Tuhan yang Bersemayam dalam Akal Kita
Oleh Adi Bunardi
Merefleksikan pencarian Tuhan melalui akal.
Perjalanan menuju Tuhan adalah pendakian tanpa henti. Sluruh debaran jantung kita merupakan dentuman kerinduan menuju Tuhan. Rumi, seorang Penyair Sufi mengatakan bahwa setiap hembusan nafas kita adalah ungkap syukur kepada-Nya. Sebagai manusia, kita memang mempunyai potensi untuk rindu pada jalan yang lurus menujunya. Namun proses perjalan menuju-Nya hanya bisa ditempuh dengan mengetahui hakikat Tuhan itu sendiri. Di sinilah problem terbesar umat manusia dalam pencarian terhadap Tuhan.
Bagaimanakah cara memahami Tuhan? Para filosof menyatakan bahwa akal yang mampu untuk memahami Tuhan, Karena Tuhan adalah Akal Pertama. Mereka mencoba mendefinisikan Tuhan melalui rasio. Namun pada lapangan filsfat teologi, pencarian rasional terhadap Tuhan menemukan dua kesimpulan besar yang sama kuatnya, yakni; Ada dan Tiada.
Mohon maaf teruskan sendiri oleh teman-teman…....
Komentar
bray,,islam ga bsa d ukur pake akal…bktix abu jahal ga briman gara2 ngkur isro mi’roj dengan akal…
sprtu kringana yg ada pada mshulkhuffain
klo d pkir pke akal tntu mengusapa atasx lbih utama karena kotor…tp islam mensyariatkan hanya atasx saja..!!!
emang akal itu apaan Om,..gede yah.kok tuhan bisa bersemayam didalamnya.gedean akal dong sama Tuhan.
saudara2ku yg pernah mengalami masa sebelum g30s, pasti ingat salah satu contoh indoktrinasi pki waktu itu adalah: seorang anak disuruh untuk minta sepotong kapur tulis kepada tuhan (ternyata ga dikasih), trus anak itu disuruh minta pada orang (dikasih) itulah pembodohan ala pki identik dengan pembodohan ala JIL, cuma yg saya heran koq saudara2ku JIL ini ga bisa insyaf ya, wong belajar islam koq di amrik sama aja belajar bahasa jawa di jepang atau di rusia geeto
epada yang suka mengotak-atik tentang keberadaan Tuhan dan agama, wes mendingan otak-atik persamaan differensial biasa aja lah, otak jd tajam dan bermanfaat daripada maksa mengotak-atik filsafat. dan lagi daripada buang-buang energi masukkan filsafat ke Islam, mendingan baca buku-buku ulama salafush shalih deh. daripada tersesat, udah capek berfilsafat dan bersilat lidah, nah ternyata salah, makin jauh dari Islam yang diajarkan Nabi.
Oya, gampangnya gini aja: Rasulullah aja ga pernah pake filsafat, tapi hanya dgn aku mendengar dan aku taat. ya udah gitu dengar dan taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya
pake cape berfilsafat non
tidak usah memikirkan Tuhan dengan akal.Akal kita itu terbatas. yang terpenting adalah mengerjakan apa-apa yang diperintahkan Tuhan.
Komentar Masuk (170)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)