Meringkas Al-Qur’an

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Al-Qur’an menyuruh untuk mencari titik-titik persamaan hatta kepada orang yang berbeda agama dengan dirinya. Hukum moral kemanusiaan dalam al-Qur’an ini sesungguhnya merupakan afirmasi terhadap hukum moral nun di dalam diri manusia. Suara moral dalam nurani manusia paralel dengan seruan moral dalam kitab suci al-Qur’an.”

24/10/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Kerukunan

Oleh Saidiman Ahmad

Bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo. Beberapa hari sebelumnya, di Ambon, meledak kerusuhan. Sejumlah pakar menganalisis bahwa peristiwa Ambon dipicu oleh beredarnya SMS yang memberi informasi salah mengenai penyebab kematian seorang tukang ojek. Diduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk membuat keributan dengan mengadu-domba warga.

19/10/2011 | Editorial, | Komentar (4) #

Pertanyaan tentang Hati Nurani Saatnya Membaca Karya Immanuel Kant

Oleh Natalia Laskowska*

Antara pertanyaan-pertanyaan tentang agama kadang-kadang muncul refleksi yang menimbulkan ketidak nyamaan, kegelisahan, dan juga rasa malu karena pikiran kita menuju ke arah yang kita ingin hindari.Apakah iman kita menjadi lebih kuat ketika kita berusaha untuk mendiamkan pikiran-pikiran yang sesungguhnya tak dikehendaki? Mungkin. Akan tetapi saya ingin bagi dengan Anda salah satu pertanyaan seperti itu. Barangkali Anda juga pernah menemuinya.

18/10/2011 | Kolom, | Komentar (16) #

Bebas itu Gerak

Oleh Mugianto*

Alkisah, suatu hari seorang Darwis (pejalan sufi) bersama dengan anak laki-lakinya, baru saja membeli seekor keledai dari pasar. Dalam perjalanan pulang, keledai itu dinaiki oleh sang Ayah. Di jalan orang mencemooh bahwa Darwis tidak punya belas kasihan pada anaknya yang menuntunya. Turunlah Darwis dan mengganti Anaknya duduk di punggung keledai. Lagi-lagi orang mencemooh Anak itu dengan mengatakan durhaka, tidak tahu diri, karena Ayahnya disuruh menuntun. Lalu dipilihlah, agar keledai tidak usah dinaiki. Orang pun menghardiknya lagi.”Dasar bodoh, beli keledai tidak dinaiki?”  Sepenggal cerita diatas menggambarkan bahwa orang sulit memperoleh kebebasan di kehidupan sosial.

14/10/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Diskusi Bulanan “Ikonoklasme dalam Agama”

Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal
“Ikonoklasme dalam Agama”
Narasumber: Ulil Abshar-Abdallla, Ioanes Rakhmat dan Saras Dewi
Moderator: Abd Moqsith Ghazali. Selasa, 25 Oktober 2011, Jam 19.00-21.30 WIB
Di Teater Utan Kayu Jakarta

12/10/2011 | Agenda, | Komentar (17) #

Para Penghina Islam

Oleh Saidiman Ahmad

“Di dunia Islam, para pembaru dicurigai membawa misi melawan Islam. Pembaruan dianggap sebagai pelemahan terhadap Islam. Mereka dilecehkan. Pelecehan terbesar yang diterima para pembaru Islam adalah bahwa mereka dianggap menghina Islam. Proyek-proyek pembaruan dianggap sama dengan penghinaan. Pikiran-pikiran progresif dianggap sama dengan penghinaan.”

10/10/2011 | Editorial, | Komentar (2) #

Wacana Non-Muslim Masuk Surga

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Jika demikian pandangan al-Qur’an dan diperkuat tafsir para ulama, maka terang bahwa surga tak dimonopoli komunitas suatu agama. Ia adalah milik publik yang bisa dihuni umat agama mana saja yang beriman dan beramal saleh. Umat Islam yang tak melakukan amal saleh tak secara otomatis masuk surga bahkan bisa masuk ke dalam neraka. Sebaliknya, orang non-Islam yang beriman dan beramal shaleh akan masuk surga. Nabi Muhammad bersabda, “saya melihat seorang pendeta berada di dalam surga sedang memakai baju sutera karena ia beriman”. Yang dimaksud dengan pendeta ini adalah Waraqah ibn Naufal.”

10/10/2011 | Kolom, | Komentar (1) #

Toleransi dalam Bingkai Kebhinekaan

Oleh Fina ‘Ulya*

Khaled Abou el- Fadl mengusulkan 5 persyaratan sebagai katup pengaman supaya tidak dengan mudah melakukan tindak sewenang-wenang dalam menentukan fatwa-fatwa keagamaan yaitu kemampuan dan keharusan seseorang, kelompok, organisasi atau lembaga untuk mengontrol dan mengendalikan diri (restrain), tulus hati (diligence), mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait (comprehensiveness), mendahulukan tindakan yang masuk akal (reasonableness) dan kejujuran (honest). Kelima-limanya dijadikan sebagai acuan parameter uji sahih untuk meneliti berbagai kemungkinan pemaknaan teks sebelum pada akhirnya harus memutuskan dan merasa yakin bahwa dirinya memang mengemban sebagian perintah Tuhan.

07/10/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Merenungkan Keluarga Korban

Oleh Lies Marcoes Natsir

“Kita tahu stigamtisasi terhadap keluarga korban bukankah prilaku aneh dalam dunia politik kekuasaan di manapun tak terkecuali di Republik ini. Dalam banyak sejarah bangsa-bangsa di dunia setiap perubahan konstelasi politik di dalam sebuah kekuasaan yang represif tindakan-tindakan pelanggaran HAM berupa penangkapan, penahanan tanpa pengadilan dan penghilangan paksa menjadi bagian inheren dalam mekanisme pertahanan suatu rezim. Namun kita juga melihat sebuah bangsa yang membiarkan setiap pelanggaran HAM berlangsung tanpa penyelesaian dengan tuntas hanya akan menyisakan jelaga sosial politik yang setiap saat bisa berubah menjadi hantu yang menggangu kelangsungan hidup berbangsa. “

03/10/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Fikih Penegakan Hukum

Oleh Hasibullah Satrawi*

“Fikih penegakan hukum menekankan pentingnya penegakan hukum dengan mengikuti pola piramida terbalik. Lapisan bawah sekaligus dasar dari bangunan piramida ini adalah rasa ketuhanan. Adapun lapisan tengahnya adalah keadilan. Dan lapisan ketiga adalah ketentuan hukum normatif.
Melalui pola piramida terbalik di atas, rasa ketuhanan akan menjadi semangat sekaligus penjaga bagi para penegak hukum untuk menegakkan hukum sesuai dengan keadilan dan ketentuan yang berlaku. Hingga para penegak hukum tidak merasa mempunyai kesempatan atau ruang kosong untuk mempermainkan penegakan hukum yang ada. Mengingat tak ada ruang sekecil apa pun yang bebas dari pengetahuan Tuhan.”

03/10/2011 | Kolom, | Komentar (0) #
Halaman: 8 dari 140 ‹ First  < 6 7 8 9 10 >  Last ›