Klipping,
02/09/2008

Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.

Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Media Indonesia, tanggal 1 September 2008

Hari ini umat Islam Indonesia memasuki hari pertama puasa Ramadan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu dengan beragam cara; mulai dari sekedar mengirim sms (layanan pesan cepat) permintaan maaf ke sejumlah kolega hingga membentang spanduk dan poster yang berisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat berkah itu (syahr mubarak). Bahkan, perempuan yang tak lazim menggunakan jilbab pun mengisi Ramadan dengan busana yang membalut seluruh tubuh. Di mana-mana kita menyaksikan orang-orang memakai baju koko sehingga tampak lebih islami dan religius. Tabung televisi yang semula mengandung pertunjukan dangkal makna tiba-tiba berubah dengan spiritualisme. Layar kaca penuh dengan siraman ruhani. Mesjid-mesjid serta mushalla semarak dengan kultum (kuliah tujuh menit) dari para ustadz. Suasana itu kian menebalkan kesan bahwa umat Islam sedang berada dalam “peristiwa spiritual” yang dahsyat. Tampaknya mereka sedang meresapi sebuah hadits yang menyebutkan, “barang siapa yang bersuka cita dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh api neraka” (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama Allah jasadahu `ala al-niyran). 

Bagi umat Islam, puasa yang wajib adalah puasa sepanjang bulan Ramadan. Secara etimologis, Ramadhan sendiri berarti terik, panas, terbakar. Ini mengandung beberapa pengertian. Pertama, bahwa Ramadhan akan membakar dosa seseorang pada Tuhan. Itu sebabnya, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah). Nabi Muhammad bersabda, “sesungguhnya Allah telah mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan, dan saya menetapkannya sebagai salah satu sunnahku. Maka, barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari rahim ibundanya”.

Hadits lain menyebutkan bahwa minggu pertama bulan Ramadhan adalah minggu ampunan atas dosa-dosa. Tentu saja, dosa yang akan diampuni itu hanyalah dosa yang terkait antaranya dirinya dengan Allah (hablun min Allah). Sementara dosa privat terhadap sesama manusia tak bisa diampuni kecuali terlebih dahulu meminta maaf kepada yang bersangkutan. Itu sebabnya, ketika mau memasuki Ramadan, maka SMS dan surat permintaan maaf itu banyak dilakukan umat Islam. Namun, penting ditekankan, dosa publik seperti korupsi bisa terampunkan sekiranya sebuah sanksi hukum telah dijatuhkan untuk si koruptur tersebut. Menurut para ahli fikih Islam, tindakan korupsi tak diampuni hanya dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Kedua, bahwa Ramadhan juga membakar perut yang sedang berpuasa. Selama berpuasa umat Islam tak diperbolehkan makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan berpuasa, orang kaya yang tak pernah lapar ikut merasakan kelaparan yang senantiasa mendera hari demi hari orang miskin di luar Ramadhan. Karena itu, di bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan terutama buat kaum fakir dan miskin. Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah tak harus diberikan kepada sesama muslim, melainkan juga bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim yang fakir dan miskin. Bahkan, al-Mahdawi berpendapat bahwa dibolehkan bagi umat Islam untuk memberikan zakat kepada orang Musyrik yang miskin. Inilah saya kira salah satu makna dari Islam sebagai rahmatan lil alamin

Ketiga, bahwa Ramadhan potensial membakar hawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan demikian, orang yang menjalankan ibadah puasa bukan orang yang rakus dan tamak. Ia bisa menahan diri dari kecenderungan hedonistik. Sebab, kita semua mengerti bahwa makin tingginya angka korupsi dan penyelewengan di negeri ini bukan karena para pelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus dan tamak. Para pejabat tinggi masih korupsi walau gajinya berpuluh juta rupiah. Ramadan mendidik kita untuk tak terus memperturunkan keserakahan dan ketamakan. Orang bijak nan arif berkata, kekayaan bumi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warganya, tapi tak memadai untuk menuruti keinginan dan nafsu satu orang penghuninya. 

Puasa dan Kerukunan

Apa sebenarnya makna puasa bagi umat Islam Indonesia dan negeri Indonesia yang plural ini? Semua pelajar Islam tahu, al-Qur’an menegaskan bahwa ibadah puasa tak murni dari Islam. Para ulama ushul fikih memasukkan puasa ke dalam salah satu ajaran yang didasarkan pada syariat pra-Islam (syar`u man qablana). Sebab, umat-umat sebelumnya memang sudah biasa menjalankan puasa untuk mencapai derajat ketakwaan. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. Imam Al-Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an (Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam. Satu bukti, dalam Perjanjian Baru misalnya disebutkan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik..” (Matius: 6:16).

Sebuah hadits sahih menyebutkan, ketika pertama kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari, hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain menyebutkan, orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukan puasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan. Dikisahkan, puasa pada hari Asyura ini dilakukan Nabi sebagai bukti penghargaan terhadap kaum Yahudi dan terhadap Nabi Musa. Itu berarti bahwa puasa merupakan ibadah lintas agama. Puasa juga mengandung makna penghargaan terhadap umat agama lain.

Dengan demikian, umat Islam yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa adalah mereka yang kian toleran dan respek terhadap umat agama lain. Orang yang berpuasa tak akan membakar rumah ibadah umat agama lain dan tak menghancurkan mesjid orang-orang Islam yang dianggap menyimpang. Jika dieksplisitkan, orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.

Akhirnya, walau yang melakukan ibadah puasa Ramadhan itu hanya umat Islam, sudah semestinya yang ikut merasakan efek positif dari puasa Ramadan adalah seluruh warga bangsa di Indonesia ini. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1429 H. []

 

02/09/2008 | Klipping, | #

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

ga perlu panjang lebar, ente bahlul!!!
pemahaman anda tentang islam masih dangkal. inget ye, pada dasarnya kebenaran pada hakekatnya adalah claim of truth. Kebenaran adalah ketika anda percaya. Kebenaran=kepercayaan. saya yakin anda adalah agen intelejen CIA yang menyusup dalam jaringan Islam. walaupun mungkin ente orang indonesia.

Posted by juragan Moqsith  on  08/21  at  03:00 PM

Saya sependapat dengan pak muhamad hakim,pada dasarnya kita hidup memang berbeda beda,berwarna-warni,kenapa harus sama? biarlah keragaman menjadi hiasan dalam beribadah

Posted by cahngalasz  on  03/26  at  08:30 AM

Alhamdulillah para wali yang mengajarkan Islam pertamakalinya di Pulau Jawa adalah penganut sufisme yang mengedepankan isi daripada kulit. Karenanya Islam diterima dan dengan cepat mendapat pemeluk yang banyak. Mereka berislam dengan damai. Umat Islam utamanya generasi sekarang lebih banyak bertengkar dengan sesamanya dan dengan umat lain. Sebabnya salah satunya adalah mengedepankan fiqih. Saya teringat dulu waktu SMA (sekitar 80-an akhir), ada kawan saya yang begitu semangat ingin menerapkan fiqih yang didapatnya pasca pelatihan semacam pesantren kilat, mulai menyalahkan praktek ibadah yang dilakukan kawan lainnya. Tujuannya sebetulnya baik, mencoba mengajak kawan lainnya untuk mengikuti tuntunan Qur’an dan hadits dalam beribadah. Tetapi karena caranya selalu dengan gaya protes, merasa benar sendiri, menganggap diri lebih tahu daripada orang lain, malah dijauhi kawan-kawan lainnya.

Setelah kuliah di Jawa, saya mendengar bahwa adik-adik kami di SMA (sekitar pertengahan tahun 1990-an) malah lebih ekstrim lagi. Demi menerapkan hadits yang melarang memanjangkan kain melebihi mata kaki, mengguntingi semua ujung celana siswa yang dianggap melebihi mata kaki.

Setelah kembali ke kota asal (Kendari) di awal tahun 2000-an, saya terkejut mendengar bahwa kawan-kawan yang dulunya bersama-sama mendirikan pengajian siswa sewaktu SMA sudah tidak saling menyapa lagi. Ketika saya tanya apa sebabnya, seorang kawan memberitahu bahwa mereka tidak bersesuaian pendapat tentang fiqih tertentu. Keduanya memang berbeda kelompok.

Mendengar hal itu, saya jadi teringat, sekitar tahun 1995, dalam suatu pengajian di masjid kampus, ustadz yang memmberikan materi meminta kepada kami untuk membantunya menjelaskan kepada teman-teman lain mengenai keprihatinannya. Katanya saat itu, “Saya minta tolong kepada adik-adik mahasiswa yang hadir dalam pengajian ini, mohon diberitahu kepada kawan-kawannya yang lain, yang sekarang mulai bersaing tidak sehat, bahwa kami ini para ustadznya dulu berkuliah di tempat yang sama di Baghdad. Bahkan satu tempat kost dan satu kamar pula. Tetapi mengapa mereka yang jadi peserta didik kami itu sekarang terlihat saling membanggakan ustadz mereka masing-masing? Ada yang bilang ustadz-nya lebih jago dalam hal ini ketimbang ustadz kawannya. Kawannya tidak mau kalah kemudian membantah dan berkata bahwa ustadznyalah yang sesungguhnya lebih unggul. Saya khawatir, jika tidak dihentikan dari sekarang, nantinya mereka bertengkar terus dan meneruskan pertengkaran itu kepada anak didiknya kelak”.

Dan ternyata kekhawatiran ustadz kami itu sekarang terbukti dengan banyaknya perdebatan dan saling klaim sebagai yang paling benar di antara para penyebar dakwah di negeri ini. Dulu saya suka dengan forum pengajian, karena saya anggap seabagai tempat yang membawa kedamaian. Sekarang yang saya rasakan di dalam forum pengajian bukan lagi kata-kata tentang damai, kebersamaan, kepedulian, tetapi tudingan terhadap kelompok lain dengan istilah bid’ah, khufur nikmat, sesat, bodoh, tidak berilmu, dangkal pengetahuan agama, dsb. Sejak saat itu, saya lebih memilih meninggalkan kelompok pengajian. Saya lebih suka membaca buku-buku Islam yang lebih menekankan isi daripada kulit. Maksud saya, yang lebih menekankan kepada esensi keislaman yakni akhlaqul karimah (menghormati yang tua, menyayangi yang muda, memahami keterbatasan orang lain, dsb) ketimbang urusan baju, cara berjalan, cara sujud, cara berwudhu, cara berpuasa, tanda hitam di jidat, hadits sahih atau tidak, ini halal atau haram, musik halal atau haram, dan sebagainya.
Kesan saya, dakwah Islam sekarang lebih mementingkan kulit daripada isi, gak boleh beda. kalau ada yang beda, maka dibentak, diejek, diketawain.

Ah, di manakah dakwah Islam yang dulunya terasa damai dan menyejukkan itu….?

Posted by muhammad hakim  on  01/20  at  06:53 PM

Semoga suatu saat nanti kerukunan antar umat beragama dapat tercapai dan semoga dari bulan puasa ke bulan puasa berikut2nya, kita bisa bertambah baik, memberikan rahmat bagi sesama kita di alam semesta ini.  Amin.

Posted by Luxurious Bali Villas and Accommodations  on  01/13  at  08:01 AM

Hadis man fariha bidukhuli ramadhan dst tu sumbernya dari kitab apa dan perawinya siapa? Sy cari di cd kutubut tis’ah tdk ketemu. Suwun

Posted by Mazkim  on  08/29  at  05:26 PM