Klipping

Musik

Oleh Saidiman Ahmad

Dimuat di Kompas, 12 Mei 2012

Untuk mereka yang menyerang orang lain, untuk para aparatus negara yang membiarkan gangguan, untuk penegak hukum yang menangkap korban dan membebaskan pelaku, pelajaran musik perlu disampaikan. Agar hati yang kaku jadi lembut, pikiran yang kalut menjadi lurus.

19/05/2012 | Klipping, | Komentar (0) #

Bumi Manusia dalam Alquran

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Konteks-konteks itu, suka atau tidak, terekam dengan baik dalam kitab suci Alquran dan tentu saja menjadi sebab kehadirannya. Itu sebabnya tak keliru ketika seseorang berkata bahwa Alquran dalam beberapa hal merupakan cerminan dari kondisi dan adat istiadat yang berkembang ketika itu. Ketika Alquran berkata bahwa Allah mengutus setiap Rasul melalui “lisan kaumnya” (bi lisani qawmihi, QS, 14: 4), itu merupakan justifikasi doktrinal atas gagasan bahwa pesan wahyu telah diadaptasikan pada lingkungan budaya, sejarah, dan linguistik manusia. Dari berbagai adat kebiasaan masyarakat Arab itu ada yang dimodifikasi dan dilanjutkan oleh Islam. Tapi, ada juga yang dibuang karena sudah tak relevan dengan konteks zaman dan capaian peradaban.

07/05/2012 | Klipping, | Komentar (1) #

Hukum Waris dalam Suatu Konteks

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Untuk menjaga dan mengadvokasi hak kelompok-kelompok lemah dalam keluarga saat itu (anak laki-laki kecil dan perempuan), al-Qur’an segera menetapkan beberapa ahli waris inti yang mendapatkan warisan. Ditetapkan bahwa kelompok ahli waris terdiri dari dua kelompok. [1]. Menurut hubungan darah. Dari golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. Sedangkan dari golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek. [2]. menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda. Para ulama, berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, menetapkan apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapatkan warisan hanya anak, ayah, ibu, janda atau duda.

02/02/2012 | Klipping, | Komentar (6) #

Modernitas, Mesianisme, Mukjizat Walter Benjamin dan Carl Schmitt

Oleh Akhmad Sahal*

.... netralisasi dan depolitisasi, dengan kata lain liberalisme, itulah yang bagi Schmitt menjadi penyebab utama kebekuan dan “kenormalan” modernitas. Dan kenormalan ini perlu didobrak dengan cara memberi peluang bagi munculnya the sovereign yang bisa mengambil keputusan pada/tentang state of exception. Memakai ungkapannya sendiri, kita bisa mengatakan bahwa Schmitt mendambakan suatu dunia yang tidak lagi dikuasai oleh deisme yang tidak mengenal mukjizat atau intervensi dari luar sejarah.

12/01/2012 | Klipping, | Komentar (1) #

Pesantren dan Kekerasan

Oleh Mohamad Guntur Romli

Pesantren didirikan agar tidak semua orang pergi berperang. Maka hal yang aneh kalau sekarang ada pesantren yang didirikan untuk berjihad dalam arti peperangan dan kekerasan.

Melalui pendidikan dan penguasaan terhadap pengetahuan agama, misi pesantren hakikatnya misi jihad nirkekerasan.

12/01/2012 | Klipping, | Komentar (2) #

Eisenhower dan Sembilan Murid Hitam

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Sebelumnya dimuat di jaringnews.com, 6 Januari 2012

Kisah ini sangat mengharukan saya. Sembilan murid hitam di sebuah kota yang jauh dari ibukota Washington, masuk sekolah dengan dikawal oleh 1.200 tentara. Hak mereka untuk sekolah hendak dibatalkan oleh seorang gubernur, dan seorang presiden langsung turun tangan melindungi murid-murid yang masih belia itu.

10/01/2012 | Klipping, | Komentar (13) #

Marhaban Pasca-Islamisme!

Oleh Novriantoni Kahar

Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 25 November 2011

Gejala pasca-islamisme bukanlah gejala anti-Islam, bukan pula sepenuhnya gerakan sekuler. Karena unsur internalnya dari kalangan konservatif—kalau bukan radikal—muslim, pasca-islamisme tetap menghendaki terjunjung tingginya nilai-nilai agama Islam sembari mengimpikan tegaknya hak-hak warga. Sebagian pengamat menyebut gejala ini sebagai civic Islamism, bukan pasca-islamisme. Karena itu, islamisme mungkin tak lagi akan menghadirkan revolusi sosial-politik-kebudayaan yang radikal. Revolusi Islam ala Khomaini yang telah menghasilkan negara nondemokratis, kata Asef Bayat, ada kemungkinan merupakan revolusi Islam pertama sekaligus terakhir yang mungkin ada di dunia Islam modern.

28/11/2011 | Klipping, | Komentar (1) #

Tiran Arab dan Mitos-mitosnya

Oleh Novriantoni Kahar

Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 26 Oktober 2011

Kini semua kamuflase tentang sosoknya sebagai pembela Palestina, pemimpin Arab sejati, penguasa Afrika, kekuatan anti-neoimperialisme, tersingkap sudah. Akhir-akhir masa kekuasaannya mengkonfirmasi bahwa penghulu tiran Arab ini (`amid altughaat al-Araby) tak lebih dari sesosok badut yang semau-maunya mengubah skenario dan perannya dalam pentas sejarah. Saking seringnya ia melakukan itu, sampai-sampai kita tidak dapat menemukan benang merah dan tontonan bermutu apa pun dari aksi panggungnya. Robert Fisk, analis senior Timur Tengah di The Independent, menyebutnya sebagai “perpaduan paling edan dari sosok Don Carleone dan Donald Bebek“. Tentu pada sosok The Godfather dan Donald Duck kita masih mendapat tontonan yang bermutu. Pada Qadhafi, semua menjadi begitu memalukan dan memuakkan bagi rakyat Libya.

21/11/2011 | Klipping, | Komentar (6) #

Idul Fitri dan Pembaruan Komitmen

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“...dalam konteks kebangsaan-kenegaraan kita, kembali ke fitrah berarti kembali ke fitrah dan komitmen awal didirikannya negara ini. Dulu para pendiri negara ini telah bersepakat bahwa Indonesia adalah negara yang berlandas tumpu pada Pancasila-UUD 1945 dan bukan pada ketentuan formal agama. Walau umat Islam adalah umat terbanyak, telah ada konsensus bahwa Indonesia tak hendak dirancang menjadi negara Islam. Piagam Jakarta pun akhirnya dibatalkan. Bahkan, jauh sebelum teks proklamasi diucapkan Bung Karno, tahun 1928 para pemuda Indonesia bersumpah untuk bersatu dalam tiga hal; satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Tak ada sumpah untuk satu agama. Dengan demikian, perilaku sebagian umat Islam yang tak mau menghormati bendera merah putih menunjukkan bahwa mereka tak mengerti komitmen awal kebangsaan itu. Mereka buta huruf mengenai soal-soal kebangsaan walau tak tertutup kemungkinan mereka mengerti soal-soal keislaman. Mereka mengalami defisit pengertian mengenai negara Indonesia. Seharusnya umat Islam tak hanya menguasai dalil-dalil agama, melainkan juga dalil-dalil dalam berbangsa dan bernegara.”

19/09/2011 | Klipping, | Komentar (13) #

Salafisme Sejati Muhammad Abduh

Oleh Akhmad Sahal*

Tulisan ini sebelumnya dimuat secara bersambung di Koran Tempo, 18-20 Agustus 2011.

.....sementara salafisme Wahabi melancarkan takfir (pengkafiran), salafisme Abduh menggalakkan tafkir (pengaktifan pikiran).

Adanya pertentangan dua salafisme tersebut lantas membuat kita bertanya: apa hakekat islam salafi? Kaum Wahabi mengartikannya sebagai sebagai laku ngeblat generasi salaf, dengan menjadikan mereka sebagai model untuk dicontoh secara harfiah. Apapun yang berbeda dari pakem ngeblat mereka langsung dicap bid’ah. Di sini proses sejarah umat dilihat sebagai proses penyimpangan, lantaran menjauhkan Islam dari kemurniannya. Karena itu, Islam mesti dimurnikan kembali setiap saat. Artinya, bagi kaum Wahabi, masa depan umat Islam adalah masa lalu mereka

21/08/2011 | Klipping, | Komentar (11) #
Halaman: 1 dari 12  1 2 3 >  Last ›