Musim Semi di Arab, Musim Dingin di Israel

Oleh Ulil Abshar Abdalla

“Saat ini, sikap skeptis-konservatif dalam melihat fenomena demokratisasi di Timteng tampaknya sudah ditinggalkan oleh banyak pemerintahan di Barat. Dalam pandangan mereka, demokratisasi di Timteng untuk sesaat memang akan memfasilitasi serta menguntungkan partai-partai Islamis. Tetapi, arena demokrasi yang bebas, pada gilirannya, akan memaksa partai-partai itu bersikap pragmatis dan realistis, seperti ditunjukkan oleh, misalnya, partai AKP di Turki. Mengutip pendapat Dubes Palestina di Jakarta, Fariz N. Mehdawi, dalam sebuah percakapan pribadi, pengalaman berkuasa dan menyelesaikan masalah-masalah kongkrit justru akan memaksa partai-partai Islamis meninggalkan retorika mereka yang radikal dan ekstrem.”

19/12/2011 | Kolom, | Komentar (6) #

HAM untuk LGBTI

Oleh Muhammad Royyan Firdaus*

“Membaca kasus-kasus diskriminasi terhadap kaum LGBTI, jelas memperlihatkan bahwa negara sudah masuk dalam ranah privat kaum ini karena memaksa mereka untuk meninggalkan identifikasi diri yang dianggap “menyimpang” itu demi sebuah “moral publik” yang konsepnya menggunakan pandangan mayoritas terhadap minoritas. Padahal proses identifikasi diri dan pencarian jati diri seorang manusia merupakan sebuah ranah privat yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun, bahkan orang-orang terdekatnya. Dalam proses pengidentifikasian diri inilah harga diri dan martabat (dignity) seorang manusia melekat. Martabat manusia adalah hal yang paling hakiki sebagai manusia. Dalam konvensi internasional dan UUD 1945 hasil amandemen beserta UU HAM telah juga dinyatakan bahwa martabat manusia adalah termasuk jenis kebebasan pribadi dan haruslah dilindungi tanpa diskriminasi.”

15/12/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (5) #

Menghalau Radikalisme Agama di Sekolah

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Kelompok Islam Wahabi berideologi puritan sekaligus radikal terus mendirikan sejumlah pesantren. Tak kurang dari belasan pesantren yang telah dirintis kelompok Wahabi di Indonesia. Sebagaimana sekolah Wahabi di Arab Saudi, sejumlah pesantren Wahabi di Indonesia mengkampanyekan doktrin yang sama. Mereka suka memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berbeda dengan ajaran Wahabi. Tak cukup hanya mengkafirkan dan memusyrikkan, jika suasana sosial-politik sudah pendukung, kelompok Wahabi tak ragu untuk menggunakan cara kekerasan di dalam mengubah pendirian orang Islam lain. Jalan kekerasan itu pernah dilakukan kelompok Wahabi Arab Saudi terhadap umat Islam lain yang dianggap menyimpang. Kelompok Wahabi tak hanya bengis kepada non-muslim, tapi juga keras kepada umat Islam sendiri yang non-Wahabi.”

12/12/2011 | Editorial, | Komentar (17) #

Indonesia Sebagai Kiblat Pemikiran Islam Dunia

Oleh Evi Rahmawati*

“Ulil menegaskan optimismenya bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjadi kiblat pemikiran Islam di kancah internasional. Ia mengajukan keberatannya terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh dua sarjana dari Washington mengenai sebarapa Islamkah negara-negara Islam itu dilihat dari berbagai kriteria, seperti pengakuan terhadap hak-hak minoritas, toleransi, pluralisme, transparansi sistem pemerintahan, dsb. Dalam riset tersebut posisi Indonesia berada di bawah peringkat Malaysia. Menurut Ulil, Indonesia jauh lebih pantas menuai peringkat di atas Malaysia, sekurang-kurangnya kalau melihat berbagai perkembangan yang kita miliki hingga saat ini. Bahkan, Ulil mempertegas keyakinannya dengan menyertakan nubuat dari Fazlur Rahman, yang menyatakan bahwa masa depan dunia Islam justru ada di Indonesia, bukan di Arab Saudi.”

12/12/2011 | Reportase, | Komentar (7) #

Politik Islam Berada di Titik Nadir

Oleh Jamal Ma’mur Asmani*

Dengan pergulatan intelektual dan aksi sosial yang panjang dan melelahkan inilah, Islam akan tampil sebagai pioneer perubahan untuk mencapai keagungan Islam dan umatnya, Izzul Islam wal muslim dengan mengedepankan paradigma pemikiran dan gerakan Islam yang moderat, progresif, toleran, inklusif dan pluralis. Mereka aktif mengembangkan pendidikan, ekonomi, peradaban, intelektual, militer, informasi, teknologi dan lainnya untuk mencapai masa kejayaan sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Jika umat Islam negeri ini mampu mewujudkan idealisme ini, maka jargon Islam rahmatan lil alamin, sebagai penebar kasih sayang kepada seluruh penduduk alam, tidak hanya untuk umat Islam saja, bisa menjadi kenyataan, karena dengan kebangkitan Indonesia menjadi negara maju, seluruh elemen bangsa, termasuk mereka yang nonislam bisa merasakan manfaatnya. Dan dari sini Indonesia pelan namun pasti akan muncul sebagai pemimpin baru dunia Islam.

12/12/2011 | Kolom, | Komentar (0) #

Keyakinan sebagai Wilayah Otonom Manusia

Oleh Muhamad Isomuddin*

Menurut Knitter,  semua agama pada dasarnya adalah relatif-yaitu terbatas, parsial, tidak lengkap sebagai jalan melihat sesuatu. Menganggap agama sendiri paling benar dari pada yang lain, sekarang dirasakan sebagai sebuah sikap agak salah, ofensif, pandangan yang sempit. Mungkin kita jangan terlalu naif dengan keyakinan sendiri dengan menganggapnya sebagai yang paling benar dan tidak kebenaran pada keyakinan yang lain.

09/12/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Memulai Pembaruan dari Ranah Minang

Oleh Evi Rahmawati*

“Ketika kata pembaruan dikaitkan dengan Islam, maka yang ingin diperbarui sejatinya bukan Islam sebagai agama, bukan pula al-Quran sebagai kitab suci, melainkan pembaruan terhadap penafsiran atas keduanya. Karena tafsir seseorang atas al-Quran bukanlah al-Quran itu sendiri. Ia sekadar tafsir atasnya. Maka, perubahan atas tafsir terhadap al-Quran dan agama masih mungkin. Jika al-Quran sudah pasti kebenarannya, absolut, maka penafsiran terhadapnya masih mengandung banyak kemungkinan, termasuk kemungkinan salah. Untuk itu, sebagai sebuah produk penafsiran atas al-Quran, maka kebenaran dalam sebuah penafsiran menjadi relatif.”

06/12/2011 | Reportase, | Komentar (12) #

Belajar dari Islam Turki

Oleh Novriantoni Kahar

“Islam Turki lebih bercorak esoteris ketimbang eksoteris. Pengaruh sufisme sangat kuat dalam corak keberagamaan Islam Turki, dan kenyataan ini membuat Islam Turki jauh dari formalisme apalagi menyerahkan diri secara bongkokan kepada penetrasi Wahabisme-Salafisme. Pemahaman Turki tentang Islam lebih banyak dibentuk oleh toleransi Rumi, anjuran cinta Yunus Emre, maupun rasionalitas Haci Bektassi. Dalam sejarah Turki modern, perjuangan untuk melegalkan pemakaian jilbab di sektor publik memang terjadi, namun hal itu tiada lebih sebagai perlawan terhadap penerapan sekularisme yang sangat keras. Ibarat bermusik, sekularisme Turki terlalu lama menyuguhkan heavy metal sementara masyarakatnya sudah tidak lagi merasakan merdunya alunan musik itu.”

05/12/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Sekularisme Direvisi: Bedah Pemikiran Talal Asad

Narasumber: Ihsan Ali-Fauzi (Yayasan wakaf Paramadina)
dan Ulil Abshar-Abdalla (Jaringan Islam Liberal)

Kamis, 22 Desember 2011, Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Teater Utan Kayu, Jl. Utan Kayu, 68-H, Jakarta Timur

05/12/2011 | Agenda, | Komentar (5) #

Nestapa Kerukunan Beragama di Mesir

Oleh Hasibullah Satrawi*

“Kini persoalan kerukunan umat beragama di Mesir menjadi masalah yang tak kalah serius dari persoalan pelengseran Mubarak. Setidak-tidaknya karena konflik yang ada terus menimbulkan korban jiwa. Bila kaum pemuda revolusi rela mengorbankan jiwa raga untuk menggulingkan Mubarak, pengorbanan yang sama kini harus dilakukan untuk menjamin masa depan kerukunan umat beragama di sana. Termasuk bila kaum pemuda revolusi harus menjadikan para perusak kerukunan yang ada sebagai “Mubarak-Mubarak” baru yang harus digulingkan dan dibawa ke pengadilan. “

05/12/2011 | Kolom, | Komentar (2) #
Halaman: 7 dari 144 ‹ First  < 5 6 7 8 9 >  Last ›