Suara Mahasiswa,
16/09/2011

Toleransi dalam Pandangan Orang Kristen: Sebuah Pengalaman Sehari-hari

Oleh Himawan Satya Pambudi*

Berangkat dari pengalaman saya sendiri : iman saya tidak akan berkurang sedikitpun ketika saya memberi ucapan selamat Idul Fitri kepada sahabat-sahabat saya yang Muslim, justru yang terjadi malah sebaliknya, sikap semakin taat karena belajar dari ketaatan sahabat saya yang Muslim dalam menjalankan ibadah Puasa yang berat.  Saya teringat Romo Mangun yang selalu member jeda memberikan ceramah ketika waktu azan (panggilan Sholat)  tiba, dan ketika ditanya mengapa dia bersikap demikian, Romo menjawab, hatinya terasa sejuk kalau mendengar suara azan. Kebetulan rumah saya hanya berjarak 100 meter dari masjid, jadi setiap hari saya selalu mendengar suara azan, berarti setiap hari hati saya merasa sejuk.

Ketika lembaga tempat kami beraktifitas akan mendirikan kantor permanen, pertama-tama yang dilakukan adalah mencari dan mendiskusikan bersama arsitek yang kami pilih mengenai konsep kantor yang akan kami dirikan. Dalam sebuah perbincangan dengan arsitek pada suatu hari, saya mengatakan bahwa di salah satu bangunan nanti yang akan didirikan dan tidak boleh dilewatkan adalah Mushola. Hal ini karena dalam lembaga kami mayoritas aktivis-nya beragama Islam. Ada sedikit keheranan dari teman-teman se-lembaga kami karena yang mengusulkan perlu adanya Mushola di kantor kami nantinya adalah saya, yang beriman Kristen. Kawan-kawan saya yang beriman Islam-pun tidak sempat memikirkan hal tersebut—-atau barangkali takut dianggap mementingkan diri sendiri. Usulan saya mengenai Meshola ini memang spontanitas, tidak ada pretensi apapun atas keberadaan tempat ibadah tersebut. Saya hanya sadar bahwa teman-teman atau bila ada tamu yang membutuhkan tempat sholat, dapat menjalankan kewajibannya secara layak.

Sekalipun ada sedikit keheranan dari kolega saya di kantor, bahwa usulan Mushola tersebut berasal dari saya yang beragama Kristen, tetapi sesungguhnya bagi saya merupakan sesuatu yang lumrah, atau tepatnya pandangan spontanitas. Saya memang sejak kecil sudah terbiasa dengan keberagaman dan sikap toleransi, yang sekalipun tidak pernah diajari secara langsung oleh orang tua saya—-yang seorang guru agama Kristen—-tetapi menjadi dasar pandangan saya sampai sekarang. Masyarakat, keluarga, bahkan sekolah telah mendidik saya untuk mengembangkan sikap terbuka terhadap perbedaan keyakinan, sehingga dalam setiap tindakan dan pikiran saya sampai sekarang tidak pernah perbedaan keyakinan menjadi dasar pertimbangan. Mengapa ini terjadi, saya akan mulai dari lingkungan terdekat saya, yakni keluarga.

Kakek/nenek saya seorang abangan, baik dari ayah atau ibu saya,  sehingga keluarga besar saya, om/tante, pakde/budhe juga umumnya bersikap sama dengan orang tuanya. Memang ada satu atau dua keluarga memiliki kegairahan dalam beragama, tapi tidak pernah saling mencemooh, bahkan saling menghormati. Saya ingat setiap Natal, sejak saya kecil sampai sekarang selalu didatangi keluarga-keluarga yang ingin mengucapkan selamat Natal kepada kami sekeluarga, atau sekedar mengirimi kami kue sebagai ucapan selamat Natal. Dalam lingkungan keluarga besar kami, hanya keluarga kami yang beragama Kristen, sebagian kecil Katolik yang jarang ke gereja, dan sebagian besar lainnya Islam. Kami terbiasa saling mengunjungi kalau lebaran atau natal untuk sekedar menyampaikan selamat—-sekarang lebih banyak diganti dengan mengirimkan sms, dampak teknologi yang merubah budaya kearah yang lebih pragmatis .

Ibu/Bapak saya sebelumnya juga Islam sekalipun abangan, tetapi karena terkesan sama tetangga yang beriman Kristen, akhirnya pindah keyakinan, dan malah Ibu saya menjadi guru agama Kristen SD, disebuah desa. Tentu saja sebagai orang tua, saya berusaha ditumbuhkan keyakinan saya yang sama dengan orang tua. Sejak kecil saya diajak ke Gereja,  sekalipun di Gereja hanya bermain dengan teman-teman sebaya.  Sampai kami sekeluarga pindah mengikuti tugas Bapak di sebuah desa. Saya masuk ke SD yang paling dekat dengan tempat tinggal kami sekeluarga. Di SD tempat saya bersekolah tidak ada guru agama Kristen. Saya tidak pernah tanya pada orang tua saya kenapa memasukkan saya ke SD yang jelas-jelas tidak ada guru agama Kristen, tetapi yang jelas orang tua saya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena tidak ada guru agama Kristen, maka setiap pelajaran agama Islam, saya juga ikut belajar bersama teman-teman yang lain.—-kebetulan satu kelas hanya saya sendiri yang Kristen. Saya tidak pernah disuruh keluar oleh guru, atau orang tua saya juga tidak pernah menyuruh saya untuk meninggalkan kelas kalau pelajaran agama Islam. Sehingga selama saya di SD tersebut praktis pendidikan agama yang saya ikuti adalah Islam.

Saya belajar kisah-kisah nabi dalam Islam, juga belajar membaca huruf-huruf Arab, dan doa-doa dalam bahasa Arab, bahkan sampai sekarang ada beberapa doa yang masih bisa saya hafal diluar kepala,  sekalipun saya tidak bisa membaca teks Arab.  Setiap test tri wulan (ujian SD) saya juga mengikuti ujian agama Islam, dan anehnya setiap penerimaan raport, nilai pendidikan agama saya selalu mendapatkan angka 8, lebih tinggi dari teman-teman saya yang beragama Islam. Apa ini karena disengaja dibuat oleh guru atau memang kepandaian saya dalam pelajaran agama (Islam), saya tidak tahu. Ini berlangsung sampai kelas 3, ketika saya harus pindah lagi mengikuti tugas Orang Tua dan kali ini saya masuk di SD dimana ibu saya juga mengajar, praktis saya mendapatkan pelajaran agama dari Ibu saya secara langsung.

Di kampong yang baru dimana kami sekeluarga tinggal, kami mendapatkan sebuah komunitas yang harmonis. Setiap peristiwa social saya bersama-sama kawan-kawan sebaya selalu membekas dalam ingatan saya dan tumbuh menjadi sebuah keyakinan tentang pentingnya sikap toleransi antar iman.

Bagi warga desa, Puasa dan Lebaran adalah bulan dan hari istimewa, bukan hanya bagi pemeluk Muslim, tetapi juga bagi masyarakat desa secara umum, khususnya bagi kami anak-anak kecil seperti kami. Setiap puasa, Mushola kampong kami menjadi tempat aktifitas utama warga, khususnya anak-anak. Berbagai kegiatan menyambut bulan Ramadhan dilakukan, mulai dari buka puasa bersama (jaburan), TPA, lomba-lomba, dan lain sebagainya. Paktis seluruh kegiatan anak-anak kampong berpindah ke masjid dan pelatarannya, saya pun demikian. Saya membaur dengan anak-anak kampong untuk bermain, sekalipun tidak mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan di Masjid. Saya bermain-main di halaman masjid dari sore sampai larut malam. Saya masuk masjid ketika acara buka puasa dimulai untuk menikmati Jaburan, dan dengan senang hati takmir masjid (atau yang ditunjuk)  akan membagi-bagikan makanan yang tersedia kepada kami anak-anak, termasuk saya yang bukan pemeluk Islam—-dan juga tidak berpuasa.

Tidak ada sikap membedakan diantara kami semua, dan saya begitu menikmati suasana tersebut dengan rasa kanak-kanak saya tentunya. Sehabis Jaburan dan merasa keyang, saya kembali bermain-main di halaman masjid, dan kadang-kadang saya tidak pulang, tetapi tidur di masjid bersama-sama teman-teman bermain karena kelelahan. Apakah Bapak/Ibu saya mempersoalkan hal tersebut, ternyata tidak. Saya tidur di Masjid pun tidak dicari, bahkan kalau sore saya tidak bermain ke Masjid, Bapak saya akan menanyakan, kenapa saya dirumah saja sore itu. Sebuah sikap yang terbuka ditunjukkan oleh orang tua saya, dan kemudian menjadi pelajaran bagi saya dalam menumbuhkan sikap penghormatan terhadap keyakinan yang berbeda.

Lebaran (Idul Fitri) bagi kami orang desa merupakan hari yang sangat penting, bukan hanya bagi warga Muslim, tetapi juga semua orang, termasuk saya.  Sekalipun saya tidak pernah dibelikan baju baru ketika Idul Fitri—-Natalpun saya juga tidak pernah dibelikan baju baru—-tetapi lebaran tetap menjadi hari yang istimewa. Pagi-pagi saya sudah mandi dan siap berangkat keliling kampong bersama-sama teman yang lain untuk meminta maaf kepada orang yang lebih tua, khususnya orang yang dianggap sesepuh desa. “Ujung” dalam bahasa jawa, artinya meng-ujung-i, untuk meminta maaf. Ini tradisi yang umum berlaku di Indonesia dan hari itu juga menjadi tradisi saya yang orang Jawa beragama Kristen. Saya akan mengunjungi setiap rumah di kampung beramai-ramai dengan teman saya, dan tentu saja ada kenakalan sedikit disitu, menyulut petasan dan sejenisnya yang telah kami siapkan.  Ini adalah hari yang istimewa bagi saya, dan kami anak-anak yang sedikit menikmati makanan berbeda dibandingkan dengan hari biasanya, lebih banyak, lebih beragam, dan tentu saja lebih enak.

Orang tua saya tentu saja tidak ikut “ujung”. Sebagai pegawai dan guru, orang tua saja dituakan sehingga harus di”ujung”i oleh tetangga kanan kiri. Praktis orang tua saya yang Kristen pun ikut merayakan idul fitri dengan memasak sedikit lebih enak untuk menyambut tamu-tamu yang datang, biasanya mereka yang lebih muda atau sanak keluarga yang beragama Islam, yang biasanya menganggap kami sebagai keluarga yang dituakan. Keadaanpun tidak jauh berbeda ketika saya SMP dan SMA di kecamatan yang sama, suasana social yang menuh harmomis dan sikap hidup yang terbuka antara Islam dan Kristen/Katholik—-karena dua keyakinan itu yang ada di kampong kami.

Ketika saya masuk kuliah, saya pun tidak terlalu simpatik dengan gerakan mahasiswa yang mengusung agama sebagai identitas politiknya, dan saya lebih memilih yang bercorak lebih nasionalis sekalipun saya hanya transit sebentar karena buru-buru suasana politik memanas menjelang kejatuhan Soeharto, dan saya lebih suka berdemonstrasi dari pada diskusi.

Ketika saya masuk ke sebuah organisasi non pemerintah, kebetulan platform yang dimiliki oleh organisasi tersebut juga sama dengan sikap saya, yakni inklusif terhadap ras dan keyakinan. Bahkan dalam banyak hal lembaga saya juga memperjuangkan pluralism, anti kekerasan, dan demokrasi, khususnya di Yogyakarta, kota tempat saya bermukim selama 15 tahun terakhir.  Suasana ini yang menumbuhkan sikap toleransi saya semakin subur.
Dalam kehidupan sehari-haripun saya kadang secara spontan (sesuatu yang tidak disadari) mengucapkan Assalamualaikum kepada orang lain, khususnya dalam pertemuan-pertemuan yang tentu saja dihadiri mayoritas beragama Islam, baik pertemuan RT, ataupun pertemuan formal lainnya. Bahkan kadang-kadang saya juga mengucapkan salam itu kepada sahabat-sahabat saya yang beragama Islam ketika bertemu, tanpa saya merasa sungkan, karena saya menyakini setiap salam dalam bahasa apapun bermakna universal, doa dan kedamaian.  Saya begitu terkesan ketika saya melakukan perjalanan di Halmahera Barat, setiap pertemuan yang diselenggarakan di kampong selalu didahului dengan doa Islam dan diakhiri dengan doa Kristen, atau sebaliknya secara bergantian dan semua berdoa dengan khusuk tanpa ada yang bersikap melecehkan. Demikian juga setiap orang yang akan berbicara mengucapkan kata Assalamualaikum dan Shalom diawal/  dan wassalam /shalom diakhir pembicaraan.

Setiap lebaran saya selalu mengirimkan sms kepada sahabat-sahabat saya yang beragama Islam untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin, dan biasanya akan disambut kiriman yang sama ke HP saya. Barangkali banyak sahabat-sahabat saya yang tidak tahu bahwa saya memeluk iman Kristen, sehingga mereka mengirimkan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada saya, dan biarlah ini terjadi karena saya juga tidak ingin keyakinan saya menjadi konsumsi public. Biarlah soal ini urusan saya dengan Tuhan. Toh saya juga merayakan lebaran kecil-kecilan di rumah dengan masak ketupat. 

Yang Kadang membuat hati saya kecut adalah teman atau kolega saya yang berbeda keyakinan, dan mengetahui iman saya Kristen, tetapi tidak mau mengirimkan ucapan selamat Natal kepada saya. Alasannya adalah “dalam iman mereka dilarang untuk memberi ucapan selamat kepada orang yang berbeda keyakinan, karena berarti secara tidak langsung mengakui kebenaran iman yang diberi ucapan tersebut”. Kalau misalnya sahabat saya lupa, tidak punya pulsa, atau sedang sibuk, saya sangat maklum. Bagi saya toh ucapan selamat atau tidak bukan merupakan sesuatu penting——-, karena Natal dan hari lain sama saja bagi keluarga kami, tidak ada yang istimewa selain hanya pergi ke gereja dan setelah itu sedikit makan-makan bersama,——- tetapi kalau alas an nya tidak memberi ucapan selamat karena “dilarang” oleh agama, menurut saya sungguh sikap yang sangat disayangkan.

Berangkat dari pengalaman saya sendiri : iman saya tidak akan berkurang sedikitpun ketika saya memberi ucapan selamat Idul Fitri kepada sahabat-sahabat saya yang Muslim, justru yang terjadi malah sebaliknya, sikap semakin taat karena belajar dari ketaatan sahabat saya yang Muslim dalam menjalankan ibadah Puasa yang berat.  Saya teringat Romo Mangun yang selalu member jeda memberikan ceramah ketika waktu azan (panggilan Sholat)  tiba, dan ketika ditanya mengapa dia bersikap demikian, Romo menjawab, hatinya terasa sejuk kalau mendengar suara azan. Kebetulan rumah saya hanya berjarak 100 meter dari masjid, jadi setiap hari saya selalu mendengar suara azan, berarti setiap hari hati saya merasa sejuk.


*Mahasiswa Program Pasca Sarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB)

 

16/09/2011 | Suara Mahasiswa, | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)