Reportase,
29/09/2011

Toleran Bukan “Masa Bodoh”

Oleh Johan Avie

“Anak muda bisa berperan menjaga toleransi dengan gaya mereka sendiri,” demikian disampaikan Husni Mubarak dari Forum Muda Paramadina (FMP) dalam sambutannya untuk talkshow “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” (28/09) yang merupakan bagian dari kampanye Sayembara esai, video, dan blog Ahmad Wahib 2012.

“Anak muda bisa berperan menjaga toleransi dengan gaya mereka sendiri,” demikian disampaikan Husni Mubarak dari Forum Muda Paramadina (FMP) dalam sambutannya untuk talkshow “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” (28/09) yang merupakan bagian dari kampanye Sayembara esai, video, dan blog Ahmad Wahib 2012.

Talkshow kedua ini diselenggarakan FMP di gedung SAC, IAIN Sunan Ampel, Surabaya bekerjasama dengan Center for Marginalized Communities Studies (CMARs). Talkshow pertama diselenggarakan di UIN Jakarta seminggu sebelumnya. Kali ini, Ihsan Ali Fauzi, Direktur Program Yayasan Paramadina, menjadi narasumber dan dimoderatori oleh Ahmad Zainul Hamdi.

Talkshow dibagi ke dalam lima sesi. Sesi pertama bertema toleransi sesama manusia. Kedua, bertema kekerasan dan toleransi. Ketiga, pancasila sebagai pedoman bangsa. Keempat, mengenal Ahmad Wahib, dan terakhir membincang rencana tindak lanjut talkshow.

Pada sesi pertama, moderator mempersilakan peserta untuk menanggapi video yang diputar sebelumnya terkait keberagaman. Aliyah, peserta talkshow, berpendapat bahwa perbedaan itu indah jika semua berlaku toleran. Sayangnya manusia sering mengedepankan egonya sendiri. Sementara Amir, peserta lainnya, menanyakan, sejauh mana batas toleransi? Terhadap pelaku bom, apakah kita harus toleran?

Ihsan Ali Fauzi menanggapi bahwa Islam menghargai pilihan individu. Tapi bukan berarti tidak boleh mendengarkan yang lain. Justru, kita selalu ingin didengarkan. Di situ pilihan individu menjadi berharga didengarkan.

“Seperti es campur, terasa nikmat kalau proporsional. Kalau busuk salah satu buahnya, es campur jadi tidak nikmat. Yang busuk itu harus diangkat atau diganti dengan yang bersih. Batasnya adalah merusak. Sejauh dia merusak, maka dia tidak bisa ditoleransi. Penjarakan, dibina dan diperbaiki sampai tidak melakukan kekerasan. Wasitnya adalah pemerintah,” tambah Ihsan.

Sesi selanjutnya menampilkan cuplikan video kekerasan. Ninik, salah seorang peserta, berpendapat bahwa sebagai orang beragama, wajar kalau jengkel ketika melihat kemaksiatan karena hal tersebut diajarkan dalam agama. Namun, jika melakukan kekerasan, tidak wajar. Menurutnya, untuk bisa menerima perbedaan butuh waktu. Seiring interaksi makin lebar, makin toleran.

Pada sesi ketiga, peserta disuguhi video pendek yang mengilustrasikan Pancasila. “Video mengenai Pancasila itu sangat menarik. Kita bisa menjadi seseorang yang relijius dan di saat yang sama juga nasionalis,” ujar salah satu peserta,  Umar Kosim.

Selanjutnya, sesi keempat, sosok Ahmad Wahib diperkenalkan kepada peserta lewat video. Beberapa peserta menceritakan pengalamannya yang tergugah membaca catatan harian Wahib dan membacakan kutipan-kutipannya kepada peserta lain. “Kita jangan mendewakan Wahib,” kata Rofiqi, salah seorang peserta. Ihsan Ali-Fauzi sepakat bahwa Wahib jangan didewakan karena Wahib sendiri akan menentang pendewaan itu.

Di sesi terakhir, peserta mendiskusikan apa saja yang bisa dilakukan generasi muda untuk menghidupkan semangat toleransi Wahib. Mereka menyadari bahwa toleransi sesama manusia menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu, mereka akan terus mengampanyekan sikap toleran ini kepada sesama manusia. Dalam penutupnya, Ihsan Ali-Fauzi menyampaikan, “Toleransi bukan ‘masa bodoh’, tapi saling memperkuat dengan melaksanakan golden principle, memperlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan oleh orang lain.”

Dalam rangka menyebarkan semangat toleransi Wahib, Husni Mubarak menutup acara dengan mengajak para peserta untuk mengikuti Sayembara Ahmad Wahib. Sayembara yang berhadiah total 67 juta ini menantang anak muda untuk mengekspresikan sikap toleran lewat esai, video, dan blog.[]

Muh. Iqbal adalah aktivis Center for Marginalized Communities Studies (CMARs) Surabaya.

29/09/2011 | Reportase, | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)