Editorial
Mutu Para Dai Kita
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
“Banyak orang bertanya, kenapa mereka bermutu rendah. Pertama, mungkin karena cita-cita awal mereka bukan menjadi dai. Beberapa di antara mereka, ada yang jadi dai setelah sebelumnya terlilit utang, ada yang pemakai narkoba lalu sembuh, ada pedagang asongan yang gagal, dan sebagainya. Pedihnya kehidupan tampaknya telah memaksa mereka memutar haluan, menjadi seorang dai. Dengan bekal ilmu keislaman a la kadarnya dan dengan fasilitasi televisi, mereka kemudian memerankan diri sebagai dai. Hasilnya bisa diduga. Kalau tak menghibur dengan lelucon-lelucon tak cerdas, mereka akan “mendesak” para jemaah pengajian untuk menangis dan meronta untuk sesuatu yang tak jelas. Pengajian kemudian disulap menjadi lautan tangis yang mencekam.”
Allah Maha Kasih
Oleh Saidiman Ahmad
Bengis. Seribuan orang menyerbu sebuah rumah di Cikeusik, Banten. Tiga orang terbunuh. Beberapa lainnya terluka parah. Dalam gegap-gempita takbir para pembunuh beraksi. Mereka membakar, mengeroyok, menggorok, menginjak-injak tanpa ampun. Kebencian menyeruak dari pekik “Allahu Akbar.”
Sumiati dan Khadijah
Oleh Taufik Damas
Ada tokoh besar perempuan yang sangat berperan dalam menentukan perjalanan kerasulan Nabi Muhammad. Dialah Ibunda Khadijah yang salah satu peran pentingnya memastikan bahwa apa yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah wahyu, bukan bisikan setan. Khadijah memastikan itu setelah berkonsultasi dengan sepupunya yang bernama Waraqah bin Nauval. Mengapa mereka jadi lupa peran besar Khadijah yang perempuan?!
Minoritas
Oleh Saidiman Ahmad
Persoalan besar yang menghadang pembangunan Indonesia adalah masih adanya masalah yang dihadapi oleh kelompok-kelompok marjinal dan minoritas. Kelompok-kelompok itu adalah minoritas penganut kepercayaan dan agama-agama lokal.
Pemuda: Antara Membangun dan Merusak
Oleh Saidiman Ahmad
Sejarah transisi demokrasi di seluruh dunia menunjukkan bahwa peran anak-anak muda sangat penting. Suatu Negara dengan tingkat populasi anak muda yang tinggi cenderung bergolak. Pergolakan itu bisa bermakna positif, yakni pergolakan menuju perubahan yang lebih baik. Tapi pergolakan yang disebabkan oleh anak-anak muda juga bisa berdampak negatif, yakni munculnya situasi anarkis dan berujung pada berkuasanya rezim otoritarian.
Perdamaian Global tanpa Perang Lokal
Oleh Saidiman Ahmad
Di negara-negara dengan tingkat demokratisasi yang belum sepenuhnya stabil, apalagi yang semi demokratis dan tidak demokratis, kelompok-kelompok minoritas mengalami banyak persoalan. Muslim dan Budha Tibet diganggu terus menerus oleh pemerintah komunis Cina. Kelompok Ahmadiyah di Pakistan dan Indonesia direpresi dan disingkirkan. Kelompok Muslim di Thailand Selatan dan Moro Filipina telah lama mengalami diskriminasi. Komunitas Tionghoa di Indonesia baru-baru ini saja memperoleh hak kewargaan yang sama dengan warga Indonesia lainnya. Minoritas India dan Cina di Malaysia tidak pernah benar-benar diperlakukan sederajat dengan warga Melayu.
Muslim Ahmadiyah Cisalada
Oleh Saidiman Ahmad
Aksi kekerasan yang dilakukan kepada jemaat Muslim Ahmadiyah tidak pernah dilakukan secara spontan. Ada proses pengumpulan massa dan provokasi. Aparat negara mestinya bisa mencegah kekerasan sejak dini, yakni membubarkan pengumpulan massa yang bertujuan memprovokasi tindak kekerasan. Dalam semua pengumpulan massa untuk membubarkan Muslim Ahmadiyah, selalu terjadi kampanye kebencian dan permusuhan terhadap jemaat tersebut.
Umat Islam Tak Perlu Dibela
Oleh Saidiman Ahmad
Membela kelompok berdasarkan identitas agama juga sangat berbahaya bagi keadilan. Betapapun mulia ajaran sebuah agama, belum tentu mulia perilaku umatnya.
Mistifikasi Mudik Lebaran
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.
Puasa dalam Kritik al-Ghazali
Oleh Novriantoni Kahar
Maksud terdalam dari puasa—kata al-Ghazali lebih lanjut—adalah pengosongan (al-khawaa’) dan penaklukan keinginan-keinginan diri (kasr al-hawaa) yang bersifat fisikal. Lewat cara seperti itulah seseorang mampu beralih dari alam fisikal menuju alam spiritual. Dengan peralihan fokus dari alam fisikal ke alam spiritual, barulah jiwa seseorang diyakini mampu mencapai level takwa. Pengurangan intensi pada aspek-aspek yang fisikal diandaikan akan meninggikan sensitivitas terhadap alam spiritual.