Editorial
Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.
Kontradiksi dalam Cara Berpikir Abu Bakar Ba’asyir
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling konsisten mengikutinya.
Gus Dur di Mata Dunia
Oleh Saidiman
Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi.
Uluran Tangan Watt
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Saya baru dengar kalau Prof. Montgomery Watt meninggal, sebagaimana antropolog Amerika, Clifford Geertz, dari seorang teman. Saya sedih mendengar kabar ini. Sudah lama saya ingin menulis sebuah buku tentang pendekatan yang dipakai oleh Montgomery Watt dalam mengkaji Islam. Entah kapan keinginan itu terlaksana, saya tidak tahu.
Keberanian dan Kebebasan Beragama
Oleh M. Guntur Romli
Pada periode Madinah, kita sering disuguhi dengan kisah peperangan Rasulullah, namun bukan berarti, peperangan adalah penaklukan akidah. Saya ingin mengutip beberapa riwayat yang dirilis oleh Ibn Jarir al-Thabari dalam tafsirnya mengenai ayat la ikraha fi al-din.
Nabi Perempuan
Oleh Abd Moqsith Ghazali
Namun, setelah saya cek ke sejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi dari kalangan perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat yang menyatakan bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan.
Perempuan dan Kue Donat
Oleh Nong Darol Mahmada
Di antara percikan petuahnya itu, ia menganjurkan perempuan-perempuan muslimah memakai jilbab. Dengan penuh percaya diri, dia mengumpamakan, bahkan menyamakan perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik rapat-rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli.
Fenomenologi Ramadan
Oleh Novriantoni
Ramadan juga menjadi momentum penertiban pedagang kaki lima yang berupaya mengais rezeki di bulan yang konon penuh berkah ini. Gejala ini sangat berbeda dengan di beberapa negara Arab yang mampu menghadirkan Ramadan sebagai bulan penuh berkah dan makna bagi masyarakat tak berpunya.
Kultur Takfir
Oleh Abd Moqsith Ghazali
Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran.