kata citizenship atau kewarganegaraan dalam Alqur’an. Hanya saja, Nabi Muhammad SAW jelas-jelas menyabdakan bahwa semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama. Apa artinya itu? Persamaan hak.
Radio 68H: Apa problem Dunia Islam dalam menerapkan prinsip-prinsip universal semacam itu menurut Anda?
Saya melihat masyarakat Islam saat ini, baik yang di Asia maupun di Dunia Arab siap mencari jalan untuk menerapkan prinsip kewarganegaraan yang aktif; yang merupakan jalan aktif untuk menggerakkan dinamika sosial. Namun tidak ada kebebasan yang cukup untuk itu. Problemnya, di Asia ada sedikit saja kebebasan, namun di Dunia Arab ruang kebebasan sama sekali tersumbat. Tidak ada dinamika sosial, tidak ada demokrasi, tidak ada yang bisa diandalkan.
Menurut hemat saya, dalam situasi demikian, mungkin saja kita akan memiliki beberapa kelompok radikal. Namun sekarang, saya pikir para pakar politik berpikir kelompok Islam politik tampil untuk berakhir. Mereka berbicara tentang kelompok-kelompok radikal. Saya pikir mereka benar pada tingkat lokal dan nasional. Mereka tidak membayangkan adanya jalan keluar yang didapat dengan menggunakan kekerasan. Sekarang ini, mayoritas kita mendukung gagasan tentang reformasi. Hanya saja, mereka tidak tahu bagaimana menghadapi kediktatoran yang mereka alami nyaris di setiap hari. []
Komentar
Assalammualaikum.wr.wb,
Komentar saya utk mas Anwar cuman satu: apa iya? Apakah saudara, orang tua, anak atau istri Anda atau orang yang Anda kasihi sudah ada yg pernah tiba2x tewas terkena ledakan bom tanpa tahu juntrungannya? Mungkin belom ya, nanti kalau sudah mungkin pendapat Anda akan berbeda.
Wassalammualaikum.wr.wb
Muhammad Islam
——-
Melihat tanggapan saudara Anwar, saya yakin nabi akan menangis bila mengetahui pendapat seperti itu. Jika nabi sekarang masih hidup, saya yakin beliau akan mengatakan “tidak” untuk segala aksi terorisme, sekalipun dengan mengatasnamakan Islam.
Islam adalah agama yang di bangun dengan sebuah perjuangan, maka berjuang untuk menegakkan Islam sah-sah saja dengan cara apapun.
Saya ingin menawarkan metode melihat fenomena munculnya terorisme atas nama Islam.
Dalam melihat fenomena ini hendaknya memahami kondisi umat Islam pada suatu kelompok atau pada suatu tempat. Tidak serta merta memakai kacamata global dalam melihat kondisi ini, karena kalau kacamata “ajaran Islam global” tentunya yang akan muncul adalah kacamata di mana posisi penulis (Tariq Ramadan) berada. Padahal, ajaran Islam sendiri memberi peluang dan ruang untuk ditafsirkan sesuai dengan kondisi dan tempat di mana seseorang itu berada. Kemungkinan pemahaman yang memunculkan aksi teror itu muncul karena kondisi dan situasi pelaku berada.
Di negara/tempat yang memungkinkan terjadinya peluang memperjuangkan Islam dengan kultural maka itulah metode yang dilakukan, yang memungkinkan secara struktural, itulah jalannya. Tetapi bagi saudara-saudara muslim yang berada di tengah situasi yang tidak memungkinkan perjuangan dengan model itu, dan menganggap bahwa perjuangan jenis -diklaim sebagai aksi teror- itu yang harus dilakukan, mungkin jalan itulah yang harus dilakukan.
Hal ini sejalan dengan perintah Rasulullah untuk membasmi kemungkaran dan kejahatan dengan tiga metode (al-yad, al-lisan, dan al-qalb). tergantung pada situasi mana kita berada.
Komentar Masuk (4)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)