Editorial

Menggemakan Pemikiran Gus Dur

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dengan basis tradisi keilmuan Islam yang cukup, Gus Dur melakukan dinamisasi pemikiran Islam. Ia pun melakukan kritik sangat tajam terhadap kemandegan pemikiran Islam. Ushul fikih yang dalam sejarahnya merupakan proses kreatif untuk mendinamisasi fikih Islam, dalam perkembangannya, menurut Gus Dur, telah menjadi alat seleksi yang sangat normatif dan memandulkan kreativitas. Akibatnya, umat Islam berwawasan sempit dan sangat ekslusif. Umat Islam menjadi beban bagi kebangunan peradaban Islam. Aktivitas istinbath tak bisa dilangsungkan, karena para ulamanya telah terperangkap dalam gubahan fikih lama. Berbagai upaya untuk mengaransemen fikih Islam selalu ditolak.

21/11/2011 | Editorial, | Komentar (6) #

Kritik atas Fikih Perkawinan

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Akad nikah dalam fikih Islam cenderung bersifat material, jauh dari hal-hal yang bersifat filosofis dan romantis. Umat Islam sesekali perlu menengok praktek akad nikah umat agama lain. Dalam perkawinan Katolik misalnya, yang menjadi sentral pembicaraan dalam akad nikah adalah soal cinta kasih. Ia adalah soko guru dan fondasi yang akan kuat menopang rumah tangga. Demikian kuatnya ikatan perkawinan yang hendak dirajut, pengkhotbah dalam perkawinan selalu berkata: “Apa yang dipersatukan oleh Tuhan tak boleh diceraikan oleh manusia”.

15/11/2011 | Editorial, | Komentar (39) #

Minoritas Muslim Perlu Fikih Minoritas

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Belajar dari pengalaman Mekah, yang perlu dikembangkaan minoritas muslim dalam berelasi dengan mayoritas non-Islam di Barat adalah al-fiqh al-akbar (fikih makro) bukan al-fiqh al-asghar (fikih mikro). Jika fikih mikro terlampau sibuk untuk mengatasi persoalan “receh” atau “trivial” dalam fikih seperti soal penyembelihan hewan kurban, maka fikih makro lebih mengembangkan penegakan moral atau etika publik. Dengan pengembangan al-fiqh al-akbar, peluang umat Islam untuk mencari titik temu dengan pengikut abrahamic religion lain seperti Kristen dan Yahudi lebih mungkin dilakukan.”

07/11/2011 | Editorial, | Komentar (2) #

Kebebasan “Pilih-Pilih”

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Dalam penafsiran saya, kebebasan yang dimaksud dalam Al-Baqarah:256 mencakup dua jenis kebebasan sekaligus. Pertama, kebebasan eksternal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk masuk atau tidak masuk ke dalam agama tertentu. Kedua, kebebasan internal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk memilih sekte, mazhab, dan golongan tertentu dalam agama yang dipeluk oleh yang bersangkutan. Dengan demikian, sesorang bebas untuk memeluk atau tidak memeluk agama Islam, misalnya. Manakala orang itu memutuskan untuk masuk Islam, maka ia juga memiliki kebebasan untuk mengikuti golongan apapun yang ada dalam Islam: Sunni, Syiah, Mu’tazilah, Wahhabiyah, Ahmadiyah, dsb. Sebab, Islam bukanlah entitas yang monolitik; di dalam Islam, sejak masa-masa formatifnya sendiri, kita jumpai banyak sekte, mazhab, dan golongan yang berbeda-beda.

01/11/2011 | Editorial, | Komentar (13) #

Meringkas Al-Qur’an

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Al-Qur’an menyuruh untuk mencari titik-titik persamaan hatta kepada orang yang berbeda agama dengan dirinya. Hukum moral kemanusiaan dalam al-Qur’an ini sesungguhnya merupakan afirmasi terhadap hukum moral nun di dalam diri manusia. Suara moral dalam nurani manusia paralel dengan seruan moral dalam kitab suci al-Qur’an.”

24/10/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Kerukunan

Oleh Saidiman Ahmad

Bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo. Beberapa hari sebelumnya, di Ambon, meledak kerusuhan. Sejumlah pakar menganalisis bahwa peristiwa Ambon dipicu oleh beredarnya SMS yang memberi informasi salah mengenai penyebab kematian seorang tukang ojek. Diduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk membuat keributan dengan mengadu-domba warga.

19/10/2011 | Editorial, | Komentar (4) #

Para Penghina Islam

Oleh Saidiman Ahmad

“Di dunia Islam, para pembaru dicurigai membawa misi melawan Islam. Pembaruan dianggap sebagai pelemahan terhadap Islam. Mereka dilecehkan. Pelecehan terbesar yang diterima para pembaru Islam adalah bahwa mereka dianggap menghina Islam. Proyek-proyek pembaruan dianggap sama dengan penghinaan. Pikiran-pikiran progresif dianggap sama dengan penghinaan.”

10/10/2011 | Editorial, | Komentar (2) #

Merenungkan Keluarga Korban

Oleh Lies Marcoes Natsir

“Kita tahu stigamtisasi terhadap keluarga korban bukankah prilaku aneh dalam dunia politik kekuasaan di manapun tak terkecuali di Republik ini. Dalam banyak sejarah bangsa-bangsa di dunia setiap perubahan konstelasi politik di dalam sebuah kekuasaan yang represif tindakan-tindakan pelanggaran HAM berupa penangkapan, penahanan tanpa pengadilan dan penghilangan paksa menjadi bagian inheren dalam mekanisme pertahanan suatu rezim. Namun kita juga melihat sebuah bangsa yang membiarkan setiap pelanggaran HAM berlangsung tanpa penyelesaian dengan tuntas hanya akan menyisakan jelaga sosial politik yang setiap saat bisa berubah menjadi hantu yang menggangu kelangsungan hidup berbangsa. “

03/10/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Tiga Jenis Ikhwani

Oleh Novriantoni Kahar

“Dengan wujudnya tiga jenis Ikhwani ini, dapatlah dikatakan bahwa wajah Mesir pasca-Mubarak masih merupakan pertaruhan yang mendebarkan bagi rakyat Mesir. Ikhwan saat ini memang sedikit terdorong ke tengah dengan wujudnya kalangan ultra-konsertavif Salafi yang menjadi pemenang kedua pada pemilihan putaran pertama dan kedua Mesir. Namun dilihat dari jenis-jenis Ikhwani di atas, sebetulnya peta arus utama Ikhwan belum jauh betul berjarak dengan pandangan-pandangan sosial-keagamaan Salafi.”

19/09/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Apa Itu Kebebasan?

Oleh Saidiman Ahmad

“Kebebasan untuk melakukan apa saja bukanlah kebebasan. Itu adalah penindasan. Isaiah Berlin menyebut kebebasan semu model kedua ini sebagai positive liberty (kebebasan positif) atau freedom to (kebebasan untuk).
Pemutarbalikan makna kebebasan membuat terma ini sering disalahpahami. Dan ini membawa implikasi yang cukup jauh. Kesalahan memahami kebebasan membuat tak sedikit orang yang menaruh curiga lalu mencoba membatasi kebebasan itu sendiri.”

12/09/2011 | Editorial, | Komentar (0) #
Halaman: 2 dari 23  < 1 2 3 4 >  Last ›