Islam Berkemajuan: Prinsip Kritisisme dalam “Ideologi” Muhammadiyah

Oleh Muh. Asratillah Senge*

“Ahmad Dahlan adalah salah satu ulama Islam yang berusaha mendekatkan antara rasionalitas dan pengamalan serta pengalaman keberagamaan. Dengan kata lain Sang Pencerah tersebut berusaha menjadikan ilmu pengetahuan sebagai teman akrab bagi agama”

01/11/2011 | Kolom, | Komentar (8) #

Reportase Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal Ikonoklasme dalam Agama-Agama: Perbandingan Hindu, Kristen dan Islam

Oleh Prio Pratama*

Tindakan menorehkan tanda baru (inscribing a new sign) bagi kemunculan suatu gerakan pembaruan adalah lumrah, yang menjadi masalah apakah ia civilized (beradab) ataukah uncivilized (tak beradab). Islam liberal sebagai sebuah gerakan pembaru juga memiliki tandanya sendiri, dan tanda Islam liberal itu pastilah ditorehkan dengan cara beradab, bukan cara barbar, kekerasan atau apalagi dengan merusak patung atau ikon-ikon.

28/10/2011 | Reportase, | Komentar (0) #

Meneguhkan Warisan Gus Dur

Oleh Sholahuddin

Ide-ide Gus Dur ini tidak bisa dipisahkan dari locus, dimana dia adalah seorang pemikir keagamaan yang lahir dari tradisi pesantren, pejuang hak minoritas, politisi, pecinta sastra, peziarah kubur, hingga seorang manusia biasa yang menggemari berbagai hal yang sepele laiknya, wayang, sepak bola dan sebagainya. Dalam konteks tulisan ini, apa yang bisa diambil dari pribadi Gus Dur adalah sikapnya yang konsisten terhadap hak minoritas dan kekebasan beragama di Indonesia.

27/10/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (1) #

Doa Untuk Tuhan Sebagai Manusia Yang Resah

Oleh Wildanshah

Sejarah agama selalu diwarnai dengan pertumpahan darah, seperti pada masa Voltaire, di Prancis, ada perselihan antara protestan dengan katolik, di India pada masa Gandhi juga terjadi saling bantaian antara Hindu dengan Islam. Bahkan, Indonesia  sebagai negara berslogan “Bhineka Tunggal Ika” merupakan panggung berdarah krisisnya toleransi. Banyak korban sia-sia karena semangat “kebutaan” beragama. Maluku, Poso, dan Bekasi  menodai sejarah sopan dan ramahnya ibu pertiwi. Tanpa sadar bangsa Indonesia sudah meng-agama-kan konflik.

25/10/2011 | Suara Mahasiswa, #

Syari’at, Untuk Siapa?

Oleh Ahmad Shams Madyan

Tantangan kita memang cukup berat untuk meletakkan ‘Islam’ dan ‘Syari’at’ dalam konteks pluralitas agama. Manakah yang didahulukan, klaim-klaim kebenaran sendiri, ataukah kerendahan hati untuk menerima ‘yang lain’ sebagai orang-orang yang juga berhak memilki klaim kebenaran yang berbeda?

24/10/2011 | Kolom, | Komentar (11) #

Meringkas Al-Qur’an

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Al-Qur’an menyuruh untuk mencari titik-titik persamaan hatta kepada orang yang berbeda agama dengan dirinya. Hukum moral kemanusiaan dalam al-Qur’an ini sesungguhnya merupakan afirmasi terhadap hukum moral nun di dalam diri manusia. Suara moral dalam nurani manusia paralel dengan seruan moral dalam kitab suci al-Qur’an.”

24/10/2011 | Editorial, | Komentar (0) #

Reportase Program Agama dan Masyarakat Radio 68 H Agama Sunda Wiwitan

Oleh Rofi Uddarojat*

Menurut Dewi, intoleransi terhadap kelompok kepercayaan sebenarnya sudah terjadi sejak penjajahan Belanda. Pada saat itu pemerintah kolonial sengaja untuk mengadu domba institusi agama seperti pesantren dengan aliran kepercayaan. Untuk membatasi eksistensi aliran kepercayaan, pemerintah kolonial membuat stigma bahwa aliran kepercayaan adalah kelompok sesat. Kepada kelompok muslim, pemerintah kolonial mengatakan bahwa aliran kepercayaan adalah kelompok murtad. Sehingga resistensi terhadap kelompok kepercayaan pun semakin besar.

21/10/2011 | Reportase, | Komentar (0) #

Kerukunan

Oleh Saidiman Ahmad

Bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo. Beberapa hari sebelumnya, di Ambon, meledak kerusuhan. Sejumlah pakar menganalisis bahwa peristiwa Ambon dipicu oleh beredarnya SMS yang memberi informasi salah mengenai penyebab kematian seorang tukang ojek. Diduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk membuat keributan dengan mengadu-domba warga.

19/10/2011 | Editorial, | Komentar (4) #

Pertanyaan tentang Hati Nurani Saatnya Membaca Karya Immanuel Kant

Oleh Natalia Laskowska*

Antara pertanyaan-pertanyaan tentang agama kadang-kadang muncul refleksi yang menimbulkan ketidak nyamaan, kegelisahan, dan juga rasa malu karena pikiran kita menuju ke arah yang kita ingin hindari.Apakah iman kita menjadi lebih kuat ketika kita berusaha untuk mendiamkan pikiran-pikiran yang sesungguhnya tak dikehendaki? Mungkin. Akan tetapi saya ingin bagi dengan Anda salah satu pertanyaan seperti itu. Barangkali Anda juga pernah menemuinya.

18/10/2011 | Kolom, | Komentar (16) #

Bebas itu Gerak

Oleh Mugianto*

Alkisah, suatu hari seorang Darwis (pejalan sufi) bersama dengan anak laki-lakinya, baru saja membeli seekor keledai dari pasar. Dalam perjalanan pulang, keledai itu dinaiki oleh sang Ayah. Di jalan orang mencemooh bahwa Darwis tidak punya belas kasihan pada anaknya yang menuntunya. Turunlah Darwis dan mengganti Anaknya duduk di punggung keledai. Lagi-lagi orang mencemooh Anak itu dengan mengatakan durhaka, tidak tahu diri, karena Ayahnya disuruh menuntun. Lalu dipilihlah, agar keledai tidak usah dinaiki. Orang pun menghardiknya lagi.”Dasar bodoh, beli keledai tidak dinaiki?”  Sepenggal cerita diatas menggambarkan bahwa orang sulit memperoleh kebebasan di kehidupan sosial.

14/10/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #
Halaman: 10 dari 144 ‹ First  < 8 9 10 11 12 >  Last ›