Editorial
Dialog
Oleh Novriantoni
Dialog tidak selamanya menyenangkan, apalagi bagi pemikiran yang eksklusif nan jumud dan membatu. Dialog juga dicurigai, dibenci bahkan dicaci-maki. Kalau dulu dikenal terma zindîq (man tamantaqa faqad tazandaqa) untuk menjegal rupa-rupa dialog yang berkembang, sekarang dikenal terma terbaratkan, sekular, agen Barat, dan kata-kata pembunuh lainnya.
Slilit
Oleh Burhanuddin
Ironisnya, hierarki selalu menawarkan kemapanan dan ketenangan. Dalam sepak bola pun, orang lebih enjoy berada dalam suasana status-quois. Momen kenyamanan yang menisbahkan lahirnya referensi tentang sepak bola yang digdaya masih saja diharapkan lahir dari segelintir negara Eropa dan Amerika Latin, sementara di luar dari itu dianggap slilit yang mengganggu pesta besar kaum status-quois. Brasil, Italia, Argentina dan Jerman adalah “ortodoksi” dalam sepak bola, sementara Korsel, Senegal, Amerika Serikat dan Turki adalah pengganggu kewenangan ortodoksi.
Sepak Bola, Agama, dan Kita
Oleh Burhanuddin
Sepak bola telah menjadi agama. Tak hanya di Eropa dan Amerika Latin sepakbola dipuja dan menjadi bagian dari lifestyle, tapi juga di kawasan Timur Tengah, Mahgribi dan semenanjung Korea serta Cina.
Refleksi Maulid Nabi SAW
Oleh Novriantoni
Apa reaksi kaum Quraisy sekiranya Nabi SAW hanya menganjurkan prinsip tauhid?
Privatisasi Kebenaran
Oleh Burhanuddin
Privatisasi kebenaran mewujud dalam klaim-klaim kebenaran dan klaim keselamatan. Bahwa kelompok, agama, kepercayaan yang dianut di luar mereka adalah sesat dan menyesatkan, dan karenanya, harus diluruskan karena kamilah yang paling punya otoritas menafsirkan Tuhan.
Alquran Sebagai Puisi
Oleh Burhanuddin
Bilakah Alquran sebagai puisi? Jassin sekadar mengatakan “berwajah puisi,” karena lay-outnya —tutur Sirojuddin AR— membentuk baris-baris puisi.
Syariat Demokratik
Oleh Novriantoni
Istilah ini tentu saja janggal terdengar bagi sementara kalangan, sebagaimana demokrasi masih dianggap asing, impor dari barat, dan tidak terpikirkan (ghayra mufakkar fîhi) bagi sebagian umat Islam. Dan sekarang, saya malah menyandingkan syariat dengan kata demokratik. Padahal masih ada anggapan, demokrasi bertentangan dengan Islam, atau lebih spesifik lagi, syariat Islam.
Poligami dan Keadilan
Oleh Novriantoni
Poligami adalah salah satu isu yang disorot tajam kalangan feminis, tak terkecuali feminis Islam. Tradisi menikah lebih dari satu ini (perseliran), selalu saja kontroversial, sehingga menuai subur pro dan kontra. Ada permasalahan penafsiran atas teks disana.
Menunggu Syariat Universal
Oleh Burhanuddin
Pada saat kita menghadapi kenyataan hidup yang mengerikan, sementara kepastian hukum menjadi utopia, maka sulit kita mencegah munculnya pemikiran untuk menerapkan hukum Islam di saat hukum positif kehilangan taringnya di bumi ini. Syariat lantas mengalami idealisasi berlebihan, bahkan menjurus “mistifikasi.”
Penetrasi Tanpa Darah
Oleh Burhanuddin
Kalau mereka tetap bernafsu menjadikan Islam sebagai narasi besar dan kemudian melakukan perlawanan total terhadap budaya setempat, menggerus habis hingga ke akar-akarnya, kita khawatir menjadi bumerang. Para walisongo adalah contoh yang baik di mana mereka bisa mengakomodasi kultur dan lokalitas, bahkan menjadikannya sebagai media dakwah yang efektif.