Editorial

Gebrakan Amina Wadud

Oleh Luthfi Assyaukanie

Saya menganggap isu “imam perempuan” adalah bagian dari tradisi keagamaan semata, dan bukan fondasi asasi dari agama. Ulama sejak lama berdebat soal ini, sama seperti mereka memperdebatkan soal jilbab, bunga bank, eutanasia, dan kawin beda agama. Adapun jika reaksi terhadap isu ini begitu besar, itu karena Amina Wadud merupakan perempuan pertama yang berani menarik masalah ini dari perdebatan fikih ke ruang nyata.

27/03/2005 | Editorial, | Komentar (61) #

Kifaya di Timur Tengah

Oleh Hamid Basyaib

Maka slogan yang makin sering diteriakkan oleh warga Timur Tengah adalah “Kifaya” – “Cukup” (cukuplah segala penindasan ini, cukuplah segala kepengapan politik, ekonomi dan sosial ini, cukuplah sudah bagi para penguasa lalim yang keterbelakangan cara-cara pengelolaan kekuasaannya kian menjengkelkan).

21/03/2005 | Editorial, | Komentar (9) #

“Overdosis” Agama

Oleh Novriantoni

Sebatas itu tidak jadi soal. Hanya saja, Fulan tidak mencukupkan versi kebenaran yang ia terima untuk dirinya sendiri, tapi berkali-kali menyalahkan pihak lain yang tidak sepaham dengannya secara sengit. Dalam fantasinya, hanya dia yang konsisten mengikut jejak para leluhur Islam yang saleh (salafush shâleh)—dan dengan begitu cukup dia saja yang punya tiket ke surga—sementara yang lain tidak.

06/03/2005 | Editorial, | Komentar (28) #

Agama Sebagai Sumber Kekerasan

Oleh Luthfi Assyaukanie

Mengatakan bahwa agama sebagai sumber kekerasan agaknya memang sebuah paradoks, karena pesan inti agama adalah perdamaian. Tapi, menolak keterkaitan itu sama sekali juga merupakan perbuatan naif, karena kita jelas-jelas melihat banyaknya fenomena pembunuhan, terorisme, dan perusakan yang mengatasnamakan agama.

20/02/2005 | Editorial, | Komentar (40) #

Indonesia Berpikir

Oleh Hamid Basyaib

Televisi makin terbukti sebagai pesawat ajaib. Haji Arifin Ilham memahami benar keajaiban itu dan meraih limpahan berkah darinya. Belum dua tahun berselang ketika dia kali pertama tampil di layar televisi memulai “Indonesia Berzikir”. Para karyawan perusahaan TV itu, yang berperan sebagai ahli citra (imagolog), membantu menemukan nama yang memikat bagi programnya.

06/02/2005 | Editorial, | Komentar (60) #

Sains, Agama, dan Misteri

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Beberapa saat setelah terjadi bencana di Aceh, budayawan Goenawan Mohamad berkirim SMS kepada sejumlah teman, termasuk saya. SMS itu selalu terngiang di telinga saya sampai kini: “Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan, maka dia percaya kepada Tuhan yang buas. Itu bukan Tuhan saya.” Saya menyertai Goenawan, tak percaya kepada Tuhan yang buas. Tuhan yang saya imani bukan Tuhan yang buas semacam itu.

29/01/2005 | Editorial, | Komentar (56) #

Islam, Turisme, dan Toleransi

Oleh Luthfi Assyaukanie

Kaum muslim yang memimpikan keberhasilan wisata di daerah mereka (baik di Ternate, Tidore, Lombok, ataupun kawasan lainnya) sudah semestinya belajar dari orang-orang Bali yang sangat toleran dan secara sadar mau menerima berbagai konsekwensi dari indutri ini. Tanpa toleransi, keinginan akan sebuah industri turisme yang berhasil tak akan terwujud.

16/01/2005 | Editorial, | Komentar (19) #

Islam Yang Terus Berubah

Oleh Luthfi Assyaukanie

Majalah New Statesman edisi September silam (13/09/2004) membuat laporan utama tentang Islam berjudul: “Dapatkah Islam Berubah?” (Can Islam Change?). Pertanyaan yang tampak sederhana ini sebetulnya menyimpan persoalan besar dan menjadi perdebatan hangat di kalangan intelektual dan sarjana, baik muslim maupun non-muslim.

09/01/2005 | Editorial, | Komentar (40) #

Pendapat Islam Liberal Tentang Perayaan Natal

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Bagaimanakah kita mensyukuri ni’mat perbedaan? Sikap Qur’ani terhadap perbedaan bukanlah “indifferentisme” yaitu sikap saling tak peduli, sikap cuek, tak mau tahu, dan tak hendak mengambil pelajaran apapun dari orang-orang lain yang kebetulan berbeda dari kita, entah dari segi suku, bahasa, ras, agama, atau yang lain-lain.

26/12/2004 | Editorial, | Komentar (98) #

Renesans dan Reformasi Agama

Oleh Luthfi Assyaukanie

Pemikiran Barat modern punya rujukan jelas ke mana sejarah liberalisme dan kebebasan harus dialamatkan. Tak lain dan tak bukan, ke periode renesans dan reformasi pada abad ke-16 Masehi. Renesans adalah masa kelahiran atau kebangkitan kembali manusia Barat setelah tertidur lama pada masa yang disebut “abad kegelapan” (dark ages). Kata ini berasal dari bahasa Itali, rinascimento, yang berarti “terlahir kembali.”

19/12/2004 | Editorial, | Komentar (13) #
Halaman: 17 dari 24 ‹ First  < 15 16 17 18 19 >  Last ›