Wacana Islam Liberal di Aceh
Oleh Jafar
Fenomena mandegnya proses syariat Islam di Aceh membuktikan bahwa perlu dicari alternatif lain atau bentuk syariat Islam yang lain di Aceh, termasuk dengan wacana Islam liberal.
Fenomena syariat Islam di Aceh hari ini cendrung mengarah kepada pendistorsian syariat itu sendiri. Di satu sisi budaya masyarakat Aceh adalah budaya yang sangat mendukung pelaksanaan syariat Islam, tapi pada prosesnya mengalami hambatan di tingkatan atas, yaitu elite-elite politik yang cenderung menjadikan syariat Islam itu sebagai komoditas politik yang berorientasi pada kekuasaan. Indikasinya ditandai dengan lambannya proses pembuatan kanun-kanun (UU). Kemudian ketika wacana syariat Islam dilemparkan kepada masyarakat, mereka meragukan kinerja eksekutif dan legislatif sehingga keterlambatan proses ini menyebabkan munculnya budaya-budaya masyarakat yang justru bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri.
Sebagai contoh, salah satunya yaitu qanun tentang “khalwat”. Pada dasarnya inti dari qanun ini adalah membatasi pergaulan muda-mudi kepada koridor Islam yang sebenarnya. Namun ketika qanun tidak pernah terealisasikan maka kekosongan ini dimanfaatkan oleh muda-mudi di Aceh untuk melegitimasi pergaulan bebas mereka. Ini merupakan pendistorsian terhadap syariat Islam itu sendiri.
Fenomena di atas menandakan bahwa masih banyak perdebatan-perdebatan yang perlu dilakukan, bukan langsung mengklaim bahwa syariat Islam harus diberlakukan. Mungkin salah satu alternatifnya adalah wacana Islam liberal. Dari sini kita bisa membedah terlebih dahulu apa yang mesti dilakukan sehingga syariat Islam bisa terealisasi di Aceh, atau ada alternatif syariat Islam dalam bentuk yang berbeda dengan kondisi hari ini, seperti syariat yang berbasis kepada penyelesaian persoalan ekonomi rakyat, karena saya melihat ini merupakan persoalan yang paling fundmental mandegnya proses islamisasi di aceh.
Saya melihat yang terjadi hari ini justru pemaksaan, “bahwa Islam seperti inilah yang harus diterapkan” tanpa memberi kebebasan kepada semua orang (rakyat aceh) untuk memilih Islam seperti apa yang mereka inginkan.
Mungkin ini yang menjadi salah satu cara, di mana wacana Islam liberal bisa diterapkan di Aceh.
Komentar
Bagaimanapun implementasi Syari’at Islam di Aceh, jangan dilihat dari perspektif empirik karena meskipun umatnya jumud, disorientasi dan tidak mencerminkan kehidupan Islami pada konteks tertentu, pahamilah bahwa Islam yang hakiki tidak kurang kesempurnaan dan kemuliaannya sebagai “way of life” yang pasti memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Satu syarat, jangan diukur dengan materi atau “dollar,” itu tidak sebanding, tiada nilainya.
kalo JIL pake itungan akal kitajuga pake itungan akal.
berapa triliun uang negara yang habis digunakan untuk mengelola RUMAH TAHANAN dari mulai gaji pegawai RUTAN, sampai Biaya makan tahanan.
angka yang fantastis bukan? menurut itungan untung rugi negara rugi sekali mengeluarkan uang besar untuk itu semua.
tapi kalo hukum cambuk ga pake dipenjara udah di cambuk terus di obati dan di suruh pulang. jadi uang yang buat mengelola RUTAN bisa di gunakan untuk pengentasan kemiskinan.
coba hitung berapa Triliun uang negara yang bisa di hemat bila hukum seperti ISLAM di aceh bisa di tepapkan?
hitung aja sendiri.
“gitu aja kok repot”
sy anti jil yg menyamakan smua agama, jd sy hrp jil jangan mengomentari syariat islam di aceh. Jil itu bermuka dua d satu sisi tidk ingin ada syariat islam di indonesia tp d satu sisi ingin menerapkan syariat islam ala jil di aceh. Apa ingin menunjuk muka bhw jil berpengahruh di aceh dlm menerapkan islam. Ya Allah semoga rakyat aceh tetap pd pendrian agama yg d ajarkan oleh ulama terdahulut dan jauhkan lah dari organisasi spt Jil amin.
saya doakan agar jil mempunyai stasiun televisi sendiri
bencana yang sedang terjadi di Aceh adalah bencana yang sangat besar bagi seluruh masyarakat aceh yaitu bencana penegakan syaiat islam yang belum jelas, padahal aceh adalah salah satu daerah yang penuh dengan orang islam tapi sayang nya di aceh tidak terlaksana syariat yan semestinya di tegakkan oleh ummat islam, itulah salah satu bencana yang menimpa banyak negara tapi banyak pemimpin yang tidak sdar dengan bencana tersebut, banyak pemimpin menyalahkan ulama padahal peran ulama di aceh banyak yang tidak di pandang oleh pemimpin. juga bnyak santri yang tidak di perhatikan padahal di antara mereka banyak yang pandai di banding siswa siswa yang belum jelas masa depan mereka. mari sekarang perhatikan pendidikan berbasis islam di aceh (dayah) jangan jadi kan dayah anak tiri pemerintah aceh. perhatilah kepada santri yang ingin melanjutkan studi mereka keluar negeri mereka yang ingin menuntut ilmu di negara orang. jangan bedakan santri dengan siswa sekolah jangan pikirkan bahwa santri tidak bermanfaat di daerah kita. ingat itu pemerintah aceh !!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Komentar Masuk (36)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)