Editorial

Sinterklas dan Natal

Oleh Trisno S. Sutanto

“Seluruh kompleksitas cerita Injil tentang kelahiran Yesus itu hilang ketika masa Natal direduksi menjadi sekadar figur Sinterklas, undangan belanja, dan masa libur panjang di akhir tahun. Mungkin ini ‘nasib’ yang harus diterima ketika suatu perayaan keagamaan kehilangan élan vital-nya, entah terserap menjadi sekadar pernak-pernik budaya konsumerisme global, atau menjadi sekadar seremoni yang membosankan dan membuat orang mengantuk. Di situ pesan-pesan keagamaan mengalami proses insignifikansi maupun irrelevansi—tak lagi mampu memberi horison guna memaknai kehidupan, sekaligus tak lagi gayut dengan pergulatan sehari-hari.”

26/12/2011 | Editorial, | Komentar (9) #

Mengucapkan Selamat Natal

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih,  yang diduga jatuh pada tanggal 25 Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga dibolehkan merayakan hari kelahiran Isa dan hari kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW. Sebab, Isa bukan hanya milik umat Kristiani secara komunal melainkan juga semua orang yang mengimaninya. Tokoh-tokoh besar seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa al-Masih dan Muhammad SAW bukan kepunyaan kelompok tertentu saja. Para tokoh itu bisa menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun.”

19/12/2011 | Editorial, | Komentar (92) #

Menghalau Radikalisme Agama di Sekolah

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Kelompok Islam Wahabi berideologi puritan sekaligus radikal terus mendirikan sejumlah pesantren. Tak kurang dari belasan pesantren yang telah dirintis kelompok Wahabi di Indonesia. Sebagaimana sekolah Wahabi di Arab Saudi, sejumlah pesantren Wahabi di Indonesia mengkampanyekan doktrin yang sama. Mereka suka memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berbeda dengan ajaran Wahabi. Tak cukup hanya mengkafirkan dan memusyrikkan, jika suasana sosial-politik sudah pendukung, kelompok Wahabi tak ragu untuk menggunakan cara kekerasan di dalam mengubah pendirian orang Islam lain. Jalan kekerasan itu pernah dilakukan kelompok Wahabi Arab Saudi terhadap umat Islam lain yang dianggap menyimpang. Kelompok Wahabi tak hanya bengis kepada non-muslim, tapi juga keras kepada umat Islam sendiri yang non-Wahabi.”

12/12/2011 | Editorial, | Komentar (17) #

Belajar dari Islam Turki

Oleh Novriantoni Kahar

“Islam Turki lebih bercorak esoteris ketimbang eksoteris. Pengaruh sufisme sangat kuat dalam corak keberagamaan Islam Turki, dan kenyataan ini membuat Islam Turki jauh dari formalisme apalagi menyerahkan diri secara bongkokan kepada penetrasi Wahabisme-Salafisme. Pemahaman Turki tentang Islam lebih banyak dibentuk oleh toleransi Rumi, anjuran cinta Yunus Emre, maupun rasionalitas Haci Bektassi. Dalam sejarah Turki modern, perjuangan untuk melegalkan pemakaian jilbab di sektor publik memang terjadi, namun hal itu tiada lebih sebagai perlawan terhadap penerapan sekularisme yang sangat keras. Ibarat bermusik, sekularisme Turki terlalu lama menyuguhkan heavy metal sementara masyarakatnya sudah tidak lagi merasakan merdunya alunan musik itu.”

05/12/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Menggemakan Pemikiran Gus Dur

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dengan basis tradisi keilmuan Islam yang cukup, Gus Dur melakukan dinamisasi pemikiran Islam. Ia pun melakukan kritik sangat tajam terhadap kemandegan pemikiran Islam. Ushul fikih yang dalam sejarahnya merupakan proses kreatif untuk mendinamisasi fikih Islam, dalam perkembangannya, menurut Gus Dur, telah menjadi alat seleksi yang sangat normatif dan memandulkan kreativitas. Akibatnya, umat Islam berwawasan sempit dan sangat ekslusif. Umat Islam menjadi beban bagi kebangunan peradaban Islam. Aktivitas istinbath tak bisa dilangsungkan, karena para ulamanya telah terperangkap dalam gubahan fikih lama. Berbagai upaya untuk mengaransemen fikih Islam selalu ditolak.

21/11/2011 | Editorial, | Komentar (6) #

Kritik atas Fikih Perkawinan

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Akad nikah dalam fikih Islam cenderung bersifat material, jauh dari hal-hal yang bersifat filosofis dan romantis. Umat Islam sesekali perlu menengok praktek akad nikah umat agama lain. Dalam perkawinan Katolik misalnya, yang menjadi sentral pembicaraan dalam akad nikah adalah soal cinta kasih. Ia adalah soko guru dan fondasi yang akan kuat menopang rumah tangga. Demikian kuatnya ikatan perkawinan yang hendak dirajut, pengkhotbah dalam perkawinan selalu berkata: “Apa yang dipersatukan oleh Tuhan tak boleh diceraikan oleh manusia”.

15/11/2011 | Editorial, | Komentar (39) #

Minoritas Muslim Perlu Fikih Minoritas

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Belajar dari pengalaman Mekah, yang perlu dikembangkaan minoritas muslim dalam berelasi dengan mayoritas non-Islam di Barat adalah al-fiqh al-akbar (fikih makro) bukan al-fiqh al-asghar (fikih mikro). Jika fikih mikro terlampau sibuk untuk mengatasi persoalan “receh” atau “trivial” dalam fikih seperti soal penyembelihan hewan kurban, maka fikih makro lebih mengembangkan penegakan moral atau etika publik. Dengan pengembangan al-fiqh al-akbar, peluang umat Islam untuk mencari titik temu dengan pengikut abrahamic religion lain seperti Kristen dan Yahudi lebih mungkin dilakukan.”

07/11/2011 | Editorial, | Komentar (2) #

Kebebasan “Pilih-Pilih”

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Dalam penafsiran saya, kebebasan yang dimaksud dalam Al-Baqarah:256 mencakup dua jenis kebebasan sekaligus. Pertama, kebebasan eksternal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk masuk atau tidak masuk ke dalam agama tertentu. Kedua, kebebasan internal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk memilih sekte, mazhab, dan golongan tertentu dalam agama yang dipeluk oleh yang bersangkutan. Dengan demikian, sesorang bebas untuk memeluk atau tidak memeluk agama Islam, misalnya. Manakala orang itu memutuskan untuk masuk Islam, maka ia juga memiliki kebebasan untuk mengikuti golongan apapun yang ada dalam Islam: Sunni, Syiah, Mu’tazilah, Wahhabiyah, Ahmadiyah, dsb. Sebab, Islam bukanlah entitas yang monolitik; di dalam Islam, sejak masa-masa formatifnya sendiri, kita jumpai banyak sekte, mazhab, dan golongan yang berbeda-beda.

01/11/2011 | Editorial, | Komentar (13) #

Meringkas Al-Qur’an

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Al-Qur’an menyuruh untuk mencari titik-titik persamaan hatta kepada orang yang berbeda agama dengan dirinya. Hukum moral kemanusiaan dalam al-Qur’an ini sesungguhnya merupakan afirmasi terhadap hukum moral nun di dalam diri manusia. Suara moral dalam nurani manusia paralel dengan seruan moral dalam kitab suci al-Qur’an.”

24/10/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Kerukunan

Oleh Saidiman Ahmad

Bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo. Beberapa hari sebelumnya, di Ambon, meledak kerusuhan. Sejumlah pakar menganalisis bahwa peristiwa Ambon dipicu oleh beredarnya SMS yang memberi informasi salah mengenai penyebab kematian seorang tukang ojek. Diduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk membuat keributan dengan mengadu-domba warga.

19/10/2011 | Editorial, | Komentar (4) #
Halaman: 2 dari 24  < 1 2 3 4 >  Last ›