Editorial
Apa Itu Kafir?
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Makna kafir sangat beragam. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa tidak berterima kasih atau tidak bersyukur merupakan makna awal dari kata kafir. Inti dari struktur semantik kata kufr bukanlah “tak percaya”, melainkan “tak bersyukur” atau “tak tahu berterima kasih”. Meski al-Qur’an kerap mengidentifikasikan kufr dengan “tidak percaya”, makna awal kata itu tak boleh ditinggalkan, karena unsur semantiknya akan hilang kalau sebuah kata selalu dilihat dalam kerangka doktrinalnya belaka.
Al-Qur’an dan Pengakuan-Keselamatan Non-Muslim
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Yang menarik, setelah al-Qur’an menjelaskan tentang kitab Taurat dan kitab Injil, ayat berikutnya menjelaskan tentang sebuah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang salah satu fungsinya adalah sebagai pembenar (mushaddiq) terhadap dua kita tersebut, Taurat dan Injil. Inilah bentuk pengakuan terbuka dari Islam terhadap kitab-kitab sebelumnya. Bagi umat Islam, percaya terhadap kitab-kitab Allah menjadi bagian dari enam rukun iman. Sekurangnya, umat Islam mengimani empat kitab Allah, yaitu Zabur, Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Batas minimal mengimani empat kitab suci ini dipahami karena tak seluruh kitab suci atau kitab wahyu disebutkan dalam al-Qur’an dan eksis sampai sekarang.
Perang Di zaman Nabi
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Nabi berpesan bahwa ketika peperangan sedang berlangsung, pasukan Islam tak boleh membunuh orang-orang jompo, para pendeta, anak kecil, dan kaum perempuan. Sebuah hadits menceritakan, pada satu peperangan pernah diketemukan seorang perempuan mati terbunuh. Atas kejadian itu, Rasulullah marah dan melarang membunuh perempuan dan anak-anak. Tempat-tempat ibadah dilarang dihancurkan dan pohon-pohonan tak boleh ditebang. Nabi juga bersabda,”janganlah kamu berharap ketemu musuh. Apabila kamu (terpaksa) bertemu, maka bersabarlah”. Itulah etika perang yang ditanamkan Nabi kepada para prajuritnya.
Jihad dalam Islam
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Melalui beberapa ayat itu bisa disimpulkan bahwa ayat jihad yang turun di Mekah tak berkaitan dengan tindakan militer. Said al-Asymawi berpendapat, jihad dalam periode Mekah berarti berusaha untuk selalu berada dalam jalan keimanan yang sah dan bersabar dalam menghadapi penyiksaan orang-orang kafir. Jihad dalam periode ini mengandung makna etis-moral, yaitu taat kepada Allah, bersabar, ajakan persuasif (dakwah) untuk menyembah Allah, bukan yang lainnya. Dengan demikian, dalam fase Mekah ini perintah berjihad dengan orang-orang kafir tidak dijalankan dengan menghunus pedang, melainkan dengan jalan hikmah (al-hikmah), nasehat yang baik (al-maw’izhah al-hasanah), dan dialog konstruktif (mujadalah bi allati hiya ahsan). Menghadapi berbagai tekanan dari orang-orang musyrik Mekah, Nabi selalu menyuruh umatnya untuk bersabar. Kata Nabi, saya diutus bukan untuk berperang. Allah berfirman di dalam al-Qur’an, “bersabarlah dengan sebaik-baik kesabaran”.
Obama dan Mesjid
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
“Dalam konteks sekarang dimana toleransi dan pluralisme semakin disadari umat beragama, pandangan Abu Hanîfah di atas tampak lebih tepat dijadikan patokan. Bahwa tidak ada masalah (boleh) bagi orang non Muslim untuk masuk mesjid. Bahkan, jika untuk hajat yang penting, masuk mesjid bukan hanya dibolehkan melainkan bahkan disunnahkan. Misalnya menjadikan mesjid sebagai tempat pelaksanaan dialog dan kerja sama agama-agama dalam mengatasi problem kemanusiaan seperti kemiskinan dan keterbelakangan. Namun, jika untuk tujuan negatif misalnya untuk merusak dan menghinakannya, maka siapa pun tak bisa diperkenankan masuk mesjid, karena itu adalah anarkisme dan kriminal. Dengan motif atau niat orang non-Muslim ketika masuk mesjid amat menentukan status hukumnya.”
Keheningan yang Membebaskan
Oleh Trisno S. Sutanto
Orang cenderung mengasosiasikan ‘kesendirian’ (solitude, dari solus alone) sebagai ‘kesepian’ (loneliness). Dan, dalam dunia modern, justru penyakit ‘kesepian’ inilah yang kerap melanda, sehingga orang takut dan berusaha lari darinya. Buku klasik David Riesman tentang The Lonley Crowd (1950) adalah contoh paradigmatis soal ini. Memang keduanya sangat dekat, sehingga cenderung di(salah)artikan sebagai semacam sinonim dalam bahasa sehari-hari: orang yang sendiri, tanpa teman dan keluarga, adalah orang yang kesepian. Tetapi penyama-artian ini sungguh menipu. Paul Tillich pernah mengingatkan soal ini dengan baik: “Bahasa kita… telah menciptakan kata ‘kesepian’ (loneliness) untuk mengungkapkan betapa sakitnya orang yang harus hidup sendirian. Tetapi bahasa itu juga telah menciptakan kata ‘kesendirian’ (solitude) untuk mengungkapkan keagungannya.”
Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah?
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya, angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat merisaukan.
Antropomorfisme dan Teks Suci
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
... manusia yang melakukan kegiatan penafsiran banyak jumlahnya, dan karena itu penafsiran akan selalu banyak dan beragam. Teks suci dalam agama tertentu memang satu. Tetapi penafsiran atas teks itu tidaklah mufrad/tunggal, melainkan jamak/banyak. Keragaman tafsir adalah “nasib” yang tak terhindarkan dalam komunitas agama manapun.
Nikah Beda Agama
Oleh Saidiman Ahmad
Utsman bin Affan, khalifah ketiga, memiliki istri beragama Kristen Yakobus bernama Na’ilah. Sementara Mu’awiyah, pendiri dinasti Umayyah, beristri Maysun, juga beragama Kristen Yakobus. Dari Maysunlah Mu’awiyah beroleh anak bernama Yazid yang kelak meneruskan jabatannya sebagai penguasa kerajaan Islam. Sahabat Nabi yang lain, Thalhah bin Ubaidillah menikahi seorang perempuan Yahudi yang berasal dari Syam.
Tangan yang Terputus
Oleh Santoso*
Tiap kali mengingat Dodi, kami teringat tangan yang terputus. Teringat tentang orang yang menjadi korban, ketika membantu kami menghindarkan diri dari ancaman teror. Kekerasan itu muncul dari ketaksiapan sebagian orang untuk hidup dalam perbedaan. Kekerasan mungkin juga menjadi jalan pintas, untuk mereka memaksakan tujuannya. Apapun tujuan itu, kekerasan bukan cara yang bisa kami terima. Ingatan tentang tangan yang terputus itu, sebaliknya adalah juga peneguh untuk meneruskan upaya meningkatkan saling pengertian antar warga. Hidup dalam perbedaan, tak berarti harus saling membunuh.