Editorial
Para Penghina Islam
Oleh Saidiman Ahmad
“Di dunia Islam, para pembaru dicurigai membawa misi melawan Islam. Pembaruan dianggap sebagai pelemahan terhadap Islam. Mereka dilecehkan. Pelecehan terbesar yang diterima para pembaru Islam adalah bahwa mereka dianggap menghina Islam. Proyek-proyek pembaruan dianggap sama dengan penghinaan. Pikiran-pikiran progresif dianggap sama dengan penghinaan.”
Merenungkan Keluarga Korban
Oleh Lies Marcoes Natsir
“Kita tahu stigamtisasi terhadap keluarga korban bukankah prilaku aneh dalam dunia politik kekuasaan di manapun tak terkecuali di Republik ini. Dalam banyak sejarah bangsa-bangsa di dunia setiap perubahan konstelasi politik di dalam sebuah kekuasaan yang represif tindakan-tindakan pelanggaran HAM berupa penangkapan, penahanan tanpa pengadilan dan penghilangan paksa menjadi bagian inheren dalam mekanisme pertahanan suatu rezim. Namun kita juga melihat sebuah bangsa yang membiarkan setiap pelanggaran HAM berlangsung tanpa penyelesaian dengan tuntas hanya akan menyisakan jelaga sosial politik yang setiap saat bisa berubah menjadi hantu yang menggangu kelangsungan hidup berbangsa. “
Antropomorfisme dan Teks Suci
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
... manusia yang melakukan kegiatan penafsiran banyak jumlahnya, dan karena itu penafsiran akan selalu banyak dan beragam. Teks suci dalam agama tertentu memang satu. Tetapi penafsiran atas teks itu tidaklah mufrad/tunggal, melainkan jamak/banyak. Keragaman tafsir adalah “nasib” yang tak terhindarkan dalam komunitas agama manapun.
Tiga Jenis Ikhwani
Oleh Novriantoni Kahar
“Dengan wujudnya tiga jenis Ikhwani ini, dapatlah dikatakan bahwa wajah Mesir pasca-Mubarak masih merupakan pertaruhan yang mendebarkan bagi rakyat Mesir. Ikhwan saat ini memang sedikit terdorong ke tengah dengan wujudnya kalangan ultra-konsertavif Salafi yang menjadi pemenang kedua pada pemilihan putaran pertama dan kedua Mesir. Namun dilihat dari jenis-jenis Ikhwani di atas, sebetulnya peta arus utama Ikhwan belum jauh betul berjarak dengan pandangan-pandangan sosial-keagamaan Salafi.”
Apa Itu Kebebasan?
Oleh Saidiman Ahmad
“Kebebasan untuk melakukan apa saja bukanlah kebebasan. Itu adalah penindasan. Isaiah Berlin menyebut kebebasan semu model kedua ini sebagai positive liberty (kebebasan positif) atau freedom to (kebebasan untuk).
Pemutarbalikan makna kebebasan membuat terma ini sering disalahpahami. Dan ini membawa implikasi yang cukup jauh. Kesalahan memahami kebebasan membuat tak sedikit orang yang menaruh curiga lalu mencoba membatasi kebebasan itu sendiri.”
Islam Ramah bukan Islam Marah
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
“Telah lama Gus Dur berkata tentang pentingnya menampilkan Islam ramah bukan Islam marah. Islam ramah adalah Islam yang cenderung menyelesaikan persengkataan melaui cara-cara nir-kekerasan dan mengacu pada hukum yang berlaku. Main hakim sendiri tak dilakukan Islam ramah. Beda dengan Islam ramah adalah Islam marah. Sejauh yang bisa kita lihat, kelompok radikal Islam adalah yang paling doyan memecahkan persoalan dengan amarah dan emosi tinggi. Tak hanya marah dalam ceramah, tapi juga marah dalam tindakan nyata. Jika mulut melontarkan umpatan dan cacian, maka tangan melakukan penghancuran bahkan penebasan. Tak jarang, teriakan suci “Allahu Akbar” di bibir paradoks dengan perilaku kotor di tangan yang membawa pentungan. Mulut berkata suci, lalu tangan yang mengotori dengan tindakan yang tak terpuji. Dalam aksinya, mereka seperti orang sedang kesurupan, tak ingat suatu apa kecuali merusak dan meobrak-abrik apa yang ada di sekitar.”
Antara Radikalisme dan Warung Nasi
Oleh Ahmad Shams Madyan
“Nampaknya, gagasan bahwa Indonesia ini harus menjadi ‘negara Islam’ memang masih berdenyut. Tidak cukup penghormatan atas Islam itu dilakukan atas dasar ‘ketulusan’. Mereka ingin ‘ketulusan itu dijadikan sebuah ‘sistem’, di formalkan sebagai aturan-aturan negara. Di sinilah beda orang yang “legowo” bahwa ia hidup ditengah perbedaan, dengan orang yang “resah” dengan perbedaan itu. Ia ingin semuanya seragam. Kalaupun tidak seragam, ia ingin warna bajunya yang paling dominan. Diskusi tentang pemisahan ‘ibadah’ sebagai urusan yang ‘private’ dari yang ‘publik’ tak pernah mampu menyadarkan ego dan ambisi kuasa atas orang lain.”
Susahnya Menjadi Minoritas
Oleh Anick HT*
“Tentu saja masalah gereja ini tidak sesederhana masalah IMB. IMB hanyalah salah satu titik masuk dari gejala mayoritarianisme akibat menaiknya ghirah keislaman simbolik yang dominan mewarnai atmosfir negeri ini pasca-reformasi. Ada arogansi kelompok keagamaan yang berjalin berkelindan dengan merosotnya legitimasi negara di mata masyarakat.”
Kenapa Dunia Islam Terbelakang?
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Ada tiga penyakit mental yang dianggap oleh Arsalan sebagai “biang kerok” kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah diri (al-istikhdza’) dan cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Pada penutup bukunya, Arsalan mengutip ayat yang dalam pandangannya merupakan kunci kebangkitan dunia Islam, yakni Al-Ankabut (29):69. Bunyi ayat itu: wa ‘l-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana – mereka yang berjuang (jihad) di jalanKu, Aku akan menunjukkan mereka jalan-jalan menuju Aku.
Ekumenisme dan Masyarakat Terbuka
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Kontak dan saling pengaruh antar peradaban memang sama sekali tak terhindarkan. Hampir mustahil membayangkan suatu peradaban yang “murni” secara total, serta terisolasi sama sekali dari pengaruh-pengaruh di sekitarnya. Memang, dalam setiap peradaban/kebudayaan selalu kita jumpai kaum purist, mereka yang menghendaki kemurnian total bagi peradaban tertentu, serta hendak membersihkan elemen-elemen asing yang “najis” yang akan mengotorinya.
Tetapi, yang menghuni peradaban, bukan hanya kaum puritan saja. Ada orang-orang lain yang, saya kira, jauh lebih banyak jumlahnya, yang ingin saya sebut sebagai kaum ekumenis – mereka yang hendak membangun kontak dan komunikasi antar peradaban dan kebudayaan (hiwar al-hadarat, istilah mantan presiden Iran Muhammad Khatami dulu).