Tiran Arab dan Mitos-mitosnya
Oleh Novriantoni Kahar
Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 26 Oktober 2011
Kini semua kamuflase tentang sosoknya sebagai pembela Palestina, pemimpin Arab sejati, penguasa Afrika, kekuatan anti-neoimperialisme, tersingkap sudah. Akhir-akhir masa kekuasaannya mengkonfirmasi bahwa penghulu tiran Arab ini (`amid altughaat al-Araby) tak lebih dari sesosok badut yang semau-maunya mengubah skenario dan perannya dalam pentas sejarah. Saking seringnya ia melakukan itu, sampai-sampai kita tidak dapat menemukan benang merah dan tontonan bermutu apa pun dari aksi panggungnya. Robert Fisk, analis senior Timur Tengah di The Independent, menyebutnya sebagai “perpaduan paling edan dari sosok Don Carleone dan Donald Bebek“. Tentu pada sosok The Godfather dan Donald Duck kita masih mendapat tontonan yang bermutu. Pada Qadhafi, semua menjadi begitu memalukan dan memuakkan bagi rakyat Libya.
Kematian Muammar Qadhafi pada 20 Oktober lalu menyingkap fakta bahwa para tiran bukanlah sosok yang kesatria dan tegar. Delapan bulan yang lalu Qadhafi dengan angkuh mengumpat dengan menyebut para pemberontak Libya sebagai kecoa-kecoa yang ingin menghancurkan negeri. Kini beliaulah yang tamat bagai kecoa. Bukannya bertempur sampai titik darah penghabisan, Qadhafi justru menyuruk di saluran drainase—tempat lazimnya kecoa berumah dan beranak-pinak. Ia ditangkap secara hina-dina, tanpa meledakkan senjata emasnya, diinjak-injak martabatnya, disiksa, lalu dibunuh. Soal kontroversi seputar pembunuhannya dan untung-rugi membiarkannya hidup atau mati merupakan topik moral tersendiri yang pasti akan menimbulkan macam-macam teori.
Yang pasti, Qadhafi, yang tampak mewakili prototipe Badui sejati yang membawa kemah sekalipun menginap di hotel bintang lima, sesungguhnya telah mengkhianati nilai-nilai idealnya sendiri. Andai ia benar-benar menerapkan nilai-nilai ideal Badui sebagaimana yang dilukiskan sejarawan cum sosiolog Ibnu Khaldun, tentulah ia lebih mementingkan marwah dirinya (muru’ah) dengan cara mati dengan kesatria tinimbang harus mengiba untuk sekadar diampuni. Ini tidak. Dunia menyaksikan sosok kesatria yang ditunggu-tunggu itu tidak lebih dari seorang pecundang yang terpaksa mengiba untuk sekadar hidup ketimbang mati dengan rasa bangga.
Kini semua kamuflase tentang sosoknya sebagai pembela Palestina, pemimpin Arab sejati, penguasa Afrika, kekuatan anti-neoimperialisme, tersingkap sudah. Akhir-akhir masa kekuasaannya mengkonfirmasi bahwa penghulu tiran Arab ini (`amid altughaat al-Araby) tak lebih dari sesosok badut yang semau-maunya mengubah skenario dan perannya dalam pentas sejarah. Saking seringnya ia melakukan itu, sampai-sampai kita tidak dapat menemukan benang merah dan tontonan bermutu apa pun dari aksi panggungnya. Robert Fisk, analis senior Timur Tengah di The Independent, menyebutnya sebagai “perpaduan paling edan dari sosok Don Carleone dan Donald Bebek“. Tentu pada sosok The Godfather dan Donald Duck kita masih mendapat tontonan yang bermutu. Pada Qadhafi, semua menjadi begitu memalukan dan memuakkan bagi rakyat Libya.
Namun ini bukanlah gejala gagal menjadi tiran gagah berani yang khas Qadhafi. Ingatkah Anda bagaimana akhir kisah Saddam Hussein yang bukan bagian dari dongeng Seribu Satu Malam itu? Ia menyerah kepada Sekutu, menyembul dari dalam lubang persembunyian, tanpa perlawanan. Tragisnya, ia justru mengakhiri hayatnya di tiang gantungan. Tontonan paling mengecewakan dari invasi darat-udara Sekutu atas Irak saat itu adalah menghilangnya pasukan Garda Republik, yang konon hebat. Mereka lenyap meninggalkan sang tiran dan terbukti hanya mampu menjadi teror bagi rakyat Irak ketimbang secara kesatria melawan Amerika dan sekutunya.
Di panggung Tunisia, Zein Abidin Ben Ali adalah contoh lain dari tiran-pecundang. Ia terbirit-birit angkat kaki ke Arab Saudi demi menyelamatkan harta dan keluarganya. Husni Mubarak, tiran lain yang dikenal pandai menjaga keseimbangan geopolitik Timur Tengah, jauh lebih waras dari Qadhafi. Ia mengundurkan diri, menunaikan janji tidak meninggalkan Ibu Pertiwi, dan kini mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka pengadilan. Konon, di sidang pengadilan, hanya kata “hadir, ya Fendem!“dan “saya menolak semua dakwaan!“yang dapat terucap dari bibirnya. Tiran Yaman, Ali Abdullah (tidak) Saleh, kini sedang bernegosiasi dengan tiran di atas tiran agar mendapat jaminan pengampunan untuk hidup tenang sampai akhir hayat. Tiran Suriah yang masih tampak gagah, Bashar Assad, masih mencoba bermain-main dengan senjata demi membendung air bah kebebasan yang membanjiri hampir semua pojok negeri.
Dengan tewasnya Qadhafi, kini tampak jelas bahwa “Musim Semi Arab” belum akan beralih ke Musim Rontok. Gugurnya sosok tiran paling brutal, Qadhafi, justru kini memasok dukungan moral paling hebat bagi para pejuang kebebasan di berbagai kawasan Timur Tengah. Di Suriah, muncullah sejumlah banner yang menggentarkan nyali tiran lokal mereka: “Ben Ali melarikan diri; Mubarak masuk jeruji; Qadhafi telah mati; Bagaimana dengan Assad?” Pendek kata, terbunuhnya Qadhafi merupakan guyuran hujan bervolume besar bagi proses demokratisasi Timur Tengah setelah mengalami masa kemarau yang panjang di Libya.
Kini tibalah pertanyaan tentang ke mana Musim Semi Arab ini akan mengarah. Akankah ia membiakkan lebih banyak tunas kebebasan, demokrasi, dan keadilan, atau justru akan layu, lalu rontok dirambah tiran-tiran berwajah baru? Di Tunisia, beberapa indikator menunjukkan bahwa apa yang mereka tanam akan merekah dan berbuah ranum. Di Mesir, proses demokratisasi juga tampak menjanjikan sekalipun ada kekhawatiran soal percobaan main-main dengan harapan dan tuntutan perubahan yang diperagakan Dewan Tertinggi Militer dan kelompok Ikhwani-Salafi. Di Yaman, formula untuk mengurai dan mencari alternatif terhadap tirani Salehi dan Alqaidahi masih menunda proses-proses perubahan.
Di Libya, topik paling penting saat ini tentulah bagaimana memasuki fajar baru pasca-Qadhafi. Mitos tentang tribalisme, perang saudara, dan disintegrasi tampaknya sedikit-banyak terbantahkan. Namun Qadhafi telah meninggalkan legasi berupa sistem politik terburuk. Institusi pemerintah yang terbelakang, ketiadaan pengalaman berpartai politik, gaibnya civil society, dan sistem perekonomian yang sepenuhnya bertopang pada ekspor minyak adalah sebagian dari persoalan krusial. Ditambah potensi perpecahan antarfaksi pejuang yang sukses menumbangkan rezim Qadhafi—sekularis, Islamis, tribalis—membuat jalan Libya menuju demokratisasi masih akan panjang berliku.
Yang mungkin fatal juga adalah bila masyarakat internasional, terutama NATO dkk, kelak lebih mementingkan pengembalian bea yang mereka keluarkan dalam operasi ini ketimbang sungguh-sungguh membantu rakyat Libya keluar dari rasa terhina akibat dipimpin seorang tiran bebal selama 42 tahun. Kini pertaruhan Libya terletak di sini: mana yang harus segera ditunaikan, pemenuhan kepentingan masing-masing atau mewujudkan prinsip-prinsip ideal yang mereka perjuangkan dengan darah dan air mata.
Komentar
buat (alatif). Tertipu biasanya orang bodoh jahil. tetapi bangsa Indonesia banyak yang cendikiawan tetapi melacurkan diri kepada setan-setan Barat dengan harga yang sedikit (tsmanan Qalil) seperti kelompok JIL misalnya.Oleh itu coba fikir neraka yangmana semua manusia akan melewatinya, baik dengan aman tenteram atau tersiksa. Dari merapi saja manusia tidak tahan lalu mati, tetapi disana sesakit apapun tidak akan mati2 lagi.
untuk alatif; ..Bagaimana pula dengan orang-orang Indonesia yang menanggalkan otaknya lalu menggatinya dengan CIP2 Programer AMERIKA?.....Thank For YOU AMERIKA True System?.......Adakah mereka bukan tertipu atau tercuci otak?.
Sangat aneh kalau orang Indonesia justru belajar ke saudik arabia. Bukannya seharusnya mereka yang wajib belajar dari kita yang jauh lebih maju dalam kehidupan ?
Assalamualaikum.
Sifat berkamuflase berkembang sejak awal kehidupan manusia dipelajari dari jejak-jejak Allah dimuka bumi, hukum tuhan yang tersirat di alam, seperti binatang bunglon.
Berkamuflase kehidupan terkuak apabila sipenguasa kehilangan taringnya, dan tidak dapat menghindar karena itu dilengkapi oleh rekaman data akurat, apakah itu data: katakatanya (oral), tulisan, gambar, oral rekaman, dan gambar hidup. Semua sarana tersebut tidak bisa lagi membohongi masyarakat. Cuma media bisa mengubah persepsi yang ada pada masyarakat, juga dapat mengubah dan membangun opini masyarakat.
Dengan adanya kepustakaan /informasi mahalengkap seperti Google, dimana semua bisa mengunduh, kecuali yang disensor, maka kita bisa merekontruksi kejadian suatu sejarah mendekati “aslinya’. Demikian pula pada sejarah arab badui tersebut, apakah benar apa yang disampaikan oleh mulut manusia itu setelah nabi meninggal ratusan tahun sebelumnya. Itu diperlukan pemikiran rasional, bisabisa contoh yang disampaikan oleh mas Kahar dalam “tiran arab dan mitos-mitosnya’ merupakan inspirasi dalam kita mempercayai hadis, dan ujungujungnya berita bahwa kitab suci itu dijaga tuhan dalam keasliannya, itu mampu ditelusuri. Jadi jelas, manusia itu pintar dalam berkamuflase dalam hal membangun opini masyarakat, dengan demikian selayaknya JIL terus membimbing masyarakat yang menggunakan rasionya dalam memahami kitab suci.
Terima kasih
Wassalam
Assalamu’alaikum wrwb
Ulama2 dan Pemimpin2 negara2 Arab sudah banyak “menipu” ulama2 Indonesia dgn atas nama agama yaitu agama fundamentalis…dengan sistem diktator seperti sistem komunis saja, haram ada oposisi.
33 Perbedaan2 Islam Fundamentalis dan Progressive.
Silakan buka web site ini.Thanks
https://docs.google.com/document/d/1gJpDr9KxOM5wtBE-239LCbML4lx8q6qBYFVc3XFxdGY/edit
Komentar Masuk (6)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)