Kolom,
05/08/2011

Tentang Suara-Suara yang Tak “Memuaskan” Sepanjang Bulan Puasa

Oleh Natalia Laskowska*

Suara azan yang pagi itu memenuhi baik tubuh maupun ruh saya dapat bersaing dengan suara nyanyian Caruso. Keduanya begitu memuaskan. Saya sering merindukan suara azan itu, apalagi pada bulan Ramadan. Bunyi panggilan sahur yang disampaikan dengan timbre suara yang halus, itu bukan sekedar panggilan informatif saja. Indahnya mampu membuat kita kenyang. Ini adalah satu pemuasan dalam puasa. Tiada salahnya.

Saya sudah tidak ingat kapan saya mulai membeda-bedakan antara arti kata ‘puasa’ dan kata ‘puas’, tapi mungkin sekali ini terjadi pada suatu malam ketika sahabat saya selesai dengan konsernya. Dengan sedih dia berbisik “Aku tidak puas dengan suaraku malam ini,” dan langsung dia pulang. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, muncul kata puasa tanpa huruf ‘a’. Sebelumnya saya tak pernah puas. Untuk mengatakannya dengan lebih tepat – saya tak pernah berucap saya puas, meskipun saya sudah lama tahu kata puasa.

Sejak malam itu pasangan puasa-puas menemani saya kapan saja salah satunya muncul dalam percakapan atau bacaan. Dan karena konteks pertamanya, sangat sering soal suara turut serta. Apalagi pada bulan Ramadan.

Di Jogjakarta ada satu masjid yang saya amat sukai. Tempatnya biasa dan sederhana. Segi zahirnya sama sekali tidak menarik. Tapi batinnya, pembawa batinnya, suara azannya… subhanallah. Dia menggema ke seluruh penjuru rumah, ke segala urat tubuh saya. Alangkah indahnya suara azan itu. Dia bening, kalau suara bisa bening. Dia benar, kalau suara bisa benar. Dia jujur pada asalnya, tanpa rasa padang pasir. Dia seiring dengan irama gamelan Jawa. Luar biasa mengharukan.

Saya jadi ingat film Fitzcarraldo. Tokohnya adalah seorang pecinta opera, pengusaha besar yang mewujudkan mimpinya membangun gedung opera di tengah rimba Amazon. Kemudian dia mengundang ke situ Enrico Caruso, sang tenor yang amat terkenal pada awal abad silam.   

Suara azan yang pagi itu memenuhi baik tubuh maupun ruh saya dapat bersaing dengan suara nyanyian Caruso. Keduanya begitu memuaskan. Saya sering merindukan suara azan itu, apalagi pada bulan Ramadan. Bunyi panggilan sahur yang disampaikan dengan timbre suara yang halus, itu bukan sekedar panggilan informatif saja. Indahnya mampu membuat kita kenyang. Ini adalah satu pemuasan dalam puasa. Tiada salahnya.

Saya pernah tinggal di kos-kosan yang terletak antara dua masjid yang masing-masing dimiliki dua organisasi besar Islam. Dengan mulainya Ramadan saya memutuskan, telinga kanan akan saya sediakan untuk masjid yang sebelah kanan, dan telinga kiri untuk masjid yang sebelah kiri. Beginilah cara saya menantikan keharmonian dalam bulan puasa. Namun akhirnya saya sukar menyaksikannya.

Mulai jam 3 pagi, setiap pagi, sampai subuh, kedua masjid mengunakan pengeras suara untuk menyampaikan bacaan-bacaan dan doa. Saya tak faham dan saya yakin saya takkan memahami mengapa pengeras suara begitu diperlukan dalam hal seperti itu. Sayangnya saya juga tidak tahu apa yang dibacakan pada waktu itu karena kedua masjid menyetel suara dengan volume yang maksimal.

Oleh sebab suara ini datang dari masjid, dan membawakan ayat-ayat al-Qur’an pula, kita memaksakan diri untuk tidak berfikir ini semua menjengkelkan. Kita takut, terutama pada diri kita sendiri, untuk menganggap suara itu bising dan jelek. Kita menerimanya sebagai ujian kesabaran pada bulan puasa, ujian agar kita benar-benar berusaha sabar dalam semua hal, baik yang kita lakukan maupun yang kita pikirkan. Tetapi tentu tidak adil jika ada yang hendak memeriksa ambang batas kesabaran orang lain atau ambang teknis alat pengeras suara.

Alangkah menyedihkan suara yang datang dari pengeras kedua masjid yang di dekat kos-kosan saya itu. Suara itu tidak mengikuti irama apa-apa; hanya seperti berlomba saja siapa yang lebih keras terdengar selama bulan puasa. Saya tidak puas. Tidak apa-apa, tiada salahnya, tak semua orang harus memiliki suara Enrico Caruso. Tetapi kalau kita tahu kita bukan Caruso, mestinya kita coba menahan diri dan menyelamatkan orang lain dari suara kita. Menggunakan pengeras suara menimbulkan efek yang justru sebaliknya.

O the word which eats the Sahur meal,
Be silent so that anyone
Who knows fasting will enjoy fasting.

Bait-bait ini konon berasal dari karya Rumi. Mungkin juga ini bukan karya Rumi yang asli, tapi apapun, pesannya bagus sekali. Saya puas. Sambil mau puasa.

*Penulis adalah mahasiswi PhD Department of Oriental Studies, University of Warsaw, Polandia.

05/08/2011 | Kolom, | #

Komentar

Komentar Masuk (18)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

masjid dan pengeras suara telah menyatu untuk menyeru suara Tuhan, tapi sering tidak bisa berdamai dengan suara Tuhan yang lain. Diselatan rumah sakit swasta di Ponorogo pengeras suara masjid selalu mengumandangkan ayat Tuhan, sementara yang sakit sangat terganggu dengan suara itu tentunya bukan dengan Tuhan dan ayat-ayatnya melainkan dengan pengeras suaranya. mudah-mudahan para takmir masjid menyadari dan menggunakan pengeras suara dengan proposional.

Posted by asma  on  09/13  at  04:27 PM

JUJUR SAJA, SUARA APA PUN YG KELUAR DARI PENGERAS SUARA MEMBUAT TELINGA BISING !!!

Posted by henris  on  09/04  at  01:32 AM

saya fine2 aja tuh, mau suaranya indah atau kurang indah, soundnya bagus atau kurang bagus, soalnya saya bukan mendengarkan indah atau nggaknya suaranya tetapi saya memahami makna yg dibacakan.dan terkadang ikutan memperbaiki tajwidnya yg baca. kalo pas beliaunya salah baca, kita bacakan istighfar…

let’s see contoh kecilnya, ada adzan nih, mau berapapun masjid, neriakin ‘hayya alasshoolaaaah’, mau suara muadzinnya cengkoknya kurang, mau soundnya cempreng, gak ada masalah, yg penting maknanya, banyak banget ni yg ngajakin sholat, dan bikin kita bergegas.

kalo emang sound nya cempreng, naaaa, kesempatan buat beramal ke masjid tuh wink

kalo denger puji2an agama lain, ya dihargai juga, kan keyakinan mereka…gak ada masalah sih buatku.kalo pas tabrakan, bisa koordinasi aja, antara pengurus masjid dan pengurus tempat ibadah agama lain biar g tabrakan, malah bikin rukun jadinya, gimana ?

jadi, selalu berpositif ria aja ya teman2 smile

Posted by isabel  on  08/22  at  08:46 AM

    Saya berterima kasih mesjid di tempat saya sekarang dipegang ustad yang berpendidikan dan relatif liberal tapi justru mengatur penggunaan masjid dengan baik. Saat ini speaker mesjid nggak boleh sembarangan dipakai (keras sekali) dan suaranya jelek/ngawur. Sekarang tadarus pake speaker dibatasi tidak lebih dari jam 10 malam. Bagi yang ingin lanjut lebih dari jam tersebut tidak boleh pake speaker. Pagi hari, speaker dipakai kira2 mulai imsak, sementara di kampung-kampung belakang sering sampai semalaman dan cenderung adu keras.
    Pembicara ceramah juga diatur bergantian dari yang tafsirnya konservatif hingga yang liberal (katanya biar masyarakat memahami bahwa dalam Islam ada berbagai tafsir yang tidak perlu saling dipertentangkan tp saling dimengerti

Posted by nu  on  08/19  at  09:27 AM

hal yang baik akan berdampak positif jika dilakukan dengan baik, sesuai batas-batas kewajaran. tapi bila overdosis sebaik apapun akan berdampak negatif. tilawah quran itu baik tapi bila volumenya jor-joran, suara pembacanya “nglokor”  serta tidak mengenal waktu tentu akan membuat gerah penghuni sekitar. dibulan penuh barakah ini memang banyak lelakon ibadah yang berbau riya. seyogyanya pemakaian pengeras suara (outdoor) dibatasi antara 5 - 10 menit menjelang adzan, selain itu pakai pengeras suara dalam (indoor). jelas kurang menyentuh kalbu bila 200 masjid/mushala dalam satu kota memproduksi suara tanpa kendali bak pasar malam.

Posted by muhnan rais  on  08/16  at  10:54 AM